Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Langit Jakarta Selatan mulai menjingga, memantulkan gradasi warna aprikot yang mewah di atas aspal mulus kawasan Pondok Indah. Pepohonan rindang di sepanjang jalur hijau seolah menyambut kepulangan mereka ke lingkungan elit tersebut. Di jok belakang, Saskia seolah telah kehilangan kemampuan untuk berpaling. Dagu lancipnya masih tertumpu setia di bahu Sandi, matanya terkunci rapat pada pantulan profil samping wajah Sandi yang terlihat tegas namun tenang dari balik kaca helm yang bening.
Bagi Saskia, setiap embusan napas Sandi yang terasa di dekatnya adalah melodi, dan sorot mata Sandi yang sesekali tertangkap di kaca spion adalah candu yang membuatnya tenggelam dalam lamunan panjang. Ia tidak sekadar melihat, ia sedang merekam setiap jengkal ekspresi laki-laki yang baru saja memanggilnya dengan sebutan "Sayang" di perjalanan saat meninggalkan Rawamangun tadi.
Sandi, yang menyadari dirinya sedang dijadikan objek pemujaan visual, merasa telinganya sedikit memanas. Ia melirik spion, mendapati Saskia yang menatapnya tanpa kedip, persis seperti orang yang sedang terhipnotis.
"Sas?" panggil Sandi pelan. Hening. Hanya deru mesin motor yang menyahut.
Sandi menolehkan sedikit kepalanya ke samping, suaranya sedikit meninggi. "Sas? Budek ya?"
Saskia tetap tidak bergeming. Ia justru mengedipkan matanya dengan gerakan lambat yang genit, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang sangat lebar hingga matanya menyipit. Pikirannya sudah terbang jauh melampaui batas aspal yang mereka lalui.
Sandi menghela napas panjang, merasa gemas sekaligus tak habis pikir dengan tingkah tunangan rahasianya ini. "Saskia Fiana Putri!" panggilnya lagi, kali ini dengan intonasi penuh penekanan.
Tetap tidak ada jawaban lisan. Saskia hanya membalas dengan senyuman yang semakin menjadi-jadi. Akhirnya, Sandi melepaskan tarikan gas motornya, membiarkan Ninja hijaunya melambat secara alami. Tangan kanannya terangkat, lalu... Plak! Sebuah tepukan mendarat di atas helm Saskia.
"Iiiihhh, Sayang mah!" teriak Saskia tersentak, suaranya melengking di balik helm. "Kenapa sih? Orang lagi asyik menikmati pemandangan indah di depan mata malah digebuk."
"Gue panggil udah tiga kali, Sas. Kuping lo ketinggalan di A&W tadi apa gimana?" omel Sandi sembari kembali memacu motornya.
Saskia terkekeh kecil, tawanya terdengar sangat bahagia. "Namaku bukan Saskia kalau kita lagi berduaan begini, San. Namaku itu 'Sayang'. Lupa ya tadi baru aja panggil begitu?"
Sandi mendengus, pura-pura menyesal meski hatinya berkata lain. "Nyesel gue nyebut kata itu tadi. Efeknya ternyata lebih parah dari virus flu si Andra."
"Ihh, kenapa sih? Aku kan seneng banget dengernya. Itu pertama kalinya loh kamu manggil aku sayang tanpa paksaan. Masa cuma aku doang yang harus berjuang panggil kamu sayang tiap hari," protes Saskia sembari mempererat pelukannya di pinggang Sandi.
Sandi menyipitkan matanya, menatap jalanan di depan dengan serius. "Itu tadi murni kecelakaan komunikasi, Sas. Lo aja yang main cubit-cubit sampai kena titik sensitif gue, jadi mulut gue refleks ngomong begitu biar lo lepasin."
"Ihh, bohong! Kamu tau ga? aku manggil begitu karena aku mikir tahu! Karena Kakek sudah jodohin kita, Papa sama Mama sudah kasih restu hijau, terus aku juga sudah tegas mutusin Nanda. Otomatis, secara teknis dan batin, aku itu sudah jadi pasangan kamu. Makanya aku manggil sayang. Sekarang giliran kamu, harus dibiasakan!" cerocos Saskia panjang lebar.
Sandi menggelengkan kepala. "Gue nggak mau ah panggil-panggil begituan. Status kita kan belum resmi. Masih abu-abu."
Mendengar kata 'belum resmi', Saskia mendadak terdiam. Sebuah ide gila namun tulus melintas di benaknya. Ia tidak ingin lagi ada di zona abu-abu yang Sandi ciptakan sebagai tembok pertahanan harga dirinya.
"Yaudah, kalau menurut kamu status kita belum resmi... sekarang aku tanya langsung sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku, San?" tanya Saskia dengan nada yang mendadak serius.
Ckiiiiiiittttt!
Sandi menarik tuas rem dengan mendadak. Ban motor berdecit keras di atas aspal.
Tiiiiiiinnnnn!
Sebuah mobil sedan mewah di belakang mereka menginjak klakson panjang karena hampir saja menabrak bagian belakang motor Sandi. Suasana mendadak tegang.
"Woi! Goblok, liat-liat dong!" teriak pengendara mobil itu dari dalam.
Sandi buru-buru menepi ke bahu jalan yang teduh di bawah pohon angsana. "Maaf, Pak! Ada batu gede tadi di depan, refleks ngerem!" teriak Sandi sembari membungkuk sopan. Pengendara mobil itu hanya mengangguk kesal lalu berlalu pergi.
Sandi mematikan mesin motornya, menciptakan keheningan yang mendadak di antara mereka. Ia memutar badannya ke belakang, menatap Saskia yang kini sudah membuka kaca helmnya. Wajah gadis itu tampak pucat namun sorot matanya menunjukkan keberanian yang luar biasa.
"Sas! Gue mau tanya sekali lagi," suara Sandi merendah, ekspresinya sangat serius. "Andai... andai gue ini bukan siapa-siapa lo. Bukan anak dari ART di rumah lo, bukan orang yang dijodohin Kakek lo, dan bukan temen sekolah lo. Apa yang sebenarnya lo harapkan dari gue?"
Saskia menatap dalam-dalam ke manik mata Sandi. Matanya mulai berkaca-kaca, ada genangan bening yang siap tumpah kapan saja. "Aku akan tetap cari kamu, San! Kamu tau foto yang ada di dalam dompetku itu? Itu adalah bukti pertama kalinya aku mendapatkan seorang teman yang tulus. Saat semua anak lain menjauh karena aku dianggap 'anak yang aneh dan lemot', dan cuma kamu yang mau buatin aku istana pasir di sekolah dulu tanpa menghina atau merendahkan aku."
Saskia mulai terisak kecil, suaranya bergetar hebat. "San! Kenapa sih kamu nggak mau jujur sama perasaan kamu sendiri? Aku tahu kamu juga suka sama aku! Aku bisa ngerasain perhatian kamu itu beda. Kamu peduli sama Andra, Vino, dan Anggita, tapi ke aku... cara kamu natap aku, cara kamu masangin helm aku tiap hari, itu nggak bisa bohong, San! Aku tahu itu!"
Air mata Saskia akhirnya luruh, membasahi pipinya yang mulus. Sandi tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia melihat kerapuhan sekaligus kekuatan besar dalam diri gadis di hadapannya ini. Perlahan, tangan Sandi terangkat, menghapus tetesan air mata itu dengan ibu jarinya secara lembut.
"Jadi, aku mohon, San... jujur sama aku. Jujur sama hati kamu sendiri," bisik Saskia di antara isakannya.
Sandi menghela napas panjang, menatap jalanan Pondok Indah yang mulai menyalakan lampu-lampu rumah mewahnya. "Gue... gue nggak tahu, Sas. Dari dulu, yang gue rasa lo itu kayak adik yang harus gue lindungi mati-matian. Gue takut kalau gue akuin perasaan gue, semuanya malah jadi berantakan karena perbedaan kasta kita."
Saskia menundukkan kepalanya, tangisannya makin pecah. Ia merasa ditolak dengan cara yang halus namun menyakitkan. Namun, Sandi tiba-tiba turun dari motornya. Ia berlutut di hadapan Saskia yang masih duduk di jok belakang.
"Sas," panggil Sandi lembut. Ia meraih kedua tangan kecil Saskia, menggenggamnya dengan mantap. "Lo... lo mau nggak jadi pacar gue? Resmi, bukan karena perjodohan kakek, tapi karena gue emang butuh lo di samping gue."
Saskia tersentak hebat. Ia mendongak, menatap wajah Sandi yang kini tidak lagi memasang topeng tengilnya. Haru yang luar biasa menyerang dadanya. Ia mengangguk-angguk cepat dengan wajah yang basah oleh air mata bahagia. Ia menarik tangan Sandi hingga pemuda itu berdiri, lalu menghamburkan pelukannya ke leher Sandi dengan sangat erat.
"Aku mau, San! Aku mau banget! Makasih ya, Sayang... makasih banyak sudah mau jujur," bisik Saskia di pundak Sandi.
Sandi membalas pelukan itu, mengelus bahu Saskia dengan lembut sembari menatap langit sore yang kini telah berubah menjadi ungu gelap. Di balik ketenangannya, Sandi membatin bahwa mulai detik ini, ia tidak hanya membawa beban sebagai anak seorang ART, tapi sebagai seorang laki-laki yang telah berjanji menjaga hati putri pemilik rumah tempat ibunya bekerja. Sebuah awal dari perjuangan yang sesungguhnya.
Semburat jingga di ufuk barat Pondok Indah perlahan meredup, berganti dengan warna ungu pekat yang menandakan sang surya telah benar-benar tenggelam. Sandi mencoba merenggangkan pelukan erat Saskia, namun gadis itu seolah-olah telah menemukan pelabuhan terakhirnya. Saskia tetaplah Saskia; keras kepalanya terkadang melampaui logika. Kedua tangan mungilnya bertautan kokoh di punggung Sandi, memeluk jaket denim cowok itu dengan posesif, sementara wajahnya tetap terbenam di ceruk leher Sandi, menghirup aroma maskulin bercampur sisa parfum yang sudah memudar.
Plak!
Sentuhan telapak tangan Sandi mendarat lagi di tempurung helm Saskia, kali ini dengan bunyi yang cukup nyaring namun penuh kasih sayang yang tersembunyi. "Oneng! Lepasin nggak? Keburu magrib, Pe'a! Lo mau kita dikira penunggu pohon angsana di pinggir jalan ini?" omel Sandi.
Saskia justru menggelengkan kepalanya kuat-kuat di pundak Sandi, rambutnya yang terurai dari balik helm bergesekan dengan leher Sandi, menimbulkan sensasi geli yang membuat Sandi salah tingkah. "Nggak mau! Aku nggak mau lepasin. Aku mau momen ini lebih lama lagi, San. Aku takut kalau aku lepasin, status kita barusan cuma mimpi," gumam Saskia dengan suara yang teredam kain jaket.
Sandi menarik napas panjang, menatap lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu, menerangi deretan rumah mewah yang sunyi. "Saskia Fiana Putri, kalau lo nggak mau lepasin sekarang juga, kita putus detik ini juga. Rekor jadian terpendek dalam sejarah umat manusia!" ancam Sandi dengan nada datar namun mematikan.
Saskia tersentak. Ia melepaskan pelukannya secepat kilat, seolah-olah punggung Sandi baru saja berubah menjadi bara api. Wajahnya cemberut maksimal, bibirnya mengerucut hingga hampir menyentuh ujung hidungnya. "Ihh... jahat banget sih! Baru juga dua menit jadian resmi, sudah main ancam putus saja. Kamu nggak romantis banget jadi cowok, San!"
Sandi tidak membalas dengan kata-kata kasar. Ia justru membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Saskia yang sedang merajuk. Dengan gerakan gemas, ia mencubit hidung bangir Saskia dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
"Lo nggak liat situasi, Sas? Coba pake otak oneng lo itu buat mikir dikit. Ini sudah masuk waktu magrib. Nyokap gue di sana pasti sudah mandi, sudah selesai bebenah barang-barang di paviliun belakang rumah lo. Dan nyokap lo? Beliau pasti sudah nungguin kita pulang dengan cemas. Jangan sampai di hari pertama gue resmi pindah dan tinggal di area rumah lo, kita sudah bikin drama yang bikin orang tua kita jantungan karena kita nggak pulang-pulang dari sekolah. Paham lo?"
Saskia tetap cemberut, meski matanya kini menatap Sandi dengan binar manja. "Ya aku tahu... tapi kan aku pengen lebih lama lagi berduaan sama kamu, Yang. Di sekolah kita kan harus pura-pura asing. Cuma di jalan begini aku bisa merasa kamu itu beneran milikku."
Sandi menghela napas panjang, jarinya memijat pangkal hidungnya sendiri karena pening. "Eh Oneng, dengerin gue baik-baik. Jarak paviliun gue ke kamar lo itu sekarang cuma beberapa langkah doang. Kita satu area pagar, Sas! Masa iya lo masih merasa kurang? Argh... ampun dah! Ngadepin lo beneran bisa bikin emosi gue naik turun kayak roller coaster!"
Melihat Sandi yang mulai frustasi, Saskia malah terkekeh kecil. Rasa kemenangannya muncul melihat Sandi yang biasanya dingin bisa sewot seperti itu karena ulahnya. "Iya, iya, Sayangku yang galak. Maafin ya. Ayo kita pulang sekarang. Aku kan cuma mau memastikan kalau pacar baruku ini beneran nyata, bukan cuma halusinasi efek kelamaan belajar matematika di kelas."
Sandi kembali membuang napas berat, mencoba menetralkan degup jantungnya yang sedari tadi berpacu tak keruan. Ia naik kembali ke atas jok Ninja hijaunya, menyeimbangkan motor itu dengan kedua kakinya yang jenjang. Suara mesin 2-tak yang gahar kembali menderu, memecah kesunyian sore di Pondok Indah.
"Pegangan yang bener, jangan peluk-peluk kayak tadi lagi kalau nggak mau gue turunin di tengah jalan," perintah Sandi, meski ia sendiri membiarkan tangannya sedikit terbuka agar Saskia bisa melingkarkan tangannya kembali di pinggangnya.
Saskia naik dengan riang, senyumnya kini kembali merekah sempurna. Ia memeluk pinggang Sandi, kali ini lebih santun namun tetap erat. Motor itu pun melaju tenang, membelah sisa-sore menuju sebuah gerbang besar yang akan menjadi saksi bisu babak baru kehidupan mereka: satu atap pagar, satu status yang baru saja diresmikan, dan ribuan konflik serta kemanisan yang sudah menanti di depan mata.
Ban motor Ninja 150RR milik Sandi berhenti dengan deru mesin yang halus tepat di depan gerbang tinggi menjulang yang menjadi pembatas kemewahan Pondok Indah. Namun, pemandangan sore ini berbeda dari biasanya. Jika biasanya Sandi hanya menurunkan Saskia di trotoar depan dan langsung memacu motornya kembali ke Jatinegara, kali ini gerbang besi tempa itu terbuka lebar menyambutnya. Pak Satpam yang berjaga memberikan hormat sembari tersenyum penuh arti, membiarkan Sandi melintasi area paving block yang rapi menuju carport luas yang sanggup menampung beberapa mobil mewah.
Sandi mematikan mesin. Hening sesaat menyelimuti area parkir sebelum Saskia melompat turun dari jok belakang dengan gerakan yang sangat riang, seolah beban dunia baru saja terangkat dari bahunya. Dengan telaten, Sandi mendekat dan membantu membukakan pengait helm Saskia yang masih saja sering macet. Tepat saat helm itu terlepas, sebuah suara lembut namun berwibawa menyapa mereka dari arah teras rumah utama.
"Halo... mentang-mentang sekarang sudah satu tujuan pulangnya, asyik bener ya berduaan sampai lupa waktu," goda wanita paruh baya yang berdiri anggun di sana.
Sandi refleks menoleh dan sedikit membungkukkan badan. "Sore, Tante Desi. Aduh, maafin Sandi ya kalau pulangnya agak telat. Tadi Andra—temen sekolah kami—traktir makan di A&W dulu. Dia baru sembuh dari demam, jadi tadi dia pengen merayakan hari sehatnya bareng-bareng."
Mama Saskia, Tante Desi, berjalan mendekat dengan senyum yang menyejukkan. "Iya, nggak apa-apa, San. Tante cuma sempat heran saja, kenapa Saskia nggak telepon atau kasih kabar dulu kalau mau pulang terlambat?"
Sandi langsung menatap Saskia dengan tatapan "sidik jari". "Lah, lo nggak izin ke nyokap tadi, Sas? Main berangkat aja?"
Saskia hanya bisa nyengir tanpa dosa, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan karena helm. "Aku benar-benar lupa, San. Habisnya... aku terlalu senang bisa pulang sekolah bareng kamu secara resmi begini."
Tante Desi terkekeh melihat tingkah putrinya yang sedang dimabuk asmara. "Saskia, saking senangnya jangan sampai bikin orang rumah sport jantung. Mama sama Ibu Lisa tadi sempat khawatir, takut terjadi apa-apa di jalan karena HP kamu juga nggak aktif."
Sandi merasa tidak enak hati. "Aduh, maaf banget ya, Tante. Hari pertama Sandi tinggal di sini sudah bikin kalian khawatir begini."
"Nggak apa-apa, San. Kamu nggak salah kok. Kamu kan yang jagain Saskia," Tante Desi menepuk bahu Sandi dengan ramah. "Ya sudah, sekarang kalian masuk dan segera mandi. Udah mau Magrib, nggak bagus anak muda masih keluyuran di luar rumah. Hawanya sudah beda."
Sandi mengangguk patuh. "Kalau begitu, Sandi pamit ke belakang dulu ya, Tante. Oh iya, Sandi lewat jalan samping sini saja ya?"
"Kenapa nggak lewat dalam saja, San? Lebih dekat kalau lewat ruang tengah," tawar Tante Desi.
Sandi menggeleng sopan. "Enggak usah, Tante. Badan Sandi bau asap knalpot dan keringat, takutnya ruangan Tante jadi bau. Sandi lewat samping saja."
Tante Desi tertawa renyah mendengar kepolosan Sandi. "Kamu ini ada-ada saja. Ya sudah, terserah kamu. Oh iya, Ibu Lisa sudah ada di dalam paviliun. Beliau mungkin lagi istirahat karena tadi habis kerja keras beres-beres barang pindahan sendirian. Nanti sampaikan ke Ibu ya, sehabis Isya nanti kita makan malam bersama di meja makan utama. Oke!"
Langkah Sandi tertahan. Wajahnya menunjukkan gurat keraguan. "Ehh, nggak perlu repot-repot, Tante. Biar Sandi sama Ibu makan di paviliun saja. Rasanya kurang pas kalau kami harus duduk satu meja sama pemilik rumah... maksudnya, Sandi merasa nggak enak."
Tante Desi melangkah maju, tangannya menunjuk tepat ke dada Sandi dengan tatapan yang sangat tegas namun hangat. "Dengar ya, Sandi. Di mata Tante, kamu bukan sekadar anak dari asisten rumah tangga, tapi kamu adalah calonnya Saskia. Di rumah ini, tidak ada sekat kasta antara majikan dan pembantu jika kita sudah bicara soal keluarga. Paham?"
Sandi mencoba menyanggah, "Tapi Tante, ka—"
"Nggak ada tapi-tapian!" potong Tante Desi telak. "Ibu Lisa itu bekerja di sini dari pagi sampai sore. Begitu matahari terbenam, beliau adalah rekan Tante dan kita semua adalah satu keluarga besar yang akan bersatu nantinya. Jadi, malam ini wajib ikut makan malam. Jangan sampai Tante jemput ke belakang ya!"
Sandi menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada otoritas wanita di depannya. "Baik, Tante. Maafin Sandi kalau tadi sempat menolak."
Tante Desi tersenyum puas. Saskia yang melihat kekalahan Sandi langsung terkekeh geli. "Tuh kan, jangan macam-macam sama Mama. Ya sudah, kamu mandi sana biar ganteng. Aku sama Mama masuk duluan. Dadah calonku! Sampai ketemu di meja makan!" Saskia menjulurkan lidahnya dengan jahil sebelum berlari masuk ke dalam rumah.
Sandi hanya bisa terpaku menatap punggung mereka. Saat ia berbalik menuju jalan samping, ia melihat Pak Satpam di pos jaga sedang tertawa kecil. "Harap maklum ya, Den Sandi. Memang begitu sifat Nyonya Besar sama Nona Muda kalau sudah punya kemauan, nggak bisa dibantah."
Sandi ikut terkekeh. "Iya, Pak. Makasih ya. Saya ke belakang dulu."
Sandi berjalan menyusuri jalan setapak di samping rumah utama yang dihiasi lampu-lampu taman yang mulai menyala otomatis. Ia melewati taman belakang yang sangat luas menuju sebuah bangunan paviliun yang mungil namun terlihat sangat nyaman dan asri. Di sepanjang langkahnya, Sandi tak bisa menahan senyum. Kejadian hari ini—mulai dari traktiran es krim, foto lama di dompet, pernyataan cinta di pinggir jalan, hingga sambutan hangat Tante Desi—terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Hidupnya benar-benar berubah dalam sekejap mata.