Novel kali ini mengisahkan tentang seorang pangeran yang dibuang oleh ibunya atas suruhan ayahnya, karena menganggap anaknya yang lahir itu adalah sebuah kutukan dari langit.
Namun siapa sangka pangeran yang dibuang itu ternyata diselamatkan oleh orang-orang baik. Dari orang-orang baik itu dia mempelajari tentang banyak hal.
Sehingga dengan itu dia menjadi seorang pendekar tanpa tanding bermula dari mempelajari sebuah kitab legenda.
Berbagai ragam lika-liku kehidupan dia lalui selama dalam pengembaraannya, baik suka maupun duka, termasuk tentang lika-liku asmaranya dengan beberapa orang gadis.
Jika penasaran tentang kisahnya, yuk ikuti perjalanan Kisah Pangeran Yang Terbuang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KPYT 034. Kisah Hidup Qiangwei yang Menyedihkan
Setelah memastikan empat lelaki yang tadinya mengejar-ngejar Qiangwei sudah meninggalkan tempat ini, barulah Zhao Jinlong masuk ke dalam rumah sewaannya.
Begitu sudah masuk ke dalam rumah, tepatnya masuk ke ruang belakang, dia mendapati Hui Lan dan Qiangwei ternyata tengah duduk di sebuah bangku panjang yang merapat di dinding ruangan.
Sedangkan Hui Lan, ketika mengetahui kakaknya sudah masuk ke ruangan ini, dia bergegas menghampiri. Terus bertanya dengan nada khawatir.
"Long Gege, orang-orang jahat tadi sudah pergi?"
"Tenang saja, mereka sudah aku usir hingga tidak berani lagi datang ke sini," sahut Zhao Jinlong bernada santai. "Beri tahu temanmu itu tidak perlu khawatir lagi!"
Zhao Jinlong berkata demikian karena melihat Qiangwei masih tampak ketakutan. Lalu dia mengambil kursi yang ada di dekat meja makan. Sedangkan Hui Lan kembali duduk di tempatnya tadi di dekat Qiangwei.
Sementara Qiangwei duduk meringkuk sambil menundukkan kepalanya cukup dalam. Dia memang masih tampak ketakutan. Bahkan lebih daripada itu dia tampak minder dengan keadaannya yang buruk.
"Qiangwei," berkata Hui Lan dengan lembut setelah sudah duduk di dekatnya, "kamu tidak perlu takut lagi, penjahat-penjahat tadi sudah diusir oleh Long Gege, kakakku."
Qiangwei perlahan mengangkat kepalanya. Sekilas ekor matanya menangkap sosok Zhao Jinlong yang sudah siap duduk di depannya. Tapi dia tidak berani dan malu memandang bocah tampan itu.
Dia malah menengok pada Hui Lan yang berbicara dengannya. Memandang beberapa saat lamanya gadis kecil berwajah cantik berkulit halus itu.
Qiangwei belum mengetahui dengan yakin siapa gadis kecil yang duduk di dekatnya itu. Tapi dia seperti pernah mengenal wajahnya.
"Kamu sebenarnya siapa?" bertanya Qiangwei bernada pelan setelah kembali menundukkan kepalanya dalam duduk ringkuknya. "Kenapa kamu bisa mengenal bocah korengan ini? A-apa... kamu tidak... merasa jijik?"
"Kamu mungkin tidak mengenal aku lagi dengan penampilanku seperti ini," kata Hui Lan tetap lembut menerangkan. "Tapi... tentu kamu masih mengingat bocah gembel, temanmu sewaktu masih berada di Kota Shan-hu Jia...."
"Bocah gembel itu aku, Hui Lan yang menyamar sebagai Guo. Kamu pasti masih ingat 'kan?"
Mendengar penjelasan Wang Hui Lan barusan, Qiangwei kembali mengangkat wajahnya, terus memandang wajah Hui Lan lekat-lekat.
"Hui Lan, benarkah itu kamu?" tanya Qiangwei seperti masih belum yakin.
Masalahnya, Hui Lan yang dia kenal dulu yang menyamar sebagai bocah laki-laki bernama Guo, meski wajahnya cantik tapi dekil. Kulitnya juga kusan dekil tak terurus.
Meskipun lebih parah dirinya yang bukan saja kusam dan dekil, tapi juga korengan.
Namun sekarang, Hui Lan tampil amat beda, wajahnya amat cantik, kulitnya putih halus mulus. Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu semenjak mereka berpisah?
"Aku bisa membuatmu seperti Hui Lan kalau kamu mau," seketika telinganya menangkap suara Zhao Jinlong berkata bernada kalem dan santai.
Sontak Qiangwei langsung menoleh pada Zhao Jinlong dan menatapnya lekat-lekat seakan tanpa sadar. Sepasang matanya tampak membelalak terkejut. Kenapa bocah laki-laki itu seperti tahu apa yang dia pikirkan? Siapakah bocah laki-laki itu?
Sedangkan Zhao Jinlong, bocah yang ditatap hanya tersenyum santai, penuh persahabatan. Sama sekali tak ada binaran rasa jijik dan menghina dari sorot mata bocah sakti itu.
★☆★☆
"Kamu sebenarnya memikirkan apa sehingga Long Gege berkata begitu kepadamu, Qiangwei?" tanya Hui Lan yang heran juga dengan ucapan Zhao Jinlong kepada Qiangwei.
Ucapan Hui Lan seketika menyadarkan Qiangwei akan perbuatannya yang tidak tahu malu. Lalu cepat-cepat dia menunduk dengan minder dan malu sekaligus risih.
"Benarkah itu kamu, Hui Lan, teman baikku dulu?" kata Qiangwei mengulangi pertanyaannya tadi dengan masih tertunduk malu.
"Iya, ini aku, Hui Lan, teman baikmu dulu," sahut Hui Lan meyakinkan.
"Kenapa kamu seperti tidak mengenalku lagi?" lanjut Hui Lan bertanya berlagak cemberut. "Apa selama kita berpisah kamu tidak pernah mengingatku lagi?"
"Kamu dulu amat kusam dan dekil, Hui Lan," kata Qiangwei mengungkapkan keheranannya. "Tapi sekarang bukan saja wajahmu bersih, tapi amat cantik. Kulitmu juga putih bersih dan mulus...."
"Bagaimana aku tidak menjadi ragu kalau kamu Hui Lan yang aku kenal dulu," lanjutnya bernada minder.
"O... kamu tadi memikirkan itu to," kata Hui Lan sambil tersenyum. "Patas saja kakakku berkata seperti tadi kepadamu."
"Kamu tenang saja, kakakku akan menyembuhkan penyakit kulitmu dan akan membuatmu cantik melebihi aku," lanjut Hui Lan menghibur hati Qiangwei yang risau dan bersedih.
"Benar 'kan, Long Gege?" Wang Hui Lan lalu beralih menoleh pada Zhao Jinlong yang diam saja.
"Perkenalkan, namaku Zhao Jinlong," malah Zhao Jinlong memperkenalkan dirinya, bukan menjawab atau menanggapi pertanyaan Hui Lan. "Senang bertemu dan berkenalan denganmu, Qiangwei."
Mendengar perkataan Zhao Jinlong barusan, membuat Qiangwei memberanikan diri menatap kembali bocah laki-laki itu.
Menyaksikan kelembutan hati dan keramahan tutur kata serta sikap persahabatan yang ditunjukkan Zhao Jinlong, membuat Qiangwei tersentuh, amat tersentuh.
Seandainya dia memiliki teman laki-laki semisal Zhao Jinlong, alangkah senang hatinya. Hui Lan sungguh beruntung bisa berteman dengan Zhao Jinlong.
Tapi dia tidak boleh iri kepada Hui Lan. Dia memang pantas mendapat teman yang baik hati, karena dia juga gadis kecil yang baik hati. Mau berteman dengan dirinya yang berpenyakitan.
"Oh, aku sampai lupa memperkenalkan Long Gege kepadamu, Qiangwei," kata Hui Lan sambil nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf ya. Soalnya aku saking senangnya bertemu dengan kamu lagi."
Qiangwei seperti tidak menghiraukan perkataan Hui Lan lagi. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya terasa panas, kejap berikut tubuhnya terasa gatal dan perih, wajah dan sekujur badannya.
"Ga-gatal, Hu Lan...," desis Qiangwei menahan deritanya. "Penyakitku kambuh lagi, sekujur tubuhku gatal dan perih...."
Hui Lan tidak ingin terkejut lama melihat penyakit gatal Qiangwei yang kambuh lagi. Dia langsung memegang kedua tangan gadis korengan itu yang pasti sebentar lagi akan menggaruk sekujur tubuhnya, termasuk wajahnya.
"Tolong Qiangwei, Long Gege!" pinta Hui Lan di tengah rasa panik dan sedihnya. "Penyakit gatalnya kambuh lagi...."
Zhao Jinlong langsung bertindak cepat. Dia langsung menotok titik syaraf di sekitar kedua pundak Qiangwei. Tujuannya agar Qiangwei tidak bisa menggerakkan tangannya agar tidak dipakai menggaruk.
Setelah menyuruh Hui Lan melepas pegangannya pada tangan Qiangwei, dia membopong gadis korengan itu di depan dadanya. Lalu membawanya masuk ke dalam kamar tidur.
Entah bagaimana perasaan Qiangwei saat ini melihat dirinya digendong oleh Zhao Jinlong tanpa merasa jijik. Penyakit gatalnya yang kambuh lagi membuatnya seakan tidak bisa melarang Zhao Jinlong menggendongnya. Dia kini terus merintih lirih dalam gendongan Zhao Jinlong.
Sedangkan Hui Lan mengikuti Zhao Jinlong dari belakang dengan perasaan cemas dan sedih. Tanpa terasa air matanya menetes.
★☆★☆
Tak lama kemudian, setelah Zhao Jinlong memberikan pil obat anti gatal dan perih, dan mempercepat reaksi obat dengan kesaktiannya, Qiangwei tidak merasakan panas, gatal dan perih lagi pada sekujur tubuhnya.
Entah obat apa yang diberikan Zhao Jinlong kepadanya, yang jelas Qiangwei merasa lega untuk sementara. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih pada Zhao Jinlong meski dengan malu-malu.
Kini dia berbaring di atas tempat tidur Zhao Jinlong dan Hui Lan biasa tidur. Karena rumah sederhana dan kecil itu cuma memiliki satu kamar tidur dan satu tempat tidur.
Baik Hui Lan maupun Zhao Jinlong terus menghibur hati Qiangwei agar jangan berputus asa, dan meyakinkan gadis itu kalau penyakitnya pasti akan sembuh.
Ditambah lagi Zhao Jinlong menerangkan kalau dia tahu jenis penyakit yang menimpa Qiangwei setelah memeriksanya, dan tahu cara menyembuhkannya. Yang terpenting Qiangwei harus yakin kalau dia pasti akan sembuh.
Zhao Jinlong menerangkan bahwa Qiangwei terkena racun serbuk yang menyebabkan wajah dan kulitnya menjadi panas dan gatal-gatal. Karena keseringan digaruk, maka tampaklah wajah dan tubuh Qiangwei berkoreng seperti sekarang.
Selanjutnya, karena sudah percaya kalau Zhao Jinlong bisa menyembuhkan penyakitnya, Qiangwei sedikit menceritakan riwayat tentang dirinya, kenapa sampai terlunta-lunta seperti Hui Lan.
Qiangwei menuturkan bahwa saat umurnya hampir delapan tahun dia mendapatkan musibah yang tak pernah dia lupakan. Kedua orang tuanya dibunuh oleh sekelompok orang jahat yang bertopeng. Hanya dia yang dibiarkan hidup.
Tapi salah seorang di antara penjahat-penjahat itu mengolesi wajah dan tubuhnya semacam bubuk halus seperti pupur. Kemudian dia pingsan karena tidak tahan merasakan panas setelah diolesi serbuk itu.
Selanjutnya, begitu dia siuman, dia mendapati dirinya sudah berada di tempat asing yang belum pernah dia kunjungi.
Dan belum lama dia siuman, belum sempat memikirkan nasib kedua orang tuanya, wajah dan sekujur tubuhnya seketika panas dan gatal-gatal dengan hebat. Karena tidak tahan akhirnya dia menggaruk sekujur tubuh dan wajahnya hingga dia pingsan lagi.
Singkat cerita, mulailah saat itu hidupnya yang belum genap delapan tahun terlunta-lunta di jalanan, terombang-ambing oleh kejamnya kehidupan dunia luar.
Hingga suatu ketika saat umurnya sudah delapan tahun lebih dia bertemu Hui Lan di Kota Shan-hu Jia. Semetara wajah dan kulit tubuhnya waktu itu sudah korengan.
Dan diluar dugaannya Hui Lan mau berteman dengannya. Padahal keadaan dirinya sudah buruk rupa seperti sekarang.
Dia benar-benar bersyukur, amat bersyukur bisa berteman dengan Hui Lan, gadis baik hati yang waktu itu menyamar sebagai anak laki-laki.
Perlu diketahui bahwa, umur Qiangwei dengan Hui Lan tidak jauh beda. Lebih tepatnya Qiangwei lebih tua umurnya dua bulan di atas Hui Lan.
Akan tetapi, Qiangwei hanya bisa merasakan pertemanan dengan Hui Lan cuma tiga bulan, waktu itu. Setelah itu dia dan Hui Lan terpisah.
Dia masih tidur bersama Hui Lan di emperan toko pada suatu malam. Tapi pada keesokan harinya dia sudah berada di tempat lain yang amat jauh dari teman terbaiknya itu. Dan belakangan dia baru tahu kalau dia berada di Kota Huang-zhu, di kota ini.
Selanjutnya Qiangwei mengungkapkan kalau dia amat senang karena dapat bertemu lagi dengan Hui Lan, amat senang.
Qiangwei juga mengungkapkan kalau dia juga senang bisa berteman dengan Zhao Jinlong. Dan berharap bocah laki-laki yang baik hati itu bisa menyembuhkan penyakit buruknya.
★☆★☆★
Membosankan membacanya.
d tunggu om bro kelanjutannya
d tunggu kelanjutannya om bro