Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Keira masih diam sejak tadi. Bibir mungilnya ditekuk pelan, membentuk cemberut yang jelas terlihat walau berusaha ia sembunyikan di balik lembaran iqra' yang sedang di bacanya.
Jemarinya membalik halaman perlahan, nyaris tanpa suara, sementara manik matanya terus terpaku pada huruf-huruf hijaiyah di sana, seolah dunia hanyalah tentang bacaannya dan bukan tentang laki-laki yang duduk di sampingnya.
Sedangkan Gus Zayn sesekali melirik ke arah istrinya itu. Tatapannya tenang seperti biasa, namun diam-diam memperhatikan setiap perubahan kecil di wajah Keira. Cara gadis itu mengembungkan pipinya, cara bahunya sedikit bergerak setiap kali menarik nafas panjang, bahkan cara ia sengaja memiringkan tubuh agar tidak bersentuhan dengannya.
Suasana di mushalla yang ada di ndalem itu terasa sunyi. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan lantunan lirih bacaan iqra' dari bibir Keira yang terdengar memecah keheningan.
Namun justru di dalam diam itu, ada sesuatu yang terasa hangat.
Karena cemberut Keira bukanlah kemarahan besar. Itu hanya kecewa kecil yang sengaja di pelihara agar di rayu.
Dan Gus Zayn mengetahui itu.
Pria itu akhirnya menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Pelan sekali, hingga pundak mereka nyaris bersentuhan.
Namun Keira tetap tidak menoleh, gadis itu malah semakin fokus menatap iqra'-nya, walau sebenarnya jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
"Masih marah?" tanya Gus Zayn pelan.
Keira tidak menjawab. Ia hanya menggumam kecil sambil membalik halaman berikutnya.
"Hm."
Satu gumaman singkat itu justru membuat sudut bibir Gus Zayn terangkat tipis.
“Boleh saya tau? Kenapa kamu marah dengan suamimu ini?”
Jantung Keira benar-benar terasa kacau. Berdetak terlalu cepat hingga membuat dadanya sesak sendiri. Gadis itu menggenggam iqra'-nya erat, sementara matanya membulat gugup saat mendengar suara Gus Zayn yang begitu dekat di telinganya.
"A-apa?" suaranya kecil, nyaris terselip di antara detak jantungnya sendiri.
Gus Zayn menatap istrinya lekat. Tatapannya teduh, tenang, namun justru itulah yang membuat Keira semakin tidak mampu bersikap biasa. Lelaki itu terlalu lembut untuk di hindari, terlalu menenangkan untuk di abaikan.
"Saya bertanya padamu, Zaujati..." ucapnya perlahan. "Apa yang membuatmu marah pada suamimu ini?" Ulang Gus Zayn.
Nada suara Gus Zayn rendah dan halus, mengalir pelan seperti angin malam yang menyentuh kulit tanpa permisi. Tidak ada nada mengejek, tidak ada nada memaksa. Hanya kelembutan yang diam-diam membuat pertahanan Keira runtuh sedikit demi sedikit. Keira meneguk ludahnya susah payah. Ia langsung menundukkan wajahnya dalam. Pipinya mulai memanas, sementara jemarinya sibuk meremas ujung halaman iqra'.
"Saya... Saya nggak marah kok..." gumamnya pelan.
"Hm?" Gus Zayn sedikit mendekat. "Kalau tidak marah, kenapa sejak tadi tidak mau melihat saya?"
Keira semakin gelagapan.
"Itu... itu karena lagi baca..."
"Baca iqra' sampai tidak melirik suami sendiri?"
Keira langsung terdiam.Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan. Wajahnya semakin merah, sedangkan Gus Zayn justru memandanginya dengan sorot mata penuh ketenangan. Seolah lelaki itu menikmati setiap detik saat Keira salah tingkah di hadapannya.
"Kamu cemberut dari tadi," lanjut Gus Zayn lembut. "Saya jadi ikut kepikiran. Terlebih kamu tidak mau di ajarkan dengan saya tadi."
Kalimat itu menghantam hati Keira begitu saja.
Karena suara Gus Zayn tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membujuk. Lelaki itu terdengar tulus. Sangat tulus hingga membuat dada Keira menghangat tanpa alasan.
Keira akhirnya memberanikan diri menoleh sedikit. Namun baru saja mata mereka bertemu, ia langsung gugup sendiri dan kembali memalingkan wajahnya.
"Beneran saya nggak marah..." lirihnya pelan, nyaris tidak terdengar. "Saya hanya capek saja..."
Gus Zayn terdiam sesaat.
Lalu perlahan, senyum tipis terukir di bibir pria itu.
"Oh..." gumamnya pelan. "Jadi istri saya ngambek karena itu?"
Keira langsung salah tingkah.
"Aku nggak ngambek..."
"Kalau begitu lihat saya."
Keira diam.
"Lihat saya dulu, Zaujati."
Dan sekali lagi, jantung Keira terasa seperti ingin meloncat keluar saat mendengar panggilan itu keluar dari bibir Gus Zayn dengan suara selembut malam.
“Maaf, jika kamu kecapean, kalau begitu untuk belajar hari ini, kita sudahi ya. Esok kita belajar lagi.” Gus Zayn tersenyum lembut, membuat Keira menahan nafasnya.
Kalau seperti ini bagaimana ia bisa marah? Dan lagi, panggilan pria itu, ‘Zaujati? Apa itu? Namanya Keira bukan zaujati!!
#Banyak komentar aku update lagi!!