NovelToon NovelToon
Kehendak Atau Pilihan

Kehendak Atau Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Wanita Karir / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Romansa
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elga Rista

#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#

Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.

Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.

Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Yang Stabil

Rara menutup harinya dengan sederhana.

Nayla.

Sekolah.

Percakapan kecil.

Dan satu hal yang mulai terasa jelas:

Hidup tidak harus selalu tentang siapa yang pergi.

Kadang, tentang siapa yang tetap tinggal.

Dan bagaimana kita memilih untuk tetap berjalan.

------------------------------------------------------------------------------------------

Hari Kamis datang tanpa suara yang berbeda. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada perubahan drastis. Tapi justru di situlah sesuatu terasa berbeda. Karena kali ini, mereka mulai benar-benar menjalani. Bukan sekadar bertahan.

Pagi itu, Rara datang lebih awal dari biasanya.

Langit masih sedikit pucat, udara belum terlalu ramai oleh suara kendaraan. Gerbang sekolah masih setengah terbuka saat ia masuk.

Langkahnya pelan dan Tidak terburu-buru.

Seperti seseorang yang akhirnya tidak lagi dikejar oleh sesuatu. Ia masuk ke kelas, meletakkan tasnya di meja, lalu duduk sebentar.

Kosong danTenang.

Rara menatap papan tulis yang masih bersih. Dulu, pagi seperti ini sering ia isi dengan membuka chat.

Menunggu pesan.

Atau sekadar melihat nama seseorang yang pernah jadi kebiasaan.

Sekarang tidak ada lagi. Dan anehnya, itu tidak menyakitkan. Ia hanya terbiasa.

Perlahan, Bel pertama berbunyi. Anak-anak mulai masuk. Kelas kembali hidup.

“Selamat pagi, Bu Raraaa!”

Rara tersenyum.

“Selamat pagi…”

Dan seperti biasa, ia mulai mengajar.

Namun ada satu hal yang berbeda hari ini. Ia benar-benar hadir. Tidak setengah pikiran. Tidak melamun di sela-sela penjelasan. Tidak kehilangan fokus. Ia ada di sana. Sepenuhnya. Bersama dengan anak anak yang membuat dia harus tersenyum setiap harinya.

Menjelang istirahat, Rara kembali keluar kelas. Dan seperti kemarin, suara itu kembali memanggil.

“Rara.”

Ia menoleh.

Fajar.

Kali ini wajahnya tidak setegang kemarin. Tapi juga belum benar-benar ringan.

“Ngopi bentar?” tawarnya santai.

Rara sempat berpikir sebentar. Dan Lalu mengangguk.

“Boleh.”

Mereka berjalan ke kantin kecil di belakang sekolah. Tidak terlalu ramai. Hanya beberapa guru lain yang duduk santai. Mereka memilih meja di sudut. Cukup jauh dari keramaian.

Beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya suara sendok dan gelas. Lalu Fajar menghela napas.

“Aku kepikiran omongan kamu kemarin.”

Rara menoleh. “Yang mana?” ucapnya

“Yang soal… milih nunggu atau berhenti.”

Rara mengangguk kecil. Fajar menatap kopinya.

“Aku baru sadar,” katanya pelan, “selama ini aku nunggu… tapi nggak pernah nanya ke diri sendiri, aku kuat nggak kalau harus nunggu lama.”

Rara tidak langsung menjawab. Ia membiarkan Fajar melanjutkan.

“Aku kira cinta itu cukup,” lanjutnya. “Ternyata… waktu juga ikut main.”

Rara tersenyum tipis.

“Iya,” katanya pelan. “Kadang bukan soal seberapa lama kita bersama. Tapi seberapa siap kita melangkah.”

Fajar mengangguk.

“Dan dia belum siap,” gumamnya.

Rara menatapnya.

“Terus kamu?”

Fajar terdiam Lama.

“Aku capek nunggu tanpa arah,” jawabnya jujur.

Kalimat itu sederhana Tapi berat.

Rara memahami. Tanpa perlu penjelasan panjang. Karena ia juga pernah ada di posisi yang sama.

Hanya… dalam bentuk yang berbeda.

“Aku mungkin bakal kasih batas waktu,” lanjut Fajar pelan.

Rara mengangguk. “Itu nggak salah.” ucap Rara

Fajar menatapnya.

“Kamu kalau jadi dia… bakal gimana?”

Pertanyaan itu membuat Rara terdiam. Ia berpikir sebentar. Lalu menjawab jujur.

“Kalau aku belum siap… aku nggak mau maksa diri,” katanya pelan. “Tapi kalau aku tahu dia nunggu… aku juga nggak mau egois.”

Fajar tersenyum kecil.

“Berarti… dua-duanya berat ya.”

Rara ikut tersenyum.

“Iya.”

Dan untuk beberapa saat mereka hanya diam. Tapi bukan diam yang canggung. Melainkan diam yang cukup.

“Thanks ya,” ucap Fajar akhirnya.

Rara mengernyit kecil. “Buat apa?”

“Udah mau dengerin.”

Rara menggeleng pelan.

“Kadang kita cuma butuh didengerin kok.” jawab Rara sambil tertawa ringan

Fajar tertawa kecil.

“Kayaknya kamu cocok jadi konselor.”

Rara ikut tertawa.

“Enggak lah…”

Tapi dalam hati, ia tahu. Semua yang ia katakan bukan karena ia bijak. Tapi karena ia pernah merasakan.

Hari itu berlalu lebih ringan dari yang ia kira.

---------------------------------------------------------------------------------------

Di tempat lain…

Raka juga menjalani harinya dengan ritme yang berbeda. Tidak lagi terburu-buru menghindari pikiran. Tidak juga mencoba melupakan secara paksa.

Ia hanya menjalani. Di kantor, pekerjaannya berjalan lancar.

Ia fokus. Lebih dari biasanya.

Reyhan yang duduk tidak jauh darinya sesekali melirik.

Entah kenapa Reyhan semenjak sahabat nya putus dengan Kristiana Ia jadi sering ke kantor Raka. Hanya sekedar memastikan sahabatnya aman. Padahal Raka nya biasa saja tapi reyhannya berlebihan. Sahabat yang saling melengkapi yaa.

Apalagi Reyhan seperti Masih belum sepenuhnya percaya.

“Lu serius udah oke?” tanyanya lagi.

Raka menghela napas kecil.

“Gue nggak bilang gue udah lupa,” jawabnya. “Cuma… gue nggak mau stuck.”

Reyhan mengangguk.

“Baru kali ini gue lihat lu kayak gini.” jawab Reyhan sambil menatap sahabatnya

Raka tersenyum tipis.

“Gue juga baru pertama kali.”

Siang menjelang sore. Ponsel Raka kembali bergetar.

Nama itu lagi. Kristiana. Pesan baru masuk.

“Aku cuma mau tahu… kamu beneran nggak berubah pikiran?”

Raka menatap layar itu cukup lama. Tidak ada amarah. Tidak juga rindu. Hanya rasa tenang yang aneh.

Ia menghela napas pelan. Lalu mengunci kembali ponselnya. Tanpa membalas. Bukan karena ia tidak peduli.Tapi karena ia tahu, jawabannya tidak akan berubah. Dan memberikan harapan baru, hanya akan menyakitkan lebih jauh.

----------------------------------------------------------------------------------------

Sore hari…

Rara pulang seperti biasa. Hari ini terasa lebih ringan.

Mungkin karena ia mulai terbiasa dengan ritme baru hidupnya.

Atau mungkin…

karena ia mulai membuka ruang untuk hal lain.

Di kamar kos, ia duduk santai. Melepas lelah. Ponselnya bergetar.

Nayla.

“Ra, gue pulang cepet hari ini!”

Rara tersenyum kecil.

“Kenapa?”

“Bos gue lagi keluar kota. AKU MERDEKA 😂” ucap Nayla dibalik telepon Rara sambil tertawa senang.

Rara tertawa pelan.

“Kasian banget hidup kamu…”

“Parah,” balas Nayla. “Eh nanti malam video call ya. Gue mau cerita.”

“Oke.”

“Dan gue mau lihat muka kamu. Udah cerah belum 😏”

Rara menggeleng sambil tersenyum.

“Lumayan.”

“NAHHH itu dia. Progress!” jawab Nayla tertawa

Malam datang pelan. Lampu kamar dinyalakan. Suasana hangat dan tenang.

Tidak ada tangis. Tidak ada kenangan yang menyerang tiba-tiba. Kalaupun ada, ia hanya lewat. Seperti bayangan. Tidak lagi menetap.

Rara berbaring di kasur. Menatap langit-langit. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu melawan pikirannya. Ia hanya menerima. Bahwa ada bagian dari dirinya, yang pernah mencintai dengan tulus. Dan itu tidak salah.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Di tempat lain…

Raka juga menutup harinya. Dengan cara yang sederhana. Tanpa drama. Tanpa beban berlebihan.

Ia duduk di kamarnya. Menatap jendela. Lampu kota terlihat dari kejauhan. Dan dalam diam itu, ia menyadari satu hal.

Ia tidak lagi merasa kehilangan arah. Mungkin belum sepenuhnya sembuh. Tapi sudah tidak tersesat.

Dan malam itu, tanpa mereka sadari, Rara dan Raka sama-sama berada di titik yang sama.

Bukan di awal. Bukan juga di akhir. Tapi di tengah perjalanan.

Di mana luka belum sepenuhnya hilang. Tapi langkah sudah mulai stabil. Karena pada akhirnya, sembuh bukan tentang melupakan. Tapi tentang bisa mengingat,tanpa lagi merasa hancur.

Dan malam itu mereka berhasil. Sedikit. Tapi nyata.

( BERSAMBUNG.......)

---------------------------------------------------------------------------------------------

Ikuti terus kisahnya di bab selanjutnya ✨

Jangan lupa beri komentar, saran, dan like 💛

Karena dukungan kalian adalah semangat untuk author terus menulis 🌷Terima kasih 🤗

1
Cut Anggraini
Mau dijodohin palingan ituu🤭
Elga Rista Septina: Hehe jadi penasaran yaa? 🤭 Sabar dulu ya kak, nanti semuanya bakal terjawab pelan-pelan di bab selanjutnya. Doain aja semoga author bisa terus rajin update biar teka-tekinya cepat terungkap. Makasih banyak ya kakak-kakak sudah baca, ikut nebak-nebak, dan selalu meramaikan kolom komentar. Semangat terus nemenin cerita ini sampai selesai yaa! 🤍✨
total 3 replies
Elga Rista Septina
MasyaAllah, terima kasih banyak ya kakak kakak🤍🥹 Senang sekali kalau cerita ini bukan cuma menghibur, tapi juga bisa menyampaikan pelajaran dan membuat kita sama-sama belajar dari setiap babnya. Semoga setiap pesan yang ada di dalam cerita bisa bermanfaat untuk kita semua yaa. Terima kasih sudah membaca, mendukung, dan meluangkan waktu untuk berkomentar. Semoga kakak-kakak selalu betah menemani perjalanan cerita ini sampai akhir. 🤍🌷
Vania M.
Setuju sih ka, soalnya aku juga baru baca novel ini kan tapi aku ngebut bacanya. Dan novel ini setiap bab nya ada pelajaran yang bisa kita ambil. Dan pasti ada kalimat kalimat yang menyadarkan kita👍🙏
Andita f.: Nah iyaa. Aku juga baru ka Vania. Tapi emang iya sih setiap bab nya ada pelajaran banget yang bisa kita ambil
total 1 replies
Andita f.
Novelmu banyak pelajaran thor👍the best
Anggraheni. 000
gas polllll🙏👍
RAINA DWI
lanjut thor💪
alisyha
lanjuttttttttt👍🙏
Elga Rista Septina
Hehe iya kak 🤭 memang sengaja aku buat beberapa bagian jadi teka-teki biar pembaca ikut penasaran dan menebak-nebak jalan ceritanya. Semoga kakak tetap menikmati ceritanya yaa 🤍✨ Terima kasih sudah baca dan ikut menemani perjalanan Rara & Raka 🥰
Elga Rista Septina
Makasih ya kak sudah memberikan pendapatnya 🤍
Maaf kalau menurut kakak alurnya terasa terlalu berliku. Aku memang mencoba membuat cerita dengan beberapa konflik dan kejutan supaya perjalanan para tokohnya lebih terasa ✨

Tapi aku tetap menerima kritik dan sarannya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku 🤍
Cut Anggraini
lanjuttttt 🙏😍
Anggraheni. 000
Mantap👍
Anggraheni. 000
The best
Vania M.
terusin kaaaa😍
Cut Anggraini
gassssss😄🤭
Andita f.
lanjut🙏
Andita f.
lanjut thor😄💪👍
Melinda Alvina
lanjut kak💪
Cut Anggraini
Akhirnya update lagi🤣👍
Cut Anggraini
lanjut kaaa🙏
Andita ndut
lanjut kaaaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!