NovelToon NovelToon
Bidadari Biru - Season 1 & 2

Bidadari Biru - Season 1 & 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renita Wei

Sudah menjadi bakat warisan yang menurun dari setiap sempalan kromosom di tubuhku. Tampan, berkharisma, dengan kecerdasan luar biasa dan harta melimpah. Seolah-olah hidupku begitu sempurna. Tapi ada satu yang luput dari kesempurnaan itu. Aku tidak percaya cinta.

Sejak aku remaja, para mahluk bernama wanita.... bertubi-tubi menawarkan hatinya padaku secara percuma. Jatuh cinta.... aku tidak pernah merasakannya. Mainan cantikku selalu berganti-ganti, tidak ada kecantikan dan kelembutan yang membuatku kembali merindukannya. Hingga aku ragu, apakah benar ada yang namanya cinta di alam fana ini.

Hingga saat itu kulihat dia berdiri dalam naungan mentari pagi yang menyilaukan sepasang mataku. Wajahnya teduh dalam kekalutan suasana yang carut-marut itu. Aku terpesona dengan kesigapannya membantu mengeluarkan para siswa taman kanak-kanak korban kecelakaan di jalan toll ini. Blouse birunya yang cantik telah bersimbah darah. Aku melihat sepasang sayap yang terbentang dari punggungnya. Bidadari ??

Aku.... harus mendapatkannya. Bidadari itu .. harus jadi milikku. Hanya jadi miliku..... aku Mandala Runako Arsenio.

🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

Biasa bagiku, seorang gadis dari kalangan rakyat biasa yang kebetulan saja dengan karunia kecerdasan dan intuisi diatas normal yang berhasil menjadi seorang dokter, mendapat perlakuan tidak adil. Tentu saja para dokter senior itu lebih memilih junior-junior mereka yang anak pejabat lah, anak direktur rumah sakit atau anak para dokter spesialis senior mereka. Tentu saja untuk diajak menangani kasus-kasus yang menurut mereka prospektif untuk melesatkan karier.

Untuk urusan bakti sosial ke daerah bencana.... oooh pasti, akulah yang berada di garda terdepan. Tapi malam ini..... mungkin adalah titik balik dari kehidupanku. Entahlah.... aku harus bersedih atau bergembira.

Dia menatapku dengan sepasang matanya yang berkilat penuh kharisma.

" Hanya dia yang boleh merawatku ". Telunjuknya tepat mengarah padaku. Pria gagah dengan luka di lengan kirinya.

Aku hanya mengenal sekilas pria ini. Dia datang diantar beberapa pria berperawakan besar.... mungkin pengawalnya. Dan aku lebih tidak memahami lagi kenapa dia memilihku. Sementara semua orang yang ada di ruang gawat darurat ini terpaku, terpana dan tidak bisa berbuat apa-apa.

" Mulai besok.... kau, siapa namamu dokter? ", tanya nya setelah kuselesaikan menjahit dan membalut lukanya.

" Saya.... Adonia Orlin ", sahutku kebingungan. Sebenarnya dia sudah tahu namaku sebelumnya.

" Ya ... dokter Adonia Orlin... mulai besok kau jadi dokter pribadiku dan keluar dari rumah sakit ini "

" Apa ??????!!!!! "

..............

Season 2 - Bidadari Biru
RANGKAIAN MELODI HATI


Kehidupan rumah tangga itu adalah awal dari sebuah pembelajaran panjang, uji kesabaran dan kesetia serta keikhlasan menerima apa yang sudah menjadi pilihan mu. Bahagia bukan ditemukan tapi diciptakan. Demikianlah Orlin dan Mandala menjalani kehidupan barunya. Lihatlah bagaimana mereka dengan sedemikian rupa berupaya saling memahami dan menerima. Tidak mengapa jika ada air mata yang sempat tertumpah, jika semua berakhir dalam pelukan hangat penuh cinta.

Nikmati juga cinta penuh pengorbanan antara Hayu dan Brian. Dan bagaimana Hana beserta Arjuna memetik buah dari semaian cinta mereka yang sudah terjaga selama belasan tahun.

Yang jelas..... No Sadness Ending

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renita Wei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bidadari Biru

Seorang pria tengah menikmati peregangan di pagi yang masih dingin karena sisa-sisa hujan semalam. Tiba-tiba saja ia merasakan ada yang aneh dengan kekosongan di carport rumahnya. Masih ada satu mobil kijang super yang pernah menjadi favorit mobil keluarga pada jamannya dulu. Tapi si biru mungil milik sang putri tidak berada di tempat semestinya.

" Dek ... tadi Malam Orlin diantara siapa ? ".

Pertanyaan itu tertuju pada pria lain yang mungkin baru berumur limapuluhan yang saat itu sedang sibuk menyiangi rumput di sekitar pohon mangga madu. Yang bertanya itu adalah pak Paraman pada pak Yadi.

" Anu mas.... kelihatannya si tuan muda ganteng yang beberapa kali ke sini dulu..... yang tingiiiii .... itu loh ".

" Oh.... ". Semalam pak Paraman memang sedikit kurang enak badan dan memutuskan tidak menunggu putrinya. Saat terbangun dinihari tadi barulah ia membuka pesan what's up Orlin yang minta ijin pulang terlambat karena diajak makan malam dulu.

" Sekarang mba Orlin baru sibuk masak ..... mungkin dia janji bawain teman-temannya menu sarapan spesial ", pak Yadi menceritakan pemandangan yang tadi dilihatnya di dapur. Orlin asyik membuat acar dan bakmi Jawa kesukaan ayahnya dengan dibantu bu Wati istrinya.

" Mungkin ...... memang ada yang lebih spesial..... tidak hanya sekedar teman ". Pak Paraman mengarahkan pandangannya pada mobil hitam yang memasuki halaman rumahnya.

" Wah..... si tuan ganteng ", pak Yadi berbinar-binar.

" Selamat pagi bapak.... selamat pagi ", sapa Mandala dengan ramah pada kedua pria itu.

" Selamat pagi nak.... sepagi ini?? Orlin saja mungkin belum mandi ... ayo duduk dulu ". Ayah Orlin membawa Mandala duduk di teras.

Sementara pak Yadi pamit masuk ke dalam untuk memberitahukan kehadiran Mandala tentu saja pada nona kesayangannya. Membiarkan Mandala dan Pak Paraman asyik berbincang-bincang.

" Saya sudah janji mau jemput Orlin.... dan juga numpang sarapan di sini ", kata Mandala penuh percaya diri.

" Oh..... pantes. Sejak subuh tadi dia sudah sibuk di dapur.... rupanya ada yang akan dijamunya ", pak Paraman tersenyum sambil manggut-manggut.

" Waaaah ... jadi tersanjung saya pak ", Mandala tidak kalah sumringahnya mendengar kabar itu.

Kedua pria beda generasi itu masih asyik berbincang ketika Orlin datang menghampiri. Gadis itu terlihat sedikit panik. Ia menguncir rambut ekor kudanya sambil menerima telpon. Alhasil dia nampak sedikit kerepotan dengan semua itu.

" Mas Dipta sudah jalan ..... Ayu bagaimana ? para koas itu 'kan bisa dikerahkan .... ", nada suara Orlin sedikit menegang karena rasa kesal dan cemas.

Tiba-tiba saja bu Wati keluar dari dalam rumah dengan membawa dua set kotak bekal. Orlin tersenyum kecil saat memberi isyarat meminta untuk di letakkan diatas meja. Ia mengangguk penuh terima kasih. Masih dengan tidak melepaskan telpon dari himpitan telinga dan pundaknya, gadis itu mengenakan flat shoes hitam dengan aksen bros kecil yang manis.

" Bertahan Vin..... 20 menit lagi aku sampai ". Orlin pun menutup telponnya.

" Ayah.... maaf ... aku tidak bisa temani ayah sarapan..... darurat !!! ". Gadis itu memeluk dan mencium pipi Ayahnya yang kemudian membalas membelai rambutnya .

" Mas.... sarapannya ku bawakan jadi bekal ya..... maaf ", kali ini Orlin menatap Mandala.

" Oh... oke ... oke... ayo segera berangkat ", Mandala segera bangkit dari duduknya.

Beberapa saat kemudian dua orang itu sudah duduk diatas mobil yang melaju menembus hiruk pikuk pagi dengan sedikit tersendat. Orlin menyentuh lengan Mandala dan memaksa pemuda itu menatapnya.

" Kenapa ? ", suara Mandala lembut.

" Maaf ya..... padahal aku sudah memasak sarapan untuk mu ".

Mandala tersenyum sesaat sebelum membalas berkata, " Kan' sudah dibawakan jadi bekal.... ".

" Iya.... ".

" Heeem.... baunya saja begitu menggoda. Semoga rasanya senikmat aromanya ya ".

" Ya.... semoga cocok dengan selera Mas ya ". Orlin tersenyum manis.

" Pasti cocok..... kan si cantik yang masak ".

Orlin tersipu malu mendengar pujian itu. Namun pesan di WhatsApp group segera mengalihkan rona malu yang di wajahnya. Wajah cantik itu nampak cemas.

" Aaahhh.... seandainya dokter Hana ada ", gumamnya.

" Kau butuh advice mba Hana ? ", Mandala menyela.

" Ya.... tapi kami semua tidak bisa menghubungi beliau. Kami tidak ada yang tahu nomor internasional nya ".

" Ada kasus apa ? ", tanya Mandala.

" Kecelakaan beruntun.... dan satu kasus bayi yang terus melemah karena kami kesulitan memberikan cairan lewat infus dan juga oral... maksudku air susu ibunya ", Orlin menjelaskan dengan cepat dan terdengar khawatir.

" Kau butuh menelpon kapan? sekarang ? ", tanya Mandala saat mereka sudah mulai memasuki pintu masuk tol.

" Bagaimana bisa.... ? ".

Orlin menatap Mandala dengan pandangan sedikit bingung. Sementara pria itu justru tersenyum-senyum sambil memasang perangkat audio di mobilnya dan menyambungkan dengan telepon pintarnya. Tak lama kemudian terdengar nada sambung beberapa saat melalui loud speaker. Kemudian terdengar suara gemerisik di seberang sana.

" Halo.... kenapa tengah malam buta kau telpon ?? tidak cukup ya menahan ku di sini kedinginan ". Suara itu terdengar serak dengan nada yang kesal.

" Oh ya.... sorry ... di Swiss tengah malam ya. Mba... aku butuh bantuan mu ... sekarang!!! menyangkut nyawa seseorang.... ".

" Aduuuuh.... kamu ini, selalu menggiring ku di urusan hidup dan mati siih ... ", suara Hana terdengar sedikit cemas.

" Mba..... biar Orlin bicara langsung dengan mu ".

Sejurus kemudian Mandala menatap Orlin yang terlihat ragu dan sungkan. Tapi sepasang mata Mandala yang bersinar hangat berhasil meyakinkannya. Gadis itu menegakkan duduknya dan mulai menyapa dokter Hana.

" Selamat pagi bu Hana...... mohon maaf sekali sebelumnya ..... emhhh... ini tentang kasus dehidrasi akut pada bayi berusia sepuluh minggu................. ".

Dan percakapan Orlin dengan dokter Hana terasa bagai sesi kuliah bagi Mandala. Dengan istilah-istilah yang tidak begitu di pahaminya. Tapi ada raut puas yang dirasakan Mandala saat melihat usahanya pagi itu mampu membuat wajah khawatir Orlin menjadi sedikit lebih bersemangat. Bahkan sesampainya mereka di rumah sakit, Orlin meminta Mandala untuk tidak parkir. Langsung ke depan ruang IGD, di tempat distribusi pasien emergency.

Orlin melompat turun, ia berlari masuk dengan tergesa. Gadis itu bahkan hanya sempat melambai kecil pada Mandala yang masih berada di dalam mobil. Security menyambut Orlin yang berlari dengan segera membukakan pintu, sehingga gadis itu langsung melesat masuk. Sementara Mandala memutuskan untuk segera mengalihkan mobilnya dari tempat itu.

" Wah.....bekalnya ketinggalan ", desah Mandala sambil menatap dua kotak bekal yang tertumpuk.

Sementara Orlin yang melesat masuk ke ruang tindakan untuk kasus gawat darurat, mendapati sepasang suami-istri yang saling berpelukan dan menangis. Pasti mereka adalah orang tua bayi itu.

" Lin..... ", seru seorang dokter. Itu adalah dokter Nino dulu kakak kelas Orlin dan sekarang sedang menjalani praktek sebagai dokter residensi Pediatric. " Kau dulu pernah sukses melakukan infus intraoseus..... sepertinya harus kita ulangi lagi kali ini ".

" Ya... tadi aku sudah minta pendapat dokter Hana. Tapi kita harus tunggu dokter Burhan dulu....... ".

" Dengan resiko kehilangan bayi mungil itu ? ", dokter Nino menatap tajam. " Lin..... kembarannya sudah meninggal dua hari yang lalu..... dan lihat!!! itu .... kedua orangtuanya yang begitu putus asa...... dan kita, sebenarnya masih punya satu kesempatan untuk menyelamatkan bayi ini..... tapi kita malah menyempitkan kesempatan itu ..... hanya karena mentaati standar operasional prosedur ...... ".

Orlin menggigit-gigit bibir bawahnya dengan kalut. Ia menatap dari jendela kaca bagaimana kesedihan dan kekalutan dari sepasang suami istri itu. Sementara di inkubator, seorang bayi sangat mungil nampak begitu payah..... bahkan sekedar untuk menarik dan menghembuskan nafas. Walaupun seluruh alat penopang hidup telah dipasangkan pada tubuh mungilnya, tapi ia tetap nampak sangat tak berdaya.

" Informed concern..... segera ku siapkan, sambil ku berikan gambaran pada orang tuanya ...... ", kata Orlin kemudian.

Dokter Nino, seorang keturunan Tionghoa dengan kacamata minus dan senyuman ramahnya, terlihat berbinar mendengar perkataan Orlin. Walaupun dia sebentar lagi akan menjadi seorang dokter spesialis anak, tapi urusan penanganan kegawatdaruratan seperti ini dia mengakui kalau Orlin memiliki kemampuan jauh di atasnya. Lalu Orlin menemui orang tua bayi dengan ditemani dokter Nino.

" Tuan-nyonya..... ada satu tindakan infus yang disebut intraoseus yaitu dengan melalui tulang kering .... emmh sedikit di bawah latut.... kami akan bisa memasukkan cairan berikut obatnya..... namun.... ", Orlin menghentikan sesaat bicaranya.

" Apakah terlalu beresiko .... ", ayah sang bayi menyergah tak sabar.

" Tentu ada resikonya...... selain infeksi ... jika tidak benar atau terjadi mistaken ..... putra bapak nantinya perlu sedikit terapy untuk menyempurnakan kembali kondisi tulang keringnya..... mengingat .... ", dokter Nino menambahkan. Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya......

" Tolong anak saya dokter...... lakukan apapun segala kemungkinan yang bisa membuatnya tetap bertahan hidup ...... ", jeritan putus asa itu keluar dari bibir sang ibu bayi.

" Dokter..... jangan menyerah !!!!! ..... kami pun tidak akan menyerah... akan terus berdoa ...... tapi saat ini ..... kalianlah orang-orang yang dikirim Tuhan untuk kami..... ku mohon dokter ..... ", dan tangis wanita cantik yang terlihat sudah sangat sembab kedua kelopak matanya itu semakin menyayat pagi.

" Ya ..... baiklah, mari kita sama-sama berdoa dan berusaha..... semoga segalanya berjalan lancar .... dan putra kalian bisa sembuh dan pulih kembali ... ", Orlin menepuk-nepuk pundak sang ibu bayi yang masih saja menangis didalam rengkuhan suaminya.

" Tuan..... ada beberapa dokumen persetujuan untuk melakukan tindakan medis yang harus anda tandatangani..... bisa ikut saya ", dokter Nino meminta sopan.

Dan pagi itu saat sang mentari mulai memancarkan cahayanya dengan penuh semangat seolah tengah membangunkan harapan hidup setiap mahluk. Ada sebagian dari manusia yang sedang berjuang untuk bertahan hidup dan membantu kehidupan lainnya. Bukan sekedar tanggungjawab profesional atau pekerjaan, tapi rasa kasih sayang dan sepenanggungan sebagai sesama manusia.... sebagai sesama wanita.

Orlin memeluk ibu sang bayi, tidak sekedar untuk menguatkan wanita itu. Namun juga untuk menguatkan dirinya sendiri. Membisikan pada hati yang lara namun penuh doa, mengingatkan untuk jangan pernah berputus asa. Karena Tuhan Yang Maha Esa itu...... maha kuasa dan maha penyayang. Dan ada satu malaikat sempurna di muka bumi ini, dialah sang bunda bagi setiap anak, dimana doanya begitu diperhatikan.

" Nyonya...... saya mohon doa dan restumu .... jangan pernah berhenti memohon pada Yang Maha Kuasa...... kita sama-sama berjuang ".

Sang gadis itu seolah mengenakan sayap birunya.... ia tersenyum memberikan ketenangan pada setiap orang yang menatapnya. Demikian terlihat oleh pria yang mengerjap-kerjapkan matanya, tak percaya. Mandala, dari sudut tak terlihat.... menatap takjub pada bidadari nya.

1
Uphe Fenty Agesty💞
kembali reread....
kangeeen...boss man
rina Afrilia
baca ulang karena pengen mengulang kebaperan dari Mandala dan orlin 😍😍
rina Afrilia
entah sudah berapa tahun yang lalu baca boss man dan dokter Olin..
tiba2 kangen jadi baca ulang deh 😍
Naftali Hanania
bener Lin...dengerin kata2 dr yg udah pengalamanl 🤭
Naftali Hanania
ningrat yg katanya darah biru..mbok di seset tangan e nggo silet nyatane darah e tetep Abang...🤭
Naftali Hanania
Oooo...so sweettt
Naftali Hanania
bapak bener2 pengalaman
Bunga Dwi Femina
keren banget kamu mba ren,udah sekian kali baca tapi selalu bikin mewek 😭😭😭
Bunga Dwi Femina
bener2 sedih ini mah 😭
Bunga Dwi Femina
kisah hayu & Bryan bener2 bikin mewek 😭
Bunga Dwi Femina
sejuta kali baca pun tetep dapet feel yg sama,mba ren makasih.... sehat selalu 🤗
Bunga Dwi Femina
selalu suka cara bos mand manggil orlin, "cantik"
orlin yg dipanggil malah aku yg tersipu2 malu 🤭
Sandisalbiah
🤣🤣🤣🤣🤣 nasib mu mas Juna... apes bener.. 😂😂
Sandisalbiah
Hana... gadis yg di cintai Juna dlm diam... kakak dr sahabatnya sendiri.. Mirisnya Juna.. insecure pastinya dia
Sandisalbiah
justru tantangan terberat buat Mandala adalah buat menaklukan hati Orlin.. apa lagi hatiany sudah terpaut utk org lain..
Sandisalbiah
Orlin si cerdas luar biasa dlm akademis tp buta soal cinta dan perasaannya... galau krn bingung papa yg di mau hatinya
Sandisalbiah
Pramana.. ayah yg bijak.. mengenal. karakter anknya juga sangat terbuka, dan sangat pintar membaca situasi di sekitarnya, termasuk sikap Mandalay pun tak terlepas dr pantauannya...
Fatma Juniansyah
setiap saya membaca karya mbak Renita setiap itu saya dapat pelajaran bahwa cinta itu indah bila kita mensyukuri kehadiran nya.terus berkarya mbak sehat selalu dan bahagia aamiin
Lia Kiftia Usman
tapi... kapan up nya thor
Lia Kiftia Usman
kapan dibukukan atau saya terlewat informasi 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!