Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyambutan
Kami sudah tiba di Mulia. Di bandara sudah ada banyak orang menyambut kami. Maria Theresia Johan menjadi orang yang pertama yang diberi bunga. Air mata keluar tanpa ijin. Dalam rombongan kami juga ada bapak dan ibu Bupati acara dilanjutkan dengan makan bersama di kediaman bupati. Disana ada juga kak Hans dan Yuli orangtua angkatnya.
"Bangga dek."
"Terima kasih kakakku." Mia langsung memeluk kak Hans dan Yuli. Mereka sedang mendengar sambutan dari bupati. Kemudian disambutan terakhir sebelum Maria Theresia Johan diberi kesempatan menjadi orang kedua yang memberi sambutan. Membuat Mia hampir menangis dan tersenyum.
"Waktu Miss Maria Theresia Johan sisa lima belas bulan, artinya sisa satu tahun tiga bulan lagi. Saya berharap keinginan papinya tidak terwujud, doa saya semoga ada laki - laki asli disini yang bisa memikat dia sehingga, miss ini lama disini. Setuju tidak anak - anak."
"Setuju bapak." Mia tidak menyangka kelima anak didiknya menjawab begitu kompak. Mia tersenyum, Kak Hans dan Yuli malah mengaminkan. Mia maju ke depan dengan senyuman.
"Bagaimana Miss Mia setuju tidak???" Mia tersenyum
"Kalau jodoh saya ada disini, pasti saya tinggal disini bapak."
Semua yang ada di ruangan ini mengaminkan dengan suara yang lantang dan tegas. Roy hanya tersenyum. Dan senyuman itu tidak sengaja di lihat oleh Mia. Dia memulai sambutannya dan dia memuji semua guru - guru yang ada di kota ini, karena dia hadir, kelima anak yang terbaik ini, sudah sangat pintar hanya dia memberi sentuhan kasih sedikit. Semua yang hadir tersenyum, dan bangga terlebih seorang ajudan Roy Denis Sam lulusan sekolah Tinggi Pemeritahan Dalam Negeri. Dia bangga melihat perempuan hebat ini merendah.
"Roy...."
"Ya Bapa."
"Kamu sudah dengar doa bapa tadi. Cepat buktikan laki - laki papua keras bisa taklukkan perempuan cina kalimantan itu." Roy tersenyum.
"Mama setuju sekali. Kah ko sudah punya pacar?"
"Tidak ada mama."
Anak - anak di antar, namun Mia yang mau bergabung dengan jemputan anak - anak di tahan oleh Roy. Dan Mia terdiam menurut saja.
"Nanti aku antar." Mia malu, namun hatinya senang. Ternyata tantangan Bupati di sambut oleh Roy.
"Tunggu sebentar ya."
"Oke."
Roy mengandeng tangan Mia dan tasnya menunggu di ruangan kerjanya dengan bapak Bupati. Roy masih mau ijin dulu kepada bapak Bupati, pamit pulang. Roy mengambil tas juga mobilnya dan memasukan koper Mia kedalam mobil, lalu mereka pulang melewati satpol yang berjaga di pos. Roy digodai oleh mereka.
"Besok aku jemput ya, antar kamu ke sekolah??"
"Apa tidak merepotkan."
"Ngak. Kasihan kak Hans, antar istrinya terus antar kamu."
"Iya dek Roy, kurangi kerjaan kakak dulu."
Kaka Yuli menyubit pingang suaminya. Roy sudah pamit. Mia mengeluarkan ole - ole yang dibawa dari Jayapura dari pakaian sampai makanan. Yuli langsung memeluknya.
"Terima kasih adek ku sayang."
"Sama - sama kak Hans."
Kak Yuli Sangat kenal Roy, adek kelasnya. Mereka di Jayapura tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Sama seperti Yuli, Roy juga lahir dari mama orang Cina Sentani, hanya bedanya Mamanya Roy adalah istri kedua.
Papanya Roy adalah kepala suku dan sekarang adalah anggota dewan. Meskipun Roy lahir dari kesalahannya namun dia tetap berusaha membesarkan anak ini. Mamanya tidak perna menutupi keberadaan papanya Roy. Dan mamanya dan Roy tidak perna menyangkal karna papanya, Roy bisa sekolah sampai menjadi orang sukses.
"Kak Yuli tahu dan kenal Roy ya??"
"Roy ditugaskan disini mamanya nitip ke kakak juga. Sama seperti kamu. Meskipun jalannya berbeda." Kak Yuli tersenyum.
Selesai mandi, Mia sudah tidak tahu apa - apa lagi. Dia sudah tertidur terlelap. Mia sangat senang. Ternyata kamarnya di pasang AC oleh kak Hans. Katanya Yayasan memperhatikan kenyamanan. Seperti biasa pagi - pagi dia sudah bangun, berdoa dan langsung ke sekolah. Roy menghubungi bahwa, dia tidak bisa jemput karena jam enam pagi di sudah ada di kantor temani bapak Bupati.
Pagi ini di kota, jalan nampak sepi, aktivitas orang- orang berkurang. Namun sekolah - sekolah tetap beroperasi seperti biasa. Selesai mengajar pagi, Mia seperti biasa setiap hari senin, rabu dan jumat ada pertemuan dengan anak - anak terbaik dari berbagai sekolah. Mia memberikan pelajaran tambahan bagi mereka.
Mia baru tahu, bahwa di kantor bupati ada demo dari masyarakat setempat tentang lahan mereka. Dan Mia berpikir itu yang membuat Roy tidak bisa menjemputnya. Dan karena, mereka tidak merasa puas, mereka menyerang infrastruktur pemerintah berupa sekolah.
Saat mereka pendemo datang memboikot sekolah menengah atas negeri itu di bonceng oleh pemberontak yang membelot. Anak - anak yang terdiri dari lima belas anak bersama guru mereka miss Mia di sandera.
Mereka mulai merusak dan membakar sekolah itu. Tentu anak - anak dan Mia terjebak dan mereka menangis. Panah berterbangan di area sekolah. Mia yang mau menyelamatkan Alex anak didiknya yang mau melihat orang tuanya kena anak panah beracun di perutnya membuat miss Mia jatuh dan pingsan. Semua anak - anak menangis dan berteriak. Orangtua yang ada diluar yang melakukan demo langsung berusaha menenangkan namun pihak pemberontak menyerang.
Anggota tentara datang melakukan penyelamatan. Roy yang mengetahui bahwa yang terluka Mia, air matanya jatuh. Medis sudah ada di tempat mereka melakukan operasi singkat dan meminta Mia untuk di rujuk ke Jayapura. Lewat pesawat tentara Mia dibawa ke Jayapura. Dan adeknya adalah Co pilot dari pesawat itu. Letnan Satu penerbang Andre Johan. Dia baru dipercayakan menjadi pembantu pilot, satu tahun ini.
Roy dengan segala bantuan bapak bupati ikut dalam penerbangan ini. Dia menemani Mia yang belum sadar itu. Tangannya terus di pegang sambil berdoa memohon keselamatan bagi Mia. Roy tidak tahu, bahwa yang menjadi co pilot pesawat tentara ini adalah adiknya Mia. Sampai di bandara, Roy bersama dengan Andre di mobil ambulance. Andre penasaran dengan sosok laki - laki yang ada dimobil ini. Namun dia hapuskan pemikiran itu. Yang dia tahu cecenya harus sembuh.
Sampai disentani, Maria Theresia Johan kakaknya dilarikan ke rumah sakit swasta terdekat. Andre terus mengawal kakaknya, bersama Roy. Dia belum menghubungi papi dan maminya. Sampai setelah kakaknya keluar dari ruang operasi dan anak panah itu sudah terlepas. Andre sempat memberikan darahnya buat kakak perempuan. Itu juga yang membuat operasi berjalan lancar.
"Cece, bangun sayang. Adek mau ngomong bagaimana buat mami dan papi, adek kesini bukan buat lihat cece seperti ini."
Roy sadar bahwa tentara itu adalah saudara Mia. Di baju dinasnya tertulis jelas Andre Johan. Ini pasti kakak atau adiknya Mia. Sementara Mia masih belum sadar. Di pegunungan, anak - anak masih menangis mereka masih menanti kabar Mia.Malam harinya Mia sudah sadar. Begitu dia membuka mata ada Roy dan adeknya Andre.
"Adek........."
"Puji Tuhan cece." Andre langsung mencium kakaknya. Disamping berdiri Roy, yang juga kaget mendengar Mia memanggil adeknya.
"Terima kasih ya kak Roy sudah menjaga saya."
"Puji Tuhan kamu sudah sadar Mia."
"Kak Roy ini adekku. Adek kandung. Andre namanya. Adek ini kak Roy."
Roy sudah keluar mencari makan buatnya dan juga Andre adeknya Mia. Andre yang penasaran mulai menanyakan kedekatan Mia dan Roy.
"Siapa dia kak??"
"Dia pacar kakak."
"Adek please jangan memberitahukan kejadian ini kepada mami dan papi ya."
"Cece, sudah ada di siaran televisi. Semoga nama cece tidak disebut."
Roy yang tahu, Mia menyebutkan dirinya pacar, mulai memainkan perannya sebagai pacar. Dia memperhatikan Mia dengan baik. Sampai orangtua Mia datang ke Jayapura. Mia tidak bisa melawan. Oleh papinya Mia dibawa ke Jakarta dan dia memutuskan kontrak anaknya dengan yayasan dan bersedia membayar pinaltinya. Hari ini masih denga infus dan di angkat dengan tandu, mami dan papi Mia membawa anaknya dengan menggunakan pesawat. Sementara barang - barang Mia akan diurus oleh Andre adiknya.