NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Pagi itu, suasana di kediaman Satrya terasa berbeda. Sinar matahari yang menembus jendela besar di ruang makan tidak disambut dengan deru mesin mobil Denis yang biasanya sudah meluncur ke kantor sejak pukul tujuh pagi. Sebaliknya, pria itu terlihat santai dengan kaus rumah yang elegan, duduk di meja makan sembari sesekali melirik tabletnya namun lebih sering memperhatikan Calista yang duduk di sampingnya dengan kaki yang masih dibalut perban bersih.

"Mas Denis tidak ke kantor?" tanya Calista heran, melihat Denis justru menyesap kopinya dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengenakan jas kerjanya.

"Sekretarisku sudah mengatur semua jadwal ulang. Aku memutuskan untuk bekerja dari rumah hari ini," jawab Denis pendek. Matanya beralih ke lutut Calista, memastikan posisi kaki istrinya itu sudah cukup nyaman. "Aku ingin memastikan kau tidak banyak bergerak dan dokter pribadi benar-benar datang tepat waktu untuk mengganti perbanmu. Aku tidak mau ada infeksi hanya karena kau terlalu mandiri untuk meminta tolong."

Calista tertegun. Seorang Denis Satrya, yang waktu per menitnya setara dengan tumpukan uang, memilih membatalkan pertemuan penting hanya karena luka lecet di lutut istrinya? Ada rasa hangat yang kian menjalar di dada Calista, sebuah perhatian yang terasa jauh melampaui butir-butir kontrak pernikahan mereka. Ketidakhadiran Denis di kantor adalah pernyataan sikap yang sangat kuat bagi seluruh penghuni rumah tersebut.

Di sudut ruangan, Susi berdiri mematung dengan wajah yang mengeras. Ia pura-pura sibuk merapikan vas bunga, namun telinganya menangkap setiap kata perhatian yang diucapkan Denis. Kebenciannya membuncah. Rencana awal untuk mencelakai Calista agar wanita itu terlihat lemah dan menyedihkan justru menjadi bumerang bagi Susi. Bukannya Denis merasa risih memiliki istri yang cedera, pria itu justru semakin protektif.

"Denis, bukankah kau ada rapat dengan kolega dari Jepang hari ini? Kenapa kau membuang waktu hanya untuk urusan kecil seperti ini?" sela Susi dengan nada yang mencoba terdengar seperti ibu yang peduli, meski terselip ketidaksukaan yang kental di setiap suku katanya.

Denis menoleh, menatap ibu tirinya dengan sorot mata datar yang dingin, seolah sedang memperingatkan Susi untuk tidak mencampuri urusannya. "Kolega Jepang bisa menunggu, Mama. Tapi kesehatan istriku tidak bisa. Lagipula, aku pemilik perusahaannya, aku yang menentukan kapan aku harus hadir."

Susi terdiam, bibirnya terkatup rapat. Ia tidak bisa membantah lebih jauh tanpa memancing kemarahan Denis yang lebih besar. Dengan tangan gemetar karena emosi, ia melangkah pergi, menyadari bahwa kehadirannya di sana hanya membuatnya semakin gerah melihat kedekatan suami istri itu. Susi merasa posisinya sebagai wanita paling berpengaruh di rumah itu perlahan-lahan runtuh karena pesona misterius Calista.

Tak lama setelah Denis berpindah ke ruang kerja pribadinya, Puput muncul dengan wajah yang ditekuk. Rasa irinya terhadap Calista tidak berkurang, namun kebutuhan akan gaya hidup mewahnya jauh lebih mendesak. Sepatu limited edition yang ia incar sudah hampir habis terjual, dan ia tidak punya akses uang tunai kecuali melalui Calista.

Puput mendekat ke sofa tempat Calista bersandar. "Kak Calista," panggilnya dengan suara yang dipaksakan lembut, meski matanya masih menunjukkan sisa-sisa keangkuhan yang sulit disembunyikan.

Calista menoleh, wajahnya tetap misterius dan tenang. "Ya, Puput. Ada Apa?"

"Aku... aku butuh uang. Ada sepatu baru yang harus kubeli hari ini. Harganya hanya tiga puluh juta. Bisa kau cairkan dananya untukku?" tanya Puput, mencoba terdengar seolah itu adalah jumlah kecil yang harus segera diberikan sebagai haknya.

Calista menutup buku yang sedang dibacanya dengan perlahan. Ia menatap Puput dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum tipis sebuah senyum yang membuat Puput merasa sangat kecil dan tidak berarti. Calista membiarkan keheningan menggantung sejenak, membuat Puput semakin gelisah di tempatnya berdiri.

"Tiga puluh juta untuk sepatu, sementara kau masih memiliki belasan pasang yang bahkan belum pernah kau pakai di rak sepatumu?" tanya Calista tenang. "Jawabannya tetap sama seperti kemarin, Puput. Tidak. Aku tidak melihat urgensi dalam pembelian ini."

"Tapi Kak! Kau tidak bisa semena-mena begitu! Aku butuh sepatu itu untuk acara besok!" suara Puput mulai meninggi karena frustrasi, namun ia segera merendahkan suaranya saat menyadari Denis mungkin bisa mendengarnya dari ruang kerja.

Calista tidak terpancing. Ia justru memajukan sedikit tubuhnya, menatap Puput dengan lekat, menunjukkan otoritas yang kini mutlak ia genggam. "Di dunia ini tidak ada yang gratis, Puput. Kau ingin uang itu? Baik. Aku akan memberikannya, tapi dengan satu syarat."

Puput mengernyit, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ucapan Calista. "Syarat apa?"

"Tenggorokanku terasa kering dan aku dilarang banyak bergerak oleh Mas Denis. Buatkan aku minuman segar, jus jeruk murni tanpa gula dengan es batu yang pas. Antar ke sini, dan pastikan rasanya enak," ucap Calista dengan nada memerintah yang sangat halus namun tegas.

Wajah Puput memerah padam. "Kau menyuruhku menjadi pelayanmu?! Aku ini adik Denis Satrya!"

"Dan aku adalah Nyonya di rumah ini, sekaligus pemegang keuanganmu," balas Calista tanpa keraguan sedikit pun. "Pilihan ada di tanganmu. Menjadi 'adik' yang sombong tanpa sepatu baru, atau membuatkanku minuman dan mendapatkan apa yang kau mau. Aku akan menunggu sepuluh menit. Jika lewat dari itu, kesepakatan batal."

Puput mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menoleh ke arah dapur, lalu kembali menatap Calista yang sudah kembali tenang membaca bukunya seolah tidak terjadi perdebatan apa pun. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan karena kesal, Puput akhirnya berjalan menuju dapur. Susi yang melihat putrinya diperlakukan seperti itu hanya bisa menggigit bibir di balik pilar. Mereka berdua menyadari satu hal yang menyakitkan: Calista telah benar-benar mengambil alih kendali, dan mereka tidak punya pilihan selain tunduk jika ingin tetap menikmati kemewahan Satrya.

Sepuluh menit kemudian, dengan wajah yang ditekuk sedalam mungkin dan napas yang masih memburu karena emosi, Puput meletakkan segelas jus jeruk di depan Calista. Calista menyesapnya perlahan, merasakan kesegaran murni yang disiapkan oleh tangan adiknya yang manja itu, lalu mengangguk puas. "Kerja bagus, Puput. Kau boleh ambil ceknya di meja riasku nanti. Belajarlah bahwa usaha selalu mendahului hasil."

Malam itu, Calista menyadari bahwa kekuasaan bukan hanya soal uang, tapi soal bagaimana membuat lawan mengakui keberadaan kita bahkan melalui segelas jus jeruk yang disajikan dengan penuh keterpaksaan. Ia telah memenangkan pertempuran mental hari ini, mengukuhkan posisinya sebagai ratu baru yang tak tersentuh di istana Satrya. Setiap tegukan jus itu terasa seperti kemenangan manis atas kesombongan Susi dan Puput yang selama ini merajalela.

1
Kadek Soma
semakin seru aja ni cerita nya lanjut
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!