NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan di lantai bawah, Viona melanjutkan rutinitasnya di lantai atas. Sambil menjinjing ember berisi peralatan kebersihan, ia menaiki anak tangga.

Di lantai atas, napasnya terhela singkat, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena pandangannya terfokus pada pintu kamar yang tertutup rapat. Kilasan peristiwa semalam kembali muncul. Viona membanting kasar ember itu hingga membentur lantai, suaranya seolah memecah kesunyian di sana.

Viona menarik napas lewat hidung, pelan dan dalam. Tangannya terlipat rapi, Jari-jarinya saling menekan hingga Buku-bukunya memucat. "Pria arrogant itu... ia bahkan pergi begitu saja tanpa meminta maaf."

Getaran di saku celana, membuat fokusnya teralihkan. Buru-buru Viona merogoh saku celana, sebuah nomor asing terpampang di layarnya.

Viona menyentuh layar itu, suara tidak asing terdengar dari sebrang sana. Ia menelan keras ludahnya."Tu-tuan Vino..." gumamnya pelan.

***"

Di kantor, rahang Hyun mengeras. Tatapannya dingin, sulit menyembunyikan ketidakpercayaan saat Agam menyebutkan nama dalang di balik terbakarnya pabrik baru mereka.

"Kau pasti hanya asal bicara," tuduh Hyun datar. Ia menolak menerima pernyataan Agam tentang dalang peristiwa itu.

Agam hanya tersenyum tipis, sebelumnya ia sudah menduga, Hyun pasti tidak akan percaya begitu saja pada ucapannya. Tanpa berkata apa pun lagi, ia melempar map yang dibawanya ke arah Hyun.

Refleks Hyun menangkapnya.

"Buka," ujar Agam tenang. "Dan lihat baik-baik."

Dengan gerakan tak sabar, Hyun membuka map itu. Jemarinya bergerak cepat saat menarik isi di dalamnya, namun berhenti mendadak begitu deretan foto terbentang di dalamnya.

Adegan-adegan yang tertangkap kamera membuat dadanya mengeras. Lebih dari itu, selembar bukti transfer ikut terselip di antara dokumen lain, angka yang tertera di sana terlalu besar untuk diabaikan.

Tenggorokannya bergerak saat ia berusaha menelan ludah.

"Sepuluh miliar," gumamnya pelan.

Hyun mengangkat pandangannya ke arah Agam. "Tapi untuk apa beliau melakukan semua ini?" tanyanya, suaranya terdengar rendah, seolah jawabannya bukan sesutu yang benar-benar ingin ia dengar.

Agam melangkah tenang menuju kursi dan duduk di sana. Tubuhnya disandarkan ke belakang, satu lengannya bertumpu santai di sandaran, sementara tatapannya melihat sekilas dokumen di tangan Hyun.

"Kau," katanya perlahan. "adalah alasan beliau melakukan itu."

Ucapannya tenang, nyaris datar, namun justru ketenangan itulah yang membuat jantung Hyun semakin berdebar kencang.

Tangan yang menggenggam dokumen itu menegang, membuat kertas-kertas di dalamnya berkerut pelan. Pandangannya kembali turun menyusuri angka dan foto yang barusan terasa mustahil, kini berubah menjadi terlalu masuk akal.

Rahangnya mengeras, lalu sedikit bergeser, seolah ia tengah menahan sesuatu agar tidak terucap. Napasnya keluar perlahan melalui hidung, berat, terkontrol, namun gagal sepenuhnya menutupi perubahan di wajahnya.

Ia menutup map itu dengan satu gerakan singkat. Terlalu keras untuk disebut tenang, terlalu rapi untuk disebut panik.

Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangkat kepala lagi. Tatapannya tak lagi menyangkal, hanya penuh perhitungan.

"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Hyun sambil mengangkat kepala. Ia melangkah maju hingga berhenti di depan meja Agam. Ia yakin, Agam sudah memiliki rencana matang untuk menyikapinya.

Agam menarik sudut bibir senyum tipis lebih menyerupai ejekan. Tatapannya menyapu Hyun singkat, seolah menilai sesuatu yang tak lagi penting. "Jadi sekarang kau percaya padaku?" tanyanya ringan.

Ucapan itu menyulut sesuatu di dada Hyun. Otot lehernya menegang. "Jangan bermain-main dengan mereka," katanya rendah, mengandung peringatan. "Mereka mungkin berada jauh di atas kita."

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Dalang di balik peristiwa tersebut telah membakar pabrik bernilai besar tanpa ragu, menggelontorkan dana dalam jumlah yang bahkan sulit dibayangkan, hanya untuk memastikan rencana liciknya berhasil mulus.

Agam tak segera menjawab. Ia justru meraih pulpen di atas meja, memutarnya pelan di antara jemari, seolah pembicaraan itu tak menuntut kewaspadaan penuh.

"Lalu kenapa jika mereka berada jauh di atas kita?" ucap Agam. Nada suaranya ringan, hampir santai.

"Agam..." Hyun berkata penuh penekanan.

Agam mengangkat pandangan, menatap Hyun dengan ketertarikan tipis, bukan khawatir, lebih seperti tertantang. "Dan orang seperti beliau, tidak akan bergerak tanpa alasan dan perhitungan yang matang."

Pulpen itu berhenti berputar. Agam meletakkannya kembali ke meja, tepat di tengah.

"Selama kau masih menjadi alasan mereka," lanjutnya pelan, "aku justru aman."

Senyum di wajahnya tidak melebar, namun cukup untuk terasa sebagai provokasi.

Senyum Agam akhirnya memutus kendali Hyun. Tangannya menghantam meja dengan keras, membuat pulpen dan beberapa berkas bergeser. Suara benturannya memecah ketenangan ruangan.

Napas Hyun memburu. Dadanya naik turun, ia berdiri condong ke depan. Urat di lehernya menegang, rahang terkunci kuat seolah menahan kata-kata yang nyaris terlepas.

Beberapa detik berlalu.

Hyun menarik napas panjang, memaksakan kendali kembali tubuhnya. Tangannya perlahan di tarik dari meja, jari-jarinya masih kaku. Ia meluruskan punggung, tatapannya kembali dingin.

Agam tidak bergerak sejak awal. Ia hanya mengamati, tenang, seakan ledakan kecil itu sudah diperkirakan sejak awal, dan justru itulah yang ia tunggu.

Berdiri mematung sejenak, amarah Hyun yang sempat meledak perlahan surut, digantikan oleh sesuatu yang lebih teliti.

Ketenangan Sahabatnya itu terasa berbeda sekarang. Bukan keberanian, bukan pula kepercayaan diri. Melainkan keyakinan seseorang yang tahu dirinya memegang kendali sejak awal.

Hyun menarik napas dalam-dalam. Ada pola yang mulai terbentuk di kepalanya, setiap ucapan Agam, waktu kemunculan bukti, bahkan reaksinya sendiri yang terlalu mudah di pancing. Semua terasa seperti diarahkan.

Bibirnya mengatup rapat. Rahangnya kembali mengeras, tapi bukan karena emosi, melainkan karena kesimpulan.

Ia bukan sekedar dijadikan alasan oleh mereka, ia sedang digunakan, dan Agam tahu persis.

"Katakan," ujar Hyun tajam. "Apa yang harus aku lakukan?"

Ia tidak lagi berdiri seperti orang yang menolak. Tatapannya lurus, dingin. Ia yakin, Agam tidak mungkin datang tanpa rencana, dan semua rencana yang disusunnya tidak pernah gratis.

Hyun tahu, apa pun yang ditawarkan pria itu akan menuntut sesuatu yang setara sebagai gantinya. Agam bukan pria yang mau merugi.

"Kau tentu tahu," lanjutnya, suaranya lebih rendah, lebih terkontrol. "Aku tidak akan pernah bisa kembali ke keluargaku jika masa lalu itu terbongkar sekarang."

Agam mengangguk pelan. Ia jelas tahu apa yang menjadi kekhawatiran sahabatnya, namun ia juga tidak ingin membantu secara cuma-cuma. Ada nilai besar yang harus Hyun bayar sebagai gantinya.

Bangkit dari kursi kebesarannya, Agam melangkah mendekati Hyun. Ia menepuk bahu rapuh itu cukup keras, membuat Hyun sedikit meringis.

"Aku tidak akan meminta apa pun saat ini," ujarnya datar. "Tapi, kau harus bersedia saat aku memintanya nanti."

Hyun menelan keras ludahnya. Ia menatap balik wajah Agam yang tengah tersenyum tipis padanya. "kali ini habislah aku," gumamnya dalam hati.

"Sekarang, pergilah. Temui Nyonya Mariana." Agam berucap sembari memberikan map lain yang ia ambil dari atas meja. "Berikan dokumen ini pada beliau."

Dahi Hyun berkerut kasar saat tangannya meraih map dari tangan Agam. "Apa ini juga bagian dari rencanamu?" tanyanya tajam.

Mengangkat bahunya, Agam melangkah perlahan kembali ke kursinya. "Itu hanya permulaan."

Tidak lagi berniat mengajukan banyak pertanyaan, Hyun bergegas melangkah pergi. Untuk kesekian kalinya, ia terpaksa harus percaya pada sahabatnya, atau ia tidak akan bisa kembali pada keluarganya.

Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Agam yang tengah duduk seorang diri di dalam ruangan sunyi. Ia mencondongkan tubuh, kedua tangannya bersatu di atas meja, jemari saling bertaut kaku. Sementara pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam yang akhirnya bisa ia ingat secara utuh.

"Pria tua itu... pasti tidak akan tinggal diam." gumamnya.

*****

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!