NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedalaman Tak Berujung

Samudra Atlantik Utara tampak seperti cairan timah yang mendidih di bawah kepungan awan badai. Pesawat kargo siluman yang dikemudikan oleh Leo membelah turbulensi dengan susah payah, menuju koordinat yang dikenal sebagai titik buta di peta laut internasional. Di bawah sana, tersembunyi ribuan kaki di bawah permukaan air yang membeku, berdiri "The Abyss" pangkalan bawah laut tercanggih milik FBA yang menjadi jantung dari Project Valkyrie.

Aara duduk di kursi belakang, tangannya menggenggam erat sabuk pengaman taktisnya. Rasa nyeri di perutnya kini datang dalam gelombang yang lebih teratur. Bukan kontraksi kelahiran, melainkan tarikan energi yang luar biasa. Ia merasa seolah janin di dalam rahimnya sedang mencoba "mendengar" sesuatu di kedalaman sana.

"Aara, kau masih bersamaku?" suara Kenzo terdengar melalui earpiece, memecah fokusnya.

Kenzo berdiri di area kargo, memeriksa peledak termobarik yang akan mereka gunakan untuk melumpuhkan reaktor utama pangkalan tersebut. Wajahnya yang kaku memancarkan determinasi yang mematikan.

"Aku di sini, Sayang," jawab Aara, mencoba mengembalikan nada centilnya meskipun napasnya berat. "Hanya sedikit mabuk laut. Sepertinya jagoan kecil kita tidak suka naik pesawat di tengah badai."

Kenzo menghampirinya, berlutut di antara kedua kaki Aara, dan menangkup wajah istrinya dengan tangan yang masih kasar karena mesiu. "Dengarkan aku. Begitu kita mendarat di dek observasi, kau tetap di belakangku. Leo akan meretas pintu masuk, dan kita akan langsung menuju ruang data utama. Jangan biarkan Miller masuk ke kepalamu dengan kata-katanya."

Aara tersenyum tipis, menyandarkan keningnya ke kening Kenzo. "Jangan khawatir, Kenzo. Setelah apa yang kulihat di data Level 7, Miller sudah bukan lagi manusia di mataku. Dia hanya target yang menunggu untuk dieksekusi."

"Tiga... dua... satu... Lepaskan!" teriak Leo dari kokpit.

Pesawat melepaskan pod peluncur kedap suara yang membawa Kenzo dan Aara. Pod itu meluncur jatuh dari ketinggian, menghantam permukaan air dan langsung tenggelam dengan kecepatan tinggi. Teknologi gravitasi pasif membawa mereka menembus kegelapan laut hingga terlihat cahaya biru pucat dari kubah-kubah kaca The Abyss.

Klak!

Pod mereka menempel sempurna di pintu kedap udara darurat sektor tujuh. Begitu tekanan disamakan, pintu terbuka. Kenzo adalah yang pertama keluar, senapan serbu MP7-nya sudah terarah ke lorong yang bersih dan steril.

"Sistem keamanan internal sedang aku kacaukan," suara Leo bergema di telinga mereka. "Kalian punya waktu tujuh menit sebelum protokol lockdown manual diaktifkan oleh pusat komando. Cepat bergerak!"

Mereka berlari menyusuri lorong-lorong kaca yang memperlihatkan pemandangan ngeri laut dalam. Di kanan-kiri mereka, laboratorium-laboratorium terlihat melalui dinding transparan tangki-tangki besar berisi cairan hijau dengan janin-janin buatan yang gagal, saksi bisu kegilaan Miller.

Aara merasa mual, bukan karena kehamilannya, tapi karena kengerian moral yang terpampang. "Mereka mencoba menciptakan Tuhan di tempat yang paling jauh dari langit," bisiknya.

Saat mereka mencapai gerbang menuju laboratorium utama, langkah mereka terhenti. Pintu baja raksasa itu terbuka secara otomatis, memperlihatkan sebuah ruangan melingkar yang sangat luas. Di tengahnya, Direktur Miller berdiri dengan tenang, ditemani oleh empat pengawal berpakaian zirah lengkap yang memegang tombak getar frekuensi tinggi.

"Kau tepat waktu, Aara," Miller tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Tubuhmu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penolakan, bukan? Janin itu butuh lingkungan terkontrol kami untuk stabil."

Kenzo melangkah maju, menghalangi Miller dari pandangan Aara. "Dia tidak butuh apa-apa darimu, Miller. Kecuali kematianmu."

"Kau pria yang penuh gairah, Kenzo Arkana. Tapi kau picik," sahut Miller. "Kau melihat anak ini sebagai putra, sementara aku melihatnya sebagai evolusi. Di tanganku, dia akan memerintah. Di tanganmu, dia hanya akan menjadi buronan seumur hidup."

"Lebih baik menjadi buronan yang bebas daripada menjadi raja di dalam sangkar laboratoriummu!" seru Aara. Ia menarik pelatuk senjatanya, memulai baku tembak yang memekakkan telinga di ruang hampa suara tersebut.

Pertarungan pecah dengan brutal. Pengawal Miller bukan manusia biasa; mereka adalah produk awal Project Valkyrie yang memiliki kecepatan luar biasa. Kenzo terpaksa terlibat dalam pertarungan jarak dekat yang sangat teknis, menggunakan pisau dan tangan kosong untuk menangkis serangan tombak getar yang bisa menghancurkan tulang.

Aara mencoba membidik Miller, namun rasa sakit yang hebat tiba-tiba menghantam perutnya. Ia jatuh terduduk, tangannya mencengkeram lantai logam.

"Aara!" teriak Kenzo, namun ia terdesak oleh dua pengawal sekaligus.

Miller mendekati Aara dengan santai, membawa sebuah alat suntik berisi cairan emas. "Ini adalah stabilisator, Aara. Biarkan aku membantumu."

Saat Miller hanya berjarak beberapa langkah, sesuatu yang aneh terjadi. Lampu-lampu di ruangan itu mulai berkedip liar. Suara dengungan frekuensi rendah yang dijelaskan Leo sebagai feromon biologis mulai terasa di udara. Para pengawal Miller tiba-tiba membeku, gerakan mereka menjadi kaku seolah otak mereka sedang menerima perintah yang bertabrakan.

Aara mendongak. Matanya tidak lagi berwarna cokelat madu, melainkan berkilat dengan pendaran perak yang aneh. "Jangan... sentuh... aku," suaranya bukan lagi suaranya sendiri; itu adalah suara yang dalam, bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan.

Bahkan Miller mundur ketakutan. "Tidak mungkin... Aktivitas sinapsisnya sudah mencapai level alfa? Dia bahkan belum lahir!"

Memanfaatkan kebingungan musuh, Kenzo dengan cepat menghabisi pengawal yang membeku. Ia menerjang ke arah Miller, menjatuhkan pria tua itu dan menghancurkan alat suntik emasnya ke lantai.

"Permainan selesai, Miller," geram Kenzo, menempelkan moncong senjatanya ke dagu sang direktur.

Aara perlahan bangkit, pendaran di matanya memudar, kembali menjadi Aara yang dikenal Kenzo. Ia tampak sangat lemas, namun wajahnya menunjukkan kepuasan yang dingin.

"Leo, apakah kau sudah mendapatkan data aslinya?" tanya Aara melalui komunikasi.

"Sudah! Dan aku sudah mengirimkannya ke setiap kantor berita, agen intelijen rival, dan situs Wiki-Leaks di seluruh dunia. *Project Valkyrie* sudah tewas di mata publik," jawab Leo penuh kemenangan.

Aara menatap Miller yang kini memohon di bawah kaki Kenzo. "Kau ingin melihat evolusi, Miller? Evolusi bukanlah tentang kontrol. Evolusi adalah tentang bertahan hidup."

Aara mengambil detonator peledak termobarik dari sabuk Kenzo. "Pangkalan ini akan hancur dalam sepuluh menit. Kita akan pergi, dan kau akan tetap di sini, tenggelam bersama semua monster yang kau ciptakan."

"Kau tidak bisa melakukan ini! Aku adalah satu-satunya yang tahu cara menjaganya tetap hidup!" teriak Miller panik.

Kenzo menatap istrinya, melihat kekuatan luar biasa di balik kerapuhan fisik Aara. Ia mengangguk. "Dia sudah dijaga oleh orang yang tepat."

Kenzo menghantamkan popor senjatanya ke pelipis Miller, membuatnya pingsan. Mereka tidak membunuhnya dengan peluru; mereka membiarkannya menghadapi samudra yang selama ini ia coba taklukkan.

Mereka berlari kembali menuju pod pelarian saat sirine darurat meledak di seluruh pangkalan. Air mulai merembes masuk dari retakan-retakan kaca yang terkena dampak ledakan awal.

Di dalam pod yang meluncur kembali ke permukaan, Kenzo memeluk Aara dengan sangat erat. Aara menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo, napasnya mulai stabil kembali.

"Kita melakukannya, Kenzo," bisik Aara.

"Ya. Tapi perjalanannya belum selesai," Kenzo mencium kening istrinya. "Dunia luar sekarang tahu tentang anak kita. Mereka mungkin tidak akan datang sebagai FBA lagi, tapi mereka akan tetap datang."

Aara tersenyum, senyum nakal 'Cherry' yang mulai kembali. Ia mengambil tangan Kenzo dan meletakkannya di perutnya. Jagoan kecil itu menendang pelan, seolah menyapa ayahnya.

"Biarkan mereka datang, Sayang. Kita punya seluruh dunia untuk bersembunyi, dan kita punya satu sama lain untuk bertarung. Dan kali ini, kita punya senjata rahasia yang tidak pernah mereka duga."

Saat pod mereka muncul di permukaan laut, disambut oleh cahaya fajar yang memecah badai, Kenzo dan Aara melihat ke arah cakrawala. Mereka bukan lagi agen, bukan lagi mafia. Mereka adalah orang tua yang siap menantang dunia demi anak yang membawa janji baru di dalam darahnya.

Di bawah sana, The Abyss meledak dalam keheningan laut dalam, mengubur rahasia hitam itu selamanya. Di atas sini, sebuah legenda baru baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!