NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Suamiku ( Menikahi Kakak Ipar )

Pemilik Hati Suamiku ( Menikahi Kakak Ipar )

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: roliyah

Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.

Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.

Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur bersama

Ternyata perkataan Atha bukan sekadar omongan kosong. Atha benar-benar ikut masuk ke dalam kamar Shandra. Meski hubungan mereka sudah jauh lebih baik, tetap saja untuk tidur sekamar membuat Shandra merasa canggung.

Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat saat melihat Atha menutup pintu kamar pelan.

“Kenapa tegang begitu?” tanya Atha sambil menahan senyum jahilnya.

“Aku nggak tegang,” elak Shandra cepat.

“Bohong.”

Shandra langsung memalingkan wajah. Ia sibuk merapikan ujung selimut agar rasa gugupnya tak terlalu terlihat. Sedangkan Atha justru berdiri bersandar di lemari sambil memperhatikan tingkah istrinya itu dengan gemas.

“Aku cuma belum biasa aja,” gumam Shandra lirih.

Mendengar itu, tatapan Atha langsung melembut. Ia kemudian berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang dengan menjaga jarak agar Shandra tidak semakin salah tingkah.

“Shan, aku nggak akan maksa kamu apa pun,” ucap Atha pelan. “Aku cuma pengen nemenin istri aku tidur. Itu aja.”

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Shandra terasa hangat. Selama ini Atha memang banyak berubah. Lelaki itu tak lagi dingin seperti dulu. Bahkan kini perhatian kecil dari Atha selalu berhasil membuat Shandra merasa nyaman.

Shandra menatap Atha pelan.

“Beneran cuma tidur?”

Atha terkekeh kecil. “Kalau aku jawab enggak, nanti aku disuruh keluar lagi.”

Pipi Shandra langsung memerah.

“Atha!”

Tawa lelaki itu pecah pelan. Suasana yang tadi canggung perlahan berubah hangat. Atha kemudian mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya di samping Shandra, tetap menjaga jarak agar istrinya tidak merasa tertekan.

“Tidur sana,” ucapnya lembut.

Shandra mengangguk kecil. Lampu kamar dimatikan, menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan.

Awalnya Shandra mencoba memejamkan mata, tetapi ia justru semakin sadar kalau kini ada Atha di sampingnya. Bahkan suara napas lelaki itu terdengar begitu jelas di telinganya.

Belum lagi aroma parfum Atha yang samar-samar membuat wajah Shandra kembali panas.

“Aku nggak bisa tidur,” gumam Shandra pelan.

“Kenapa?”

“Kamu terlalu dekat.”

Padahal jarak mereka masih cukup jauh.

Atha menahan senyum. “Kalau gitu aku pindah ke lantai aja?”

“Enggak!” jawab Shandra spontan.

Atha langsung menoleh dengan alis terangkat.

Shandra pun tersadar dengan jawabannya sendiri hingga buru-buru menarik selimut menutupi sebagian wajahnya.

“Aku cuma … bukan itu maksudnya.”

Atha tersenyum kecil lalu menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tangannya terulur pelan, menggenggam jemari Shandra di balik selimut.

“Tidur, ya,” bisiknya lembut.

Entah kenapa, hanya dengan genggaman sederhana itu, rasa gugup Shandra perlahan menghilang. Kehangatan dari tangan Atha membuat hatinya terasa tenang.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Shandra tertidur dengan perasaan nyaman di samping suaminya sendiri.

Malam pun semakin larut. Suasana kamar sudah hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napas pelan Shandra yang tertidur lelap di sampingnya. Namun, berbeda dengan istrinya, Atha justru sama sekali belum bisa memejamkan mata.

Sejak tadi Shandra tidur tak bisa diam. Tubuh wanita itu beberapa kali berguling kecil, lalu tangannya bergerak ke sana kemari tanpa sadar. Sialnya, beberapa kali pula tangan Shandra menyenggol abang kecil milik Atha hingga membuat lelaki itu salah tingkah sendiri.

Atha langsung memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Padahal tadi ia sudah berusaha menenangkan diri dan tidur seperti biasa, tetapi setiap kali hampir terlelap, gerakan Shandra kembali membuat tubuhnya menegang.

“Ya ampun, Shandra...” gumamnya lirih sambil menatap langit-langit kamar.

Belum selesai sampai di situ, tangan Shandra tiba-tiba jatuh tepat di atas dada Atha, lalu perlahan turun tanpa sengaja. Seketika napas Atha tercekat.

Abang kecilnya yang tadinya mulai tenang langsung kembali “bangun” dengan penuh semangat.

Abang kecilnya mengamuk tapi gak bisa dilampiaskan.

Atha menelan ludah kasar. Ia benar-benar berada di ambang kesabaran.

Dengan hati-hati ia mengangkat tangan Shandra dan memindahkannya ke samping bantal. Namun baru beberapa detik kemudian, wanita itu kembali bergerak dan malah mendekat sambil memeluk pinggang Atha erat.

“Cantik-cantik, tapi tidurnya gak bisa diem,” gumam Atha frustasi sambil menahan diri.

Di sisi lain, Shandra justru tidur makin nyaman. Wajahnya tampak tenang, bahkan sesekali bibirnya membentuk senyum kecil seolah sedang bermimpi indah.

Sedangkan Atha? Lelaki itu hanya bisa pasrah sambil menatap istrinya dengan campuran gemas dan tersiksa.

“Kalau begini terus, bisa-bisa aku terkam kamu,” keluhnya pelan.

Namun meski mulutnya mengeluh, tangan Atha tetap refleks membelai rambut Shandra dengan lembut. Tatapannya berubah hangat penuh rasa sayang. Karena sefrustasi apa pun dirinya malam ini, Atha tetap tidak tega menjauh dari wanita yang kini sudah menjadi sumber ketenangan sekaligus kekacauan paling manis dalam hidupnya.

*

Tenggorokan Shandra terasa kering. Ia pun terbangun karena ingin minum. Namun saat membuka matanya, wajah Atha justru berada sangat dekat di hadapannya.

Suaminya itu rupanya sedang menatapnya lekat-lekat.

Shandra refleks menahan napas.

"Mas, kamu belum tidur?" tanyanya pelan.

"Gak bisa," jawab Atha dengan nada sedikit frustasi.

Shandra mengerutkan kening. Kenapa suaminya belum tidur? Apa jangan-jangan tidurnya terganggu karena dirinya?

"Kenapa?" tanyanya bingung.

Atha membuang napas berat.

"Kamu tidurnya gak bisa diem."

Seketika Shandra salah tingkah sekaligus merasa bersalah.

"Maaf, aku gak sadar."

"Gak apa-apa," ucap Atha santai. "Terus kamu bangun mau apa?"

"Pengen minum."

"Kalau gitu aku ambilin."

"Eh, Mas, gak usah—"

Namun Atha sudah lebih dulu bangkit dan menghilang di balik pintu kamar.

Hati Shandra seketika menghangat oleh perhatian suaminya. Dulu jangankan mengambilkan minum, berbicara dengan nada lembut saja sangat jarang dilakukan Atha. Tapi sekarang pria itu selalu berusaha memperhatikannya dalam hal-hal kecil.

Tak lama kemudian Atha kembali membawa segelas air putih dan menyerahkannya kepada Shandra.

"Nih."

"Makasih, Mas."

Shandra menerima gelas itu lalu meneguk air perlahan. Rasa dingin langsung membasahi tenggorokannya yang kering dan membuat tubuhnya terasa lebih segar.

Atha duduk kembali di sampingnya.

"Udah mendingan?"

Shandra mengangguk.

"Iya."

Setelah meletakkan gelas di nakas, Shandra menatap Atha yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk.

"Memangnya aku ganggu banget ya sampai Mas gak bisa tidur?"

Atha terkekeh pelan.

"Sedikit."

Shandra langsung menunduk malu.

"Maaf."

"Sudah, tidak apa-apa. Ayo tidur lagi."

Shandra mengangguk pelan. Namun, setelah itu tak satu pun dari mereka benar-benar bisa memejamkan mata. Terutama Atha yang sejak tadi berusaha menenangkan gejolak di dalam dirinya. Jujur saja, ia merasa frustrasi.

"Shan..."

"Hm?" Shandra menoleh. "Kenapa, Mas?"

Dalam remang cahaya kamar, wajah Shandra tampak begitu teduh dan cantik. Tatapan lembut itu justru membuat jantung Atha berdebar semakin cepat.

Atha menarik napas panjang sebelum akhirnya

berbicara.

"Apa aku boleh ... minta sesuatu?"

Nada suaranya terdengar hati-hati, seolah takut membuat Shandra tidak nyaman.

Shandra terdiam. Matanya menatap lekat wajah suaminya, mencoba memahami maksud yang tersimpan di balik pertanyaan itu.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Di dalam hatinya, berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Gugup, malu, sekaligus bingung. Ia tahu hubungan mereka sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Atha juga selalu berusaha menghargai dan menjaganya.

Namun, untuk melangkah lebih jauh, Shandra merasa dirinya belum benar-benar siap.

"Aku..." Shandra menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku masih takut, Mas."

Seketika raut wajah Atha melembut. Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Shandra dengan hangat.

"Maaf. Aku nggak bermaksud bikin kamu tertekan."

Shandra menggeleng cepat.

"Aku tahu."

Atha lalu tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita jalani pelan-pelan saja. Aku bisa menunggu."

Perkataan itu justru membuat hati Shandra semakin tidak enak. Sebagai seorang istri, ia merasa seharusnya bisa memberikan kebahagiaan dan kepercayaan penuh kepada suaminya. Namun, ada rasa gugup yang masih sulit ia hilangkan.

Dengan ragu-ragu, Shandra menundukkan pandangan sebelum berkata lirih, "Kalau Mas memang menginginkannya, aku..."

Atha mengangkat tangannya, mengusap lembut puncak kepala Shandra.

"Kalau kamu setuju hanya karena merasa gak enak sama aku, jangan."

Shandra menatap wajah suaminya. Sorot mata Atha begitu hangat, tanpa paksaan sedikit pun.

"Tapi kalau kamu setuju karena percaya sama aku..." lanjut Atha pelan, "aku gak akan bisa mundur lagi."

Sesaat Shandra terdiam. Jantungnya berdebar semakin cepat. Ia tahu apa yang dimaksud Atha. Namun di balik rasa gugup itu, ada perasaan aman yang selama ini perlahan tumbuh setiap kali Atha memperlakukannya dengan penuh perhatian.

Setelah beberapa saat, Shandra akhirnya mengangguk pelan. Membiarkan malam ini menjadi langkah baru dalam hubungan mereka.

"Tapi... pelan-pelan," ucap Shandra lirih.

Senyum Atha langsung mengembang. Ia menggenggam tangan Shandra dengan hangat.

"Iya. Pelan-pelan."

Atha kemudian mengecup kening Shandra dengan lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa ia akan menjaga kepercayaan yang telah diberikan istrinya malam itu.

Shandra pun tanpa sadar tersenyum. Rasa gugup itu masih ada, tetapi kini tidak lagi menakutkan. Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan bahwa dirinya dicintai, dihargai, dan tidak pernah dipaksa menjadi apa pun selain dirinya sendiri.

1
partini
meledak tuh rasa iri di hati bikin esmosi,paling jadi prempuan lacknat
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
Ra2_Zel: tenang aja kak, aman🤭
total 1 replies
partini
kenapa ga Alika si h Thor yg mandul atau kedua nya biar impas dengan kejahatan yg mereka lakukan,,apa nanti ada drama jadi pelakor sodara nya sendiri kaya film paa itu lupa judulnya
partini
itu masih pagi seorang diri atha kemana masa iya dah pergi kerja
partini
itu resiko jadi wanita menggatal nikmati saja jangan bikin huru hara
falea sezi
🤣🤣 serakah amat lu alika😒 lacur
Ra2_Zel: emang gak tahu malu
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 pinjam dulu seratus astaga atta ngakak bgt q tuh 🤣 orang kaya gk. punya duit buat beli pertamax🤭
partini
pasti suamimu dengar apa yang baru kamu katakan Alika
partini
nice story
partini
istriku tercinta welehhh ❤️
partini
unboxing,,dikit hot lah Thor biar menjiwai 🤣
partini
bobo sihhhh make love lah
partini
😂😂😂 atta atta ,, hidup bahagia lah kalian dengan pasangan masing-masing
partini
atta atta dah bisa lihat istri mu sekarang
partini
syukur lah otak kamu mulai berfungsi atta ku kira jendel mau aja bekas om mu itu, secara lama pasti sering Ina inu lah ,buka hati dan matamu mu di kasih Berliana malah nunggu batu kali
partini
pasti sakit Banggt ,tapi lihat istri mu lah ngab be smart don't be so damn stupid
partini
atta kamu aja goblok cinta Ampe segitu nya ,, tanpa kamu sadari sekarang kamu aja udah bikin istri mu hatinya resah loh kamu juga egois lah
partini
San San kamu terlalu baik deh,,suami mu aja masih cinta Ampe sekarang
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
partini
harusnya di tau kasihkan,tapi bisanya ga tega deh so kita lihat apa betul" atta d kasih tau atau tidak
Mar Lina
kan
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
Ra2_Zel: siap kak
total 1 replies
Mar Lina
mirip siapa
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!