NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

misi lagi?

Dua minggu telah berlalu sejak Jinyu diangkat menjadi letnan muda. Kini pertengahan Desember, salju mulai turun lebih lebat di pegunungan. Udara dingin semakin menusuk, tapi semangat para peserta kamp tidak pernah padam bukan karena mereka kuat, tapi karena takut pada "ratu iblis" mereka.

Julukan itu semakin terkenal di seluruh barak militer. Bukan hanya karena prestasi Jinyu di ujian survival atau penangkapannya atas mata-mata asing, tapi karena metode pelatihannya yang... unik.

Setiap pagi, para peserta berlari dengan beban di tangan dan kaki. Beban itu bertambah setiap minggu. Yang protes? Mereka akan "bermain" dengan Yoyo. Ular perak itu kini dikenal sebagai "ular setan" karena sering muncul tiba-tiba di belakang mereka yang malas. Xiao Hu si bayi harimau yang mulai besar juga ikut "mengawasi" latihan. Kalau ada yang berhenti tanpa izin, Xiao Hu akan mengaum kecil, yang sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri.

Hasilnya? Dalam dua minggu, kekuatan para peserta meningkat drastis. Zhang Lei yang dulu sombong, kini bisa lari 30 putaran dengan beban tanpa ngos-ngosan. Kelima anak buahnya yang dulu membersihkan kandang Xiao Hu, kini jadi yang paling rajin dan takut kalau disuruh bersihkan kandang lagi.

Para petinggi militer yang datang berkunjung terheran-heran. Mereka melihat peserta kamp yang biasanya biasa saja, kini seperti prajurit elit. Komandan Wei atasan Komandan Lei yang baru beberapa bulan pindah ke markas pusat sampai berkata, "Anak ini... benar-benar sesuai dengan julukannya sebagai ratu iblis. Namun dalam artian baik."

Komandan Lei hanya tersenyum getir. Ia tahu Jinyu istimewa, tapi tidak menyangka seistimewa ini.

Hari itu, setelah latihan sore usai, Jinyu berjalan menuju ruang komandan. Xiao Hu mengikuti di belakang, sesekali mengendus-endus jejak di salju. Yoyo melingkar di bahu Jinyu, matanya merah waspada.

Dua minggu lagi Tahun Baru Masehi pergantian dari 1963 ke 1964. Tapi yang lebih penting, sebulan lebih lagi adalah Tahun Baru Imlek. Jinyu sudah berencana mengambil cuti untuk pulang. Ia rindu Ibu su, Ayah Su, dan Kakak Ketiga yang cerewet serta kedua kakak laki-lakinya yang pendiam namun menyayangi nya. Sudah setahun lebih ia di dunia ini. Rasanya seperti baru kemarin ia diusir keluarga Wang, tidur di gang dingin, lalu ditemukan Ayah Su.

Tok tok tok.

"Masuk."

Jinyu membuka pintu. Di dalam, Komandan Wei duduk di belakang meja besar. Pria kepala empat itu masih gagah, dengan sorot mata tajam khas perwira tinggi. Di dinding, peta-peta militer dan foto-foto upacara berjejer rapi.

Jinyu memberi hormat. Xiao Hu ikut duduk di samping, ekor bergoyang. Yoyo tetap di bahu.

"Ada apa, Jinyu?" Komandan Wei mengangkat alis melihat "rombongan" kecil itu.

"Lapor, Komandan. Dua minggu lagi akan pergantian tahun, dan sebulan lagi tahun baru Imlek. Saya ingin mengajukan cuti untuk pulang."

Komandan Wei diam sejenak. Ia menatap Jinyu si gadis kecil berambut cokelat, mata keemasan, postur tegap, dengan harimau dan ular di sisinya. Dalam beberapa minggu, namanya sudah harum di kalangan militer.

"Begini, Jinyu." Komandan Wei menghela napas. "Bukan saya tidak mau mengizinkanmu pulang. Tapi militer sedang dalam masalah. Bagaimana kalau begini: saya izinkan kamu pulang saat tahun baru Imlek, tapi kamu harus mengerjakan misi dulu. Untuk menaikkan pangkatmu, supaya cutimu lebih mudah diurus. Bagaimana?"

Jinyu terdiam. Pikirannya berputar cepat.

["Terima saja,"] sistem berbisik. ["Kalau kau benar-benar merindukan rumah mu, aku dan Yoyo bisa bantu."]

Bukannya aku tidak mau. Tapi kalau tiba-tiba naik pangkat lagi, itu akan terlalu mencolok.

["Tidak masalah. Di militer, naik pangkat karena prestasi itu wajar. Lagipula, kau sudah terkenal."]

Shshsss~ "Benar, Jinyu. Terima saja. Kami bantu kok."

Jinyu menghela napas dalam hati. Lalu ia menatap Komandan Wei. "Baik, Komandan. Saya terima misi itu."

Komandan Wei sedikit terkejut, tapi tidak terlalu heran. Anak ini memang pemberani. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan setumpuk dokumen tebal hampir 5 sentimeter lalu menyerahkannya pada Jinyu.

"Ini dokumennya."

Jinyu menerima, membuka halaman pertama. Foto-foto hitam putih, nama-nama, catatan-catatan rapi. Ia memilah-milah, melihat tiga bagian berbeda.

Komandan Wei menjelaskan, "Dokumen ini dibagi tiga. Pertama, daftar buronan yang diincar militer. Mereka adalah penjual manusia, pemerkosa, pembunuh, dan pengkhianat yang menjual rahasia negara pada bangsa asing. Mereka biasanya berkelompok, jadi harus berhati-hati. Kedua, daftar barang-barang bersejarah dan dokumen penting yang dicuri bangsa lain dan kini diperjualbelikan di suatu tempat. Ketiga, daftar mata-mata negara kita yang bekerja sama dengan bangsa lain, menjual informasi rahasia."

Jinyu mendengarkan saksama. Matanya menyapu setiap foto, menghafal setiap nama.

"Kamu diberi waktu sebulan lebih sampai tahun baru Imlek. Misi ini rahasia. Tidak boleh dikatakan pada siapa pun. Kami akan memberi alasan kamu sedang menjalankan misi sampingan, bukan misi khusus." Komandan Wei menatapnya tajam. "Jika kamu berhasil menyelesaikan ketiganya, militer akan menaikkan pangkatmu. Juga mulai memberimu gaji militer resmi."

Jinyu menyimpan dokumen itu pura-pura di balik baju, aslinya ke dalam dimensi. Lalu ia memberi hormat.

"Perintah diterima, Komandan. Saya akan selesaikan misi ini dalam sebulan, sebelum Imlek."

Komandan Wei mengangguk bangga. "Bagus. Kembali ke tempat. Bersiaplah, dan pergi saat dini hari. Jangan sampai ada yang melihatmu pergi dan bertanya-tanya."

"Perintah diterima."

Jinyu berbalik, Xiao Hu dan Yoyo mengikuti. Pintu tertutup pelan.

Komandan Wei menatap punggung kecil itu lama. Dalam hati, ia berdoa semoga anak ini selamat. Ia tahu misi ini berbahaya. Tapi ia juga tahu, Jinyu bukan anak biasa.

Malam harinya, Jinyu duduk di kamar kecilnya. Xiao Hu tidur di pangkuan, Yoyo melingkar di bahu. Tumpukan dokumen terbentang di depan matanya.

Ia mempelajari satu per satu. Nama-nama buronan, foto-foto wajah dingin, alamat persembunyian. Barang-barang bersejarah yang dicuri dari vas Dinasti Ming, gulungan kaligrafi Song, patung perunggu Han. Dan para pengkhianat, dengan catatan pergerakan mereka.

["Ini misi berat,"] sistem berkomentar serius. ["Targetnya tersebar di tiga kota berbeda. Jarak tempuh, waktu, dan risiko tinggi."]

Bisa kau petakan rute tercepat?

["Sudah. Tiga kota: kota A di timur, kota B di selatan, kota C di barat. Total perjalanan darat sekitar 2.000 kilometer."]

Dengan kereta api?

["Kereta api bisa, tapi butuh identitas dan dokumen. Kau punya?"]

Jinyu tersenyum. Kau lupa? Aku punya dimensi. Bisa naik kereta gelap, atau kendaraan lain.

["Maksudmu... kau mau naik kereta barang?"]

Atau jalan kaki. Atau lari. Atau naik kuda. Yang penting cepat.

Shshsss~ "Jinyu, kau yakin bisa sendiri?"

Aku punya kalian.

Shshsss~ "Tapi kami cuma bisa bantu dari dalam. Fisikmu yang harus bertarung."

Aku tahu. Tapi fisikku sudah kuat. Latihan tiga bulan di kamp, ditambah fisik iblis ku yang perlahan muncul. Itu sudah cukup.

["Baiklah. Aku siapkan data lengkap. Mulai besok pagi, kau pergi."]

Jinyu mengangguk. Ia memandangi Xiao Hu yang tidur pulas. Bayi harimau itu sudah mulai besar, tapi masih terlalu kecil untuk diajak bertarung. Ia harus meninggalkannya.

"Xiao Hu, kau jaga diri di sini," bisiknya. "Yoyo akan temani."

Shshsss~ "Aku?!"

Kau jaga Xiao Hu. Jangan sampai dia nakal.

Shshsss~ "Tapi—"

Pokoknya.

Yoyo mendengus, tapi tahu itu perintah.

Pukul 3 pagi, Jinyu sudah siap. Ransel kecil di punggung hanya sebatas pura-pura. Isi asli di dimensi: senjata, obat-obatan, makanan, dokumen. Baju merah kesukaannya ia kenakan di dalam, di atasnya jaket tebal militer.

Ia menatap Xiao Hu yang masih tidur, mengelus kepalanya lembut. Lalu ia melangkah keluar.

Kamp sepi. Hanya penjaga malam yang berpatroli. Jinyu bergerak seperti bayangan, menghindari lampu sorot, melompat pagar dengan mudah. Dalam lima menit, ia sudah di luar, berlari kecil di tengah salju.

Di balik bukit, rel kereta api membentang. Jinyu menunggu di balik semak, dingin menggigit kulit, tapi ia tahan. Satu jam kemudian, suara gemuruh terdengar. Kereta barang melaju pelan.

Jinyu berlari menyusuri rel, melompat ke gerbong terbuka. Tubuh kecilnya mendarat tanpa suara. Gerbong itu berisi tumpukan karung mungkin beras atau gandum. Ia menggali lubang kecil di antara karung, bersembunyi.

Perjalanan dimulai.

Tiga hari kemudian, 22 Desember 1963, Jinyu tiba di kota A. Kota pelabuhan, ramai, kotor, dan penuh bahaya. Target pertama: buronan bernama Li Hu, 45 tahun, penjual manusia dan pembunuh. Ia bersembunyi di daerah kumuh dekat pelabuhan.

Jinyu turun di stasiun barang, menyelinap ke kota. Jaket militer ia balik, menutupi seragamnya. Rambut cokelat ia sembunyikan di topi. Ia berjalan seperti anak jalanan tak ada yang peduli.

Daerah kumuh itu kotor, becek, penuh preman. Jinyu mengendap-endap, mencari gudang tua yang disebut dalam dokumen. Di depan gudang, dua pria berjaga, senjata tajam di pinggang.

["Li Hu di dalam. Dua penjaga. Mungkin lebih."]

Jinyu mengamati. Gudang itu besar, tapi hanya satu pintu depan. Ia memanjat tembok samping, masuk lewat atap yang bocor.

Di dalam, lima pria duduk melingkar, bermain kartu. Li Hu duduk di tengah, botak, bertato, wajah penuh luka. Di sudut, tiga anak perempuan terikat, mulut disumpal. Mata mereka penuh ketakutan.

Jinyu melihat itu, dan sesuatu di dadanya mendidih.

Bukan amarah. Bukan belas kasihan. Tapi keinginan untuk menghancurkan.

Target tambahan: selamatkan anak-anak itu.

Ia turun tanpa suara. Tubuhnya mendarat di balik tumpukan peti. Ia mengeluarkan pisau, lalu bergerak.

Dua detik pertama: dua pria terdekat roboh, leher tersayat.

Tiga detik berikutnya: satu pria pingsan dipukul kepala.

Empat detik kemudian: dua pria terakhir sadar, tapi sudah terlambat. Jinyu melompat, tendangan berputar menghantam kepala mereka.

Li Hu bangkit, mengambil parang panjangnya. Ia menyerang dengan liar. Jinyu menghindar, tubuhnya meliuk seperti ular. Ia masuk ke dalam jarak dekat, pisau menusuk perut Li Hu.

Li Hu terhuyung, tapi masih kuat. Ia mengayunkan parang lagi. Jinyu melompat ke belakang, mengambil pistol dari pinggang penjaga yang mati. Dor! Tepat di lutut Li Hu.

Li Hu jatuh berteriak. Jinyu mendekat, pistol di tangan.

"Kau... siapa kau?!"

Jinyu tidak menjawab. Ia menembak lagi di lengan kanan, lengan kiri, kaki kiri. Li Hu menjerit kesakitan, tapi tidak mati.

Jinyu lalu mengeluarkan tali, mengikatnya dengan rapi. Ia menoleh pada anak-anak yang terikat, jari di bibir memberi isyarat diam.

Anak-anak itu hanya bisa menangis diam.

Jinyu membuka ikatan mereka, lalu berkata, "Lari. Ke arah pelabuhan. Cari polisi. Katakan ada yang tangkap Li Hu."

Mereka berlari tanpa menoleh.

Jinyu menatap Li Hu yang tergeletak. Senyum tipis mengembang.

"Kau tahu, aku benci orang sepertimu."

Pisau di tangannya menghunjam tepat di jantung. Sekali, cepat.

Li Hu mati dengan mata terbelalak.

Jinyu membersihkan pisau, mengambil dokumen-dokumen di gudang, lalu keluar. Ia tidak peduli mayat-mayat itu. Polisi akan menemukan mereka besok.

Target pertama selesai. Dua tersisa.

Ia berjalan ke stasiun, naik kereta barang lagi. Perjalanan ke kota B.

Masih 23 hari sampai malam tahun baru Imlek.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!