“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi ini saat akan mengantar kembar ke sekolah, Khale meminta waktu Syafira untuk berbicara berdua. Namun, bunda kembar itu menolak karena ia masih enggan bicara pada mantan suaminya itu. Hingga ponsel Syafira berdering dari nomor tak dikenal.
“Syaf, aku mau bicara sebentar saja,” ujar Khale yang tak mau menunggu Syafira selesai dengan panggilan teleponnya.
“Apa? Kamu di kantor polisi mana sekarang?” Syafira terkejut dengan kabar pagi ini.
“Ya sudah, kita lanjutkan nanti di sana,” lanjutnya lalu mematikan telepon.
Terlihat buru-buru, Syafira mengambil tasnya.
“Syaf, ada apa?” Khale mencegat tangan mantan istrinya itu.
“Darma dibawa ke kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan. Ini pasti ulah Putra yang menjebloskannya karena telah menyerangnya,” kesal Syafira dengan wajah panik.
“Biar aku yang mengantarmu.” Khale lalu memanggil kedua anak buahnya untuk ditugaskan mengantar kembar ke sekolah.
Menolaknya, Syafira bisa pergi sendiri tanpa Khale, selama masih didampingi oleh anak buah ayah kembar.
“Tidak, Syaf, kamu tidak bisa sendirian melawan Putra, dia begitu licik. Aku bisa membantu Darma keluar dari sana,” cegah Khale.
Mendengar ucapan sang mantan suami, Syafira terdiam, seketika ia menyadari bahwa dirinya tak punya power untuk menolong Darma tanpa Khale. “Ya sudah.”
Hingga selama dalam perjalanan, Khale tak berhenti menghubungi seseorang untuk bertemu dengannya di kantor polisi nanti.
Melihat pria di sampingnya, Syafira seakan kembali terpesona pada ketampanan dan kekuasaannya yang memiliki begitu banyak relasi. Dilihatnya dari atas hingga bawah, sungguh tak ada satu pun kekurangan yang tampak. Ayah kembar itu memang pria yang tampan, gagah, wangi, bersih, dan rapi. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya menyadarkan dirinya bahwa mereka kini hanyalah orang lain.
***
Menyalami seorang pria berpenampilan parlente, Khale memanggilnya dengan sebutan Pak Garin, yang tak lain adalah kuasa hukum yang ia sewa untuk menangani kasus Darma.
Saat akan masuk, Syafira tiba-tiba teringat pada Helena.
“Kenapa aku tidak menghubunginya saja untuk tambah-tambah pengacara biar kuat,” gumamnya lalu mengeluarkan ponselnya.
Namun ketiga panggilannya tak ada satupun yang diangkat, hingga akhirnya Khale mengajaknya masuk ke dalam.
Di dalam ruangan tempat Darma dihadapkan di depan meja, di hadapannya ada dua orang polisi yang sedang memintainya keterangan. Tak hanya itu, tapi ada pula Putra dengan salah seorang anak buahnya dan satu wanita yang Syafira kenal. Seketika mantan istri Khale itu pun mematung penuh tanya sekaligus kecewa.
“Helena.”
Helena memandang ke arah Syafira dengan tatapan penuh arti.
Belum juga mereka duduk, Syafira menyerocos bahwa Darma hanya sedang menyelematkannya saat itu. “Dia menolong saya terbebas dari laki-laki licik itu yang mau memperk*sa saya!” Syafira menunjuk ke arah Putra dengan tatapan tajam penuh benci.
Khale lalu menenangkannya dan memintanya duduk, begitupun dengan Helena dengan kode tangannya meminta bunda kembar itu agar duduk di tempat yang telah disediakan.
Kuasa hukum Khale lalu meminta izin menginterupsi, agar Syafira diberikan kesempatan berbicara selesai Darma memberikan jawabannya atas pertanyaan kedua polisi di hadapannya.
Meski awalnya permintaan Pak Garin ditolak, tapi pihak kepolisian akhirnya memberikan kesempatan Syafira untuk berbicara sebagai saksi.
Dengan panjang lebar Syafira pun menjelaskan kronologinya. Dari mulai awal penawaran Putra untuk melunasi hutangnya yang dirasa sangat penuh kecurangan karena bagaimanapun Putra tak berhak meminta kembali apa yang sudah diberikannya. Terlebih pemberian itu tanpa permintaan Syafira atau dengan kata lain pemberian sukarela. Hingga cerita saat Putra mengingkari perjanjian mereka di awal yang hanya ingin makan malam berdua, tapi ternyata berujung dengan aksi pelec*han dan percobaan pemerk*saan.
Menatapnya penuh iba mendengar cerita saat di hotel, Helena mendelik, “Mana yang benar?”
“Tapi bukankah kamu juga mengingkari perjanjian kita dengan memberi tahu dia?” sahut Putra dengan nada tenang dan santai.
“Tidak! Aku tidak pernah memberitahu Darma soal makan malam kita!” sanggah Syafira.
Helena yang berpikir cepat setelah mendapat keterangan dari berbagai macam versi, lalu meminta izin menginterupsi selesai Syafira menjelaskan. “Maaf, kalau begitu apa boleh kita bertanya pada terdakwa dari mana beliau tahu kalau Saudari Syafira sedang berada di hotel dengan Bapak Putra?”
Seisi ruangan seketika menjadi hening, seakan semuanya bersiap mendengar jawaban Darma.
“Karina,” jawab Darma singkat.
Putra yang sedari tadi terlihat tenang pun kini berubah menjadi merah padam, jiwanya ingin memberontak saat mendengar nama Karina disebut. “Pengkhianat,” ucapnya lirih mengepalkan tangan.
Darma lalu menjelaskan bagaimana Karina bisa menemui dan memintanya menolong Syafira.
***
Selesai proses BAP, Putra dan anak buahnya bergegas pergi setelah berbicara sesuatu pada Helena. “Menangkan kasusnya, bagaimana pun caranya. Ingat konsekuensimu jika kalah!”
Setelah Putra meninggalkan tempat, Syafira menemui Helena dan mengatakan niatnya yang ingin menggunakan jasa dirinya, tapi sudah lebih dulu dipakai Putra.
“Maaf, Syaf. Pak Putra memang menghubungiku sebelum kamu dan aku sudah menyanggupinya,” jawab Helena pelan.
Meminta agar tak berada di pihak Putra, Syafira ingin Helena bergabung dengan tim kuasa hukum Khale.
Menatap dalam temannya itu, Helena mengaku tak bisa membatalkannya begitu saja karena bisa mengganggu profesionalitas dan nama baik law firm miliknya.
“Pak Putra itu salah satu klien terbesarku, Syaf. Maaf aku tidak bisa berada di pihakmu saat ini,” pamit Helena dengan setengah menunduk lalu pergi.
...****************...
dasar laki" emang buaya🙄🙄