Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Senyum di Balik Luka
Mobil SUV itu melaju menjauh dari keramaian pesta keluarga Atala yang menyesakkan. Di dalam kabin, suasananya sangat kontras dengan biasanya—tidak ada musik riang, tidak ada celotehan Gisel (23 thn). Yang ada hanya aroma white tea yang kini terasa sendu.
"Pak, saya turun di sini saja," ucap Gisel tiba-tiba saat mobil melewati deretan lampu kota yang gemerlap.
Raka (17 thn) langsung menginjak rem dengan kaget, menepikan mobil ke bahu jalan. Ia dan Alya (16 thn) serentak menoleh ke arah Gisel.
"Kenapa? Ini kan belum sampai rumah," tanya Raka, matanya yang tajam menatap Gisel dengan cemas.
"Iya, Kak Gisel... kita pulang bareng aja. Mbak nggak apa-apa kan?" tambah Alya, suaranya parau karena sedih melihat "Ibu Muda"-nya diperlakukan begitu oleh nenek dan ayahnya.
Gisel memaksakan sebuah senyum manis, senyum yang sama seperti di cover novelnya saat ia sedang menghayal—tapi kali ini matanya tidak berbinar. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku ada urusan sebentar. Nanti aku pulang pakai taksi."
"Gue temenin," potong Raka tegas. Ia tidak mau membiarkan Gisel sendirian dalam kondisi serapuh ini.
"Nggak usah, Raka. Nggak apa-apa. Kalian pulang saja, istirahat. Jangan lupa temani Digo ya? Kasihan dia tadi pasti bingung liat keributan di pesta," Gisel mengusap kepala Digo yang tertidur di pangkuannya sebelum menyerahkannya perlahan ke gendongan Alya.
Alya menatap Gisel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... Kak beneran pulang, kan?"
Gisel terdiam sejenak. Ia menatap kedua remaja yang kini sangat ia sayangi itu. Di balik rasa sakitnya karena sikap Dewa, ia merasa menang karena telah mendapatkan hati anak-anak ini. Gisel menarik napas panjang, menghirup aroma malam yang dingin.
"I'll be fine, kids. Don't worry. I just need a little time for my self," jawab Gisel dalam bahasa Inggris dengan pelafalan yang lembut, diiringi senyum manis yang berusaha meyakinkan mereka.
Gisel turun dari mobil, berdiri di trotoar sambil melambaikan tangan saat mobil itu perlahan melaju pergi. Begitu lampu belakang mobil tidak lagi terlihat, senyum Gisel luntur. Ia berjalan pelan menyusuri trotoar, membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
"Sial... kok perih banget ya?" gumam Gisel sambil menyeka air mata yang akhirnya jatuh. "Ternyata bener, jatuh cinta sama gunung es itu resikonya bisa mati kedinginan kalau dia lebih milih hantu masa lalunya."
Gisel merogoh ponselnya, melihat foto Dewa yang sedang tertidur—foto yang selama ini jadi penyemangatnya. Tanpa ragu, ia mematikan ponselnya. Ia butuh waktu untuk berpikir: apakah kontrak gila ini masih layak ia pertahankan?
Gisel berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi. Gaun cocktail mahalnya kini tertutup jaket denim pinjaman yang ia ambil dari mobil tadi. Ia berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar tanaman yang asri. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu kayu itu berkali-kali.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?!" teriak suara perempuan dari dalam, terdengar sedikit waspada karena ini sudah hampir tengah malam.
"Gue, Gisel!" jawab Gisel dengan suara serak.
Pintu terbuka lebar, menampakkan Maya, sahabat Gisel sejak SMA yang selalu tahu seluk beluk hidupnya. Maya melongo melihat penampilan Gisel yang berantakan—rambut acak-acakan, mata sembab, tapi tetap dengan sisa wangi white tea yang lekat.
"Gisel? Tumben banget lo jam segini... lo kenapa?!" Maya menarik tangan Gisel masuk dengan raut bingung.
"Gue nginep sini ya, May?" pinta Gisel tanpa basa-basi. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa kain milik Maya yang empuk.
Maya menutup pintu, lalu duduk di samping Gisel. Ia belum pernah melihat Gisel se-lesu ini. Biasanya, Gisel akan datang dengan sejuta cerita konyol tentang "Mas CEO" yang kaku itu. "Sel, lo ada masalah sama kontrak gila itu? Atau sama si Pendekar Dingin?"
Gisel hanya menghela napas panjang, menatap langit-langit ruang tamu. "Gunung es-nya nggak cair, May. Malah ketutup salju baru yang mirip banget sama masa lalunya. Gue kalah telak."
Maya mengusap bahu Gisel prihatin. "Sel, lo udah makan? Muka lo pucat banget."
"Belum laper, May," jawab Gisel singkat.
"Duh, jangan gitu. Gue baru beli ramen instan yang pedas banget, favorit lo. Mau ya?" Maya membujuk, tahu kalau makanan pedas biasanya jadi pelampiasan stres terbaik untuk sahabatnya ini.
Gisel terdiam sejenak, perutnya memang mulai terasa perih karena sejak pesta tadi ia hanya meminum segelas champagne. "Ok deh... ramen pedas kayaknya cocok buat bakar rasa sakit hati gue malam ini."
Maya tersenyum tipis dan segera beranjak ke dapur. Sementara itu, Gisel meraih ponselnya yang mati. Ia ragu untuk menghidupkannya. Ia tahu, di rumah Atala sana, Dewa mungkin sedang mencarinya—atau mungkin sedang asyik bernostalgia dengan Bianca.
"Lupakan Dewa, nikmati ramen," gumam Gisel pada dirinya sendiri, meski hatinya tetap terasa kosong.