Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Sabtu pagi di Bogor selalu punya aroma yang khas: perpaduan antara tanah basah, wanginya pohon pinus, dan udara dingin yang seolah menusuk hingga ke tulang. Setelah seminggu yang penuh drama di kantor bersama Jeremy, pelarian ke Kota Hujan ini adalah oksigen yang sangat dibutuhkan Sheila.
Motor matic hitam Malik membelah jalanan puncak yang masih diselimuti kabut tipis. Sheila, yang mengenakan jaket rajut berwarna krem dan syal pemberian Malik, merapatkan pelukannya di pinggang pria itu. Ia menyandarkan kepalanya di punggung lebar Malik, menghirup aroma sabun cuci baju yang familiar dan menenangkan—aroma yang jauh lebih ia sukai daripada parfum kayu cendana milik Jeremy yang mengintimidasi.
"Kamu ngantuk, Shei?" suara Malik terdengar sedikit teredam oleh helm, tapi nadanya tetap penuh perhatian.
Sheila memejamkan mata, menikmati getaran mesin motor yang ritmis di bawah mereka. "Enggak kok, cuma kedinginan saja," gumamnya pelan, makin membenamkan wajahnya di jaket bomber Malik.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai di tempat sarapan bubur langganan. Di sana teh tawar hangatnya juara," balas Malik sambil menepuk pelan tangan Sheila yang melingkar di perutnya.
Hari ini, mereka sepakat untuk melakukan satu hal ekstrem: Digital Detox. Sejak berangkat tadi pagi, kedua ponsel mereka sudah dimatikan dan disimpan rapat di dalam tas kecil milik Sheila. Tidak ada notifikasi email dari Jeremy, tidak ada pesan tugas "darurat" di hari libur, dan tidak ada gangguan media sosial. Hanya ada mereka berdua dan kabun Bogor.
Mereka berhenti di sebuah warung bubur ayam sederhana di pinggir jalan yang menghadap langsung ke arah lembah. Uap mengepul dari mangkuk bubur yang penuh dengan suwiran ayam, cakwe, dan kerupuk kuning.
"Enak banget," puji Sheila saat sendokan pertama menyentuh lidahnya. Rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Malik tersenyum, memperhatikan pipi Sheila yang mulai merona karena udara dingin. "Senang lihat kamu senyum lagi, Shei. Kemarin-kemarin di kantor kayaknya kamu tegang terus."
Sheila meletakkan sendoknya sejenak. "Iya, Malik. Kamu tahu sendiri kan gimana... ya, itulah. Tapi hari ini aku nggak mau bahas soal kantor. Aku cuma mau ingat kalau hari ini aku cuma punya kamu."
Malik meraih tangan Sheila di atas meja kayu yang sederhana itu. "Aku juga. Hari ini, dunianya cuma milik kita berdua. Nggak ada CEO, nggak ada penalti, cuma Sheila dan Malik."
Setelah perut kenyang, mereka melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor. Mereka memilih untuk berjalan kaki menyusuri jalanan setapak di bawah naungan pohon-pohon raksasa yang usianya sudah ratusan tahun. Tanpa ponsel di tangan, Sheila merasa matanya jauh lebih tajam melihat sekeliling.
"Lihat itu, Malik! Bunganya cantik banget!" Sheila menunjuk serumpun bunga liar berwarna ungu di dekat jembatan gantung.
Biasanya, Sheila akan langsung mengeluarkan ponsel untuk memotretnya demi keperluan konten atau sekadar kenang-kenangan. Tapi kali ini, ia hanya berdiri diam, merekam warna dan bentuk bunga itu di dalam ingatannya.
"Lebih cantik kalau dilihat langsung, kan?" Malik berdiri di sampingnya, ikut memandangi bunga itu. "Kadang kita terlalu sibuk mendokumentasikan hidup sampai lupa menikmatinya."
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan mengobrol. Hal-hal kecil yang biasanya terlewatkan saat mereka sibuk bekerja, kini menjadi topik bahasan yang seru. Tentang rencana menanam cabai di halaman belakang rumah, tentang keinginan Malik membelikan Ibu Sheila kursi pijat, hingga impian-impian sederhana tentang masa depan mereka.
"Malik, kalau nanti kita sudah menikah... aku ingin rumah kita punya banyak jendela besar," ucap Sheila saat mereka duduk di atas rumput hijau yang luas, menatap Istana Bogor dari kejauhan.
"Kenapa harus jendela besar?"
"Biar cahayanya masuk banyak. Dan biar aku bisa lihat kamu pulang kerja dari jauh," jawab Sheila tulus, kepalanya bersandar di bahu Malik.
Malik merangkul pundak Sheila, mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Aku bakal buatin jendela paling besar buat kamu, Shei. Biar kamu selalu tahu kalau jalan pulang kamu itu selalu ada di aku."
Siang berganti sore. Mereka memutuskan untuk tidak makan di restoran mall atau tempat yang hits. Sebaliknya, Malik mengajak Sheila ke sebuah kedai mi glosor di pasar yang ramai namun autentik. Mereka makan sambil tertawa melihat tingkah lucu anak-anak kecil yang mengejar burung dara di sekitar sana.
Saat matahari mulai terbenam dan langit Bogor berubah warna menjadi jingga keunguan, mereka duduk di bangku taman dekat stasiun.
"Terima kasih ya buat hari ini, Malik," bisik Sheila.
"Sama-sama, Sayang. Gimana rasanya seharian nggak pegang HP?"
Sheila tersenyum lebar. "Anehnya, aku merasa lebih tenang. Aku nggak takut ada pesan masuk yang menyebalkan. Aku merasa... bebas."
Ia menyadari sesuatu. Selama ini, Jeremy menggunakan teknologi—ponsel, GPS, pesan singkat—sebagai alat untuk mengikatnya. Tapi hari ini, dengan mematikan alat itu, Sheila membuktikan bahwa hatinya tetap merdeka. Kekuasaan Jeremy hanya sebatas jam kantor dan layar ponsel, tapi ketulusan Malik mencakup seluruh ruang dan waktu yang mereka bagi hari ini.
"Besok pasti bakal berat lagi ya di kantor?" tanya Malik saat mereka bersiap untuk pulang.
Sheila memakai helmnya, lalu menatap Malik dengan pandangan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Berat mungkin iya, tapi aku nggak takut lagi. Karena aku tahu, sesibuk apa pun aku 'disandera' di kantor itu, sore harinya aku akan selalu kembali ke kamu."
***
Malam di depan pagar rumah Sheila terasa begitu tenang, hanya diterangi lampu jalan yang temaram dan suara serangga malam. Udara Bogor yang dingin seolah masih tertinggal di ujung jari mereka. Malik mematikan mesin motor matic-nya, menatap Sheila yang sedang merapikan syalnya dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan seorang pria yang baru saja menghabiskan waktu paling berharga dalam hidupnya.
Sheila turun dari motor, gerakannya sedikit kaku karena pegal setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Ia tersenyum, matanya berbinar menatap Malik.
"Makasih ya buat hari ini, Malik. Benar-benar refreshing banget," ucap Sheila lembut. Ia melirik ke arah pintu rumahnya yang sepi. "Kamu... nggak mau mampir dulu? Aku buatin teh hangat ya?"
Malik terkekeh, tangannya terulur mengacak pelan rambut Sheila yang sedikit berantakan karena helm. "Nggak boleh, Sayang. Belum waktunya. Ingat kan janji kita sama Ibu kamu? Aku boleh mampir lama-lama kalau sudah bawa rombongan keluarga buat melamar."
Sheila menepuk jidatnya pelan, wajahnya memerah. "Oh iya lupa! Kebiasaan deh, saking enaknya ngobrol sama kamu. Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Kabarin aku kalau sudah sampai rumah. Dahh!!"
Sheila melambaikan tangan dengan riang sampai lampu merah belakang motor Malik benar-benar hilang ditelan tikungan gang. Ia menghela napas panjang, merasa hatinya penuh dengan energi positif. Ia sudah siap menghadapi hari Senin, siap menghadapi denda kontrak, dan siap menghadapi apa pun "skenario gila" Jeremy besok.
Namun, baru saja Sheila hendak memutar kunci pagar...
CIIIIIITTT!
Sebuah mobil SUV hitam besar dengan lampu LED yang sangat terang berhenti mendadak tepat di depannya. Jaraknya hanya beberapa senti dari ujung kakinya. Klaksonnya tidak berbunyi, tapi kehadirannya yang tiba-tiba membuat jantung Sheila mencelos.
"Astaghfirullahaladzim! Kaget!" pekik Sheila spontan. Ia mundur dua langkah, tangannya memegang dada. Begitu kaca mobil yang gelap itu turun perlahan, wajah tengil Jeremy Nasution muncul dari balik kemudi.
"Kebiasaan deh! Heran aku, Bapak hobinya bikin orang jantungan terus!" omel Sheila dengan nada yang sudah tidak sesabar biasanya. Kali ini, ia benar-benar dongkol.
Jeremy mematikan mesin mobilnya, tapi ia tidak turun. Ia hanya menyandarkan sikunya di jendela mobil, menatap Sheila dengan tatapan menyelidik yang tajam. Ia masih mengenakan kaos polo kasual, sepertinya ia juga baru pulang dari suatu tempat.
"Habis dari mana?" tanya Jeremy. Suaranya rendah, tidak ada nada bercanda seperti biasanya. Ada sedikit rasa tidak suka yang tersirat di sana.
Sheila melipat tangannya di dada, menatap Jeremy dengan berani. "Ya kencanlah. Aku kan punya pacar. Memangnya Bapak nggak lihat tadi Malik baru saja antar aku?"
Jeremy mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya. "Kencan seharian sampai ponsel mati total? Kamu tahu nggak, aku telepon kamu lima puluh kali buat tanya soal revisi anggaran proyek Sentul? Kamu pikir itu profesional, Sheila?"
"Ini weekend, Pak Jeremy. Di kontrak tertulis jam kerja aku dari Senin sampai Jumat. Jadi, ponsel mati di hari Sabtu dan Minggu adalah hak asasi aku sebagai manusia yang punya kehidupan pribadi," balas Sheila telak. Ia merasa lebih kuat setelah hari ini diisi oleh ketulusan Malik.
Jeremy turun dari mobil, menutup pintunya dengan suara berdentum yang cukup keras di kesunyian malam. Ia berjalan mendekati Sheila, membuat gadis itu harus mendongak.
"Kehidupan pribadi ya?" Jeremy mencondongkan tubuhnya. "Dengar, Sheila. Kamu mungkin merasa bebas hari ini di Bogor—ya, aku tahu kamu ke sana, karena GPS ponselmu mati tepat di gerbang tol Jagorawi. Tapi ingat, besok pagi jam delapan, kamu kembali jadi milik perusahaan. Milikku."
Sheila mengernyit. "Bapak stalker ya? Sampai hafal aku hilang di mana?"
"Aku bukan stalker. Aku cuma peduli sama aset berhargaku," Jeremy merapikan kerah jaket Sheila yang sedikit miring dengan gerakan posesif yang lambat. "Lain kali, jangan matikan ponselmu. Kalau terjadi apa-apa sama kamu di jalan, siapa yang mau aku tuntut buat bayar denda penalti itu? Si Malik? Memangnya dia punya uang seharga satu unit apartemen di Kuningan?"
Sheila terdiam. Kalimat Jeremy selalu saja kembali ke titik terlemahnya: Uang dan Kontrak.
"Kenapa Bapak selalu bahas itu? Bapak nggak punya cara lain apa buat bikin orang bertahan di samping Bapak selain pakai ancaman?" tanya Sheila, suaranya mulai gemetar karena emosi.
Jeremy menatap mata Sheila dalam-dalam. Untuk sesaat, kilat kesombongan di matanya meredup, berganti dengan rasa kesepian yang dalam namun segera ia tutupi dengan senyum miring.
"Karena cuma itu yang bisa menjamin kamu nggak akan lari lagi, Sheila. Dulu aku kasih kamu bunga, kamu lari. Aku kasih kamu perhatian, kamu anggap gangguan. Sekarang aku kasih kamu kontrak, dan lihat? Kamu masih di sini, berdiri di depanku."
Jeremy mengambil sesuatu dari kursi penumpang melalui jendela mobil yang terbuka—sebuah kantong belanja dari toko roti mewah.
"Ini. Buat sarapan kamu besok pagi. Jangan sampai telat rapat gara-gara semalam habis kencan," Jeremy menyodorkan kantong itu ke tangan Sheila.
"Nggak usah, Pak. Tadi aku sudah kenyang makan sama Malik."
"Ambil. Atau aku potong gaji kamu karena menolak pemberian atasan," ancam Jeremy telak.
Sheila menerima kantong itu dengan terpaksa. "Bapak benar-benar menyebalkan."
"Aku tahu. Dan kamu harus mulai terbiasa dengan itu," Jeremy masuk kembali ke mobilnya. Sebelum menyalakan mesin, ia menoleh sekali lagi. "Oya, besok pagi jangan berangkat sama Malik. Aku yang jemput jam tujuh pagi. Nggak ada penolakan, atau denda penalti kamu aku tambah satu poin karena pembangkangan."
"Loh! Nggak bisa gitu dong, Jer!"
Mobil Jeremy melaju pergi begitu saja, meninggalkan Sheila yang berdiri mematung dengan kantong roti di tangan dan perasaan dongkol yang meluap-luap.
Sheila masuk ke rumah, mengunci pintu rapat-rapat. Ia melihat kantong roti itu. Roti mahal yang mungkin harganya sama dengan sepuluh porsi mi glosor yang ia makan tadi siang.
"Malik... kayaknya besok bakal jadi Senin yang sangat panjang," gumam Sheila lemas. Ia terduduk di sofa, memikirkan bagaimana caranya memberi tahu Malik bahwa besok pagi sang CEO gila itu akan menjemputnya di depan rumah.