Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYUSUL DANTE
Sesaat Mikhaela memejamkan mata di kursi belakang kemudi mobilnya.
Kemudian mengambil handphone miliknya yang ia taruh di box samping kursi.
Ternyata ada pesan dari Rania yang mengatakan ia pulang karena ada kasus yang harus ia tangani dan memberi tahu keadaan Revan baik-baik saja dirumah, Ana dan Nurma menjaganya.
Alis Mikha saling bertautan membaca lanjutan pesan Rania. "Oh ya Mikha, apa kau sudah bertemu Dante di kuburan? Tadi ia ingin menemui mu, aku katakan kau sedang ke makam Dion. Dante bilang akan menyusul mu ke sana!".
Mikha mengalihkan tatapannya ke sekitar tidak terlihat mobil Dante. Artinya kemungkinan Dante belum datang.
Satu pesan lagi ternyata datang dari Dante. "Aku harus pulang ke London. Berbahagia lah Mikhaela.."
Membaca pesan singkat Dante membuat Mikha kaget. Seketika dunia Mikha seolah runtuh untuk kedua kalinya. Ia baru saja berdamai dengan masa lalu, tapi kini ia nyaris kehilangan masa depannya.
Seketika perasaan Mikha tidak enak. Wanita itu segera menghubungi Dante, namun handphone Dante tidak bisa di hubungi. Berulangkali Mikha kembali menghubungi Dante tapi tetap sama, Dante tidak dapat dihubungi. Sepertinya handphone dalam kondisi off.
Mikhaela kembali menekan nomor di handphone miliknya. Kali ini ia menghubungi Luthfi asisten Dante.
"Iya nona Mikhaela, ada yang bisa saya bantu?", tanya Luthfi di sebelah saluran.
"Aku ingin menemui atasan mu Luthfi, apa kau tahu di mana aku bisa menemuinya sekarang?", tanya Mikhaela harap-harap cemas.
"Tuan Dante baru saja ke bandara, nona. Ia mempercepat jadwal pulang ke London..."
"A-pa...Dante ke bandara mau pulang ke London?"
Mendengar jawaban Luthfi, membuat Mikha sesaat diam tercekat. Jantungnya berdegup kencang. "Dante pulang ke London tidak memberi tahu aku? Dan sangat mendadak? Ada apa dengan mu Dante?".
Ratusan pertanyaan memenuhi otak Mikhaela.
Tanpa membuang waktu, Mikha memacu mobilnya menembus kemacetan menuju Bandara Soekarno-Hatta.
"T-idak Dante, kenapa harus tiba-tiba seperti ini", gumam Mikhaela sedih.
Sesampainya di terminal keberangkatan, Mikha berlari dengan napas tersengal, mencari sosok pria dengan tubuh tinggi atletis itu di antara kerumunan orang-orang.
"Dante..!"
"Dante..!"
"Oh my god Dante jangan pergi dulu!" teriaknya panik sambil menekan dada atasnya yang terasa berdenyut.
Mikhaela semakin masuk ke dalam berlari-lari mencari sosok itu.
Tepat sebelum gerbang paspor, ia melihat punggung Dante dari kejauhan. Mikha yakin itu Dante. Ia sudah sangat hapal tampilan laki-laki yang kini ia cinta memenuhi relung hatinya.
Tanpa membuang waktu, Mikhaela berlari kencang. Tak perduli dengan peringatan petugas yang mengatakan ia di larang memasuki area steril dari pengunjung yang tidak memiliki tiket.
Mikha spontan memeluk pria itu dari belakang dengan nafas menderu. Tindakan Mikha mengejutkan Dante yang sudah bersiap menunjukkan tiketnya pada petugas dan orang-orang yang ada di sana.
"Jangan pergi Dante. A-ku mencintaimu," isak Mikha di punggung Dante. Memeluk erat pinggang laki-laki bertubuh atletis itu.
Tidak salah lagi, laki-laki itu adalah Dante. Mikha sudah sangat mengenal parfum yang selalu di pakai Dante. Aroma maskulin sandalwood dan citrus yang sudah sangat Mikhaela sukai.
"Jangan pulang dulu ke London.. Tunggu beberapa hari lagi seperti rencana mu. A-ku membutuhkan mu Dante", ucap Mikhaela dengan suara bergetar lirih.
...***...
To be continue