NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-01

Drrrrtt!!!!

Drrrttttt!!!!

Drrrtt!!!

Di sebuah kamar apartemen, terlihat seseorang masih betah berlama-lama bersembunyi di balik selimut tebal miliknya.

Getaran ponsel yang sejak tadi memenuhi ruangan yang remang-remang itu menimbulkan suara yang akhirnya berhasil membangunkan si pemilik kamar.

"Astagaaaaa.... siapa sih yang nelpon pagi-pagi buta begini? Cuma tahu ganggu orang tidur aja!" umpatan penuh kesal meluncur lancar dari bibirnya. Padahal dini hari tadi ia baru saja memejamkan mata, tapi sudah ada saja yang mengganggu.

Dengan kasar ia meraih benda pipih yang ada di atas meja nakas. Tanpa peduli siapa nama yang tertera di layar, ia lekas menggeser ikon merah lalu kembali membenamkan diri ke dalam selimut. Bodo amat siapa yang menelpon, sekarang hari Minggu dan ini adalah waktu liburnya! Jadi jangan coba-coba mengganggunya, atau mereka akan tahu akibatnya.

Dialah Nara Amanda. Seorang wanita dewasa, mantan model papan atas di masa kejayaannya. Mungkin bagi orang-orang yang baru mengenalnya, ia masih terlihat seperti gadis berusia dua puluhan. Tak ada yang menyangka bahwa ia sebenarnya adalah seorang janda yang sudah menginjak usia 43 tahun.

Itu semua karena wajahnya yang seolah membeku waktu. Masih terlihat muda, tak ada tanda-tanda penuaan. Justru tubuhnya semakin kencang, cantik, bersinar, dan mempesona. Bahkan bentuk tubuhnya masih menjadi idaman banyak wanita. Meski pernah mengandung, tak ada perubahan berarti. Tubuhnya masih sama ramping dan indahnya seperti saat ia masih gadis dulu. Semua itu adalah hasil dari ketekunannya merawat diri dan berolahraga selama bertahun-tahun.

Nara yang dulu dikenal memiliki karakter keras bak antagonis, kini sudah kembali dalam versi terbaik dirinya. Ia sudah membuang jauh-jauh kenangan buruk di masa lalu. Tak ada lagi Nara yang arogan, sombong, atau suka merendahkan orang lain hanya karena ia tidak menyukainya. Yang ada kini hanyalah Nara yang apa adanya,tegas dalam berkerja, menghormati, dan menghargai sesama.

Setelah menghilang selama bertahun-tahun, kini Nara kembali ke tanah kelahirannya demi tuntutan pekerjaan. Yang mana mengharuskan dirinya, mau tak mau, untuk kembali berhadapan dengan orang-orang dari masa lalunya.

Drrrrtttt!!!

Getaran itu kembali terdengar, membuat Nara mau tak mau harus bangun dari posisi nyamannya.

Dengan kasar ia menggeser ikon berwarna hijau, lalu dengan nada membentak berkata, "Woi, siapa sih pagi-pagi ganggu tidur orang? Gak tahu apa ini hari Minggu, hah!". Kalau saja orang itu ada di depannya saat ini, mungkin Nara sudah menarik rambutnya sekuat tenaga.

Hening...

Tak ada jawaban dari seberang sana. Hingga beberapa detik kemudian, kedua mata bulat milik wanita itu melebar sempurna saat mendengar suara yang sangat familiar terdengar dari balik ponsel.

📞 'Jadi seperti ini cara kamu berbicara dengan atasanmu, Nara?'

Hampir saja Nara menjatuhkan ponselnya mendengar suara itu.

Cepat-cepat ia menatap layar, melihat nama si penelpon.

Mati aku!

Buru-buru Nara memperbaiki postur tubuhnya, lalu dengan suara formal yang biasa ia gunakan saat bekerja pun menjawab, "Ekhemmm.. M-ma-maaf Pak, tadi saya tidak tahu kalau yang menelepon itu Bapak!" jawabnya gelagapan.

Nara, mantan model yang dulunya terkenal dan kaya raya, kini sudah beralih profesi menjadi sekretaris CEO di salah satu perusahaan terbesar ketiga di Asia.

Dirinya yang dulu suka memerintah dan menggaji orang, kini posisinya malah terbalik. Kini justru dirinya yang diperintah dan digaji orang. Miris memang, namun itulah kenyataan. Ya, mau bagaimana lagi? Kalau dia tidak bekerja, mau makan apa dia nanti?

Terdengar suara dengusan halus dari seberang sana, membuat napas Nara tercekat. Apa? Kenapa? Apa dia melakukan kesalahan lagi?

Astaga... kenapa tadi tidak lihat dulu sih siapa yang nelpon. Kalau si Bos ini ngambek bisa berabe. Udah tahu kalau dia lagi tantrum itu ribetnya minta ampun, batin Nara cemas menunggu jawaban.

Bosnya ini jauh lebih muda darinya, jadi Nara harus siap mental dan menyiapkan cadangan kesabaran ekstra dalam menghadapi segala tingkah laku pria itu.

Contohnya saat dia sedang ngambek.

📞 'Kamu sibuk tidak hari ini?' Suara berat itu kembali terdengar, tapi kali ini terdengar lebih pelan dan... lemah?

Kening Nara mengerut. Ada apa dengan bosnya ini? "Tidak sih Pak, memangnya kenapa? Bapak butuh sesuatu?" tanya Nara seraya beranjak dari ranjang. Ponselnya ia apit di antara pipi dan bahu, sementara kedua tangannya sibuk merapikan tempat tidur, membuka jendela kamar, dan menyingkap tirai pintu balkon.

Udara di pagi Minggu ini terasa begitu cerah dan segar. Terlihat sangat kontras dengan si pemilik suara di telepon yang terdengar lebih mendung dari biasanya.

📞 'Bisa kamu ke rumah sekarang? Lalu belikan saya obat penurun panas dan bubur kacang hijau!' Suara berat yang terdengar lemah itu kembali berujar.

Mata Nara berkedip-kedip mendengarnya. Apa bos kecilnya ini sedang sakit? "Bapak lagi sakit?" tanya Nara hati-hati, takut kena semprot.

📞 "Memangnya ada orang sehat yang minta dibelikan obat penurun panas?" balasnya dengan nada sarkas khasnya.

"Ohooo..., ternyata Bapak bisa sakit juga?" Bukannya terkejut atau khawatir, Nara malah merasa takjub lantaran sang bos yang selalu terlihat kuat itu ternyata bisa jatuh sakit juga.

Terdengar suara decakan kesal dari seberang sana, meski terdengar sangat lemah.

📞 'Saya bukan robot, Nara. Saya juga manusia, jadi wajar kalau saya sakit!'

Kan emang manusia setengah robot, batin Nara menggoda. Mana berani dia mengatakannya langsung pada bosnya itu, bisa-bisa dia dipecat di tempat.

Nara malah terkekeh pelan, menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Maaf Pak, kan setahu saya Bapak tuh kuat banget. Jadi saya agak kaget dong denger Bapak sakit!"

📞 'Bisa langsung kesini? Kepala saya rasanya tambah sakit mendengar ocehan kamu itu!'

Dasar bos galak! Udah minta tolong sama orang, bukannya terima kasih malah memarahi...

"Siap Pak! Segera melunjurrr-"

Tut!

Tut!

Tut!

Sambungan terputus sepihak.

Anj-...

Tarik napas... Hembuskan...

"Haaahh... untung kamu bos. Coba kalau bukan, udah tak hiiih kamu tuh! Kesel banget sih! Udah ganggu hari libur orang, gak tahu terima kasih pula!" gerutunya kesal. Bahkan ia meninju-ninju bantal di sampingnya seolah itu adalah wajah si bos yang menyebalkan.

Ting!

Hampir saja Nara melempar ponselnya saat sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.

✉️ Bos👿

Lima belas menit. Kalau telat, gaji kamu saya potong!

Bibir Nara berkedut-kedut membaca pesan itu. Ia mengatur napasnya agar tidak kelepasan mengumpat. Tidak baik di pagi cerah ini harinya harus diwarnai dengan umpatan untuk pria menyebalkan itu.

Nara

Otw nih Pak☺️

Tak menunggu lagi, dengan secepat kilat Nara masuk ke kamar mandi. Ia hanya mandi sebentar (mandi bebek), lalu berganti pakaian dengan busana santai yang nyaman. Karena tidak sempat berdandan, rambut panjangnya hanya ia cepol asal-asalan. Wajahnya hanya diberi sedikit bedak bayi dan pelembab bibir agar tidak kering. Tak lupa ia menyemprotkan parfum agar tetap wangi.

Setelah dirasa cukup, Nara menyambar tas, dompet, ponsel, dan kunci mobilnya. Ia segera melangkah keluar dari unit apartemen setelah mengenakan sepatu.

Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya saat berada di dalam lift. Semoga saja ia bisa tepat waktu.

Ting!

Pintu lift terbuka. Tanpa pikir panjang, Nara berlari kecil keluar dari lobi. Ia bahkan mengabaikan sapaan ramah dari satpam yang berjaga.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!