Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 26: Intervensi Masa Lalu
Hari Minggu pagi, saat Daniel mengantarkan Ibu kembali ke stasiun untuk bertolak ke Bekasi menghadiri resepsi anak Bude Yanti, aku ikut mengantar sampai ke lobi apartemen sewaan itu.
"Kamu beneran nggak mau ikut Ibu ke Bekasi, Ra?" tanya Ibu untuk ketiga kalinya, berdiri di depan pintu mobil operasional palsu yang dikemudikan Daniel. "Mumpung hari Minggu loh. Bude Yanti pasti seneng kalau kamu datang. Sekalian ngasih unjuk saudara-saudara kalau kamu sekarang udah sukses di Jakarta."
Kalimat terakhir itu adalah kunci utamanya. Ngasih unjuk saudara. Bagi Ibu, anak yang sukses adalah piala bergilir yang harus dipamerkan di setiap hajatan keluarga. Sayangnya, aku sedang tidak punya energi untuk menjadi pajangan etalase keluarga besar Kusuma.
"Nggak bisa, Bu. Besok ada pitching vendor IT di kantor. Data logistiknya belum selesai kurekap semua," balasku datar, menggunakan alasan korporat yang paling kebal peluru. "Kalau Nara ikut ke Bekasi sekarang, kerjaan nggak selesai, bisa kena tegur manajer."
Mendengar kata 'teguran manajer' yang berpotensi mengancam stabilitas finansial, Ibu langsung mengalah.
"Ya udah kalau gitu. Kerjaan memang nomor satu," kata Ibu akhirnya, masuk ke dalam mobil. "Ibu berangkat ya. Makasih udah diurusin selama di sini. Apartemen mess-mu memang nyaman."
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan. Titip salam buat Bapak," balasku.
Aku menatap mobil SUV itu melaju menjauh meninggalkan pelataran apartemen. Begitu plat nomornya hilang di belokan, bahuku yang sejak hari Kamis tegang luar biasa, akhirnya luruh ke bawah.
Operasi Mess Karyawan resmi berakhir tanpa korban jiwa.
Sore harinya, aku kembali ke habitat asliku. Aku menyeret koper kainku melewati lobi berlapis marmer hitam Menara Adristo, naik ke lantai empat puluh, dan melangkah masuk ke dalam penthouse steril yang sunyi.
Anehnya, menghirup aroma sandalwood yang dingin dari ruangan raksasa ini terasa jauh lebih menenangkan daripada mencium bau minyak angin Ibu di apartemen kecil kemarin. Aku kembali menjadi Pihak Kedua. Dan jujur saja, aturan kontrak Rayan jauh lebih mudah diprediksi daripada suasana hati ibuku.
Hari Senin siang. Jam istirahat di kubikel PT Bina Tirta.
Aku duduk menyendiri menghadap monitor, mengunyah bekal roti gandum sambil memasang earphone. Di layar ponselku, terhubung panggilan video call dengan Sari.
Sahabatku itu tampak sangat kacau. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya berminyak, dan di latar belakangnya terlihat tumpukan kardus cokelat dan gulungan bubble wrap yang menjulang seperti gunung berapi.
"Ra, sumpah ya, aku mau resign aja rasanya!" teriak Sari dari seberang layar, suaranya bersaing dengan bunyi lakban yang sedang ditarik dengan kasar oleh seseorang di belakangnya. "Ini pesanan online tas batch baru sold out dalam dua jam! Bosku girang, tapi anak gudang sama admin kayak aku yang mati berdiri ngurusin packing-an!"
Aku mengunyah rotiku perlahan. "Kalau kamu resign bulan ini, cicilan paylater skincare Korea-mu yang sisa tiga bulan itu mau dibayar pakai apa, Sar? Pakai daun jati?"
Sari langsung mengerang frustrasi, menjatuhkan dahinya ke atas tumpukan resi pengiriman. "Tolong ingetin aku buat nggak gampang tergiur diskon tanggal kembar lagi, Ra. Tolong."
Aku mendengus pelan, nyaris tersenyum. "Nanti malam aku transfer dua ratus ribu. Buat kamu beli kopi susu literan sama pizza biar nggak mati kelaparan di gudang."
Sari langsung menegakkan kepalanya, matanya berbinar-binar seperti anak anjing yang baru diberi tulang. "Ya Allah, Nara! Tahu aja temenmu lagi butuh asupan micin kelas atas! Istri CEO emang beda aura sedekahnya!"
"Suaramu, Sar. Ini masih jam kantor," tegurku cepat, melirik ke sekeliling kubikel memastikan tidak ada yang mendengar julukan sialan itu.
"Eh, iya maaf," Sari cengengesan. "Makasih ya, Ra. Nanti kalau badai packing ini udah reda, kita ketemuan. Aku penasaran banget cerita kamu nyembunyiin ibumu dari suamimu yang miliarder itu."
"Nanti kuceritakan. Udah, lanjut kerja sana," balasku, lalu mematikan sambungan.
Aku meletakkan ponsel dan menghabiskan sisa rotiku. Mengobrol dengan Sari selalu berhasil menetralkan rasio kewarasanku. Ia mengingatkanku bahwa di luar sana, kehidupan normal dengan masalah-masalah sepele seperti lakban dan paylater masih berputar pada porosnya.
Pukul 14:00.
Aku dan manajer logistikku, Pak Hadi, duduk di ruang meeting kaca berukuran sedang. Di seberang meja kami, duduk tiga orang perwakilan dari vendor IT/Data yang diundang untuk melakukan pitching pembaruan sistem tracking barang.
Aku bertugas menyajikan kelemahan sistem lama berdasarkan data yang sudah kurekap sebulan terakhir.
Saat aku sedang memaparkan presentasi di depan layar proyektor, mataku menangkap salah satu perwakilan vendor seorang pria berkemeja biru muda dengan lanyard ID Card hitam di lehernya terus menatapku.
Awalnya aku berpikir ia sedang memindai kesalahan pada slide presentasiku. Tapi tatapannya terlalu fokus ke wajahku, dengan kening berkerut seperti sedang mencoba membongkar sebuah brankas memori lama.
Begitu presentasi dan sesi tanya jawab selesai, Pak Hadi mempersilakan perwakilan vendor untuk berkemas. Aku sedang merapikan kabel proyektor ketika pria berkemeja biru muda itu berjalan menghampiriku.
"Maaf," sapanya ragu. "Nara? Nara Kusuma?"
Aku menghentikan gerakanku menggulung kabel. Aku mendongak, menatap wajah pria itu dari jarak dekat.
Postur tubuhnya tegap, rambutnya disisir rapi ala pekerja Sudirman, namun ada sesuatu pada sorot matanya yang tidak asing. Sebuah ketenangan yang familier.
Otakku melakukan scanning visual cepat, mencocokkan wajah pria dewasa ini dengan arsip memoriku sembilan tahun yang lalu.
"Ardito Ramadhan," panggilku, suaraku nyaris terdengar seperti bisikan karena terkejut.
Senyum Dito semakin lebar. "Ternyata ingatan analitismu masih tajam, Ra."
Aku mematung di tempat. Mesin waktuku mendadak rusak, melempar ingatanku mundur ke deretan meja panjang kantin SMP yang bising. Ke masa di mana aku belajar menjadi manusia transparan.
Dito adalah anomali pertama dalam sejarah sosialisasiku. Di saat anak-anak lain sibuk mencari validasi dan kelompok, Dito adalah satu-satunya orang yang bisa duduk di sebelahku dalam keheningan total tanpa menuntutku menjadi versi yang lebih berisik. Percakapan pertama kami hanya sebatas pinjaman pena bertutup penyok yang tintanya habis. Tidak ada deklarasi persahabatan, tidak ada drama. Kami hanya dua remaja yang secara tidak sengaja menemukan tempat berteduh di kehadiran satu sama lain.
Lalu, seperti pola yang selalu terjadi dalam hidupku, ia menghilang setelah lulus SMP. Nomornya tidak aktif, dan orbit kami tidak pernah bersinggungan lagi.
Sampai detik ini.
"Kamu... kerja di Quantum Data?" tanyaku, melirik logo perusahaan di lanyard-nya, mencoba mengembalikan obrolan ke ranah yang lebih aman.
"Iya, jadi Project Manager di sana. Nggak nyangka bakal pitching di tempatmu," jawab Dito santai. Ia melirik jam tangannya, lalu menatapku. "Ra, aku tahu ini agak mendadak, tapi... kamu sibuk nggak setelah jam kantor ini? Mau ngopi di bawah? Kebetulan aku nggak usah balik ke kantorku habis ini."
Otak logisku langsung mempertimbangkan ajakan itu.
Normalnya, aku akan menolak. Aku tidak suka berurusan dengan masa lalu. Terlalu banyak variabel yang harus dijelaskan. Tapi menatap Dito... rasanya berbeda. Ia mengingatkanku pada versi diriku yang murni, versi yang belum terbebani oleh buku catatan merah Sri Wahyuni dan kontrak senilai satu miliar dari Rayan Adristo.
"Aku kelar jam lima pas," jawabku akhirnya.
Dito tersenyum. "Oke. Aku tunggu di coffee shop lobi bawah ya."
Pukul 17:15.
Aku duduk berhadapan dengan Dito di sudut kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Dua cangkir kopi susu reguler mengepul di antara kami.
Kecanggunganku hanya bertahan selama lima belas menit pertama. Dito ternyata masih sama seperti Dito yang dulu. Ia tidak mencecar, tidak menghakimi, dan tidak menanyakan hal-hal privasi yang berlebihan.
Ia bercerita tentang skripsinya yang tertunda dua semester karena asyik freelance, bosnya yang hobi merevisi dokumen di jam sebelas malam, dan rencananya mengambil cicilan KPR rumah subsidi di daerah pinggiran yang harus memakan waktu tempuh dua jam ke kantor.
"Sumpah, Ra. Kalau aku tahu jadi orang dewasa itu isinya cuma bayar tagihan sama ngumpulin struk bensin buat reimburse, aku mending tinggal kelas aja di SMP dulu," keluh Dito, mengaduk kopinya dengan lesu.
Aku tidak bisa menahan diriku. Sebuah tawa yang benar-benar lepas bukan tawa sinis, bukan tawa mengejek keluar begitu saja dari tenggorokanku.
"Kamu sendiri yang menolak belajar serius pas mau UN dulu, To," balasku dengan senyum yang anehnya terasa sangat ringan di wajahku. "Sekarang rasakan sendiri karma dari orang-orang yang sering menyalin PR matematikaku di pagi hari."
Dito ikut tertawa, sebuah tawa yang hangat dan membumi. Tawa kelas pekerja yang mentertawakan nasibnya sendiri tanpa ada beban menjaga gengsi.
Untuk sesaat, aku lupa bahwa malam ini aku harus kembali ke penthouse senilai ratusan miliar. Aku lupa pada silsilah keluarga Adristo, manuver Tante Sonia, dan tatapan intimidatif dari seorang CEO. Di meja kecil ini, aku hanyalah Nara yang normal.
Namun, di duniaku saat ini, kenormalan adalah barang mewah yang tidak bisa kusimpan lama-lama.
Saat aku mengangkat cangkir kopiku, mataku tidak sengaja menangkap pergerakan di luar dinding kaca kedai.
Sebuah mobil Maybach hitam mengkilat berhenti tepat di area drop-off lobi gedung kantorku. Kaca jendela penumpang belakang bagian kiri perlahan turun secara otomatis.
Tubuhku membeku. Cangkir kopi berhenti di tengah jalan menuju bibirku.
Di balik kaca mobil itu, duduk Rayan Adristo. Ia masih mengenakan setelan jas Bespoke-nya secara penuh. Wajahnya lurus menghadap ke arah kaca kedai, matanya yang tajam dan segelap malam menembus jarak lima belas meter dan langsung mengunci keberadaanku yang sedang duduk berhadapan dengan Dito.
Tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Tidak ada emosi murahan yang meledak-ledak. Ia hanya menatapku dengan tatapan kosong yang membekukan, sebuah peringatan non-verbal yang sangat mematikan.
Insting survival-ku langsung aktif.
Rayan tidak mungkin secara kebetulan lewat di ruko logistik kelasku. Sudirman mungkin luas, tapi rute Maybach tidak pernah melewati jalan sempit ini kecuali jika ada tujuan spesifik.
(Dia tahu aku ada di sini. Daniel pasti sudah mengecek laporan absenku dan posisi GPS ponselku yang ditautkan ke sistem keamanan penthouse).
"Nara? Kamu lihat apa?" Dito menyadari perubahan drastis pada raut wajahku dan ikut menoleh ke luar jendela.
Sebelum Dito bisa melihat dengan jelas siapa pemilik mobil mewah itu, kaca jendela Maybach kembali naik dengan mulus, menyembunyikan Rayan dari pandangan. Mobil itu tidak pergi, ia tetap diam di sana dengan mesin menyala, menungguku layaknya predator yang sedang berjaga di mulut gua.
Aku dengan cepat meletakkan cangkir kopiku dan langsung membereskan barang-barangku ke dalam tas kain.
"Dito, maaf banget," kataku dengan suara yang jauh lebih kaku dan terburu-buru dari sebelumnya, senyum ringanku lenyap tanpa sisa. "Aku... aku baru ingat ada data operasional darurat yang diminta bos besarku sebelum jam enam malam ini. Aku harus pulang sekarang buat ngerjain itu."
"Oh?" Dito tampak terkejut, tapi karena ia sesama pekerja keras, ia tidak memprotes. "Mendadak banget ya? Ya udah nggak apa-apa. Mau kuantar ke stasiun KRL sekalian jalan?"
"Nggak usah! Aku... aku dijemput temen. Duluan ya, To. Senang bisa ngobrol lagi sama kamu."
Tanpa menunggu balasan panjang, aku setengah berlari keluar dari kedai kopi itu.
Begitu berada di trotoar luar, aku melangkah cepat menuju Maybach hitam yang menunggu. Sopir di depan tidak turun membukakan pintu sebuah indikasi jelas bahwa suasana hati bos besarnya sedang tidak bagus.
Aku membuka sendiri pintu belakang, masuk, dan menutupnya dengan suara 'blam' yang cukup keras.
Udara di dalam kabin mobil itu terasa minus sepuluh derajat.
Rayan duduk di sebelah kiriku, bersandar dengan elegan, membaca dokumen di tabletnya seolah aku ini hanyalah partikel debu yang baru saja masuk. Rahangnya terkatup rapat. Parfum maskulinnya menguar tajam, mendominasi sisa-sisa bau kopi murah yang menempel di bajuku.
"Apa yang Bapak lakukan di sini?" tanyaku datar, langsung menggunakan mode formal karena intuisiku mengatakan ini bukan saatnya memanggil nama depannya.
Rayan tidak menoleh. Ia men- scroll layar tabletnya dengan satu jari.
"Jadwal KRL-mu adalah pukul tujuh belas lewat sepuluh menit. Kamu terlambat tiga puluh lima menit dari habit operasionalmu, Nara," jawabnya dengan suara bariton yang terlampau tenang, terlalu kalkulatif.
"Saya baru saja melakukan meeting dengan relasi lama dari SMP. Saya rasa jam lima sore adalah waktu pribadi Pihak Kedua yang tidak diatur dalam kontrak," balasku tak kalah analitik, menekan rasa gentar yang mencoba merayap di tengkukku.
Rayan akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menoleh perlahan menatapku. Matanya turun sejenak, menatap lanyard ID Card Bina Tirta yang masih menggantung di leherku, lalu kembali ke mataku.
"Waktu pribadimu memang milikmu," kata Rayan dingin. "Tapi keamanan informasi adalah milik saya."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara kami, membawaku kembali ke dalam zona intimidasinya yang absolut.
"Kamu menghabiskan empat puluh lima menit di kedai kopi terbuka dengan seorang pria berstatus karyawan agensi vendor. Apakah dia bertanya di mana kamu tinggal? Apakah kamu ceroboh menyebutkan fasilitas mess fiktifmu? Atau lebih buruk, apakah dia tahu gajimu?" berondong Rayan tajam, menyerangku dengan argumen manajemen risiko.
Aku mengerutkan kening dalam-dalam. "Rayan, dia teman SMP-ku. Obrolan kami berkisar di cicilan KPR rumah subsidi, bos yang menyebalkan, dan nostalgia guru BP sekolah kami. Tidak ada satu pun variabel pembicaraan yang melibatkan Adristo Group, saham pamanmu, atau apartemen triliunanmu itu. Kenapa kamu bereaksi seolah aku baru saja menyerahkan cetak biru brankas perusahaanmu ke pesaing?"
Rayan terdiam.
Satu detik. Dua detik.
Tatapan tajamnya memudar, tergantikan oleh sebuah kekosongan yang sangat tipis sebelum ia menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. Ia membuang pandangannya ke luar jendela.
Aku menatap profil samping wajahnya yang kaku. Dan tiba-tiba, logika mematikan menyadarkanku.
Rayan tidak sedang marah karena takut rahasia kontrak kami bocor. Pria dengan intelijen setingkat agen rahasia ini tahu persis siapa Dito sebelum mobilnya sampai di sini. Ia tahu Dito tidak berbahaya bagi perusahaannya.
Lalu kenapa CEO yang waktunya bernilai ratusan juta per menit ini repot-repot memutar rutenya ke kawasan ruko kumuh hanya untuk menjemputku dengan alasan 'audit keamanan'?
Jawabannya sesederhana bau kopi susu murah yang menempel di kemejaku.
Rayan terganggu. Ia terganggu bukan karena ancaman eksternal, melainkan karena ia melihatku tersenyum lepas dan tertawa tulus di sebuah kedai kopi murahan sebuah tawa yang tidak pernah bisa ia beli dengan uang satu miliar rupiah yang ia transfer ke rekeningku.
Ia melihatku bahagia di sebuah dunia normal, di mana kekuasaan dan kekayaannya tidak punya nilai tukar sama sekali. Dan ego sang tiran korporat tidak tahu bagaimana cara memproses kekalahan tersebut selain lewat amarah birokratis.
Aku memalingkan wajahku, menatap ke arah jendela di sisiku.
"Mobil jalan," perintah Rayan singkat pada sopir di depan.
Maybach hitam itu mulai meluncur membelah kemacetan sore Jakarta. Kami duduk berdampingan dalam keheningan yang menyesakkan, terperangkap bersama dalam sebuah kendaraan mewah. Namun, jarak tak terlihat yang memisahkan kami terasa lebih jauh daripada hari pertama kami menandatangani kontrak itu.