Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Cowok
Adila memasuki aula meninggalkan Moly yang terus menerus memanggil namanya.
"Dira ngapain kamu disini?"
Nampak jelas kepanikan diwajah Adira yang sengaja ia tutupi dengan kedua telapak tangannya.
"Ih kamu kenapa?"
"Aduh Nek, yey tega ya ninggalin ek sendirian, kesel..kesel...kesel..." Moly memukul lengan Adila dengan bulatan tangannya, tapi bukannya sakit didapat, Adila malah geli melihatnya.
"Ssssstt... bisa diem nggak?"
Moly memberengut dengan bibir yang mengerucut.
"Dir lu kenapa sih?"
"Dila aku nggak bisa." Jawab Adira dengan wajah yang masih tertutup.
Moly melihat Adira kemudian beralih melihat Adila yang saat itu juga mengedikan bahu menandakan dia pun tidak mengerti.
"Tok... tok...tok... Seus Moly detong berkunjung, maukah si manis membuka wajahnya?" Moly mengetukan tangan diwajah Adira.
"Moly ini bukan waktunya bercanda." Sergah Adila.
"Yang bercanda sapose... ek serius Nek."
Perlahan Adira membuka tangan dengan wajah yang tampak masam.
"Iiih tuh muka asem banget, keep smile manis.... ayuk smileee..." Moly menarik kedua sudut bibir Adira agar melengkung.
Adila menarik tangan Adira untuk duduk.
"Cerita sama gue ada apaan?"
Dengan terbata Adira menjawab," Aku disuruh gantiin Mbak Ani jadi pasangannya Andri di lomba catwalk."
"Apa...?" Jawab Adila dan Moly bersamaan.
Adira mengangguk lemas, membayangkan bagaimana jadinya ia harus berlenggak lenggok diatas catwalk dengan semua mata yang tertuju kepadanya.
Adila dan Moly langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kok ketawa sih?"
"Lu yang bikin kita ketawa, gue kira apaan."
"Aku serius Dil, aku takut."
"Aduh manis.... kenepong atut, ini tuh gampang bingits."
"Tapi ini terlalu mendadak Moly, acaranya besok loh, bukan sebulan dua bulan lagi."
Adila berdecak," Kayak dunia mau runtuh aja lu."
Moly berjalan menjauh, berbalik dan menyimpan kedua tangan dipinggang.
"Manis liat ek ya.. five six seven eight..."
Moly berjalan berlenggok sambil kembali berseru," Tak..tok..tak...tok... tatapan lurus kedepan, mata dikedip manjah, dan mulut dibiarkan sedikit terbuka, dibuat sesexy mungkin... nih kek gini..." Moly mencontohkan apa yang barusan dia katakan.
"Gaya lu peak... lu mau gue kek model porno bergaya kek gitu?" Adila melempar gulungan kertas yang ada dikursi.
"Ini tuh gaya andalan Nek, biar si manis menong.."
Adila menggeram dengan mata yang nyaris keluar semua, Moly pun bergidik takut.
"Lu tenang aja, ntar lu latihan sama gue, kalau perlu semaleman kita jangan merem."
"Betul manis... ek juga akan bantu yey."
"Bobok dirumah gue dong lu?"
"Iyuuup dung... masa iya di tetangga yey."
"Idih... kamar dirumah gue penuh semua."
"Ya dikamar yey dung."
"Bukan muhrim..."
"Aih kita kan satu gender..."
"Astaga... ngucap Moly Ngucaaap."
"Ngucap apose?"
"Istighfar..."
Moly memejamkan matanya," Istighfar... istighfar... istighfar..."
Adila menepak keningnya," Astagfirullah Momooon..."
"Kata Yey Istighfar..."
Adila berdiri,"Hadeuh bambang .. gue jamin azab malaikat maut bentar lagi ngejemput lo."
"Ih jahanam..." Bibir Moly manyun kemudian mendekati Adira yang sedang mentertawakan mereka.
"Jahat bingits kan kaka you manis... teraniya ek didekatnya." Seraya menyandarkan kepala dibahu Adira.
Latihan terakhir segera dimulai. Setiap karyawan wanita dipakaikan sepatu heel yang sudah disiapkan Moly, tentunya dengan batas ketinggian yang sama rata, dan sepatu itu juga yang nanti akan dipakai karyawan itu besok.
Belum apa-apa Adira sudah demam panggung, apalagi melihat sepatu yang dipakainya sekarang, lebih dari sepuluh sentimeter. Dan itu tidak bisa ditelorir lagi.
"Dira sebentar lagi bagian kita." Ujar Andri yang sepertinya sangat bersemangat.
Adira yang sedang duduk, menengadahkan wajahnya.
"Mas Andri nggak bisa bantuin aku buat ngomong sama Ibu Dina, aku beneran nggak bisa pakai beginian Mas."
Andri tersenyum dengan keluguan Adira," Emang siapa lagi yang bisa gantiin kamu, nggak ada kan... semuanya sudah jadi panitia buat acara besok, cuma kamu doang yang free."
Adira menghela nafas panjang, mengiyakan apa yang dikatakan Andri.
"Aku yakin kamu bisa."
Adira menghela nafas dengan pasrah, apapun yang terjadi nanti, toh ia sudah berusaha semaksimal mungkin.
Baru juga berdiri, Adira sudah mau terjatuh.
"Kamu nggak papa, sini aku bantu."
Adira menerima uluran tangan Andri, berjalan hati-hati menuju panggung.
"Setelah ini bagian kita."
Mereka naik ke atas panggung, berjalan ke kiri dan kanan dengan tangan yang saling bergandengan, risi memang tapi mau gimana lagi ini sudah menjadi tuntutan.
"Manis smilenya manose... smileeee...!" Seru Moly.
"Dira tatapan lurus kedepan." Tambah Adila.
Adira melakukan apa yang mereka serukan, namun seketika langkahnya menjadi kaku saat satu pasang mata memperhatikannya dari ambang pintu menuju masuk aula, menghampiri Adila.
"Gimana latihannya Nona Adila?"
Adila menoleh," Eh Pak David... semuanya berjalan lancar Pak, setelah ini kita akan gladiresik dipanggung catwalknya langsung, agar hari H nya besok para peserta tidak kaku dengan panggung yang baru."
"Bagus..."
Moly berjalan menghampiri.
"Emmm Pak ganteng... di acara nanti boleh nyumbangin lagu nggak?"
"Buat masalah itu bisa hubungi panitia yang ada di Divisi umum."
"Lu mau nyanyi?"Sela Adila.
"Bukan ek, tapi yey..."
"Ih nggak..."
"Suara yey kan bagus Nek, keluarkan bakat terpendam yey dung."
"Ogah... gue nggak bisa."
"Harus Nek..."
"Nggak."
"Please... buat perpisahan cin, besok kitong kan terakhir ada disinong." Bujuk Moly.
"Gue bilang nggak ya nggak."
David sedikit menggelengkan kepala dengan perdebatan orang yang ada di sisi kiri dan kanannya. Laporan dari orang suruhannya memang benar, Adila memang wanita yang absurd, ceplas ceplos dan apa adanya.
"Adira awaaas...." Seru David saat matanya beralih ke atas panggung.
"Aaaa...."
Adira hampir jatuh saat turun dari panggung. Tapi untung badannya langsung disangga kedua tangan Andri yang kuat.
Hembusan nafas Andri serasa mengelitik pipinya karena jarak yang begitu dekat. Sekilas Adira melihat tatapan aneh Andri yang melihatnya begitu dalam.
David yang semula hendak berlari untuk membantu, mengurungkan niatnya.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap David pada akhirnya.
"Iya..."
Kening Adila berkerut saat melihat raut wajah David yang tidak biasa. Kenapa dia.... mengedikan bahu sambil kembali melihat Adira yang kini bersama Andri. Akhirnya sebuah lengkungan dibibirnya pun menyembul... aha.
"Terima kasih Mas." Adira berdiri kembali dengan tegak, berjalan dengan kaki yang sedikit pincang.
"Kaki kamu nggak papa?"
"Sedikit sakit."
Andri membantu Adira untuk duduk, kemudian ia berjongkok didepannya.
"Eh Mas Andri mau ngapain?"
"Aku mau lihat kaki kamu, sepertinya terkilir."
"Tapi Mas..."
"Tenang aja, begini-begini aku bisa mijit kok, nggak bakalan sakit."
Dengan telaten Andri mengecek kondisi kaki Adira.
"Sebentar ya aku bawa salep dulu."
"Maaf Mas jadi ngerepotin."
"Santai aja."
Andri pun pergi meninggalkan aula.
"Kita break sebentar ya..." Seru Adila kepada semua karyawan.
"Oke..."
Adila berderap mendekati Adira yang duduk dengan mengangkat sebelah kakinya yang sakit.
"Cieeee... yang dapet perhatian."
"Apaaan sih."
"Mau dong diperhatiin."
"Dila ih... norak deh."
"Kayaknya Andri suka deh sama lo."
"Kamu ini, ya nggak lah."
"Betul bingits...," Sela Moly yang ikut nimbrung,".... tatapan mata tu laki, beuuh... bikin hari ek jungkir balik."
"Udah-udah ah, kalian berdua pada ngelantur semua."
"Jadi lu mau pilih yang mana?" Tanya Adila.
"Pilih apaan?"
"Sekarang ada dua cowok yang sedang perhatiin lo, dan lu nggak bisa rakus pengen dua-duanya."
"Apa... dua... emang satu lagi sapose Nek?" Sanggah Moly.
"Kepo."
"Ih yey ini..." Moly mendelikan matanya.
"Kalau manis bingung, biar ek yang milih... nanti cowok yang nggak kepilih, ek kasih buat you...gimenong?"
"Hello Moly ku sayang, kenapa jadi lu yang milih."
Moly tersenyum," Ek kan cuma bantuin si manis Nek."
"Bantuin dengkul lu... yang ada dua cowok itu ngibrit liat lo." Sambil berdiri meninggalkan mereka.
"Tuh kan manis, speak kakak yey itu sungguh berbisa."
Adira hanya tersenyum, kemudian terpaku karena bingung dengan perkataan Adila. Dua cowok... satu Andri dan satu lagi...????