" Mencintaimu memberikan warna baru dalam hidupku. Terima kasih. " ucapnya mencium sekilas lelaki yang telah menjadi suaminya saat ini.
Bianca(23th) harus menelan pil pahit akibat kecelakaan tragis yang mengakibatkan kematian suaminya Alexander(27th).Belum habis rasa kecewanya karena perselingkuhan sang suami tapi kematian sang suami juga menyisakan kesedihan yang mendalam baginya.
Begitu banyak teror yang dialaminya karena beberapa pihak yang menyalahkannya akibat kejadian tersebut.Dia merasa membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya hingga dirinya bertemu Alvin (26th) yang menyelamatkannya ketika akan diculik..
Siapakah Alvin ? Bagaimana dia bisa menjadi bodyguard Bianca? Bagaimana cinta bisa tumbuh dan bersemi dihati keduanya?
Baca terus kisah perjalanan cinta mereka ya...ini adalah karya pertamaku semoga bisa diterima oleh readers semuanya..Makasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN ALVIN
Dion menggendong Bianca ala bridal style keluar meninggalkan ruangannya.Ia sangat panik dan ingin segera membawa Bianca ke rumah sakit.Ia memanggil beberapa orang security mengawalnya.
"Pastikan hal ino tidak diketahui oleh siapapun,jangan sampai ada yang memfoto apalagi merekam kejadian ini !" perintah Dion diikuti anggukan kepala dari mereka.
Alya yang baru saja dari pantri kaget melihat Bosnya tak sadarkan diri.Ia berlari mendekat dan ingin bertanya pada Dion.
"Ibu Bianca ..ada apa dengan dirinya?" tanya Alya pada Dion yang berjalan tergesa-gesa. Dion melirik tajam dan memalingkan sedikit wajahnya, memberi kode pada wanita itu untuk pergi.Seketika nyali Alya menciut, ia memilih kembali ke mejanya meskipun rasa penasarannya masih tinggi.
Alvin keluar dari ruangan Bianca, ia ingin segera menyusul Dion.Alya yang melihatnya segera menarik lengan Alvin dan bertanya kembali.
"Viin,,tunggu! apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Bu Bianca?" tanya Alya .
Alvin segera menepiskan tangan Alya dan berlalu meninggalkannya begitu saja.
"Ada apa ini?kenapa semua orang jadi aneh?" Heeh, lama-lama aku bisa gila gara-gara penasaran, " gumam Alya sambil menepuk jidatnya.
...----------------...
Dion telah sampai di rumah sakit, ia segera membawa Bianca ke ruang perawatan untuk ditangani dokter.Dionpun segera menelpon orang tua Bianca untuk mengabarkan keadaan putri mereka.
"Bagaimana keadaan Bianca, Dok?Kenapa dia masih belom sadarkan diri?" tanya Dion pada Dokter yang memeriksa Bianca.
"Ada luka lebam di sebelah kiri wajahnya akibat benturan keras tetapi tidak cukup serius.Ia belum sadarkan diri akibat shock karena ketakutan.Anda tidak perlu khawatir, ia akan sadar setelah efek obat yang kami berikan habis," jelas dokter yang kemudian pergi meninggalkan ruangan Bianca.
Alvin telah sampai di rumah sakit tempat Bianca dirawat.Ia menanyakan tempat Bianca dirawat pada bagian informasi.Ia segera berlari menuju kamar yang dimaksud.
Alvin segera masuk dan melihat Bianca yang tergoler disana.Ia merasa sangat sedih melihat wanita pujaannya itu terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Dion yang melihat kedatangan Alvin merasa geram.Ia berjalan mendekati Alvin dan ingin mengusirnya dari sana.
"Mau apa kau kesini?Sudah ku bilang jauhi Bianca! Kau hanya menyusahkannya saja!!" teriak Dion sambil mendorong tubuh Alvin.
Alvin sangat kesal mendapat perlakuan seperti itu.Tapi,ia tidak mau membuat keributan di rumah sakit.Apalagi dia sadar itu semua akibat perbuatannya.
"Aku hanya ingin tahu keadaan Bianca !Aku akan menjaganya disini!" ucap Alvin penuh penekanan.
"Apa kau mau aku panggilkan security agar menyeretmu keluar dari sini?" ancam Dion.
Alvin memilih untuk mengalah sambil memikirkan cara agar dapat menemui Bianca kembali.Ia berjalan keluar meninggalkan kamar.Di depan pintu ia melihat orang tua Bianca berjalan menuju ruangan itu.Ia berjalan mendekat dan berniat meminta maaf pada mereka.
Plaakkk..
Sebuah tamparan mendarat di wajah Alvin.Ia sangat kaget tetapi ia merasa itu pantas baginya.
"Itu untuk Bianca yang telah dihina oleh ibumu!!" teriak Alifa pada Alvin.
Plaakkk...
Tiba-tiba Alifa menamparnya kembali.
"Dan itu untuk Bianca yang telah kau sakiti!" teriak Alifa kembali.Indra yang melihat kelakuan istrinya merasa kaget karena sebelumnya Alifa tidak pernah kasar kepada orang lain.
"Ma,,sudah tenangkan diri dulu,,jangan membuat keributan disini," ucap Indra mencoba menenangkan istrinya.
"Maaf kan saya Tante,,Om ," ucap Alvin memelas.
Dion yang mendengar keributan di luar segera menghampirinya.Ia menyuruh kedua orang tua Bianca untuk masuk ke dalam tanpa memperdulikan keberadaan Alvin.
Kini tinggal Alvin yang berdiri mematung di depan ruangan itu."Apapun yang terjadi aku harus bertemu Bianca," gumam Alvin sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Kedua orang tua Bianca telah berada dalam ruangan itu.Mereka sangat cemas melihat keadaan putrinya.Dion berpamitan untuk pulang terlebih dahulu karena ia masih ada meeting penting di kantornya.
"Ma ,,tidak seharusnya kau berbuat seperti itu pada Alvin. Kita belum tahu duduk permasalahannya.Bahkan yang papa tau Alvinpun sangat berjasa pada putri kita," ucap Indra menasehati istrinya.
"Papa kenapa membela anak itu!pokoknya Mama nggak terima putriku diperlakukan seperti itu. Sampai kapanpun Mama tidak setuju kalo Bianca jadian sama Alvin," ucap Alifa memberengkut kesal.
"Papa kenal baik dengan orangtua Alvin bahkan kami sedang ada kerjasama bisnis pembangunan apartemen bersama.Papa tidak mau gara-gara semua ini urusannya jadi panjang," jelas Indra.
"Jadi papa lebih peduli sama pekerjaan dari pada nasib putri kita?Pokoknya Mama nggak bisa terima," tegas Alifa sambil memelotot ke arah suaminya.
Bianca mulai tersadar sinar lampu menyilaukan pandangannya.Sedikit demi sedikit ia berusaha menggerakkan anggota tubuhnya yang terasa kaku.
Alifa dan Indra menyadari hal itu. Mereka segera mendekati putrinya.
"Ehh,,Ma,,Pa,,Bianca ada dimana?" tanya Bianca yang belum sadar sepenuhnya.I
"Kamu dirumah sakit Nak, tadi Dion yang membawamu kesini.Mama sama papa khawatir sama kamu.Kami senang akhirnya kamu cepat sadar ," ucap Alifa sambil memeluk putrinya.Airmatanya sudah tidak dapat dibendung.
"Mama nggak usah khawatir, Bianca udah baikan sekarang.Tadi Bianca samar- samar denger pembicaraan kalian.Memang apa yang mama lakukan sama Alvin?" tanya Bianca penasaran.
Mama Alifa terbelalak ,ia kaget ternyata putrinya mendengar pembicaraan mereka.
"Mama kamu udah nampar Alvin di depan tadi dua kali," jawab papa Indra spontan.Mama Alifa yang mendengar langsung melotot ke arah suaminya.
"Ya Itu pantes buat Alvin,,Mamanya juga kemaren nampar Bianca," ucap Alifa membela diri.
Bianca sebenarnya juga kaget mendengarnya.Ia tak tega kekasihnya diperlakukan seperti itu.
"Udah Ma,,ini semua bukan salah Alvin sepenuhnya," kata Bianca membela Alvin.
"Heh,,ayah anak sama aja nggak ada yang membela Mama," sanggah Alifa pura-pura kesal.Ia sendiri sebenarnya menyesal ,tetapi harga dirinya mengalahkan semuanya.
Seorang suster masuk dan memberikan resep yang harus ditebus.Alifa segera pergi menebus resep tersebut.Setelah beberapa saat seorang perawat masuk lagi kesana dan mengatakan ada yang ingin bertemu dengannya sambil menyerahkan sepucuk surat.
Awalnya Pak Indra menolaknya tetapi Bianca memaksanya pergi takut ada sesuatu yang penting.Ia pun akhirnya meninggalkan putrinya sendiri.
Selang beberapa menit seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan Bianca. Bianca berpura-pura tidur ia tahu siapa dalang di balik semua ini.
Alvin mendekati ranjang Bianca.Matanya berkaca-kaca, ia merasa sangat bersalah. Ia mendudukan dirinya ditepi ranjang sambil memegang tangan Bianca.
"Bie,,maafkan aku,,aku benar-benar tak sengaja melakukan nya.Saat itu aku kehilangan kendali.Aku sangat kesal karena seseorang mengancam ibuku.Kuharap kau mau mengerti,, aku benar-benar mencintaimu sayang," ucapnya sambil mencium tangan wanita itu.
"Aku nggak mau pisah sama kamu Bie,, aku akan mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini," ucapnya kembali sambil memandang wajah Bianca yang terlihat pucat.
Cup..
Sebuah kecupan didaratkan di puncak kepala Bianca.Bianca kaget dan segera mendorong tubuh Alvin.
Alvinpun tak kalah kaget ia tak menyangka ternyata Bianca telah sadar.
"Sejak kapan kau suka mencuri ciuman dariku?" tanya Bianca kesal sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Ka,,kamu udah sadar sedari tadi? Maaf kan aku Bie," kata Alvin gugup.
"Jawaabb !" teriak Bianca sambil melotot.
"Se..sejak kamu sering tak sadarkan diri ketika di dekatku," jawab Alvin jujur.
Bianca melongo, ia sempat tak percaya dengan perkataan Alvin dan mengingat-ingat berapa kali ia tertidur dan tak sadarkan diri bersama Alvin.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote seikhlasnya buat author ya.