✨THE BEGINNING OF THE WORLD.
|Terlahir Kembali di Dunia Binatang...
Di hari pernikahannya, Niren kehilangan segalanya—termasuk nyawanya. Namun, takdir membawanya ke dunia lain, di mana manusia bukan lagi penguasa. Kini, ia terlahir sebagai kelinci betina dalam dunia binatang yang brutal.
Lebih buruknya lagi…
> "Selamat datang di Sistem Survival Betina! 🎉 Untuk bertahan hidup, tugas utamamu adalah… memiliki pasangan dan melahirkan sebanyak mungkin!"
Di dunia ini, betina sangat langka dan aturan yang ada bertentangan dengan logikanya. Hanya dengan melahirkan, ia bisa mendapatkan poin untuk bertahan hidup. Tapi Niren menolak pasrah.
Apakah ia akan tunduk pada aturan dunia ini? Atau justru menaklukkan nasibnya sendiri?
Sebuah perjalanan penuh tantangan, bahaya, dan romansa tak terduga pun dimulai.
⚠️ DILARANG JIPLAK! Kalo enggak suka bisa skip! Wajib Comment ya guys kalo suka🥹🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberinya pelajaran?
Brukk!!
Tiba-tiba sebuah suara keras meledak di dalam gua, menggema sampai ke sudut-sudut paling dalam.
“Aaarghhh!!”
Disana, tubuh Jinghe terpental keras, menghantam bebatuan dinding dengan suara memekakkan telinga, darah seketika menetes dari luka-luka lamanya, membuka kembali rasa sakit masa lalu yang belum pernah benar-benar hilang. Cengkeramannya di leher Niren langsung terlepas. Napas yang tadi tertahan akhirnya kembali masuk ke paru-paru gadis itu.
Niren terjatuh lunglai ke lantai gua dengan tubuh gemetar, ia terduduk lemah sambil terbatuk-batuk hebat. Tangannya refleks bergerak, meraih obor yang nyaris padam lalu mengangkatnya, dan mengarahkannya ke depan.
Di sana… Sosok itu berdiri.
Ethar.
Tubuhnya tegap, dengan wajahnya yang tertutup bayangan hitam, tapi sorot matanya menyala penuh amarah. Nafasnya memburu, rahangnya mengeras saat ia menatap tubuh Jinghe yang terkapar tak sadarkan diri.
Suasana membeku. Gua yang tadinya penuh teror kini berubah menjadi arena ketegangan baru.
Perlahan, Ethar menurunkan pandangannya.
Menatap Niren yang tergeletak lemah, napasnya masih tersendat, tubuhnya bersandar pada dinding dengan luka dan ketakutan yang belum mereda.
Ada sesuatu di balik tatapan itu—amarah, rasa bersalah, dan entah... rasa takut kehilangan?
"Kau baik-baik saja?"Suara Ethar terdengar serak, tapi tak kehilangan tekanannya.
Niren menatapnya dengan mata yang masih basah, tubuhnya gemetar hebat. Tapi sebelum sempat menjawab, Ethar melangkah mendekat. Matanya menatap luka di lehernya, tangan yang penuh bekas cakaran, dan ketakutan yang belum surut dari sorot matanya.
"Aku... aku hanya—aku ingin udara. Aku tak bermaksud kabur..."Suaranya pecah, terdengar seperti bisikan ketakutan dari seseorang yang baru saja lolos dari mimpi buruk.
Namun Ethar tidak menjawab. Dia justru menunduk, meraih Niren dalam satu gerakan kasar. Bukan pelukan. Bukan perlindungan. Tapi... kendali.
“Tidakkk! Lepaskan—aku!! Aku bisa jalan sendiri! Kau kasar!”Niren meronta, memukul dadanya, tapi Ethar tak menggubrisnya.
“Kau bisa mati kalau aku tak datang lebih cepat.”Nada suaranya dingin, menahan luapan emosi.“Kau pikir dunia luar bisa melindungimu? Bahkan di balik gua ini, mereka tetap mencarimu.”
"Tapi aku tak tahu apa-apa! Aku bahkan tak tahu siapa kau!"teriak Niren, masih mencoba melepaskan diri,“Kenapa aku harus disalahkan atas sesuatu yang bukan pilihanku?!”
Ethar menghentikan langkahnya.
Hening sejenak. Nafasnya menggantung di udara.
“Karena hanya dengan kau hidup... mereka akan merasa kalah.”Suaranya berat. Dan untuk pertama kalinya... Ia berkata jujur.
Niren membeku. Tangisnya kembali jatuh perlahan. Tapi kali ini, bukan hanya karena ketakutan—melainkan karena perasaan asing yang mulai tumbuh di dada.
"Kenapa... Kenapa harus aku?"gumamnya, lirih."Apa salahku?"
Ethar kembali menatap ke depan, tak menjawab. Hanya diam. Membiarkan pertanyaan itu melayang di antara mereka, di tengah lorong gua yang kembali gelap saat api obor meredup.
Saat mereka hendak memasuki ruangannya yang dingin, Ethar akhirnya berbisik—hampir tak terdengar.
“Sepertinya... Aku harus memberimu pelajaran pertama. Supaya kau tahu... konsekuensi dari mencoba kabur dari tempat ini bagaimana.”titahnya lirih seolah mengandung tekanan yang tak bisa terbantahkan.
Niren terhenyak.
Jantungnya mencelos. Tubuhnya kembali memberontak, mencoba melepaskan diri.
Tapi Ethar tetap berjalan, membawanya masuk ke dalam lorong gelap.
Tak ada cahaya. Tak ada api. Hanya suara langkah kaki, suara tangisan, dan denting ketakutan yang menggema dalam keheningan.
Ruangan itu kini gelap kembali.
Tempat di mana semuanya akan dimulai.
...>>>To Be Continued......
Akhirnya... perjalanan Niren di buku ini resmi selesai. 🥹
Sebelum itu, aku mau minta maaf dulu karena sudah cukup lama menghilang dan jarang update. Beberapa waktu terakhir aku lagi sibuk dengan pekerjaan dan urusan lain, jadi waktu menulisku agak berantakan. Terima kasih banyak buat kalian yang masih sabar menunggu sampai sekarang. 🫶
Dan terima kasih juga untuk semua yang sudah membaca, memberi komentar, vote, maupun sekadar menemani perjalanan Niren dari awal sampai akhir. Jujur, tanpa kalian mungkin cerita ini tidak akan sampai sejauh ini.
Meski buku ini sudah tamat, kisah Niren sebenarnya belum berakhir.
Masih ada banyak hal yang belum terungkap, masih ada perjalanan yang harus dilalui, dan masih ada rahasia yang menunggu untuk ditemukan. Karena itu, kelanjutan cerita Niren nantinya akan berlanjut di buku baru. ✨
Anggap saja ini akhir dari satu perjalanan dan awal dari petualangan yang lebih besar.
Sekali lagi, terima kasih sudah bertahan sejauh ini bersama Niren. Sampai jumpa di buku berikutnya! ❤️