“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jangan tertipu dengan senyumnya
Lu Ming terdiam. Kepalanya perlahan mendongak. Di sinilah sesuatu yang aneh dan mengerikan terjadi.
Wajah Lu Ming tetap terlihat tenang, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum yang tampak tulus, sopan, dan sangat ramah.
"Maafkan saya, Tuan. Ember itu mahal sekali," ucap Lu Ming dengan suara lembut yang tenang.
Namun, matanya... mata itu tidak ikut tersenyum. Mata Lu Ming berubah menjadi gelap, kosong, dan memancarkan aura kematian yang begitu kental hingga udara di sekitar sumur seolah membeku.
Guntur yang awalnya tertawa tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri. Sebuah insting purba di dalam kepalanya menjerit: Lari!
"Apa yang kau li—"
BUM!
Sebelum Guntur sempat menyelesaikan kalimatnya, Lu Ming sudah menerjang. Kecepatan yang ia dapatkan dari Pengerasan Dasar membuatnya tampak seperti kilatan bayangan.
Satu pukulan telak menghantam ulu hati Guntur. Pria besar itu terlempar ke belakang, menghantam pagar bambu hingga hancur berantakan.
Lu Ming tidak berhenti. Ia segera menyusul kawan Guntur lainnya, menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memelintirnya dengan gerakan efisien hingga terdengar bunyi krak yang memilukan.
"A-ampun! Sakit!" teriak pria itu histeris.
"Maafkan saya... sungguh, saya sangat menyesal harus mematahkan tanganmu," ucap Lu Ming dengan suara halus yang menenangkan, namun ia justru menambah tekanan pada tulang yang sudah retak itu. Tatapan matanya tetap dingin, menghunus seperti belati yang mencabik jiwa.
Lu Ming berbalik ke arah Guntur yang sedang berusaha merangkak bangun dengan wajah membiru. Lu Ming menginjak dada pria itu dengan tenaga yang cukup untuk meretakkan tulang rusuk.
"Tolong jangan ganggu saya lagi, ya? Saya orang baik, saya tidak suka kekerasan," bisik Lu Ming sambil memberikan pukulan bertubi-tubi ke wajah Guntur. Setiap pukulan yang membuat darah memercik ke wajahnya diikuti dengan kata "Maaf" yang diucapkan dengan nada datar dan menyeramkan.
Warga desa yang melihat kejadian itu dari kejauhan terpaku dalam horor.
Mereka melihat seorang bocah yang tampak sangat sopan, membungkuk dan meminta maaf berulang kali, namun tangannya berlumuran darah dan serangannya begitu brutal seolah ia sedang menyembelih binatang buruan tanpa ampun.
"Anak itu... dia tidak normal," bisik seorang tetua desa dengan tangan gemetar. "Dia memiliki jiwa iblis di balik wajah malaikatnya."
Setelah selesai, Lu Ming berdiri tegak. Ia merapikan jubahnya yang sedikit berantakan akibat perkelahian itu.
Ia memungut sisa-sisa kayu dari embernya yang hancur dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sekali lagi, maafkan saya atas kekacauan ini, Tuan-tuan. Semoga luka kalian cepat sembuh," ucapnya sambil membungkuk hormat kepada orang-orang yang baru saja ia hancurkan di atas tanah.
Lu Ming berjalan kembali menuju pondoknya dengan langkah santai. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa sedikit jijik pada dirinya sendiri.
Ia mulai menyadari bahwa penantian panjang selama lima tahun dan kehilangan tragis Paman Han telah mengubah sesuatu di dalam dirinya secara permanen.
Ada kegelapan yang mulai tumbuh, sebuah naluri bertahan hidup yang kejam dan efisien.
Malam itu, di dalam pondoknya yang sunyi, Lu Ming kembali bersila. Ia merasakan getaran kuat di dalam tubuhnya.
Energi Qi yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah akhirnya memadat, menyelimuti tulang dan ototnya dengan lapisan energi yang tangguh.
Ia telah resmi menuntaskan fondasi dan menginjakkan kaki sepenuhnya di Ranah Pertama: Pengerasan Dasar.
"Langkah pertama sudah kuambil, Ibu," bisiknya ke dalam kegelapan yang pekat. "Aku akan menjadi cukup kuat agar tidak perlu lagi meminta maaf karena harus membunuh orang-orang yang menghalangi jalanku."
Kini, seluruh Desa Bambu Hitam tahu: Jangan pernah tertipu oleh senyum sopan bocah pengembara itu.
Karena di balik permintaan maafnya yang halus, terdapat maut yang mengintai dengan mata yang tak pernah berkedip.