Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran Pedang Penebas Dosa
Episode 5
Mu Ruoxue menatap Gu Sheng dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sedikit keterkejutan di matanya, namun keterkejutan itu dengan cepat digantikan oleh rasa jijik yang dingin. Baginya, Gu Sheng yang berdiri di depannya sekarang hanyalah sisa-sisa kegagalan masa lalu yang menolak untuk mati. Ia merasa seolah-olah sebuah noda hitam sedang mengotori gaun putihnya yang bersih hanya dengan menatap pemuda itu.
Gu Sheng, Mu Ruoxue memecah keheningan, suaranya jernih namun setajam es kutub. "Kau seharusnya tetap tinggal di dasar jurang itu. Setidaknya, di sana kau bisa mati dengan sedikit martabat. Kembali ke sini hanya akan membuatmu menderita lebih dalam lagi. Lihatlah dirimu... kau sudah menjadi praktisi ilmu iblis yang kotor. Kau benar-benar telah membuang sisa-sisa kehormatan Keluarga Gu."
Gu Sheng mendengus pelan, sebuah tawa kering keluar dari tenggorokannya. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Qing Er yang gemetar.
"Kehormatan?" Gu Sheng mengulang kata itu dengan nada menghina. "Ruoxue, sejak kau merobek dadaku dan mencuri Tulang Dewaku, kehormatan sudah tidak ada lagi di tempat ini. Yang tersisa hanyalah hutang darah. Dan kau tahu sendiri, aku adalah penagih hutang yang sangat teliti."
Lin Tian, yang sejak tadi hanya diam dengan tangan bersedekap, tertawa meremehkan. Aura pedangnya yang berwarna biru muda mulai memancar, membelah tetesan air hujan di sekitarnya. Ia berada di tingkat Qi Refinement - Tingkat Kesembilan, selangkah lagi menuju tahap Spirit Sea. Baginya, Gu Sheng yang baru saja mencapai tingkat ketiga Qi Refinement hanyalah seekor semut yang sedikit lebih besar dari biasanya.
"Menagih hutang?" Lin Tian melangkah maju, setiap langkahnya meninggalkan jejak es di lantai yang basah. "Gu Sheng, kau pikir dengan membunuh sampah seperti Gu Lie kau sudah menjadi hebat? Di mataku, kau tetaplah sampah yang sama. Perbedaan level antara kau dan aku adalah jurang yang tidak akan pernah bisa kau seberangi seumur hidupmu."
Lin Tian melirik ke arah pedang raksasa di punggung Gu Sheng. "Dan pedang besi berkarat itu... kau pikir itu bisa menyelamatkanmu? Sungguh menyedihkan."
Gu Sheng tidak terpancing. Ia tahu betul perbedaan kekuatan mereka saat ini. Namun, ia juga tahu bahwa Dantian Penelan Langit miliknya memberinya keunggulan yang tidak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini: kemampuan untuk menelan serangan lawan.
"Lin Tian, jangan terlalu banyak bicara. Kenapa kau tidak mencoba mengayunkan pedangmu? Aku ingin melihat, apakah Tulang Dewa yang kau curi itu sudah membuatmu benar-benar menjadi manusia, atau kau tetaplah anjing peliharaan Keluarga Mu," ejek Gu Sheng dengan tenang.
Wajah Lin Tian seketika berubah menjadi merah padam karena amarah. Sebagai Tuan Muda dari Sekte Pedang Langit, tidak ada yang berani menghinanya seperti itu.
"MENCARI MATI!"
Lin Tian menarik pedang panjangnya yang bersinar perak. Dalam sekejap, ia melesat maju seperti kilat biru. Kecepatannya jauh melampaui apa yang bisa ditangkap oleh mata manusia biasa.
"Jurus Pedang Langit, Tebasan Angin Puyuh!"
Sebuah gelombang energi pedang yang tajam dan berbentuk sabit besar melesat ke arah leher Gu Sheng. Serangan ini cukup kuat untuk membelah sebuah kereta baja menjadi dua.
Gu Sheng tidak menghindar. Ia tahu ia tidak bisa menghindar sambil menggendong Qing Er. Ia menurunkan sedikit tubuhnya, lalu dengan tangan kanannya, ia mencabut Penebas Dosa dari punggungnya.
BUM!
Saat pedang hitam raksasa itu menghantam udara, sebuah tekanan berat yang luar biasa meledak. Gu Sheng tidak mengayunkan pedangnya dengan teknik yang rumit, ia hanya memosisikan bilah pedang yang lebar itu di depannya sebagai perisai.
KLANG!
Tabrakan antara pedang tipis Lin Tian dan pedang berat Gu Sheng menciptakan gelombang kejut yang dahsyat. Air hujan di halaman itu seketika terhempas ke segala arah, menciptakan lingkaran kosong di sekitar mereka.
Lin Tian membelalak. Ia merasa seolah-olah pedangnya baru saja menghantam sebuah gunung yang tak tergoyahkan. Bukan hanya itu, ia merasakan sesuatu yang mengerikan, saat pedangnya bersentuhan dengan Penebas Dosa, sebagian dari energi Qi-nya seolah-olah tersedot dan menghilang ke dalam pedang hitam itu.
"Apa?! Bagaimana mungkin kau menahan seranganku?!" Lin Tian berteriak, ia mencoba menekan pedangnya lebih kuat, namun Gu Sheng tetap berdiri tegak dengan satu tangan.
Gu Sheng menyeringai, matanya yang merah berkilat dalam kegelapan. "Lin Tian, energimu... sangat hambar. Apakah ini semua kemampuan dari seorang Jenius Sekte Pedang Langit?"
Di dalam tubuh Gu Sheng, Dantian Penelan Langit berputar gila-gilaan. Energi Qi yang diserap dari serangan Lin Tian dialirkan melalui pedang Penebas Dosa, diuraikan, dan masuk ke dalam jalur meridian Gu Sheng sebagai nutrisi.
Meskipun tangannya sedikit gemetar karena beban serangan tersebut, Gu Sheng justru merasa kultivasinya semakin stabil.
"Lepaskan!" Lin Tian berteriak, ia melompat mundur dengan wajah pucat. Ia menatap pedangnya sendiri yang kini memiliki sedikit goresan kecil. "Ilmu hitam apa yang kau gunakan?! Kau menghisap Qi-ku!"
Mu Ruoxue, yang memperhatikan dari kejauhan, mulai merasa tidak tenang. Ia bisa merasakan getaran aneh dari dalam dadanya, Tulang Dewa yang ia curi seolah-olah sedang bergetar ketakutan saat melihat Gu Sheng. Itu adalah reaksi alami dari sesuatu yang telah dikhianati saat bertemu kembali dengan pemilik aslinya.
"Kakak Lin Tian, jangan bermain-main dengannya. Selesaikan dengan satu gerakan!" teriak Mu Ruoxue, suaranya mengandung sedikit kepanikan yang tersembunyi.
Lin Tian menggertakkan giginya. Ia merasa sangat malu karena gagal membunuh Gu Sheng dalam satu gerakan di depan wanita yang ia cintai.
"Baik! Kalau begitu, jangan salahkan aku jika tubuhmu hancur menjadi debu!" Lin Tian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya biru yang menyilaukan meledak dari tubuhnya, jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Jurus Rahasia Sekte, Pedang Penghukum Langit!"
Udara di halaman kediaman Gu seolah-olah tersedot oleh serangan ini. Sebuah bayangan pedang raksasa sepanjang lima meter terbentuk di atas kepala Lin Tian, memancarkan aura destruktif yang sangat mengerikan.
Gu Sheng tahu, serangan ini adalah taruhan nyawa. Dengan tingkat Qi Refinement level tiga, ia akan hancur jika menerima serangan ini secara frontal. Namun, ia tidak berniat untuk mati di sini.
“Bocah, gunakan teknik Penyebaran Hampa,” suara Kaisar Iblis membisik di kepalanya. “Gunakan berat pedangmu untuk menekan ruang, lalu biarkan Dantian-mu melahap sisa ledakannya!”
Gu Sheng menarik napas dalam. Ia meletakkan Qing Er di balik pilar batu yang kokoh.
"Qing Er, tutup matamu," bisik Gu Sheng.
Ia kembali berdiri di tengah hujan, memegang Penebas Dosa dengan kedua tangannya. Ia mengalirkan seluruh energi Qi hitamnya ke dalam pedang tersebut. Tulisan kuno di bilah pedang mulai menyala dengan warna merah darah yang menyeramkan.
"MATILAH, SAMPAH!" Lin Tian mengayunkan pedangnya ke bawah.
Bayangan pedang raksasa itu jatuh dengan kecepatan suara, membawa kekuatan yang mampu meratakan seluruh halaman belakang.
Gu Sheng tidak mundur. Ia menggerakkan Penebas Dosa dalam gerakan melingkar, menciptakan pusaran angin hitam di sekelilingnya.
"PENELAN LANGIT, HAMPA!"
BOOOOOOOOOOMMMMM!
Ledakan energi yang luar biasa meledak di tengah halaman. Cahaya biru dan hitam bertabrakan, menciptakan pemandangan yang mengerikan seolah-olah langit sedang runtuh. Pilar-pilar batu di sekeliling mereka hancur berkeping-keping, dan tembok-tembok kediaman Gu retak parah.
Mu Ruoxue harus menutupi wajahnya dengan lengan bajunya untuk menahan angin kencang yang dihasilkan oleh ledakan tersebut. Ia yakin, setelah serangan ini, Gu Sheng pasti akan hancur berkeping-keping.
Namun, saat debu dan uap air perlahan menghilang, matanya membelalak lebar karena tidak percaya.
Di tengah halaman yang hancur berantakan, Gu Sheng masih berdiri. Meskipun jubahnya hampir habis terbakar dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, ia tetap berdiri tegak. Pedang Penebas Dosa tertancap dalam di tanah di depannya, bertindak sebagai jangkar yang menahannya dari kehancuran.
Dan yang paling mengerikan... Lin Tian, yang tadi melepaskan serangan kuat, kini terengah-engah di tanah dengan wajah yang sangat pucat. Sepertiga dari energi Qi-nya telah menghilang secara misterius saat ledakan terjadi, dihisap habis oleh teknik hampa Gu Sheng.
"Bagaimana... bagaimana mungkin kau masih hidup...?" Lin Tian bergumam dengan suara gemetar.
Gu Sheng menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangannya. Ia menatap Lin Tian dengan tatapan dingin yang mampu membekukan jiwa.
"Lin Tian, seranganmu... hanya cukup untuk membuatku sedikit haus," ucap Gu Sheng dengan suara rendah.
Ia bisa merasakan bahwa berkat serangan Lin Tian tadi, Dantian-nya telah menyerap sejumlah besar energi murni.
Krak!
Qi Refinement - Tingkat Keempat.
Dalam pertempuran hidup dan mati, ia justru naik level lagi. Kecepatan kultivasi ini benar-benar tidak masuk akal.
Gu Sheng melirik ke arah gerbang luar kediaman Gu. Ia mendengar suara langkah kaki ribuan penjaga dan tetua keluarga yang mulai berdatangan karena mendengar ledakan besar tadi. Ia tahu, jika ia tetap di sini, ia akan dikepung oleh ratusan praktisi. Meskipun ia kuat, ia belum mampu menghadapi seluruh kota sekaligus.
"Lin Tian, Ruoxue... Anggap saja malam ini sebagai peringatan kecil dariku," ucap Gu Sheng sambil menyarungkan kembali pedang Penebas Dosa di punggungnya. Ia berjalan ke arah Qing Er dan menggendongnya kembali.
"Tunggu aku di Turnamen Tahunan Kota Azure minggu depan. Di depan seluruh penduduk kota, aku akan mengambil kembali Tulang Dewaku, dan aku akan memastikan kalian berdua merangkak di kakiku seperti anjing liar."
"Jangan harap kau bisa pergi!" Lin Tian mencoba bangkit, namun ia terhuyung karena kekurangan energi.
Gu Sheng tidak mempedulikannya. Ia melompat ke arah tembok kediaman yang sudah retak. Sebelum menghilang di balik kegelapan malam, ia menoleh sekali lagi ke arah Mu Ruoxue.
"Ruoxue, simpan baik-baik tulang itu di tubuhmu. Karena saat aku mengambilnya nanti, aku tidak akan menggunakan belati... aku akan merobeknya dengan tangan kosong."
Dengan satu lompatan kuat, sosok Gu Sheng menghilang menembus tirai hujan yang lebat, meninggalkan kediaman Keluarga Gu dalam kekacauan dan ketakutan yang mendalam.
Mu Ruoxue berdiri terpaku di tengah halaman. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya yang berdetak kencang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan ia rasakan terhadap Gu Sheng.
Rasa takut yang murni.
"Siapa sebenarnya... yang kembali dari jurang itu?" bisiknya lirih, suaranya hilang ditelan suara guntur yang menggelegar di atas langit Kota Azure.
Pesta pembalasan dendam baru saja dimulai, dan nama Gu Sheng akan segera menjadi momok yang menghantui setiap mimpi buruk para pengkhianat.