"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Akhirnya mereka pun kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing, dito yang menyebar surat undangan untuk para warga dan pejabat setempat untuk hadir di acara lamaran tersebut.
Dian sesekali menghampiri ibu mertuanya yang terkadang terlihat melamun saat menanak nasi, Dian membawakan camilan nikmat yang dibawa oleh Darel.
Ada potongan cake coklat, ada juga puding dan buah-buahan segar yang juga dian bagi dengan yang lain.
"Diandra apa yang harus aku bantu saat ini, ikannya sudah ku bersihkan"ujar Ari.
"Bantu aku ngulek bumbu,"ujar Dian sambil menyodorkan semua bumbu yang sudah disiapkan dan di bersihkan.
"Nona saya bantu apa lagi?"ujar Darel.
"Anda duduk saja tuan, seharian ini anda sudah terlalu bekerja keras, biar kami yang selesaikan"ujar Dian yang kini mengambil alih nasi yang sudah matang dari tangan ibu mertuanya karena Dian tidak ingin wanita paruh baya itu kelelahan.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat saja, biar Dian yang kerjakan. Ibu nikmati dulu camilan nya, nanti ibu cukup jadi juri untuk masakan kami"ujar Dian yang kini membawa ibu mertuanya itu duduk di depan meja makan.
"Nak kamu sudah sangat lelah seharian ini, ibu masih kuat untuk melakukan itu."ujar bu Dini.
"Tidak bu, biar Dian saja, ibu cukup beritahu Dian yang kurang itu di bagian mana"ujar Dian yang akhirnya disetujui oleh bu Dini.
Sementara Alex saat ini masih menatap dalam pada wanita yang terus bersibuk seakan tidak pernah merasa lelah itu.
Saat masakan yang dibuat Dian selesai, Afifah dan Renata datang dengan membawa cucian kotor milik Renata.
"Kak baju kotor nya taruh dimana?"tanya Renata.
"Di gantung saja dulu disana kan itu basah"ujar Dian yang kini menunjuk kearah tempat cuci baju.
"Ya kak,"ujar Rena.
"Aku bantu apa kak?"ujar Afifah.
"Kamu bantu kakak bereskan ruangan keluarga dan gelar karpetnya, sementara sofa nya di geser ke pinggiran saja."ujar Dian yang kini didengar oleh Darel yang langsung bergerak untuk menata semua itu termasuk ruang tamu yang mungkin akan dipenuhi para tamu undangan.
Afifah pun berjalan menuju ruang keluarga, disana ternyata sudah ada Darel yang sudah menggeser sofa yang kini melingkar di samping dinding, jika awalnya semua itu ada di tengah, maka saat ini sofa tersebut merapat ke dinding di pojok ruangan keluarga dan masih bisa ditempati oleh mereka untuk bersantai.
"Dek, kamu bisa bantu Abang Carikan karpet nya saja"ujar Darel yang kini membuat Afifah terdiam tak bergeming di tempatnya.
"Dek, kamu kenapa hm?"ujar Darel yang kini membuyarkan lamunan Afifah.
"Ah ya, tuan, tadi anda bilang apa?"ujar Afifah yang kini membuat Darel tersenyum manis. Dan senyuman manis itu membuat hati Renata meleleh.
"Abang bilang tolong Carikan karpet yang akan digelar disini"ujar Darel lagi.
"Karpet nya ada disana tuan"ujar Afifah yang kini membuat Darel menatap lekat wajah cantik Afifah, bukan kearah karpet yang Afifah tunjukkan itu.
"Biar saya bantu Abang" ujar Renata yang kini membuat Miranda berdecih.
"Heh, dasar ABG bau kencur"ujarnya yang tidak dihiraukan oleh keduanya.
Miranda masih mengajak Aline bermain, dia tidak ikut bekerja karena tugasnya membantu mengurus Alin saat semua orang tengah sibuk.
Sementara Alex sibuk dengan ponselnya sambil sesekali melirik kearah Dian yang terus berkutat bersama yang lainnya hingga semua selesai setelah adzan magrib, mereka pun akhirnya menunaikan ibadah sholat terlebih dahulu bagi yang muslim, sementara kedua orang yang memang beragama non muslim hanya duduk santai sambil memainkan gadget mereka.
Semua hidangan lezat itu sudah tertata rapi di meja prasmanan dan teman-temannya Dian sudah bersiap untuk mengikuti acara tersebut.
Dian pun tengah bersiap ditemani oleh ibu Fandi dan kedua gadis belia yang kini membantu nya untuk berdandan.
Dian yang kini sudah terlihat sangat cantik dengan make-up yang dia gunakan, dan semua itu adalah pemberian Alex sesaat sebelum Dian mandi dan bersiap.
Beruntung Renata tau setiap makeup dengan kualitas branded tersebut, dia membantu Dian mengenali semua itu satu persatu karena Dian tidak pernah menggunakan make-up semacam itu sebelumnya, tapi setelah mengenakan nya sesuai petunjuk Renata dan Afifah, Dian kini terlihat sangat pangling dan semakin cantik saja.
"Wow kakak ipar ku begitu cantik sempurna,"ujar Renata yang masih tidak tahu apa-apa, mereka juga menggunakan make-up yang sama meskipun dengan gaya yang berbeda.
Sementara ibu Afandi hanya menggunakan make-up simple yang terdiri dari pelembab bedak dan lipstik, karena dia menolak untuk berdandan seperti para anak muda yang kini ada di hadapannya.
Dian bahkan terlihat sangat cantik dengan abaya berwarna putih yang dipadukan dengan kerudung berwarna senada tersebut.
Dan di kamar lain, Alex sudah menggunakan setelan jas berwarna senada dengan abaya yang digunakan oleh Dian saat ini, tidak lupa dasi kupu-kupu berwarna hitam yang kini membuat penampilan nya begitu sempurna.
Seluruh tamu undangan telah siap saat ini begitu juga pemilik acara dan kerabat nya. Dian tampak duduk di samping ibu Dini sebagai perwakilan keluarga, ada juga Dito disamping kanannya .
Darel pun akhirnya memberikan sambutan sebagai MC di acara tersebut dan pria tampan yang sangat berwibawa itu pun menarik perhatian para gadis yang hadir disana yang usianya jauh lebih dewasa dari Afifah yang kini terus berbisik-bisik membicarakan tentang Darel yang baru saat ini mereka lihat kehadirannya.
Berbeda dengan Alex yang jauh lebih tampan dan mempesona itu, mereka sudah sering melihat calon suami Dian tersebut.
Sambutan pun sudah diberikan oleh Darel dan kini mempersilahkan Alex untuk mengutarakan niatnya.
"Asalamualaikum bapak ibu dan saudara dan saudari semuanya. Saya tidak akan berbicara panjang lebar saat ini, seperti yang Darel katakan saat ini saya meminta anda semua untuk hadir disini, yaitu untuk menyaksikan proses lamaran antara saya dan Diandra, saya ingin kalian menjadi saksi peresmian pertama cinta saya terhadap Diandra" ujar Alex yang kini diangguki oleh semua orang yang ada di sana.
"Diandra sayang, dari sejak pertama kali kita bertemu dirumah sakit, sejak itu aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu... Kamu adalah gadis sederhana yang aku temui secara langsung untuk pertama kali yang telah membuat jantung ku berdebar kencang. Honey, kamu juga adalah satu-satunya gadis yang telah mengajarkan ku arti kehidupan yang sesungguhnya. kamu mampu membuat ku mengenal kasih sayang yang tulus yang jujur tidak pernah ada di dalam keluarga ku setelah kepergian mendiang ibuku. Kamu juga telah mengajarkan ku apa artinya sabar, karena selama ini, selama hidup ku aku tidak pernah merasakan kekurangan baik dari segi materi atau pelayanan. Tapi setelah tinggal bersama mu dan keluarga, aku bisa mempelajari semua itu darimu, bagaimana sabarnya kamu saat menghadapi ketidakadilan yang dilakukan oleh orang terdekat mu, bagaimana cara mu membalas mereka dengan kasih sayang tanpa pamrih, bahkan ketegaran mu dalam menghadapi semua cobaan hidup mu itu adalah hal yang paling utama yang telah membuat ku semakin jatuh cinta.
"Kamu adalah pribadi yang baik, sopan dan santun dan tidak pernah pamrih, dan aku semakin yakin bahwa kamu adalah gadis terbaik yang dikirimkan oleh Tuhan untukku setelah mendiang mommy. Dan saat ini,aku Gideon Alexander Tama ingin melamar mu untuk menjadi istriku, meskipun aku tau saat ini duka itu belum sepenuhnya sirna dari hatimu. Duka atas kehilangan suami sekaligus sahabat terbaik mu, tapi yakinlah bahwa aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk melangkah menuju jenjang pernikahan nanti. Diandra Will you marry me" ujar Alex sambil menyodorkan sebuah kotak kecil yang kini memperlihatkan adanya dua cincin yang berkilauan.
"Wow,,,,"ujar Renata dan gadis lainnya, sementara Afifah kini malah menitikkan air mata. Dia tidak bermaksud untuk membuat Dian merasa bersalah dengan itu, tapi dia teringat akan mendiang kakak nya yang kini telah tiada.
"Ayo nak, terima ibu ikhlas, ibu ingin kamu bahagia dan ibu yakin Fandi pun akan bahagia saat melihat mu bahagia"ucap bu Dini saat melihat menantunya terdiam dan meneteskan air mata sambil menatap kearahnya.
Dian pun mengangguk, Dan itu menjadi jawaban bahwa dia setuju untuk menerima pinangan Alex saat ini.
Semua orang pun bertepuk tangan, dan bersamaan dengan itu mereka pun saling bertukar cincin.
Tapi tidak lama setelah itu Renata terlihat murung, dan dia pun menghubungi seseorang setelah dia pergi ke teras depan.
Dian yang sudah selesai memasang cincin di jari Alex, dia langsung memeluk ibu mertuanya dengan isak tangisnya sambil memohon maaf, dan bu Dini pun akhirnya menangis sesenggukan, tapi wanita itu ikhlas dan merestui hubungan Dian dengan Alex yang memang sudah seharusnya sejak dulu mereka bersatu.
Alex pun memeluk kedua wanita beda usia itu, sambil berkata lirih."Mulai saat ini ibu juga adalah ibu saya, dan Dian selamanya putri ibu, kita akan melewati hidup ini bersama-sama"ujar Alex yang kini membuat semua orang terharu dan menitikkan air mata kecuali orang berhati baja seperti para bapak-bapak sepuh dan juga Miranda.
Darel sendiri ikut menikmati air mata meskipun langsung ia hapus, dia tau perjuangan Alex untuk sampai di hari ini, sebagai sepupu sekaligus asisten pribadi Alex, Darel tau penderitaan Alex sejak bibinya tiada.
Hingga saat Alex dinyatakan hilang, yang peduli pada Alex hanya tuan Tama kakek Alex, sementara tuan Alexander sendiri justru malah mengikuti keinginan sang istri untuk tidak mencari keberadaan Alex yang diyakini telah tiada.
Acara pun dilanjutkan dengan makan-makan, mereka yang hadir tidak hanya mendapatkan makanan lezat, tapi juga mendapatkan buah tangan dan amplop dengan sepuluh lembar uang berwarna pink.
Alex benar-benar dermawan bagi mereka semua, dan saat itu juga Alex menyerahkan satu set perhiasan bertahtakan berlian pada ibu Afandi, yang kini hampir tidak sadarkan diri karena kejutan yang Alex berikan.
Alex juga memberikan sebuah kartu ATM dengan pin yang merupakan tanggal lahir dari almarhum Afandi, dengan nominal lima ratus juta untuk bekal hidup mereka, meskipun kebutuhan sembako Alex juga yang tanggung.
Dengan disaksikan semua orang Alex kembali bilang bahwa saat ini dia yang akan menanggung biaya hidup ibu Afandi seumur hidupnya dan biaya pendidikan Afifah, semua itu atas tanggung jawabnya sebagai suami Dian kelak. Dan saat itu juga sebagian orang bilang bahwa mereka bisa menikah secepatnya lagipula masa idah Dian tinggal dua bulan lagi berakhir, tapi Dian dengan tegas mengatakan bahwa ia akan menikah setelah masa idah itu benar-benar berakhir.
Akhirnya mereka pun menggelar doa bersama untuk acara itu sekaligus untuk mendoakan almarhum Afandi yang kini sudah tiada, Ari pun berulang kali mengusap air mata yang jatuh tidak tertahankan karena dari sekian banyak teman laki-lakinya Afandi adalah teman sejatinya. Tapi dia juga mendoakan yang terbaik bagi Diandra yang juga merupakan teman nya.
Mereka juga teman sekolah, tapi lebih tepatnya dua tingkat diatas Dian.
Setelah acara usai dan para tamu bubar, suasana rumah kembali sepi, apalagi setelah Dian mengantar Bu Dini pulang bersama Afifah yang kini memegang ponsel keluaran terbaru yang diberikan oleh Darel untuk alat komunikasi mereka nanti saat Dian tidak bisa dihubungi, atau saat Afifah dan ibunya membutuhkan bantuannya.
Dian pun kembali ke rumah disambut oleh Alex yang sejak tadi menunggu dirinya di teras rumah sambil menghisap rokok.
Ada yang tidak biasa yang kini terjadi saat Alex merokok, dia bukan tipe orang yang akan merokok setiap waktu, tapi dia akan merokok saat dia tengah menghadapi masalah besar yang membuat hati dan pikirannya gelisah.
"Tuan," lirih Dian yang kini menatap kearah Alex.
"Tuan?"ujar Alex.
Dian pun terdiam sambil menundukkan pandangannya
"Bahkan setelah kita bertunangan kamu masih tidak bisa menerima ku sepenuhnya. Apa karena dia?"ujar Alex yang kini memperlihatkan foto kebersamaan Dian dengan Reno beberapa bulan lalu.
"Tuan anda salah faham, semua tidak seperti yang anda pikirkan saat itu kak Reno membantu saya saat saya ketinggalan kunci mobil"ujar Dian.
"Aku tau kamu masih belum bisa move on Diandra, bahkan saat ini pun kamu masih menyimpan foto ini di ponsel mu"ujar Alex yang kini membuat Dian mengeleng pelan.
"Semua itu tidak seperti yang
"Masih mau berbohong padaku? Okay katakan apa lagi kebohongan mu itu? "ujar Alex yang kini membuat Dian bercucuran air mata.
Entah kenapa rasanya begitu menyakitkan saat orang yang ia cintai menuduh dirinya berbohong seperti saat ini.
"Baiklah jika Anda tidak percaya, anda bisa akhiri semuanya, saya akan kembalikan semuanya termasuk yang telah anda ber,
" Cukup Diandra! Yang aku inginkan saat ini adalah bukti bahwa kau mencintai ku. Bukan ganti rugi untuk semua itu!"ujar Alex yang kini membuat tiga orang dewasa didalam rumah terkesiap mendengar "Apa lagi yang harus saya buktikan tuan, anda tidak pernah percaya terhadap saya"ujar Dian.
"Anda, ya,, kamu memang tidak pernah bisa menerima ku di hatimu" ujar Alex.
" Yank,