NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Liam Marah

Mobil Liam melaju menembus kegelapan malam dengan kecepatan tinggi, namun suasana di dalamnya terasa jauh lebih menyesakkan daripada ruangan terkutuk tadi.

Hanya ada suara isakan Cassie yang tak kunjung berhenti, bercampur dengan deru mesin yang monoton.

​Liam mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya lurus menatap jalanan di depan, rahangnya terkatup sangat rapat seolah jika ia membukanya sedikit saja, kemarahan dan rasa sakit yang ia tahan akan meledak tak terkendali.

​"Liam... maafkan aku. Maaf..." bisik Cassie di sela tangisnya. Suaranya serak, badannya masih bergetar di balik jaket Marco yang kebesaran.

"Aku... aku hanya ingin kau bebas. Aku tidak tahu kalau Ethan..."

​Liam tetap diam. Hening yang ia ciptakan terasa seperti pisau yang mengiris hati Cassie pelan-pelan.

​"Liam, bicara padaku! Tolong..." Cassie meraih lengan Liam, namun Liam tetap bergeming, bahkan tidak meliriknya sedikit pun.

"Marahi aku, Liam! Teriaklah padaku! Bilang kalau aku bodoh, bilang kalau aku tidak berguna! Tapi tolong, jangan diam seperti ini..."

​Isakan Cassie berubah menjadi tangisan putus asa. Ia lebih memilih Liam mengamuk dan menghancurkan isi mobil ini daripada harus menghadapi keheningan yang membunuh ini.

Diamnya Liam adalah bentuk kekecewaan terdalam, sebuah pernyataan bahwa kepercayaan yang baru saja mereka bangun telah retak.

​"Kau pikir aku selemah itu, Cassie?" Akhirnya, suara Liam keluar. Rendah, dingin, dan sarat akan luka yang pedih.

​Cassie tersentak, ia menatap profil samping wajah Liam yang diterangi lampu jalan yang berkelebat.

​"Kau pikir aku tidak bisa mengurus diriku sendiri sampai kau harus merendahkan dirimu di depan pria itu?" Liam tertawa pendek, sebuah tawa pahit yang membuat Cassie semakin hancur.

"Selama ini aku berusaha membuktikan padamu bahwa aku bisa menjagamu, bahwa kau aman bersamaku. Tapi ternyata, di saat masalah datang, orang pertama yang tidak percaya padaku adalah kekasihku sendiri."

​"Bukan begitu, Liam... aku hanya takut kehilanganmu," tangis Cassie semakin pecah.

​"Kau bukan takut kehilanganku, Cassie. Kau hanya tidak percaya padaku," Liam mengerem mobil secara mendadak saat sampai di depan gerbang rumah, membuat tubuh mereka terdorong ke depan.

​Liam akhirnya menoleh, menatap mata Cassie yang sembap. Di sana tidak ada amarah yang meledak-ledak, hanya ada sorot mata yang sangat hancur.

"Malam ini, bukan Ethan yang menghancurkan harga diriku. Tapi kau."

​Liam keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban.

***

Cassie tersandung saat melangkah keluar dari mobil, kepalanya masih berdenyut hebat akibat pengaruh obat dan rasa sakit dari tamparan Ethan.

Namun, melihat punggung Liam yang menjauh dengan langkah dingin, ketakutannya kehilangan Liam jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya.

​"Liam! Tunggu!" teriak Cassie parau.

​Ia berlari kecil, mengabaikan jaket Marco yang hampir merosot dari bahunya, dan berhasil meraih tangan Liam tepat sebelum pria itu mencapai pintu utama.

Liam tidak berhenti, namun Cassie menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk menarik tangan pria itu hingga langkah Liam terhenti paksa.

​Secara spontan, Cassie jatuh berlutut di lantai teras yang dingin. Ia menggenggam tangan Liam dengan kedua tangannya, seolah jika ia melepasnya sekali saja, Liam akan menghilang selamanya dari hidupnya.

​"Kumohon... jangan tinggalkan aku seperti ini," isak Cassie, wajahnya yang sembap mendongak menatap Liam.

"Katakan padaku, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku? Aku akan melakukan apa saja, Liam. Apa saja... asal kau jangan mendiamkanku."

​Liam memejamkan matanya rapat-rapat, napasnya terdengar berat dan memburu. Ia menarik tangannya dengan sentakan kecil, namun Cassie justru menggenggamnya semakin kuat.

Perasaan frustrasi memuncak di dada Liam. Ia marah pada Ethan, marah pada keadaan, tapi ia juga sangat marah pada ketidakberdayaan yang ia rasakan malam ini.

​"Kau bertanya apa yang harus kau lakukan?" Liam bersuara, kali ini bukan lagi dingin, tapi penuh dengan nada frustrasi yang meledak. ia menarik Cassie agar berdiri, mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan tekanan yang kuat namun gemetar.

​"Bukan begini caranya, Cassie! Aku tidak butuh kau berlutut padaku!" bentak Liam tepat di depan wajahnya.

"Kau pikir dengan berlutut masalah ini selesai? Kau pikir rasa sakit melihatmu hampir disentuh bajingan itu bisa hilang hanya karena kau minta maaf?"

​Liam melepaskan cengkeramannya dan mengusap wajahnya dengan kasar.

"Aku marah karena aku gagal menjagamu, dan aku lebih frustrasi lagi karena kau menganggap aku selemah itu sampai kau harus mengorbankan dirimu! Harusnya kau diam di rumah! Harusnya kau percaya bahwa aku akan pulang!"

​Cassie hanya bisa menunduk, bahunya terguncang hebat oleh tangisan yang tak kunjung berhenti.

​Melihat kondisi Cassie yang hancur, amarah Liam perlahan berubah menjadi rasa perih yang menyesakkan. Ia melihat darah yang mulai mengering di sudut bibir Cassie dan memar yang semakin jelas di pipinya. Sekeras apa pun hati Liam sekarang, ia tidak bisa membiarkan kekasihnya hancur lebih jauh.

​"Sudah cukup," ucap Liam dengan suara yang lebih rendah, meski masih terdengar kaku.

"Masuk ke dalam. Bersihkan dirimu, obati lukamu, dan segera tidur."

​"Liam, tapi—"

​"Masuk, Cassie!" potong Liam tegas, matanya menatap tajam namun ada sisa kekhawatiran yang ia sembunyikan.

"Kepalamu masih sakit, bukan? Jangan keras kepala lagi untuk malam ini. Aku tidak ingin bicara sekarang sebelum aku mengatakan hal-hal yang mungkin akan semakin menyakitimu."

​Liam membalikkan badan, berjalan masuk menuju ruang kerjanya dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Cassie yang berdiri sendirian di ruang tengah yang sunyi.

***

Di dalam kamar, Cassie meringkuk di lantai samping tempat tidur, masih mengenakan jaket Marco yang kini terasa sangat berat.

Ia tidak menyentuh kotak P3K, tidak juga beranjak ke kamar mandi. Pikirannya tersangkut pada dinding penuh foto di markas Ethan. Setiap gerak-geriknya, setiap privasinya yang terenggut.

Ia merasa telanjang, merasa terhina, dan yang paling menyakitkan adalah sorot mata Liam yang penuh kekecewaan padanya.

​"Aku memang bodoh... aku merusak semuanya," isaknya sambil memeluk lututnya sendiri.

​Sementara itu, di ruang kerja yang gelap, Liam duduk di balik meja besarnya dengan kepalan tangan yang masih berlumuran darah kering milik Ethan.

Ponselnya yang tergeletak di meja menyala, menampilkan panggilan dari Jino.

​"Bos, Marco sudah membereskan semuanya," suara Jino terdengar serius di seberang sana.

"Kami sudah menyerahkan bukti foto-foto di dinding itu, rekaman CCTV, dan laporan penganiayaan ke pihak internal kepolisian. Ethan sekarang sedang sekarat di rumah sakit, dijaga ketat. Begitu dia sadar, karirnya selesai. Dia akan membusuk di penjara."

​Liam hanya diam, matanya menatap tajam ke arah dinding. "Harusnya aku menghabisinya tadi, Jino."

​"Dan membuatmu benar-benar jadi kriminal di mata hukum? Jangan gila, Liam," sahut Jino.

Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih pelan.

"Dengar... turunkan sedikit egomu. Cobalah pikir dari sisi Cassie. Dia ketakutan. Kalau kau ada di posisinya, melihat orang yang kau cintai disiksa di layar, apa kau akan diam saja? Kau pasti akan melakukan hal yang sama gilanya."

​Liam terdiam.

​"Kau marah karena milikmu disentuh orang lain. Kau marah karena egomu sebagai pelindung terluka," lanjut Jino telak.

"Tapi saat ini, Cassie jauh lebih hancur darimu. Dia butuh kau untuk menenangkannya, bukan mendiamkannya. Jangan sampai kau menyesal karena lebih mementingkan harga dirimu daripada gadis yang hampir mengorbankan segalanya untukmu."

​Setelah sambungan terputus, keheningan di ruang kerja itu terasa menghimpit. Kata-kata Jino menampar kesadaran Liam. Ia merenung dalam kegelapan. Ia baru sadar betapa egoisnya ia malam ini.

Cassie baru saja melewati neraka, dia ditampar, dilecehkan secara mental, dan diancam. Tapi apa yang dilakukan Cassie saat mereka bertemu? Dia justru meminta maaf dan berlutut pada Liam.

​Cassie mengesampingkan traumanya sendiri hanya agar Liam tidak marah. Dia menelan ketakutannya hanya untuk membuat Liam merasa lebih baik.

​Liam segera berdiri dan melangkah cepat menuju kamar Cassie. Saat ia sampai di depan pintu, suara isakan itu masih terdengar—lemah, parau, namun sangat menyayat hati.

Cassie tidak berhenti menangis sejak mereka meninggalkan tempat itu.

​Rasa khawatir yang amat sangat mulai menguasai Liam. Ia memutar knop pintu perlahan dan mendapati kamar itu gelap, kecuali cahaya lampu taman yang masuk melalui celah gorden. Ia melihat sosok kecil itu masih meringkuk di lantai, bahunya terguncang hebat.

​"Cassie..." panggil Liam dengan suara yang kini pecah, penuh penyesalan.

​Mendengar suara itu, tangisan Cassie semakin menjadi. Ia tidak berani menoleh, ia terlalu malu.

Namun, ia merasakan sepasang lengan yang kuat dan hangat melingkar di tubuhnya, menariknya masuk ke dalam pelukan yang sangat protektif.

​"Maafkan aku... maafkan aku," bisik Liam tepat di telinganya, kali ini suaranya lembut dan bergetar.

"Aku yang bodoh. Aku yang bajingan karena mendiamkanmu. Kumohon, berhenti menangis, Cassie."

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!