NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Selayar dan Runtuhnya Tembok Gengsi

​​Keheningan di antara London dan New York telah memasuki bulan kedua. Musim gugur kini benar-benar menggigit; New York mulai diselimuti kabut kelabu yang lembap, sementara London menjadi kota yang selalu basah oleh hujan yang tak kunjung usai. Arkan dan Ziva telah menjadi ahli dalam satu hal: berpura-pura bahwa mereka baik-baik saja dalam kesendirian mereka yang sibuk.

​Namun, takdir memiliki cara unik untuk meruntuhkan ego manusia. Pagi itu, sebuah amplop cokelat dengan prangko Indonesia mendarat di meja kerja Ziva di kantor redaksinya.

​New York: Pesan dari Masa Lalu

​Ziva mengernyitkan dahi. Itu bukan surat resmi, melainkan surat tulisan tangan dari ibunya di Selayar. Di dalamnya, terselip selembar foto lama—foto saat Ziva dan Arkan duduk bersimpuh di depan orang tua Ziva setelah akad nikah sederhana mereka yang serba rahasia dulu.

​"Ziva, anakku... Bapak sudah bisa jalan pelan-pelan sekarang. Tiap sore Bapak duduk di dermaga, nungguin kabar dari kalian. Bapak bilang, dia rindu dengar suara Arkan yang kaku tapi sopan itu. Kenapa Arkan jarang telepon Bapak lagi? Apa dia sibuk sekali di London?"

​Ziva meremas surat itu. Dadanya terasa sesak. Ibunya tidak tahu bahwa hubungan mereka sedang berada di titik beku. Orang tuanya di kampung halaman hanya tahu bahwa anak dan menantu mereka sedang berjuang demi masa depan di negeri orang. Ziva merasa seperti pembohong besar.

​Ia menatap foto pernikahan itu. Arkan di foto itu tampak begitu muda, begitu tegang, namun genggamannya pada tangan Ziva sangatlah erat—seolah ia bersumpah tidak akan pernah melepaskannya.

​London: Telepon dari Dermaga

​Di saat yang hampir bersamaan, di sebuah kafe dekat kampus LSE, ponsel Arkan bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang sangat ia kenal: Ayah Ziva.

​Arkan ragu. Ia menatap layar ponselnya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "Halo, Pak? Apa kabar? Maaf Arkan baru angkat..."

​"Arkan... Bapak sehat, Nak," suara serak dari Selayar itu terdengar begitu hangat di telinga Arkan yang sedang kedinginan. "Bapak cuma mau bilang terima kasih. Kemarin Pak Wijaya kirim orang buat bantu renovasi dermaga kecil di sini atas nama kamu. Katanya itu ide kamu sebelum berangkat ke New York tempo hari."

​Arkan tertegun. Ia teringat, saat mereka di Makassar, ia sempat mengirim email singkat pada asisten ayahnya tentang keinginan memperbaiki dermaga tempat ayah Ziva biasa bekerja agar lebih aman bagi nelayan tua. Ia melakukannya saat ia masih dalam mode "pelindung" yang dibenci Ziva.

​"Bapak senang sekali, Ar. Tapi Bapak lebih senang kalau dengar kalian berdua bahagia di sana. Ziva... dia sehat, kan? Dia nggak bikin kamu pusing dengan keras kepalanya?" tanya sang mertua sambil tertawa kecil.

​Arkan memejamkan mata, menahan rasa perih di tenggorokannya. "Ziva... Ziva hebat, Pak. Dia jurnalis terbaik di New York sekarang. Arkan... Arkan bangga sama dia."

​Pecahnya Embargo

​Setelah menutup telepon, Arkan terdiam di bangku taman yang basah. Kata-katanya sendiri—"Aku bangga sama dia"—bergema di kepalanya. Ia menyadari satu hal: ia mencintai Ziva bukan karena Ziva membutuhkannya, tapi karena Ziva adalah wanita paling tangguh yang pernah ia temui. Dan ketangguhan itu pulalah yang membuatnya jatuh cinta sejak di SMA Garuda.

​Arkan tidak bisa menahannya lagi. Ia membuka aplikasi pesan. Ia melihat kolom chat Ziva yang kosong selama berminggu-minggu.

​Arkan: Bapak telepon aku barusan. Dia nanyain kamu.

​Hanya itu. Singkat. Namun di New York, pesan itu muncul di layar ponsel Ziva seperti sebuah ledakan di tengah keheningan. Ziva yang sedang berada di kereta bawah tanah menuju apartemennya, menatap layar itu dengan jantung berdebar.

​Ia mengetik balasan dengan jemari gemetar.

​Ziva: Ibu juga kirim surat ke gue. Dia kirim foto nikahan kita.

​Keheningan kembali selama beberapa menit. Arkan melihat status typing... yang muncul dan hilang berulang kali.

​Arkan: Ziv... maafin aku. Aku sadar aku salah. Aku terlalu sibuk jadi pelindung sampai lupa kalau aku harusnya jadi partner kamu. Aku kangen kamu sampai rasanya mau gila di London.

​Ziva menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir, mengabaikan tatapan heran dari penumpang kereta lainnya.

​Ziva: Gue juga, Ar. Gue benci lo karena lo terlalu dominan, tapi gue lebih benci diri gue sendiri karena gue nggak bisa tidur tenang kalau nggak denger suara napas lo di telepon.

Akhir dari Misi Penyelamatan

​Di Sydney, Revan sedang melihat-lihat foto di galeri ponselnya. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di grup alumni. Arkan baru saja mengganti foto profilnya—bukan lagi foto gedung LSE yang dingin, melainkan foto bayangan dua orang yang bergandengan tangan di atas salju New York tempo hari.

​Revan tersenyum lebar. Ia melempar ponselnya ke kasur dan merebahkan tubuhnya. "Akhirnya... dua batu itu pecah juga."

​Malam Reuni Digital

​Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua bulan, kamera video call menyala. Wajah Arkan yang kuyu dan wajah Ziva yang sembab bertemu di layar. Mereka tidak bicara selama satu menit pertama. Mereka hanya saling menatap, mencoba menyerap kehadiran satu sama lain lewat jutaan piksel.

​"Kamu kurusan, Ar," ucap Ziva lirih.

​"Kamu juga. Kantung matamu lebih parah dari biasanya," balas Arkan dengan senyum tipis yang tulus.

​"Jangan pernah matiin ponsel lo lagi, Ar. Gue nggak peduli seberapa besar kita berantem nanti, jangan pernah ilang kayak kemarin."

​"Janji," ucap Arkan, meletakkan tangannya di layar ponsel, seolah sedang menyentuh pipi Ziva. "Dan Ziv... aku bakal dukung magang kamu tanpa campur tangan Papa. Kalau kamu butuh bantuan, aku bakal bantu sebagai Arkan, bukan sebagai anak Wijaya."

​Ziva tersenyum, senyum yang paling indah yang Arkan lihat sejak setahun terakhir. "Gue pegang janji lo, Pak Ketos."

​Samudra Atlantik masih ada di sana, luas dan dalam. Namun malam itu, jembatan yang sempat patah itu telah tersambung kembali, lebih kuat karena kini dibangun di atas pondasi kejujuran dan rasa saling menghargai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!