NovelToon NovelToon
Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Boss Kecil Bekerja Keras Dizaman Kuno!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Transmigrasi
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Dunia di mata Shen Yu terbagi menjadi dua: realitas yang membosankan dan dunia fiksi yang ia cintai. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan hidung menempel pada halaman buku atau layar ponsel.

Ia bukan sekadar membaca—ia hidup di dalamnya.

Setiap kali menyelesaikan sebuah bab, imajinasinya tidak pernah berhenti berpikir. Ia sering membayangkan betapa indahnya jika bisa melangkah melewati batas kertas, menjadi tokoh utama yang mengalami petualangan epik, romansa yang mendebarkan, atau bahkan nasib tragis yang penuh drama.

Apa pun juga bentuknya, asalkan lebih berwarna daripada hidupnya yang datar ini.

"Ah, andai saja aku benar-benar bisa masuk ke dalam cerita..." gumamnya pelan sambil menyimpan novel yang baru saja selesai dibaca ke dalam tas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Shen Yu berjalan mendekat dengan senyum lebar yang ceria. Di sana, berdiri tegap seorang pria kekar dengan wajah garang namun tampak ramah – dia adalah Dong Ma, anak buah terpercaya Kapten Wang.

Saat ini, Dong Ma sedang sibuk mengawasi para penumpang yang berdesakan naik ke atas kapalnya, memastikan semuanya tertib dan aman. Wajahnya serius, matanya tajam mengawasi setiap sudut dermaga.

Ketika Shen Yu berdiri tepat di hadapannya, Dong Ma menoleh sekilas. Ia menatap Shen Yu dari atas ke bawah dengan pandangan yang penuh rasa penasaran – yang ia lihat hanyalah seorang pemuda tampan, berkulit putih bersih, mengenakan Hanfu sutra berwarna biru muda yang sangat rapi dan elegan.

Aura yang dipancarkan Shen Yu sekarang benar-benar berbeda total dari yang pernah ia kenal.

'Siapa ini? Anak pejabat atau tuan muda dari keluarga kaya yang mau naik kapal?' batin Dong Ma bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pemuda gagah di depannya ini adalah orang yang dulu pernah ia temui dalam keadaan berpakaian compang-camping dan penuh lelah.

Dong Ma bahkan siap-siap memberi hormat atau menanyakan tiket, karena penampilan Shen Yu sekarang terlalu mewah untuk ukuran penumpang biasa. Namun, sebelum Dong Ma sempat bertanya, Shen Yu sudah lebih dulu membuka mulutnya dengan suara ceria dan akrab sekali.

"Saudara Dong! Lama tidak berjumpa, kelihatannya kau makin sehat dan kuat saja!"

Panggilan "Saudaraku" itu begitu akrab, begitu santai, dan terdengar sangat familiar di telinga Dong Ma. Pria besar itu tertegun sejenak, matanya menyipit menatap wajah Shen Yu lebih lekat-lamat.

Perlahan-lahan, garis wajah itu mulai terbentuk di ingatannya yang sudah lama tidak menyentuh kenangan itu.

"Suaranya... tatapan matanya... dan cara bicaranya..." Tiba-tiba mata Dong Ma membelalak lebar tak percaya!

"Kau... KAU ITU SHEN YU?!" teriaknya keras hingga membuat orang-orang di sekitar menoleh dengan rasa penasaran.

Dong Ma langsung melangkah maju dan memegang kedua bahu Shen Yu dengan tangan besarnya, mengguncang-guncang pelan tubuh pemuda itu dengan kegembiraan yang luar biasa.

"Gila! Benar-benar kau?! Apa yang terjadi padamu anak muda?!" serunya tak habis pikir."Dulu kau datang dengan pakaian lusuh dan tubuh kurus. Sekarang... lihat! Berubah jadi tuan muda yang begitu gagah dan berkelas! Aku sampai tidak berani mengenali!"

Shen Yu hanya tertawa renyah mendengar kekaguman tuannya. "Memang perubahan waktu yang cepat. Tapi tenang saja, ini tetap Shen Yu yang dulu pernah kalian bantu."

"Hahaha! Luar biasa! Sungguh keajaiban!"Dong Ma tertawa lebar sangat lebar, wajahnya berseri-seri senang melihat perubahan baik pada orang yang pernah ia bantu dengan rela hati.

"Kalau begitu jangan berdiri di sini panas-panas! Ayo ke atas! Kita ngobrol enak di dalam kapal yang lebih sejuk!"

Dong Ma tidak membuang waktu. Ia langsung menggiring Shen Yu melewati gerbang penumpang dan menaiki tangga kayu yang kokoh menuju dek kapal yang besar dan megah.

"Kapten! Kapten! Lihat siapa yang datang berkunjung!" seru Dong Ma dari kejauhan dengan suara yang penuh kegembiraan.

Di ruang istirahat utama yang menghadap laut, duduklah sosok gagah yang dikenal sebagai Kapten Wang. Ia sedang meminum teh hangat sambil memandang lautan yang luas, namun saat mendengar suara Dong Ma, ia menoleh dengan cepat.

Matanya tertuju pada Shen Yu, dan seketika ia terdiam membatu dengan wajah yang tidak percaya.

"......" Kapten Wang mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah mencoba memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan khayalan.

Ia ingat betul beberapa minggu lalu, pemuda ini datang ke dermaga dalam keadaan memprihatinkan – wajahnya kecokelatan terbakar matahari, kulitnya kering, dan tubuhnya kurus karena perjalanan jauh dan penderitaan.

Tapi sekarang?

Shen Yu berdiri di hadapannya dengan kulit yang putih bersih, halus, dan bercahaya seperti pualam. Wajahnya berseri, matanya cerah, dan seluruh auranya berubah 180 derajat menjadi sosok tuan muda yang terpelajar dan sangat berharga.

"Kau... ini benar-benar Shen Yu?" tanya Kapten Wang dengan suara pelan namun penuh takjub. Ia berdiri dan mendekat, memeriksa wajah pemuda itu dari dekat sambil menyentuh bahunya dengan lembut.

"Ajaib... sungguh ajaib. Kulitmu putih seperti salju sekarang. Apa kau memakan obat awet muda atau menemukan mata air keabadian?"

Shen Yu tertawa renyah mendengar pujian yang lucu itu.

"Terima kasih atas perhatiannya, Kapten Wang. Aku hanya beristirahat cukup dan makan makanan yang baik, itu saja," jawabnya santai sambil tersenyum.

Tanpa menunggu lama, Shen Yu membuka tas kainnya dan mengeluarkan sebuah botol keramik besar yang dibalut dengan hati-hati menggunakan kertas minyak agar tidak pecah.

"Ini sedikit oleh-oleh dari saya," ucap Shen Yu sambil menyerahkannya dengan kedua tangan penuh hormat. "Sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga karena Tuan sudah bersedia membantu saya mengurus identitas dan surat-surat waktu itu. Tanpa bantuan Tuan, mungkin saya masih kesusahan sampai sekarang."

Kapten Wang menerima botol itu dengan tangan besarnya yang kuat namun lembut. Ia mencium aroma wangi alkohol yang kuat dan jelas berasal dari bahan berkualitas tinggi.

"Wah... Arak Buah Kualitas Atas!" matanya langsung berbinar dengan kegembiraan. "Kau ini sungguh terlalu, Shen Yu! Itu kan mahal harganya! Kita kan sudah seperti saudara, tidak perlu repot-repot membawa barang semahal ini!"

Meskipun berkata begitu, wajah Kapten Wang berseri-seri sangat senang. Ia langsung menyuruh pelayan kapal untuk menyimpannya dengan baik di ruang penyimpanan minuman mereka.

Tentu saja, di dalam hati Kapten Wang ada sedikit rasa penasaran yang terlewat.

'Sayang sekali... ini bukan 'Air Ajaib Hitam' yang pernah kau kasih minum waktu itu. Itu rasanya paling enak sedunia,' batinnya teringat kenangan manis saat Shen Yu dulu memberikan minuman ajaib yang membuat tubuhnya merasa sangat segar.

'Tapi tak apa... niat baik dan hadiah ini sudah lebih dari cukup. Aku terima dengan senang hati.'

"Bagus! Karena kau sudah datang, jangan pergi dulu!" seru Kapten Wang penuh semangat, menepuk punggung Shen Yu dengan lembut agar tidak sakit. "Aku sudah suruh dapur kapal menyiapkan makan siang spesial. Hari ini kita makan bersama di sini! Aku mau dengar ceritamu selengkapnya, bagaimana caranya kau bisa berubah jadi sehebat ini dalam waktu singkat!"

Shen Yu tertawa renyah mendengar pertanyaan mereka yang penuh rasa ingin tahu.

"Memang nasib baik sedang berpihak padaku," jawabnya santai, sedikit melebih-lebihkan cerita agar terdengar wajar. "Aku beruntung sekali bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan cukup menjanjikan di dalam kota. Jadi sekarang aku bisa hidup dengan tenang dan layak seperti yang kalian lihat."

Wajah Kapten Wang dan Dong Ma langsung berseri-seri penuh kebahagiaan mendengar kabar baik itu.

"Hahaha! Bagus! Bagus sekali!" seru Kapten Wang menepuk punggung Shen Yu dengan senang hati. "Aku sudah tahu dari dulu kau anak pintar dan tidak akan menyerah mudah. Senang sekali mendengarnya."

"Benar! Pantas saja penampilanmu berubah drastis. Jadi tuan muda sekarang ya," timpal Dong Ma sambil terkekeh dengan wajah yang penuh kegembiraan.

Shen Yu tersenyum hangat, lalu ia menunjuk tas kain yang masih ia pegang erat di pangkuannya.

"Ngomong-ngomong, kalian sudah makan siang?" tanyanya ramah dengan mata yang penuh perhatian.

"Belum, masih sibuk tadi karena banyak angkutan barang dari kapal baru yang datang," jawab Kapten Wang sambil menghela napas karena merasa sedikit lapar.

"Syukurlah kalau begitu. Kebetulan sekali, tadi pagi aku masak sedikit lebih banyak dan membawanya kemari. Aku berharap bisa makan siang bersama kalian di sini," ucap Shen Yu penuh harap dengan wajah yang sangat ramah.

Mendengar kata "makan", mata kedua pria besar itu langsung berbinar seperti anak kecil yang melihat makanan kesukaannya.

"AYO! MAKAN BERSAMA!" seru mereka serempak dengan suara yang penuh semangat.

Dong Ma langsung berlari kecil ke arah dapur kapal. "Aku ambil nasi hangat dulu di dapur! Tunggu sebentar ya!"

Sementara itu, Kapten Wang mengajak Shen Yu berjalan ke bagian ujung kapal yang agak terpisah dan sepi. Di sana angin laut bertiup sepoi-sepoi, pemandangan laut lepas yang luas terlihat sangat indah, dan ada sebuah meja kayu kecil yang pas untuk bersantap – suasana sungguh nyaman.

Tak lama kemudian, Dong Ma datang berlari membawa nampan besar berisi tiga piring nasi putih yang masih mengepul hangat dan mengeluarkan uap panas.

"Sini taruh di meja ini Dong Ma," perintah Kapten Wang dengan senyum.

Shen Yu pun tidak mau kalah. Dengan gerakan cepat dan hati-hati, ia membuka kotak-kotak makan yang ia bawa dari rumahnya (atau lebih tepatnya dari dimensi penyimpanannya yang selalu menjaga makanan tetap hangat).

BUKA!

Seketika aroma menggugah selera langsung menyebar memenuhi udara di sekitar dek kapal!

- Tumis Daging Sapi Pedas: Potongan daging berwarna gelap mengkilap dengan irisan cabai merah dan hijau yang terlihat sangat menggoda, ditambah sedikit bawang goreng yang renyah di atasnya.

- Sayuran Hijau Tumis: Warnanya hijau segar seperti daun muda, terlihat renyah dan tidak layu sama sekali.

Warnanya cerah, penyajiannya rapi, dan baunya... luar biasa enak! Jauh lebih wangi daripada masakan kapal yang biasanya hanya direbus atau dibakar dengan bumbu sederhana.

Kapten Wang dan Dong Ma menelan ludah secara bersamaan dengan wajah yang penuh kagum.

"Wah... ini namanya bukan bekal biasa! Ini hidangan restoran mewah di dalam kota!" seru Dong Ma ternganga melihat hidangan itu."Lihat itu dagingnya... potongannya rapi, bumbunya kelihatan meresap sempurna. Pasti enak sekali!"

Shen Yu tersenyum lebar sambil menyodorkan sumpit kayu kepada mereka berdua.

"Ayo silakan dinikmati! Jangan malu-malu, ambil saja sebanyak yang kalian mau. Hari ini kita makan sampai kenyang!"

Sebagai orang tertua dan yang paling dihormati di sana, Kapten Wang lah yang pertama kali mengambil sumpit dengan tangan yang sudah tidak sabar.

Ia memandang hidangan di hadapannya dengan antusiasme besar, lalu dengan hati-hati mengambil sepotong daging sapi yang berlumuran saus merah pekat, ditambah sedikit sayuran hijau di atasnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Saat ia mulai mengunyah...

Wajah Kapten Wang tiba-tiba membatu. Matanya membelalak lebar, dan sumpit di tangannya terhenti di udara karena kaget dengan kelezatan yang tiba-tiba meledak di lidahnya!

Dagingnya empuk dan lembut, tidak alot sedikit pun. Bumbunya meresap sempurna sampai ke serat daging – pedasnya nendang pas di lidah, manisnya pas mengimbangi rasa pedas, dan ada aroma wangi rempah yang sangat dalam dan kaya rasa. Belum lagi sayurannya yang renyah dan segar, memberikan kontras tekstur yang sempurna dengan daging yang lembut.

"ENAK...!!"

Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutnya, tapi suaranya penuh dengan kekaguman yang tak terhingga.

"Gila! Ini benar-benar masakan manusia?! Rasanya luar biasa!" seru Kapten Wang tak bisa menahan diri. Ia menelan ludah dengan cepat lalu langsung mengambil nasi dan menyendok lagi daging itu lebih banyak.

"Rasanya begitu enak, begitu berlapis! Bumbunya halus sekali, tidak ada yang kasar di tenggorokan. Dan dagingnya... empuknya bukan main! Seperti meleleh di mulut!"

Dong Ma yang melihat reaksi tuannya jadi semakin penasaran dan lapar tak tertahankan.

"Benar seenak itu Kapten? Kasih aku coba juga!" serunya tidak sabar. Dong Ma langsung menyendok besar-besar hingga piringnya penuh. Saat hidangan masuk ke mulutnya...

"SUNGGUH NIKMAT!!" teriak Dong Ma hingga suaranya bergema di dek kapal yang luas."Pedasnya pas banget! Nasi putih hangat dicampur sama saus pedas ini... luar biasa sekali! Aku bisa makan tiga piring nasi dengan hidangan ini saja!"

Mereka berdua makan dengan lahap sekali, suapan demi suapan tidak berhenti. Wajah mereka berseri-seri bahagia, keringat dingin sedikit keluar di dahi karena pedasnya cabai, tapi senyum mereka tidak pernah hilang dari wajah.

Shen Yu duduk di tengah mereka, tertawa renyah melihat kedua orang kuat itu bertingkah layaknya anak kecil yang ketagihan makan makanan enak.

"Kalau kalian suka, makan saja banyak-banyak," ucap Shen Yu dengan hati yang senang. "Aku memang sengaja masak lebih banyak supaya kita bisa makan bersama sampai puas. Tidak ada gunanya makanan enak kalau tidak bisa dinikmati bersama orang-orang lain."

Di dalam hati Shen Yu, ia merasa sangat bangga dan bahagia.

'Tentu saja enak. Ini kan pakai bumbu kualitas terbaik dari supermarket ajaibku,'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!