Elleanor puteri Duke Penguasa Kegelapan telah dikutuk sejak dia lahir. Tapi anehnya, dia bisa melihat masa depannya sendiri sejak masih bayi. Dia melihat takdirnya yang terabaikan. Lahir tanpa kasih sayang membuatnya tumbuh menjadi antagonis yang kehidupannya berakhir tragis di tangan pria yang dicintainya.
Takdir seperti itu tidak bisa membuatnya tinggal diam. Dia akan mengubah cerita masa depannya. Apapun yang terjadi!
©A&Y original
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A&Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
“Nona Wales, terima kasih sudah membantuku.”
“Tidak, Nona Gail, sebaiknya Jangan berkata terima kasih. Karena aku melakukannya murni atas keinginanku. Gadis kegelapan yang sombong itu memang pantas mendapatkannya.”
“Ah Nona Wales, kau adalah senior yang kukagumi. Tapi, bagaimana kau bisa menukar gulungan itu?”
“Dengan sihir.”
“Sihir? Apa kau bisa sihir?”
“Semua bangsawan di Utara, dilatih sihir sejak mereka kecil.”
“Wah, Anda benar-benar menakjubkan. Saya semakin kagum dengan Anda.”
“Nona Gail. Sekarang tinggal tunggu saja, bagaimana caranya melewati rute yang berbahaya itu.”
“Menarik.”
.
.
.
Sementara itu di Hutan.
Eric. Kemana perginya? Aku memanggilmu berkali-kali tapi dia tidak muncul juga. Tunggu. Spirit angin. “Aed!”
(Tenang saja Elaine. Aku akan membantumu.)
Apa yang terjadi? Macan itu, tidak bergerak meski di tembus angin.
“Aneh.”
“Elaine!”
Grooammm.”
“Aceline?” kenapa kau kemari.”
“Jacqueline sudah membawa Adrienne ke tempat aman.”
“Tapi apa kau tau. Bukan macan itu masalahnya.”
“Apa maksudmu.”
“Itu hanya ilusi.”
“Eh.”
“Lihatlah.”
Aceline menggunakan kekuatan saljunya. Dan menembus tubuh macan itu.
“Jadi, ini hutan sihir?”
“Kita dijebak.”
Sekarang. Aed hanya bisa menjadi tameng sementara, agar macan itu tidak semakin mendekat.
“Sihir hanya bisa dilawan dengan sihir. Elaine, kau tau kekuatanmu bukan.”
“Tidak. Aceline, aku belum pernah menggunakan sihir apapun. Papa melarangku menggunakannya.”
“Karena kau terlalu kuat Elaine, tapi sepertinya sekarang, macan itu mengincarmu. Kau lihat arah pandangannya. Tertuju padamu.”
“Tidak Jangan pikirkan itu sekarang. Aku harus berpikir bagaimana aku mengalahkannya.”
Eric. Kemana kau pergi. Bagaimana bisa di menghilang disaat seperti ini!
Spirit dan Sihir adalah dua hal yang bertentangan. Mereka tidak bisa saling mengalahkan atau pun memenangkan satu sama lain, bahkan mereka tidak bisa saling bersinggungan. Tapi, Papa dan aku memiliki keduanya. Tapi sekarang, aku hanya tau cara menggunakan spirit, spirit tidak bisa melawan sihir, sihir tidak bisa melawan kekuatan spirit. Jadi, seandainya aku tau, aku tau sihir apa yang kumiliki, aku pasti tidak akan kebingungan sekarang.
(Nona, macan itu tetap bisa menembus kekuatanku. Nona, sebaiknya Anda bersembunyi)
Benar. kenapa aku tidak bersembunyi sejak tadi.
“Aceline ayo bersembunyi.”
Aku menarik tangan Aceline, dan kami berlari secepat yang kami bisa.
Pohon Ash. “Eudell!” AKu memanggil peri pohon. Dia membantuku naik.
“Wah.”
“Aceline, ini tidak ada waktu untuk kagum sekarang.” Temanku satu- ini benar-benar manusia tersantai di dunia.
“Eudell, Firly, bisa kalian bantu aku bersembunyi di pohon ini.”
(Tenang saja Elaine, aku akan menumbuhkan pohon ini setinggi mungkin. Agar binatang sihir itu tidak bisa menemukanmu.)
“Terima kasih.”
“Elaine, kau sungguh-sungguh menakjubkan.”’
“Aceline, sekarang kita berdoa saja. Ada yang bisa membantu kita.”
Aku masih berpikir. Sihir hanya bisa dilawan dengan sihir. Jika sihir yang Papa gunakan adalah Black sword, jadi sihir apa yang kupunya?
.
.
.
“Sudah malam. Apa kita tetap menunggu disini? Elaine, ko benar-benar tidak mau menyalakan gelang zulimu?”
Aku menggeleng. Tidak. Papa sudah cukup sibuk. Jangan sampai aku membuatnya cemas. Walaupun aku tau, Lou dan Elvin mengikutiku seharian, mereka pasti sedang mencariku sekarang. Tetap aja aku harus tetap bersembunyi dengan bantuan para peri.
“Aceline?!”
“Elaine?!”
“Elaine, kau dengar itu? itu suara Kak Aillard.”
“Kakak!!!” Teriak Aceline.
“Kami disini.”
“KAMI DISINI!!!” Teriakku.
“Ungu! Dimana kau?”
Ungu? Tunggu. Itu bukan suara Aillard, dan suara yang tidak asing lagi bagiku. Hanya ada satu orang yang memanggilku ‘Ungu’. Putera Mahkota.
“Kami disini!”
Suara derap kuda semakin mendekat.
“Hey Ungu. Disaat seperti ini kau masih suka memanjat rupanya.”
Eh? Mereka sudah ada dibawah rupanya. Aneh. Secepat itu mereka menemukanku dan Aceline.
"Apa kalian baik-baik saja?” Teriak Aillard.
“Kakak!”
“Cepat turun.” Perintah Putera mahkota.
“Elaine, aku tidak tau caranya turun. Kita juga tidak bisa meminta tolong peri karena ada mereka kan?”
“Benar juga.”
“Apa kalian tidak bisa turun?! Benar-benar seperti kucing. Loncatlah kalau begitu.”
“Aillard kau tangkap adikmu.”
“Aceline loncatlah.”
“Baik Kak.”
“Ungu kau juga. Loncat saja.”
“Tidak usah. Aku bisa turun sendiri.” Dia pikir aku ini kucing. Aku ini pemanjat pohon professional, bukan amatiran. Jika ada sertifikat memanjat pohon aku pasti sudah mendapat sertifikat ahli.
“Gr. Ya sudahlah. Terserah kau saja, kalau jatuh aku tidak akan membantumu.”
Lihat saja, aku ahli.
Eh…ehh,,, tinggal sedikit lagi aku menginjak tanah. Tidak Jangan terpeleset.
“Hwaaa!”
Lagi.lagi. aku menimpanya.
“Kan sudah kubilang. Kau keras kepala sih.” Ledek Putera mahkota. Berhentilah meledekku dasar bastard.
“Ehem. Elaine, kau baik-baik saja kan?” Suara Aillard menyadarkanku.
“Aillard. Kami baik-baik saja, tapi aneh sekali, darimana kalian tau keberadaan kami?”
“Putera mahkota yang membawaku.”
“Eh?” Aku menatap putera mahkota penuh tanda tanya.
“Akan kujelaskan nanti, apa kau tidak ingin Kembali ke tenda?”
“Ah benar, kakak ayo kita Kembali. Eh tunggu, bagaimana macannya?”
“Putera mahkota juga yang membunuhnya.”
“Hah?” Aku semakin takjub. Apa dia punye semacam sihir?
“Cepat naik.” Putera mahkota mengabaikan tatapanku. Dia menyuruhku menaiki kudanya.
“Tunggu bagaimana dengan Nona Adrienne. Kau meninggalkan tunanganmu di hutan?”
“Bocah laki-laki itu sudah membawanya Kembali.”
“Bagaimana bisa kau cuek sekali, kalau dia kenapa napa bagaimana?”
“Kau mau naik tidak?”
“Baiklah.”
Kuda melaju menuju tenda.
“Apa Nona Adrienne baik-baik saja?”
“Kau khawatirkan dirimu sendiri saja. Tidak perlu mencemaskan orang lain.”
“Ck. Kau juga seharusnya cemaskan tunanganmu sendiri. Jangan malah mencemaskanku. Dasar.
“Memangnya aku mencemaskanmu? Sebagai putera mahkota tentu saja aku tidak mau ada kesalahan. Bukankah aneh, kalau kau puteri grand duke hilang ditengah hutan?”
“Yay a ya. Terserah putera mahkota saja. Tapi, tetap saja. Apa Nona Adrienne punya penyakit bawaan?”
“Kenapa kau begitu penasaran dengannya?”
“Bisa dibilang, karena kita satu tim.”
“Oh.”
“…” Dia diam lagi.
“Jantungnya lemah sejak kecil.” Jawabnya singkat.
Ah. Benar dugaanku. Aku sedikit kasihan dengannya. Pantas saja, dalam ingatanku putera mahkota tampak sangat menjaga Nona Adrienne, meskipun aku tidak tau apakah putera mahkota mencintainya? Atau karena mereka sudah dijodohkan sejak kecil. Tapi dia sangat marah, karena aku mencoba membunuh Nona Adrienne, itu salah satu bentuk, kalau putera mahkota sangat mencintai tunangannya.
“Tapi aku masih penasaran, bagaimana kau bisa menemukanku?”
“…”
“Jadi. Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?” Aku terus bertanya sepanjang jalan. Dia ini aneh sekali. Darimana dia bisa menemukanku, dan bagaimana caranya mengalahkan macan itu.
“Aku sedang tidak mood menjawab tuh.”
“Putera mahkota -__- bisa tidak kata-katamu tidak menyebalkan sekali saja.”
“Memang sudah begini dari lama.”
“Grr. Baiklah tidak perlu dijawab, nanti aku juga tau sendiri.”
“Tau darimana? Apa kau mau bertanya pada Ericmu?”
GLEK. Apa? Aku tidak salah dengar?
“kenapa diam? kau kan pensaran sejak tadi. Barusan kujawab.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Kudanya melambat, dia keluar jalur. Ini bukan jalur menuju tenda.
“Kau mau membawaku kemana?”
Dia memutar balik. Apa yang pria ini rencanakan?
“Membawamu melihat macan. Diam saja. Nanti kau juga tau.”
Eric. Bagaimana dia tau soal Eric? Jadi apa maksudnya? Dia bisa melihat Eric? Atau Dia menculik Eric? Karena itu Eric tidak muncul saat kupanggil. Eric selalu bilang dia berkeliaran disekitar istana, dia menemukan pasangannya di sana. Saat itu aku tidak paham, apa dia tertangkap saat di istana? Apa ada orang yang bisa melihat spirit di sana? Eric. Aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang.
Jika benar dia merencanakan sesuatu. Aku akan langsung mengaktifkan batu zuliku kali ini.
“Bagaimana? Kau terkejut?”
Dia berhenti tepat di tempat tadi, dimana macan mengejarku. Tidak ada tubuh macan mati disana, hanya ada semacam abu, seperti tubuhnya menguap begitu saja menjadi abu oranye.
“Aku tau. Itu macan ilusi, hanya pemilik kekuatan sihir yang bisa membunuhnya. Karena itu, aku bertanya pada putera mahkota. Bagaimana caramu membunuhnya?”
“Kenapa tidak bertanya langsung saja. Pada Ericmu.”
“Tidak. Kau pasti menculiknya, aku memanggilnya tidak tidak mendatangiku.”
“Kau salah. Dia yang memanggilku kemari.” Jawabnya. Aku semakin tidak mengerti.
Siapa yang mengira. Hari ini, satu portal menuju rahasia yang tidak kuketahui. Akhirnya terbuka.
***
tbc...