NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Istri Mafia

“Esmond di mana?” tanya Gwen saat sarapan. “Dua minggu ini aku nggak lihat dia, terus tadi malam aku lihat orang-orang bawa barangnya.”

“Dia pergi.” Raymon mengambil jus jeruknya.

“Pergi maksudnya… dia udah nggak tinggal di sini lagi?”

“Bisa dibilang gitu.”

“Raymon?”

“Iya, Babby?” Dia menatap Gwen sambil memasukkan telur orak-arik ke mulut.

“Kamu bunuh dia, ya?”

“Ya jelas.”

Gwen tersedak roti di mulutnya dan buru-buru minum air. “Kamu nggak bisa ngomong gitu pas lagi sarapan, Raymon.”

“Kamu yang nanya. Lagian dia duluan yang coba bunuh aku.”

“Terus itu bikin semuanya jadi boleh?”

“Dia lagi nyiapin percobaan kedua. Itu bikin kamu lebih bisa nerima?”

Gwen terdiam, membayangkan Esmond mencoba membunuh Raymon lagi. Kalau begitu, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.

“Iya. Nggak ada yang boleh coba bunuh suami aku terus lolos. kamu ambil keputusan yang benar.”

“Senang dengarnya.”

“Bukan berarti aku setuju bunuh orang. Cuma… dalam kasus ini aku masih bisa nerima.”

“Pandangan kamu aneh banget, Gwen.”

“Aku hidup di dunia aneh kamu, jadi ya wajar.”

Gwen melirik jam lalu langsung berdiri. “Kita bakal telat ke acara nikahan itu.”

“Kamu pakai apa?”

Gwen tersenyum nakal, menarik kerah baju Raymon. “Tunggu aja.”

Dia mencium Raymon dan hendak menjauh, tapi pria itu langsung menarik pinggangnya dan memeluknya erat.

“Kalau kamu main api, bunga kecil aku,” bisiknya sambil tangannya masuk ke pinggang jeans Gwen dan mulai menurunkannya, “Kamu bisa kebakar.”

“Kita bakal telat.”

“Emangnya aku peduli?”

Gwen tersenyum. Dia juga tidak peduli. “Kursinya kuat nggak ya?”

“Kita coba aja.”

Saat Raymon melepas celananya, Gwen juga melepas jeans dan celana dalamnya, lalu naik ke pangkuannya. Kakinya terlalu pendek dan menggantung di kedua sisi. Bahkan saat dia berjinjit, ujung kakinya tetap tidak menyentuh lantai.

“Kayaknya nggak bakal bisa deh, Raymon.”

Raymon menunduk, tertawa pelan. “Ya ampun, Gwen. kamu kecil banget.”

“Kita ke ranjang aja?”

Raymon memiringkan kepala, bersandar di kursi, tangannya mencengkeram pinggang Gwen.

“Nggak.”

Mata Gwen melebar saat Raymon mengangkatnya dan menurunkannya perlahan. Dia terengah, mencengkeram bahu Raymon, menikmati sensasi yang perlahan memenuhi dirinya. Desahan lepas saat dia merasakan sepenuhnya.

Tangan Raymon berpindah ke bawah paha Gwen, mengangkatnya lalu menurunkannya lagi berulang kali. Gwen terengah, memeluknya erat. Dia tidak tahu mana yang lebih membuatnya terbakar, sensasi tubuh Raymon atau cara pria itu memperlakukannya seolah dia tidak punya berat sama sekali.

Beberapa saat kemudian, Gwen mencapai puncaknya bersamaan dengan Raymon.

“Kamu oke?” Raymon memeluknya erat ke dada.

“Iya.” Gwen menyandarkan wajah di lehernya, menghirup aromanya. “aku mau semua ruangan dikasih kursi kayak gini. Kursi roda kamu buang aja.”

“Berat badan kamu setengah dari yang biasa aku angkat, Babby.”

“Katanya sering gym dengan beban ringan lebih efektif.”

“Katanya siapa?”

Tangan Raymon mengusap punggung Gwen, turun ke pinggulnya.

“aku suka program latihan baru ini,” katanya sambil meremas pelan.

...***...

Pernikahannya membosankan. Banyak tamu berdiri sambil pegang gelas, ngobrol, pura-pura tersenyum. Gwen tidak kenal siapa pun, jadi dia lebih banyak mengamati orang sambil berkomentar ke Raymon tentang penampilan mereka. Raymon selalu menganggap ocehannya lucu.

Tapi beberapa menit lalu Raymon terjebak obrolan politik dengan beberapa pria. Gwen akhirnya pergi dan duduk di salah satu meja.

Tidak lama, beberapa wanita ikut duduk dan langsung mengajaknya ngobrol soal hadiah untuk pengantin.

“Kita nggak mungkin kasih sesuatu yang biasa aja,” kata seorang wanita pirang cantik dengan bibir penuh. “Mereka pasti suka weekend di spa. Tempatnya eksklusif banget. Jangan tanya harganya, mahal banget.”

“Mereka pasti suka,” jawab Gwen sambil tersenyum.

“Kalau kamu ngasih apa, sayang?”

“Vas yang jelek banget. Suami aku yang maksa.”

“Ya mungkin selera kalian beda. Suami kamu yang mana?”

Gwen menoleh ke arah kerumunan pria. “Yang paling seksi di ruangan ini,” jawabnya santai.

“Bisa aja.”

“Enggak. Itu fakta.”

Wanita-wanita itu mencoba menebak. “Yang pakai jas cokelat?”

“Bukan.”

Mereka menunjuk pria lain lagi, tapi sebelum Gwen menjawab, si pirang tiba-tiba berseru.

“Ya ampun, itu Raymon Frost?”

“Katanya dia kecelakaan beberapa bulan lalu,” bisik temannya. “aku dengar dia sudah menikah.”

“Serius? Istrinya kayak gimana?”

Gwen menyesap minumannya, menyembunyikan senyum.

“Mungkin tinggi, pirang. Itu tipe dia.”

“Kalau Raymon berani nikah sama dia, pasti ceweknya nyebelin banget.”

“Oh, dia memang nyebelin,” kata Gwen santai.

Kedua wanita itu langsung menatapnya. “Kamu kenal istrinya?”

“Iya. Dia agak gila.”

“Ya jelas. Nggak ada orang waras yang nikah sama Presiden mafia.”

Gwen hampir tertawa saat Raymon tiba-tiba menoleh ke arahnya. Tatapannya hangat. Gwen mengirim ciuman lewat udara. Raymon membalas dengan tatapan lembut sebelum kembali ngobrol.

Gwen menoleh lagi ke dua wanita itu. “Itu punya aku,” katanya sambil tersenyum. “Aku Gweneverre Frost. Si nyebelin itu.”

Mereka langsung kaku, buru-buru pamit, lalu pergi.

Gwen kembali menikmati minumannya sambil mengamati sekitar. Tak lama, seorang wanita mendekati kelompok Raymon. Wanita itu cantik klasik, rambut cokelat disanggul, gaun beige membalut tubuhnya. Dia tinggi, bahkan bahunya sejajar dengan Raymon.

Gwen tidak suka cara wanita itu memandang Raymon. Raymon memang tidak terlalu memperhatikannya, tapi tetap saja…

Gwen menyilangkan kaki, memastikan belahan gaunnya terlihat. Dia bersandar santai, lalu menatap Raymon dan memberi senyum kecil yang biasa dia pakai sebelum menyeret pria itu ke ranjang.

Raymon langsung mempersempit mata.

Gwen mengangkat tangan, menyentuh bibirnya pelan, lalu menurunkan jari ke leher dan berhenti di belahan dadanya. Tatapan Raymon mengikuti gerakannya.

Beberapa detik kemudian, Raymon meninggalkan percakapan dan berjalan ke arahnya tanpa melepas pandangan.

“Kamu manggil aku, ny. Frost?”

Gwen berdiri, menempelkan tangan di dada Raymon. “Bukan cuma kamu yang posesif di hubungan ini, Presiden.”

“Cemburu? Sama siapa, Babby? kamu tahu cuma ada satu wanita yang aku lihat.”

“Gitu?” Gwen menarik kerah bajunya sampai wajah mereka dekat. “Lagi nandain wilayah, ya?”

“Jelas,” bisiknya sebelum mencium Raymon.

“Pulang,” bisik Raymon di bibirnya. “Sekarang.”

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!