NovelToon NovelToon
Perjodohan Yang Tak Terduga

Perjodohan Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Aliansi Pernikahan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Falco Kaiseradler

Bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja di sebuah kantor dan dijodohkan oleh bos pemilik perusahaan dengan putri dari bos tersebut. Tapi.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Falco Kaiseradler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas Prakarya

Beberapa bulan telah berlalu dengan damai, dan tubuh Visha mulai menunjukkan perubahan yang signifikan sesuai dengan usia kehamilannya yang semakin bertambah. Perutnya mulai membuncit dengan jelas, menjadi tempat bernaung janin yang mulai tumbuh pesat. Payudaranya juga mulai ikut membesar dan terasa lebih padat karena mulai terisi dengan ASI, serta lekuk tubuhnya, terutama bagian pantat, mulai mengencang dan membulat secara alami sebagai persiapan tubuh untuk mempermudah proses persalinan nantinya.

Sejujurnya, saat berkaca, Visha sering kali merasa kurang percaya diri dan tidak terlalu menyukai perubahan tubuhnya yang membuatnya merasa terlihat sangat gendut dan berat. Tapi di mata Fadli, perubahan itu justru membuat tubuh Visha memancarkan aura keibuan yang sangat seksi dan menawan.

Pagi itu, Sasha sedang berjalan menyusuri lorong lantai dua menuju ke kamar Visha. Si bungsu itu ingin meminta bantuan kepada kakak tertuanya, atau mungkin kepada Fadli yang kebetulan juga sedang menemani Visha beristirahat di kamar.

"Mbak Vi, Mas Fadli, Sasha boleh masuk enggak? Sasha mau minta tolong nih," tanya Sasha riang sambil memutar knop dan perlahan membuka pintu kamar yang tidak dikunci.

Namun, langkah Sasha terhenti seketika dan ia cukup terkejut saat matanya menangkap pemandangan intim di dalam kamar. Fadli sedang setengah berbaring, asyik menghisap sebelah payudara Visha dengan lembut layaknya bayi yang sedang menyusu, sementara tangan Visha membelai rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Melihat adegan panas itu secara langsung, payudara kecil milik Sasha yang tersembunyi di balik kausnya seketika langsung berkedut merespons rangsangan visual tersebut.

Ketika Visha dan Fadli menyadari derit pintu dan keberadaan Sasha yang mematung di ambang pintu, Fadli perlahan berhenti menghisap payudara Visha—yang ujungnya masih menyisakan setetes ASI—lalu mereka berdua menoleh dan bertanya kepada Sasha tanpa rasa canggung.

"Ada apa, Sasha? Kamu butuh bantuan apa?" tanya Fadli sambil mengusap bibirnya.

"Mas... sedot susu Sasha juga dong..." Sasha yang masih terkejut bercampur terangsang setelah melihat hal tadi tanpa sadar malah meracau menyampaikan isi pikirannya yang mesum.

Mendengar ucapannya sendiri, wajah Sasha langsung memerah. "Eh, astaga! Enggak, enggak! Bukan itu maksud Sasha!" ralat Sasha dengan panik sambil mengibaskan kedua tangannya.

"Ehem, jadi begini... Sasha mau minta tolong buat ngerjain tugas proyek seni dan prakarya Sasha. Mas Fadli atau Mbak Visha lagi sibuk banget enggak? Bisa bantu Sasha mikir ide enggak?" tanya Sasha mencoba kembali fokus dengan intonasi yang lebih jelas.

"Oh, tugas prakarya ya? Emangnya kamu disuruh bikin apa, Sasha?" tanya Visha lembut sambil membenarkan pakaiannya.

"Sasha pengennya bikin boneka sih, Mbak. Tapi Sasha kosong banget, bingung mau bikin boneka bentuk apa yang bagus dan gampang," jawab Sasha sambil mengerucutkan bibirnya bingung.

"Boneka ya? Hmm. Yaudah, sini biar Mbak cariin referensi dan ide yang gampang dibuat nanti di internet. Sekarang, kamu sama Mas Fadli pergi keluar beli bahan-bahan dasarnya buat boneka dulu sana," kata Visha memberikan solusi sambil berpikir dan mengambil ponselnya.

"Serius Mbak gapapa? Apa kalian enggak mau melanjutkan kegiatan menyusu kalian tadi dulu? Tanggung lho," tanya Sasha dengan senyum jahil yang kembali muncul.

"Sasha enggak mau menjadi pengganggu kalian, lho. Sasha bisa tutup pintu lagi dan nunggu di bawah sampai kalian selesai kok, beneran!" lanjutnya menggoda.

"Enggak usah ngaco. Gapapa kok, Sasha. Kamu enggak ganggu apa-apa kok. Urusan itu bisa dilanjut nanti malam," jawab Fadli santai sambil bangkit dari kasur dan mengusap sayang kepala istri kecilnya yang kelewat mesum itu.

"Iya, lagipula Mbak yang tadi minta tolong Mas Fadli buat bantu ngehisap susu Mbak. Soalnya gara-gara hormon kehamilan Mbak sekarang, Mbak sering banget mengalami laktasi berlebihan padahal belum waktunya. Jadi biar payudara Mbak enggak bengkak sakit dan bajunya enggak terlalu basah tembus, Mbak minta tolong Mas Fadli buat bantu minum," jelas Visha secara biologis agar adiknya paham.

"Owh gitu ceritanya, pantesan..." kata Sasha sambil mengangguk-angguk beberapa kali, sok mengerti.

"Yaudah deh kalau gitu, ayo Mas temenin Sasha belanja!" Sasha dengan semangat meraih tangan Fadli dan mengajaknya untuk pergi berbelanja bahan prakarya.

"Tunggu, kamu mau nitip dibeliin sesuatu juga enggak buat cemilan, Vi?" tanya Fadli sebelum melangkah keluar kamar.

"Hmm... Visha kayanya lagi ngidam pengen rujak buah yang pedes manis nih, Mas." jawab Visha sambil membayangkan kesegaran rujak.

"Okay siap!" Sasha dengan lucunya memberikan pose hormat dan mengacungkan jempol ke arah kakaknya sebelum menarik Fadli turun.

Beberapa saat setelah Fadli dan Sasha pergi, Visha masih asyik fokus menggulir layar ponselnya untuk mencari ide pola boneka yang lucu. Tak lama, ia mendengar suara langkah kaki dan ketukan ringan di pintunya.

"Mbak Visha, udah waktunya makan siang nih. Mbak mau turun makan bareng di meja makan bawah, apa Mbak mau Tasha bawain makanan Mbak kesini aja?" tanya Tasha ramah sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar yang setengah terbuka.

"Makan di bawah aja deh, Tasha. Ga enak dan sepi rasanya kalau harus makan sendirian di kamar terus," jawab Visha sambil memegang pinggiran ranjang, berusaha bangun dari tempat tidur dengan perlahan, yang langsung sigap dibantu oleh Tasha.

"Oh iya, Mas Fadli sama Sasha udah balik belum dari belanjanya?" tanya Visha saat ia berdiri bertumpu pada Tasha.

"Belum sih, Mbak. Kenapa emangnya?" jawab Tasha.

"Oh, enggak apa-apa kok. Cuma nanya aja," jawab Visha santai.

Tasha dengan penuh kehati-hatian dan telaten merangkul serta membantu kakaknya yang sedang hamil besar itu menuruni tangga lantai dua, menuju meja makan di mana saudari-saudari madunya yang lain—Lila, Misha, dan Masha—sudah duduk rapi menunggu.

Seperti biasanya, suasana makan siang keluarga itu selalu diwarnai dengan penuh keceriaan, gelak tawa, sambil saling mengobrol dan bertukar cerita bahagia.

"Mbak Vi, jadi gimana kondisi si bayi di dalam kandungan Mbak hari ini?" tanya Lila penuh perhatian sambil menuangkan air minum.

"Kondisinya sehat dan baik-baik aja kok. Kalian ini ya, perasaan tiap hari nanyain itu mulu nggak bosen apa?" jawab Visha sambil tersenyum geli melihat antusiasme adik-adiknya.

"Hehe..." Tasha, Lila, Misha, dan Masha hanya merespons dengan tawa canggung yang kompak.

"Maaf Mbak, habisnya kami penasaran dan semangat banget sih mau punya ponakan," jawab Misha membela diri.

"Iya bener! Kami udah enggak sabar banget nungguin hari Mbak Visha lahiran. Mau dandanin bayinya lucu-lucu!" lanjut Masha dengan mata berbinar.

"Kalau kalian seperti itu, kenapa kalian nggak langsung minta Mas Fadli buat cepet-cepet hamilin kalian juga gitu loh? Biar anak Mbak nanti ada temen seumurannya di rumah," kata Visha tiba-tiba, sedikit melempar godaan telak kepada adik-adiknya.

Mendengar saran frontal itu, wajah mereka berempat sontak langsung berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Secara refleks, tangan mereka serempak mengelus perut rata mereka masing-masing, diam-diam membayangkan bagaimana sensasinya kalau di dalam sana juga tumbuh benih dari suami yang mereka cintai.

"Waduh... enggak dulu deh Mbak kalau dalam waktu dekat ini. Ntar kalau kita semua hamil barengan, kasian Mas Fadli dong yang harus banting tulang dan ngurusin kita semua sendirian kalau lagi mood swing," jawab Tasha buru-buru menetralkan khayalan liar mereka.

"Wah, iya juga ya. Bisa pusing Mas Fadli ngadepin enam bumil sekaligus," kata Visha tertawa membayangkan kekacauan itu.

"Yaudah kalau gitu kita atur jadwal antrean aja, gantian. Tahun ini jatah aku yang hamil, terus tahun depan giliran Tasha, habis itu Lila, terus si kembar Misha dan Masha barengan, baru terakhir yang paling bungsu si Sasha. Gimana menurut kalian? Adil kan?" saran Visha membuat rencana.

"Eh, kok gitu? Aku terakhir aja deh Mbak daftarnya. Aku kan statusnya nikah sama Mas Fadli paling terakhir nyusul kalian," jawab Lila cepat, masih merasa sungkan dan tahu diri dengan posisinya.

Tidak lama setelah perdebatan lucu itu selesai, terdengar suara mobil Fadli. Fadli dan Sasha akhirnya pulang dengan menenteng banyak kantong plastik berisi kain flanel, dakron, benang, dan tentu saja sebungkus besar rujak buah pedas manis pesanan spesial Visha.

Setelah sesi makan siang yang mengenyangkan selesai, meja makan disulap menjadi meja prakarya. Fadli, Visha, serta Sasha berkumpul di ruang tengah untuk fokus membantu Sasha mengerjakan tugas proyek seninya membuat boneka.

"Jadi, setelah muter-muter tadi, kamu akhirnya udah mutusin mau bikin boneka bentuk apa, Sasha?" tanya Visha sambil mengeluarkan alat jahit.

"Sasha udah punya ide brilian, Mbak! Sasha mau bikin boneka dildo aja dari kain flanel, yang bentuknya tegak lurus kaya kontolnya Mas Fadli waktu lagi sange!" jawab Sasha dengan lantang dan penuh semangat tanpa filter sedikit pun.

"Sasha..." Visha langsung menghentikan aktivitasnya, menatap tajam dan memperingatkan Sasha dengan nada rendah yang tegas. Fadli di sebelahnya hanya bisa menepuk jidat.

"Hehehe, ampun Mbak! Cuma bercanda kok biar nggak tegang! Sasha mau bikin boneka kucing gemuk aja kayanya lucu," jawab Sasha cepat, kembali ke mode anak sekolah yang serius mengerjakan tugas.

"Nah gitu dong. Oke kalau begitu, mari kita mulai membuat kucing," Visha dan Fadli pun mulai bekerja sama membantu Sasha memotong pola dan menjahit boneka kucing tersebut.

Dibutuhkan waktu yang cukup lama dan kesabaran ekstra untuk menyelesaikan boneka flanel tersebut, karena pada kenyataannya, baik Sasha maupun Fadli sama-sama tidak terlalu mahir dalam menjahit. Alhasil, porsi pekerjaan terbesar dan paling rumit diambil alih oleh Visha yang telaten.

"Nah, dah jadi nih kucingnya. Gimana menurutmu?" Visha mengangkat dan memperlihatkan hasil akhir boneka kucing buatannya yang terlihat rapi dan sangat menggemaskan kepada Sasha.

"Wah! Ini lucu banget Mbak! Sempurna!" jawab Sasha memekik kesenangan melihat hasil akhirnya.

Saking bahagianya tugasnya selesai dengan hasil memuaskan, Sasha kemudian secara spontan langsung menghambur memeluk leher Fadli dan Visha secara bersamaan. Ia kemudian memberikan kecupan manis dan nyaring di pipi Visha, lalu beralih mendaratkan ciuman singkat di bibir Fadli.

"Makasih banyak ya, Mbakku yang paling cantik sedunia dan Suamiku yang paling perkasa! Sasha sayang banget sama kalian berdua!" kata Sasha dengan tulus sambil memeluk erat mereka berdua, merasa sangat beruntung memiliki keluarga kecil yang unik namun penuh kasih sayang ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!