Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kembalinya Suara
Nana memeluk Jeno yang berlumuran darah.
Luka di bahu pemuda itu tidak seperti luka biasa. Warnanya hitam pekat, dengan urat-urat hijau terang yang merambat ke leher dan dadanya seperti akar pohon beracun. Racun Siren Hitam — racun yang sama yang dulu digunakan Aramis untuk mengubah Siren biasa menjadi monster tak berperasaan.
Jika tidak segera diobati, Jeno akan mati dalam hitungan menit.
"Jangan mati," bisik Nana tanpa suara. Bibirnya membentuk kata-kata itu, tapi tidak ada getaran yang keluar dari tenggorokannya. Air matanya jatuh ke wajah Jeno yang pucat — wajah yang biasanya tegas dan dingin, kini lemah dan hampir transparan.
Dia tidak bisa bernyanyi. Suaranya sudah diambil oleh Lembah Bisu. Pita suaranya kosong. Tidak ada getaran. Tidak ada nada. Tidak ada lagu.
Tapi amarahnya — amarah murni karena melihat orang yang dicintainya terluka — keluar dari dadanya seperti gelombang tsunami.
Jantung Aequoria di dadanya berdenyut sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit seperti sedang menangis. Cahaya biru menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh Nana — ke lengannya, ke lehernya, ke wajahnya, dan akhirnya ke tenggorokannya, ke pita suaranya yang kosong.
Pita suara itu bergetar.
Bukan karena sudah pulih. Tapi karena Jantung Aequoria memaksanya untuk bergetar.
Bernyanyilah, bisik sesuatu di dalam dirinya. Bukan suara Dewi Laut. Bukan suara ibunya. Tapi suara dirinya sendiri — suara yang selama ini ia kira hilang, ternyata hanya tertidur.
Kau bisa. Kau selalu bisa.
Nana membuka mulutnya.
Dan dia bernyanyi.
---
Bukan lagu patah yang dulu ia nyanyikan di ruang latihan.
Bukan lagu perang yang ia nyanyikan saat melawan pasukan Aramis.
Ini adalah lagu yang belum pernah ada sebelumnya — lagu yang lahir dari campuran amarah, cinta, ketakutan, dan tekad. Lagu yang tidak diajarkan oleh siapa pun. Lagu yang Nana ciptakan sendiri di detik itu juga.
Satu nada panjang keluar dari mulutnya — naik turun seperti gelombang laut saat badai, kadang melengking tinggi menusuk, kadang bergemuruh rendah seperti guntur di dasar samudra.
Getarannya memecahkan karang di sekitarnya. Batu-batu besar yang tadinya menjadi tiang penyangga reruntuhan istana retak dan runtuh. Pasir putih di dasar laut berputar membentuk pusaran raksasa yang menyedot segala sesuatu di sekitarnya — pecahan karang, tulang-tulang Siren yang gugur, bahkan senjata-senjata yang tercecer di medan perang.
Ubur-ubur raksasa di atas Aequoria — sumber cahaya kerajaan — bersinar terang. Terlalu terang. Seperti matahari yang meledak di dasar laut. Cahayanya menembus kegelapan Palung Hitam, menembus kabut Lembah Bisu, bahkan sampai ke perairan daratan, membuat nelayan-nelayan di desa Mira berlutut mengira mereka melihat dewa laut marah.
Para Siren Hitam yang tersisa — sekitar dua puluh Siren yang masih setia pada Aramis — berteriak kesakitan.
Mereka memegangi telinga mereka. Darah biru keperakan mengalir dari lubang telinga, dari hidung, dari mulut. Beberapa yang terlemah jatuh pingsan, mengambang tak sadarkan diri di air, tubuh mereka bergoyang lembut mengikuti arus pusaran yang diciptakan Nana. Beberapa yang lebih kuat mencoba lari, tapi kaki — atau ekor — mereka tidak bisa bergerak, seolah-olah lagu Nana membekukan mereka di tempat.
Beberapa yang paling fanatik — yang sudah kehilangan akal karena sihir hitam Aramis — jatuh berlutut dan menyerah. Bukan menyerah dalam pertempuran, tapi menyerah dalam jiwa. Mereka menangis — menangis untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun — dan berbisik, "Maaf... maafkan kami... kami tidak punya pilihan..."
Aramis — yang berdiri paling dekat dengan Nana — jatuh berlutut.
Rambut merah darahnya yang dulu indah dan berkilau kini kusut dan rontok. Mahkota mutiaranya jatuh ke pasir, berguling-guling kecil sebelum berhenti di kaki Nana. Matanya yang merah menyala berkedip-kedip seperti lampu yang kehabisan daya — kadang terang, kadang redup, kadang hampir padam.
"Kau... kau tidak mungkin..." bisik Aramis, suaranya hancur — bukan karena lagu Nana, tapi karena kekalahannya. "Suaramu sudah... sudah diambil... Lembah Bisu tidak pernah mengembalikan suara siapa pun... Tidak pernah dalam sejarah..."
Tapi Nana tidak berhenti. Ia terus bernyanyi. Lebih keras. Lebih jernih. Lebih memuaskan.
Dan sambil bernyanyi, ia menyentuh luka di bahu Jeno.
Cahaya biru dari Jantung Aequoria berpindah dari tangannya ke luka itu — mengalir seperti sungai, hangat seperti pelukan ibu. Racun hitam yang tadinya menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh Jeno perlahan mundur. Urat-urat hitam di leher dan dadanya memudar, lalu lenyap sama sekali.
Luka itu mulai mengecil. Daging yang tadinya hitam dan membusuk perlahan berubah warna — menjadi biru pucat, warna sehat Siren. Kulit baru tumbuh di atas luka, lembut dan bersih, tanpa bekas.
Jeno membuka matanya.
Mata biru pucat itu masih sayu — seperti orang yang baru bangun dari mimpi panjang — tapi ada. Masih hidup.
Ia menatap Nana — Nana yang bernyanyi, Nana yang bercahaya seperti bintang jatuh, Nana yang menyembuhkannya dengan kekuatan yang tidak ia mengerti.
"Kau... bernyanyi..." bisik Jeno, suaranya serak, matanya berkaca-kaca. "Tapi suaramu... bagaimana...?"
Nana tidak bisa menjawab. Ia masih bernyanyi. Ia tidak bisa berhenti.
Karena lagu ini bukan dari suaranya. Tapi dari hatinya.
Dan hati tidak pernah kehilangan suara.
---
Di kejauhan, di atas bukit karang yang menjadi saksi bisu pertempuran itu, sesosok Siren bersisik perak mengamati.
Matanya tidak merah. Matanya biru — biru laut yang dalam, penuh dengan kebijaksanaan dan kesedihan.
"Jadi... lagu kerajaan sudah bangun kembali," bisik Siren perak itu. "Setelah sepuluh tahun tidur... pewaris sejati akhirnya muncul."
Ia tersenyum — senyum kecil yang tidak sampai ke matanya — lalu berbalik dan menghilang di balik karang.
Tidak ada yang melihatnya pergi.
Tidak ada yang tahu bahwa ia akan kembali.