Jansen pemuda yang memiliki wajah tampan dan blasteran Indo-Belanda itu yang sangat menginginkan menghabisakan liburannya untuk mendaki Gunung yang belum terjamah. Dia memiliki kekasih yang begitu cantik yaitu Amanda Prisila.
Jansen sedang mencoba membujuk kekasihnya itu untuk pergi menghabiskan liburan mereka ke puncak gunung perawan. tetapi orang tua Amanda tidak mengizinkanya.
Apakah akhirnya Jansen dapat membujuk orang tua Amanda? dan apakah liburan Jansen dan Amanda akan menggembirakan atau malah berujung kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afionita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXXIV
Enjoy reading !
" Kamu berani menolak ajakanku. lihat saja nanti Rama nyawamu menjadi taruhanya. " dendam Dita.
Lalu Dita pergi meninggalkan kamar Rama dan sebelum dia memasuki kamarnya Dita memakai baju tidurnya kembali, akan tetapi baju yang ia kenakan sekarang sengaja di buatnya berantakan dan di sobek oleh dirinya sendiri.
Baru dia memasuki kamarnya dan duduk di sebelah Danang yang masih tertidur.
Dita kemudian menangis tersedu sampai membangunkan Danang yang tertidur.
" Hiiihh.. hihh .. hiiihhh " tangisan Dita.
" Huaahh.. Dita kamu kenapa menangis malam - malam dann.. kenapa bajumu berantakan seperti ini ? ini juga sobek, ada apa ? " Danang bertanya dan marah.
" Danang... " ucap Dita memeluk kekasihnya sambil menangis.
" Ada apa ? kamu jangan begini " tanya Danang.
" Tadi aku hanya keluar untuk mengambil air minum karena haus. tapi .. " kata Dota berhenti dan membuat penasaran.
" Tapi apa ? ayo cepat katakan " jawab Danang tidak sabar.
" Tapi Rama tiba-tiba menarik ku dan membawaku di kamarnya dan melecehkan aku Danang... " ucap Dita membalikan fakta yang terjadi.
" Apa ? kurang ajar ! "
" Manusia tidak tau aturan. lebih baik aku membuatnya mati terlebih dahulu dari pada teman lelakinya yang satu itu " kata Danang sambil emosi.
" Manusia itu sudah berani sekali menyentuh dan melecehkan kamu. akan aku buat dia meyesali perbuatanya karena telah melecehkanmu " ucap Danang marah dibuatnya.
" Kamu ingin membalasnya Dengan cara apa kali ini Danang ? " Dita bertanya penasaran.
" Aku akan memanggil para arwah- arwah yang ada di Gunung ini untuk memakanya hidup-hidup " ucap perkataan Danang.
" Ya saat fajar tiba, dan sebelum fajar tiba aku akan membangunkan para arwah di Gunung ini. aku akan memberikan nyawa mereka pada para arwah untuk menyantap santapan lezat daging manusia " jelas ucapan Danang.
" Bagus ! inilah balasan karena telah menolak ku Rama. Sebelumnya belum pernah ada yang bisa menolak ku termasuk Danang pada waktu itu yang tergoda olehku. tapi kamu malahan menolak ku mentah - mentah. " Batin Dita dalam benaknya.
" Hahahaha... kalian semua rasakan itu, kalian tidak akan lolos lagi dari takdir kematian kalian sendiri " kata Danang tertawa senang.
Di bawah Amanda yang sudah terbiasa saat subuh bangun itu dia kemudian terbangun dari tidurnya.
" Huuuuhah.. sudah mau subuhnya " kata yang terlontar oleh Amanda.
" Lebih baik aku bangunkan Jansen juga agar kita segera pergi dari tempat ini, " gumam Amamda karena Amanda juga merasa takut berada di sisi Danang dan Dita lagi.
" Jansen ayo bangun, ayo kita kemasi barang kita dan pergi dari sini " ajak Amanda dengan pelan agar tidak terdengar ileh mereka.
" Sayang.. ini masih gelap " sahut Jansen yang masih mengantuk karena baru bisa tertidur.
" Dengarkan aku bae. ayo kita segera pergi aku takut nanti terjadi sesuatu kamu taukan maksudku " ucap Amanda.
" Iya .. iya.. tunggu dulu bae, kamu siap-siap aku akab panggil juga Rama ya " kata Jansen yang pergi menghampiri Rama.
" Okey , cepat sedikit bae aku takut. " balas Amanda menahan takutnya karena sendirian.
" Ma ? kamu sudah bangun ? " kata Jansen kaget.
" Iya, ada apa Jans ? " Rama kembali bertanya dan kemudian menuruni tangga.
" Lebih baik kita langsung pergi dari rumah ini, di sini terlalu berbahaya ma " ucap Jansen menyarankan.
Karena Rama tidak mendapatkan jejak Intan lagi di sini lalu dia memutuskan untuk pergi mengikuti perkataan Jansen dan Amanda.
" Iy kita pergi sekarang " jawab Rama.
" Oh.. ya Jansen aku masih menitipkan tasku padamu ya " kata Rama.
" Iya masih ini tasmu ma " kata Jans lalu memberikan tas itu.
" Mumpung mereka belum terbangun ayo kita segera pergi dari rumah ini " ajak Amamda tergesa - gesa.
Fajar pun akan segera tiba, saat mereka sudah keluar dari pintu rumah itu.
" Tinggal selangkah lagi kita akan meninggalkan rumah ini, dan berjalan menuju pagar depan " kata Amanda bergegas.
" Kenapa jalan menuju pagar ini terasa jauh ya, kemarin saat kita masuk tidak sejauh ini " ucap Jansen.
" Iya kamu benar bae. memang jarak antara rumah dan pagar ini jauh tapi tidak sejauh yang kemarin kita pertama memasukinya " sahut pendapat Amanda kekasihnya.
Dan belum sempat mereka keluar dari pagar besar itu, fajar pun telah tiba.
Tanpa mereka bertiga sadari nyawa mereka dalam keadaan bahaya.
Keluarlah para penghuni Gunung Perawan untuk memangsa mereka. yang semua itu sengaja di panggil oleh Danang sang pemimpin dari mereka semua.
Kemudian Danang keluar di depan pintu rumahnya dan berkata
" Sudah tiba waktunya untuk kematian kalian sendiri " kata Dangan yang terlontar untuk mereka.