"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal Ngabuburit dan Diplomasi Gorengan Level Dewa
Pukul 16.30 WIB. Adalah jam-jam paling krusial dalam peradaban manusia yang sedang berpuasa di Jakarta. Jam di mana tingkat kesabaran menurun drastis, sementara keinginan untuk membeli seluruh isi pasar takjil meningkat hingga 500 persen.
Di ruang tamu, Liam sedang mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasannya dengan membaca jurnal ilmiah tentang “The Psychology of Fasting”. Tapi fokusnya buyar total karena di depannya, Bagas sedang melakukan gerakan aneh di lantai. Bagas sedang merangkak pelan mengikuti Supra, sambil memegang botol sirup kosong yang tutupnya masih dia cium-cium aromanya.
"Mas, kalau lo terus-menerus melakukan stimulasi penciuman tanpa adanya asupan glukosa, otak lo bakal makin stres," tegur Liam dengan suara yang agak serak karena haus.
Bagas menoleh dengan mata yang sedikit sayu. "Li ... lo nggak tau rasanya jadi gue. Bau sisa sirup cocopandan ini adalah bensin buat jiwa gue yang lagi mogok. Gue ngerasa kayak lagi di padang pasir, dan Supra ini adalah unta penunjuk jalan menuju mata air ... yang ternyata cuma dispenser kosong."
"Udah deh, daripada lo halusinasi jadi monyet padang pasir, mending kita keluar," ajak Liam sambil berdiri.
"Mbak Dira tadi titip pesen kita disuruh beli takjil. Katanya dia nggak sempet masak karena masih ada meeting kantor."
Mendengar kata "Takjil", Bagas langsung bangkit berdiri dengan kekuatan yang entah datang dari mana. "TAK JIL?! Kenapa nggak bilang dari tadi, Dek?! Ayo! Kita serbu pasar takjil depan komplek! Ini adalah misi suci!"
Mereka berangkat menggunakan motor matic Bagas yang bunyinya sudah seperti orang sesak napas. Liam di belakang memegang pundak Bagas dengan was-was, sementara di depan, di antara sela kaki Bagas, Supra duduk manis di dalam keranjang depan motor, memakai kacamata hitam kecil biar nggak silau kena matahari sore.
Pasar takjil di depan komplek sudah seperti lautan manusia. Aroma gorengan yang baru diangkat dari kuali besar bersaing dengan bau asap knalpot dan aroma kolak pisang yang manisnya sampai tercium ke ubun-ubun.
"Oke Liam, dengerin instruksi gue," ujar Bagas dengan nada serius, seolah-olah mereka mau melakukan perampokan bank. "Gue bakal ke sektor barat, bagian gorengan dan martabak. Lo ke sektor timur, bagian es campur dan kolak. Kita harus gerak cepat sebelum para 'Ibu-Ibu Power Ranger' dateng dan memborong semuanya!"
Liam menghela napas. "Mas, ini cuma beli buka puasa, bukan simulasi perang. Kita bisa beli dengan tenang kalau kita pake antrean yang bener."
"Nggak ada kata tenang di jam segini, Li! Liat tuh!" Bagas menunjuk seorang ibu-ibu yang sedang melakukan gerakan dribble di depan tukang gorengan hanya untuk mendapatkan bakwan terakhir. "Itu kompetisi murni!"
Liam akhirnya mengalah dan menuju ke penjual es campur. Di sana, dia malah ketemu Manda yang lagi berdiri di depan abang es sambil memegang sebuah kristal transparan di atas tumpukan es serut.
"Manda? Lo ngapain? Lo mau ngeramal nasib es campurnya?" tanya Liam bingung.
Manda menoleh, wajahnya terlihat segar padahal sudah sore. "Eh, Liam! Nggak, gue lagi ngasih vibe pendingin ke es ini. Biar pas kita minum nanti, suhunya nggak cuma dinginin tenggorokan, tapi juga dinginin emosi lo yang kaku itu."
Liam cuma bisa geleng-geleng kepala. "Man, secara termodinamika, es itu udah dingin. Kristal lo nggak bakal ngerubah suhu molekul airnya."
"Ah, lo mah sains terus! Sini, bantuin gue bawa dua bungkus es campur tanpa santan, satu es blewah buat Bagas, sama satu es timun suri buat Mama Ratna. Cepetan! Sebelum frekuensi haus gue berubah jadi frekuensi galak!"
Sementara itu, di lapak gorengan, Bagas sedang berada dalam situasi hidup dan mati. Dia sedang berhadapan dengan Jaka yang ternyata juga lagi ngantre di sana. Masalahnya, tinggal tersisa tiga biji tahu isi yang ukurannya sangat montok dan menggoda iman.
"Gas, lo ngalah lah sama gue. Gue dari tadi nungguin nih tahu digoreng!" ujar Jaka sambil memegang plastik transparan.
"Nggak bisa, Jak! Ini titipan Mbak Dira! Kalau gue pulang nggak bawa tahu isi, gue bisa disuruh tidur di kandang Supra!" balas Bagas nggak mau kalah.
Abang gorengannya cuma bisa bengong. "Aduh Mas-mas, sabar ... ini lagi digoreng lagi kok, lima menit lagi matang."
"Lima menit itu lama, Bang! Keburu adzan!" teriak Bagas dramatis.
Tiba-tiba, Supra yang dari tadi di keranjang motor, melompat turun dan entah bagaimana ceritanya, kucing itu berhasil menyelinap ke bawah meja gorengan. Dengan satu gerakan cepat, Supra mengeong kencang di depan kaki abang gorengan, membuat si Abang kaget dan nggak sengaja menjatuhkan tahu isi yang sudah matang itu ... tepat ke dalam kantong plastik yang dipegang Bagas.
"Wuih! Gol! Makasih, Pra!" Bagas langsung membayar dan lari menuju motor.
Jaka cuma bisa melongo. "Gila ... itu kucing beneran asisten maling atau gimana sih?"
Pukul 17.50 WIB. Semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah Bagas. Meja makan sudah penuh dengan berbagai macam plastik. Ada es campur "bervibrasi" dari Manda, tahu isi hasil kerja sama Bagas-Supra, dan kolak pisang buatan Mama Ratna yang aromanya sangat menggoda.
Liam duduk dengan tenang, sesekali melirik jam tangannya. "Sepuluh menit lagi. Secara biologis, saat ini lambung kita sedang memproduksi asam lambung yang tinggi. Jadi tolong, pas adzan nanti jangan langsung 'bar-bar'. Mulai dengan air putih dulu."
"Iya, Pak Dokter ... cerewet banget deh," sahut Manda sambil terus menatap plastik es campur dengan pandangan penuh cinta.
Bagas sudah memegang sendok di tangan kanan dan tahu isi di tangan kiri. "Gue nggak butuh teori, Li. Gue cuma butuh instruksi 'Allahu Akbar' dari speaker mushola!"
Dira keluar membawa sepiring kurma. "Inget ya, doa dulu baru makan. Jangan kayak tahun lalu, baru 'Allahu' udah abis tiga gorengan."
Suasana mendadak hening. Semua orang terdiam, menatap makanan di depan mereka. Ini adalah momen meditasi massal yang paling jujur di Indonesia. Supra pun ikut diam, duduk di kursi Liam sambil menatap sepotong kecil ikan pindang yang sudah disiapkan khusus untuknya.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
"BUKAAAAAA!" teriak Bagas.
Sruuuup! Amm! Krauukk!
Dalam waktu tiga menit, suasana meja makan yang tadinya sunyi berubah jadi arena perang suara kunyahan. Bagas makan tahu isi seolah-olah itu adalah makanan terakhir di bumi. Jaka (yang akhirnya ikut buka bersama di sana) sibuk dengan es blewahnya. Manda terlihat sangat bahagia menikmati es campur "kristal"-nya.
Liam minum air putih perlahan, kemudian memakan satu butir kurma dengan sangat sopan.
Liam melihat ke sekeliling. Bagas yang mulutnya penuh bakwan, Mama Ratna yang tertawa liat kelakuan anak-anaknya, Manda yang matanya berbinar, dan Supra yang asyik dengan pindangnya.
"Li, enak kan?" tanya Manda sambil menyodorkan es campurnya ke arah Liam. "Nih, cobain. Energinya dapet banget."
Liam mencoba satu sendok es campur itu. Rasa manis, dingin, dan segar langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. "Oke ... gue akuin. Es campur lo emang punya 'frekuensi' yang lumayan buat balikin mood."
"Tuh kan! Apa gue bilang!" Manda nepuk bahu Liam kencang sampai Liam hampir keselek biji delima.
Bagas yang sudah menghabiskan empat gorengan, menyandar di kursi sambil memegang perutnya yang membelendung. "Aduh ... nikmat mana lagi yang kau dustakan, Ndoro ... Gue ngerasa kayak baru aja dapet hidayah lewat jalur gorengan."
"Hidayah apa, Pir? Hidayah kolesterol?" ledek Dira.
"Bukan, Ndoro. Hidayah kalau ternyata bahagia itu simpel. Cukup liat tahu isi, es campur, dan liat Liam nggak protes pas mulutnya penuh es," tawa Bagas menggelegar.
Tiba-tiba, Liam teringat sesuatu. "Mas, habis ini kan kita tarawih pertama di mushola. Lo inget kan tugas lo sebagai Ketua Seksi Mental Spiritual?"
Bagas langsung tegak. "Oh iya! Hampir lupa! Gue harus nyiapin daftar imam dan mastiin speaker mushola nggak kresek-kresek!"
"Gue ikut!" seru Manda. "Gue mau pasang wewangian terapi di pojok mushola biar jamaah makin khusyuk!"
Liam memijat pelipisnya lagi. "Man ... mushola itu tempat ibadah, bukan tempat spa. Jangan aneh-aneh deh."
"Udah, ikut aja Li! Biar lo tau gimana serunya tarawih versi rombongan kita!" tarik Bagas sambil menyeret Liam yang masih memegang gelas es campur.
Malam pertama Ramadhan itu ditutup dengan perjalanan mereka menuju mushola. Bagas dengan sarung macan tutulnya, Liam dengan kemeja koko minimalisnya yang rapi, dan Manda yang mukenanya paling berkilau sekomplek. Di belakang mereka, Supra tetap ikut, duduk di pagar mushola memantau jamaah dengan pandangan yang tetap saja ... sinis.
Hari pertama puasa sukses dilewati dengan drama gorengan dan es campur bervibrasi. Liam mulai menyadari bahwa Ramadhan di rumah ini tidak akan menjadi bulan yang tenang, melainkan bulan penuh kejutan yang menantang batas-batas logisnya. Tapi jauh di dalam hatinya, dia mulai menikmati kekacauan ini.
"Siap-siap, besok sahur kedua, gue bakal bangunin lo pake trompet saksofon, Li!" bisik Bagas saat mereka masuk ke shaf shalat.
Liam cuma bisa menghela napas pasrah. "Terserah lo, Mas. Terserah lo."