Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Mengupas Lapisan Kebohongan
Baja memiliki suhu yang unik ketika ia bersentuhan langsung dengan kulit manusia. Ia menyerap panas tubuhmu dalam sekejap, meninggalkan sensasi beku yang menjalar langsung ke pusat saraf.
Moncong laras Glock-19 milik Elara menempel tepat di tengah keningku. Tekanannya cukup kuat hingga membuat kepalaku sedikit terdorong ke belakang menempel pada sandaran sofa. Aku bisa mencium bau mesiu sisa tembakan dari area parkir Blok M kemarin sore yang masih menempel di logam senjata itu, bercampur dengan aroma keringat dingin dari telapak tangan wanita yang sedang memegangnya.
"Sejak kapan, Arlan?"
Suara Elara terdengar seperti pecahan kaca yang digesekkan satu sama lain. Parau, pecah, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang menyayat hati. Air mata mengalir deras dari mata cokelatnya, membasahi pipinya yang masih menyisakan noda kotoran dari pelarian kami semalam.
Jari telunjuknya bergetar hebat di atas pelatuk. Hanya butuh tekanan sebesar dua setengah kilogram pada pelatuk itu untuk mengakhiri hidupku. Satu kedutan otot karena panik, dan otakku akan berceceran di dinding ruko ini.
Namun, aku tidak mengangkat tanganku. Aku tidak memohon ampun. Aku menatap lurus menembus matanya, membiarkan keheningan mengambil alih selama tiga detik penuh, mengukur sisa-sisa rasionalitas di dalam kepalanya.
"Sejak pertama kali aku mengetahui bahwa monster yang membakar keluargaku memiliki seorang putri yang bermain polisi-polisian," jawabku.
Tidak ada kebohongan. Tidak ada nada bergetar. Aku melontarkan kebenaran itu sedatar pisau bedah.
Elara tersentak, seolah kata-kataku baru saja menampar wajahnya secara fisik. Napasnya tersengal. "Kau... kau merencanakan semuanya. Pertemuan kita di bar... obrolan kita... pelukanmu..."
"Darmawan Salim membangun benteng yang tidak bisa ditembus dari luar, Elara," potongku pelan, suaraku mengalun stabil di tengah badai emosinya. "Dia membeli polisi, dia membeli hakim, dia menyewa tentara bayaran. Jika aku menyerangnya dari depan, aku akan mati sebelum mencapai lobi Vanguard Tower. Satu-satunya cara untuk menghancurkan sebuah kastel yang tak tertembus adalah dengan menemukan kuncinya dan menghancurkannya dari dalam."
Aku sedikit mencondongkan kepalaku ke depan, menekan keningku lebih keras pada moncong senjatanya, memaksanya untuk memegang pistol itu lebih erat atau mundur. Ia tidak mundur.
"Dan kunci itu adalah kau," lanjutku tanpa ampun. "Kau adalah kelemahan emosional satu-satunya yang dimiliki oleh ayahmu. Pion yang paling sempurna."
"Bajingan!" Elara menjerit, suara tangisnya meledak. Ia menarik laras senjatanya dan menghantamkannya ke sisi pelipisku.
Rasa sakit meledak di kepalaku. Pandanganku memutih sesaat. Aku terhuyung ke samping di atas sofa, merasakan darah hangat mulai mengalir dari pelipisku, turun melewati ujung mataku.
Elara berdiri menjulang di atasku, napasnya memburu liar. Senjatanya kini terarah ke dadaku.
"Aku membelamu!" teriaknya, suaranya bergema memantul di dinding-dinding ruko yang kosong. "Aku membuang lencanaku ke tempat sampah demi dirimu! Aku mengkhianati sumpahku karena aku mengira kau adalah korban yang rapuh! Tapi kau hanyalah iblis yang memanipulasi pikiranku! Kau tidak berbeda dengan ayahku!"
Aku menyeka darah dari pelipisku dengan punggung tanganku. Rasa nyeri di rusuk kiriku yang dijahit berdenyut hebat, tapi aku memaksakan tubuhku untuk duduk tegak.
"Kau benar," ucapku pelan, menatap darah di tanganku. "Aku adalah iblis. Aku adalah produk dari neraka yang diciptakan oleh ayahmu sepuluh tahun yang lalu. Tapi jangan pernah menyamakanku dengan Darmawan Salim."
Aku berdiri perlahan dari sofa. Elara mundur selangkah, kedua tangannya kini memegang gagang pistol itu dengan kuda-kuda menembak yang kaku.
"Darmawan membohongimu seumur hidupmu," kataku, melangkah satu langkah mendekatinya. "Dia memberimu kemewahan yang dibeli dengan darah orang tua angkatmu, Detektif Arya. Dia mencium keningmu setiap malam, sementara tangannya yang lain menandatangani surat perintah untuk membakar keluarga yang tak bersalah di dasar jurang."
"Diam!" Elara menggeleng histeris.
"Kau marah padaku karena aku mengupas lapisan kebohongan itu dari matamu!" aku menaikkan nada suaraku, membiarkan amarah yang selama ini kupendam ikut keluar. "Kau marah karena aku memaksamu melihat monster yang tidur di bawah atap rumahmu sendiri! Apakah rasa sakit yang kau rasakan saat peluru penembak runduk itu memecahkan kaca mobilmu di Blok M adalah ilusi yang kubuat, Elara? Apakah perintah ayahmu untuk memanggangmu hidup-hidup di gudang Marunda adalah trik sulapku?!"
Pertanyaanku menghantamnya seperti palu godam. Bahu Elara merosot. Laras senjatanya mulai turun, tak lagi mampu menahan beban gravitasi dan keputusasaan yang menghimpit jiwanya.
"Aku memanipulasi pertemuan kita, ya," aku memelankan suaraku, melangkah lebih dekat hingga ujung kaki kami bersentuhan. Aku menurunkan tangan kananku, meraih moncong senjatanya, dan menempelkannya tepat ke tengah dadaku, di atas jantungku yang berdetak teratur.
"Aku memanfaatkanmu untuk masuk ke dalam pikiran ayahmu. Aku mengakuinya," bisikku, menatap langsung ke lautan duka di matanya. "Tapi rasa sakitmu saat mengetahui kebenarannya adalah nyata. Darmawan Salim benar-benar mencoba membunuhmu. Dia benar-benar merusak hidup kita berdua."
Aku mencondongkan wajahku lebih dekat ke wajahnya yang basah oleh air mata.
"Tarik pelatuknya, Elara," ucapku, sangat pelan dan mematikan. "Tembak aku. Selesaikan apa yang ayahmu mulai sepuluh tahun yang lalu. Bunuh sisa-sisa terakhir dari keluarga Wiratama. Lalu kembalilah ke ayahmu yang penyayang itu, dan hiduplah dalam kebohonganmu sampai dia mengirim pembunuh bayaran berikutnya untuk mencekikmu saat kau tidur."
Elara menatapku dengan mata yang memerah dan bengkak. Rahangnya bergetar. Ia mencoba mencari kekuatan untuk menarik pelatuk itu, untuk membalaskan dendam hatinya yang hancur karena pengkhianatan emosionalku. Ia memiliki hak penuh untuk mengakhiri hidupku malam ini.
Namun, ia tahu bahwa membunuhku tidak akan memperbaiki apa pun. Membunuhku hanya akan memberikan kemenangan absolut pada pria yang paling ia benci di dunia ini: Darmawan Salim.
Elara melepaskan cengkeramannya pada gagang pistol. Senjata api itu jatuh berdebam ke lantai kayu, tergeletak di antara kaki kami.
Tubuhnya merosot jatuh berlutut ke lantai. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis tergugu dengan suara isakan yang mengoyak kesunyian ruko tua ini. Ia telah kehilangan segalanya. Ayahnya, pekerjaannya, kepercayaannya, dan kini... ilusi tentang pria yang ia cintai.
Aku berdiri menjulang di atasnya. Di dalam sudut terdalam pikiranku, sesuatu yang telah lama mati mencoba meronta. Sebuah rasa bersalah yang asing mencubit ulu hatiku. Aku telah menghancurkan satu-satunya hal yang murni di kota ini.
Namun, aku dengan cepat menelan perasaan itu mentah-mentah, menguncinya kembali di dalam kotak baja. Belas kasihan hanya akan membuat kami berdua mati.
Aku berbalik meninggalkannya yang sedang menangis di lantai, berjalan dengan langkah tertatih menuju meja kerjaku yang dipenuhi kabel dan tumpukan kertas. Aku mengambil flashdisk hitam dari atas tumpukan foto pengintaian Elara yang berserakan. Flashdisk ini adalah alat peretas sistem kamera rumah Menteng yang telah kusiapkan sebelum apartemenku di Pluit hancur.
Aku mencolokkannya ke port laptop cadangan di atas meja, memasukkan baris kode pemintas sandi, dan menyambungkan jaringannya ke frekuensi gelombang pendek yang memantul dari satelit satelit cuaca.
"Bangun, Elara," perintahku datar, memecah isak tangisnya.
Elara tidak bergerak. Ia masih meringkuk di lantai.
"Aku bilang bangun!" suaraku menggelegar, keras dan tajam layaknya cambuk. "Air matamu tidak akan membakar Vanguard Tower. Simpan tangisanmu untuk pemakaman ayahmu nanti!"
Elara perlahan mengangkat wajahnya yang berantakan. Matanya menyorotkan kebencian yang sangat murni kepadaku, namun ia menuruti kata-kataku. Ia berdiri dengan sisa-sisa tenaganya, menyeka wajahnya dengan lengan bajunya secara kasar, dan berjalan mendekati meja kerja.
Aku memutar layar laptop itu ke arahnya.
"Kau marah padaku karena aku menjadikanmu pion," kataku, menunjuk ke arah layar yang masih hitam. "Sekarang, aku akan menunjukkan padamu apa hasil dari pengorbanan pion tersebut."
Aku menekan tombol Enter.
Layar berkedip, menampilkan rekaman video langsung yang diretas dari kamera keamanan tersembunyi di dalam ruang kerja Darmawan Salim di rumah Menteng. Video inframerah itu memperlihatkan ruangan besar yang mewah.
Di dalam sana, Darmawan Salim tidak sedang duduk tenang menghisap cerutu Kuba-nya seperti sosok dewa yang tak tersentuh.
Pria tua itu sedang mondar-mandir dengan langkah panik. Kemeja putihnya kusut, dasinya ditarik longgar. Ia membanting tumpukan dokumen dari atas mejanya hingga berserakan ke lantai. Di depannya, berdiri kepala keamanan Vanguard yang menunduk ketakutan.
Aku menyalakan penyadap audionya. Suara mereka memenuhi ruko tua kami.
"...Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukannya?!" raung Darmawan dari dalam layar, suaranya dipenuhi oleh keputusasaan yang melengking. "Pelacak GPS di mobilnya mati! Apartemennya kosong! Rumah sakit dan kamar mayat di seluruh kota tidak mencatat ada wanita dengan ciri-cirinya yang masuk!"
"Pak, kami sudah menyisir rute pelariannya dari Blok M. Ia menghilang ke arah utara, tapi rekaman lalu lintas terputus karena peretasan," jawab kepala keamanan itu dengan suara bergetar. "Kami menduga ia... ia mungkin sudah dibawa oleh kelompok pria bertopeng itu. Joker mungkin sudah menculiknya."
Mendengar itu, Darmawan Salim terhuyung mundur. Ia menjatuhkan dirinya ke kursi kulitnya, mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan.
"Tidak... tidak..." gumam Darmawan. Aroganitas dan kontrol dirinya hancur lebur di depan mata kami. "Jika Joker menyanderanya... bajingan itu akan menggunakan Elara untuk memeras semua rahasiaku. Dia akan menyiksanya untuk membalas dendam padaku. Cari putriku! Kerahkan semua orang! Suap siapa pun yang perlu disuap! Temukan Elara hidup-hidup!"
Aku menekan tombol Mute, mematikan suaranya, membiarkan video itu terus berjalan bisu.
Aku menoleh menatap Elara. Mata wanita itu terpaku pada layar laptop. Ia melihat sendiri bagaimana ayahnya yang perkasa itu kini terlihat seperti pria tua yang hancur dan dilanda paranoia akut. Ayahnya tidak tahu bahwa penembak runduk yang ia kirimkan telah gagal. Ayahnya tidak tahu bahwa "Joker" dan Elara kini berada di ruangan yang sama, menonton kehancurannya.
"Lihatlah dia, Elara," bisikku tepat di telinganya. "Selama puluhan tahun, dia berlindung di balik kekayaan dan kekuasaannya. Dia mengira dia bisa mengontrol kehidupan dan kematian orang lain tanpa konsekuensi."
Aku menyentuh layar laptop dengan ujung jariku.
"Tapi kau... hilangnya dirimu... adalah retakan pertama pada fondasi kewarasannya. Kau adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia beli dengan uang," aku menatap Elara yang masih membeku. "Paranoia sedang menggerogoti otaknya dari dalam. Dia tidak tahu siapa yang bisa ia percaya. Dia mulai curiga pada anak buahnya sendiri. Dia mulai takut pada bayangannya sendiri."
Elara menelan ludah dengan susah payah. Kengerian dan kepuasan yang aneh bercampur aduk di wajahnya saat melihat ayahnya tersiksa oleh ketidaktahuan.
"Ini bukanlah sekadar tentang membunuh lima orang, El," aku berbalik membelakangi meja, berjalan menuju jendela ruko yang menghadap ke arah gemerlap kota Jakarta. "Kematian adalah pelepasan yang terlalu mudah bagi monster-monster itu. Aku ingin melucuti segala hal yang membuat mereka merasa aman. Aku ingin mereka merasakan neraka yang mereka ciptakan sendiri, jauh sebelum jantung mereka benar-benar berhenti berdetak."
Hakim Setiawan telah kehilangan akal sehatnya, membusuk di sel rumah sakit jiwa.
Jenderal Sudiro telah kehilangan kehormatannya, menanti pengadilan militer di balik jeruji besi.
Handoko Salim dan Hendra Surya tewas oleh ketakutan dan racun keserakahan mereka sendiri.
Dan kini, Darmawan Salim sang Raja sedang duduk di singgasananya yang mulai runtuh, tersiksa oleh ketakutan terburuk yang bisa dialami seorang ayah.
Kekaisaran Vanguard Group tidak sedang diserang oleh pasukan bersenjata, melainkan sedang dihancurkan dari dalam oleh paranoia dan kebohongan yang terkuak.
Aku menyentuh kaca jendela yang dingin, menatap pantulan diriku yang disandingkan dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.
Satu per satu, kulit mereka terlepas.