Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suasana hangat di rumah tadi pagi seolah langsung lenyap begitu mobil Harsa memasuki basement kantor pusat perusahaan.
Wajah pria itu kembali serius. Bahkan sebelum ia benar-benar turun dari mobil ia sudah melihat sesuatu yang tidak biasa. Beberapa staf terlihat mondar-mandir dengan wajah tegang di lobby bawah.
Dua orang bahkan sedang berbicara cepat sambil membawa map tebal. Begitu melihat Harsa datang, mereka langsung membungkuk sopan.
“Pagi, Pak.”
Harsa mengangguk singkat.
“Ada apa?”
Kedua staf itu saling berpandangan sejenak sebelum salah satu menjawab hati-hati,
“Masalah proyek Mahesa Group makin rumit, Pak…”
Kening Harsa langsung mengernyit. Bukannya semalam ia sudah meminta Rina menyelesaikan semuanya. Langkah Harsa berubah cepat menuju lift. Suasana lantai direksi bahkan jauh lebih tegang.
Beberapa karyawan terlihat berdiri di luar ruang meeting sambil membicarakan sesuatu dengan suara pelan.
“Pak Harsa datang…”
“Pak Harsa…” Tatapan mereka penuh harap sekaligus cemas. Harsa membuka pintu ruang meeting tanpa banyak bicara.
Pintu terbuka cukup keras.
Di dalam beberapa staf inti perusahaan sudah duduk dengan wajah serius.
Rina juga ada di sana. Wanita itu berdiri di dekat layar presentasi sambil memegang beberapa berkas. Begitu melihat Harsa masuk, ia langsung mengembuskan napas kecil seolah lega.
“Pak Harsa…”
Harsa tidak membalas. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan.
“Ada apa sebenarnya?” Nada suaranya rendah.
Salah satu manager divisi langsung berdiri.
“Pak … pihak Mahesa Group mengancam membatalkan proyek kalau revisi proposal hari ini nggak selesai.”
“Kemarin bukannya sudah saya serahkan ke Rina?” potong Harsa cepat. Semua mata langsung beralih pada Rina. Wanita itu terlihat menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata,
“Saya memang sudah coba tangani, Pak…”
“Tapi?”
Rina menatap Harsa beberapa detik. Lalu berkata dengan nada hati-hati,
“Kalau Pak Harsa sendiri nggak terlibat … saya nggak bisa melakukan banyak.”
Suasana langsung hening. Beberapa staf terlihat saling berpandangan.
“Betul sih, Pak…”
“Klien biasanya lebih percaya kalau langsung sama Pak Harsa…”
“Mahesa Group juga dari dulu dekatnya sama Bapak…”
Rahang Harsa langsung mengeras. Tatapannya tajam mengarah pada Rina. Wanita itu sengaja membuat situasi ini berkembang sejauh ini agar dirinya turun tangan langsung.
“Jadi kamu membiarkan semuanya sampai separah ini?” tanya Harsa dingin.
Rina langsung menggeleng cepat.
“Bukan begitu maksud saya—”
“Lalu apa?” Nada suara Harsa mulai naik. Beberapa staf langsung menunduk tegang.
Rina terlihat sedikit gugup. Namun tetap mencoba mempertahankan ekspresinya.
“Saya hanya berpikir … perusahaan lebih butuh Bapak untuk menghadapi mereka.”
Harsa tertawa kecil.
“Perusahaan butuh orang yang bisa bekerja.”
Kalimat itu langsung menusuk wajah Rina berubah.
“Kalau setiap masalah harus saya turun sendiri,” lanjut Harsa dingin, “untuk apa saya membayar manager proyek?”
Ruangan semakin sunyi. Tidak ada yang berani menyela. Karena semua orang bisa melihat Harsa benar-benar marah pagi ini.
Rina mengepalkan jemarinya pelan.
“Saya cuma nggak mau ambil keputusan yang salah…”
“Kalau takut ambil keputusan,” potong Harsa tajam, “kamu nggak pantas duduk di posisi itu.” Kalimat itu membuat beberapa staf langsung menahan napas.
Sementara Rina benar-benar terdiam.
Harsa mengusap wajahnya kasar lalu berkata tegas,
“Siapkan semua berkas. Saya akan temui Pak Dimas siang ini.”
Beberapa staf langsung terlihat lega.
“Baik, Pak.”
Namun sebelum meeting benar-benar dimulai tatapan Harsa kembali jatuh pada Rina.
“Setelah ini,” ucapnya rendah, “saya harap kamu mulai paham mana urusan pekerjaan … dan mana urusan pribadi.” Kalimat itu membuat jantung Rina berdegup keras.
Siang itu, suasana restoran bisnis di pusat kota Jakarta terlihat cukup tenang.
Alunan musik klasik terdengar pelan memenuhi ruangan VIP tempat Harsa duduk berhadapan dengan Pak Dimas.
Di atas meja telah tersusun beberapa dokumen proyek dan laptop yang masih menyala.
Namun sejak awal pertemuan kening Harsa tak pernah benar-benar rileks. Pak Dimas membuka berkas proyek sambil berkata,
“Secara konsep sebenarnya perusahaan kalian unggul, Pak Harsa.”
Harsa mengangguk kecil.
“Kami sudah revisi sesuai permintaan pihak Mahesa Group.”
“Makanya saya heran kenapa mereka tiba-tiba banyak komplain.”
Harsa diam, tatapannya turun pada dokumen di meja. Karena ia mulai merasa semuanya memang sengaja dibuat rumit. Pelayan datang menyajikan kopi. Namun, bahkan aroma kopi hangat itu tidak mampu mengurangi tegangnya suasana.
Pak Dimas kembali membuka pembicaraan.
“Kalau boleh jujur…” ujarnya hati-hati. “Klien sebenarnya cukup nyaman bekerja sama dengan Bu Rina.”
Harsa perlahan mengangkat pandangannya.
“Maksudnya?”
“Bu Rina cepat tanggap. Dia juga cukup fleksibel menghadapi permintaan mereka.”
Harsa menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi.
“Biasanya juga Bu Rina yang banyak turun langsung ngurus hal-hal seperti ini,” lanjut Pak Dimas lagi. “Makanya pihak Mahesa Group merasa komunikasi terakhir agak berubah.”
Harsa terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya berkata pelan,
“Kalau begitu biarkan Rina yang lanjut.”
Pak Dimas terlihat sedikit terkejut.
“Anda mau mundur dari proyek ini?”
“Hm.” Nada suara Harsa terdengar datar.
“Kalau memang mereka lebih nyaman dengan Rina, saya nggak masalah.”
Namun Pak Dimas langsung menggeleng cepat.
“Jangan begitu, Pak.”
Kening Harsa mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena proyek ini salah satu proyek terbesar perusahaan Anda tahun ini.”
Kalimat itu membuat suasana kembali serius. Pak Dimas menatap Harsa lebih dalam.
“Kalau Anda mundur sekarang, dampaknya bukan cuma ke proyek ini.”
Pria paruh baya itu menunjuk dokumen laporan di depan mereka.
“Nilai performa perusahaan Anda tahun ini juga bisa turun.”
Harsa diam tatapannya perlahan berubah serius.
“Investor juga pasti mulai mempertanyakan stabilitas manajemen,” lanjut Pak Dimas hati-hati. “Apalagi belakangan ada beberapa proyek yang sempat tertunda.”
Harsa mengusap dagunya pelan. Dunia bisnis tidak pernah sesederhana soal suka atau tidak suka.
Kadang ia harus tetap berdiri di tempat yang tidak nyaman demi mempertahankan semuanya.
“Mahesa Group memang agak sulit,” ujar Pak Dimas lagi. “Tapi mereka masih percaya sama Anda.”
“Kalau percaya, kenapa dipersulit?” tanya Harsa dingin.
Pak Dimas tersenyum kecil.
“Karena mereka tahu Anda selalu bertanggung jawab.”
Kalimat itu justru membuat Harsa semakin lelah. Lalu Pak Dimas berkata pelan,
“Kalau boleh saran … libatkan saja Bu Rina di proyek ini.”
Tatapan Harsa langsung berubah.
“Saya bisa urus sendiri.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
Pak Dimas tersenyum tipis.
“Kadang pekerjaan lebih cepat selesai kalau orang-orang yang sudah terbiasa bekerja sama tetap berada di tempatnya.”
Kalimat itu sederhana. Namun, cukup membuat Harsa memahami arah pembicaraan tersebut. Harsa menatap keluar jendela restoran cukup lama.
“Baik,” ucap Harsa akhirnya pelan.
Pak Dimas menoleh.
“Saya akan selesaikan proyek ini.”
Nada suaranya tenang.
“Tapi semuanya tetap harus profesional.”
Pak Dimas tersenyum lega.
“Itu yang saya harapkan.” Namun, jauh di dalam hati Harsa ia tahu satu hal.
Melibatkan Rina kembali dalam proyek ini mungkin akan membuka masalah baru lagi.