"Aku mohon jadilah Mamaku Ra!!" Pinta Hannah temannya sejak pertama kali masuk SMA.
"Jika dalam waktu satu minggu, orang tua mu tak bisa membayar sisa hutangnya, kamu harus menikah denganku manis." Ucap pria lintah darat yang terkenal didaerah itu.
Danira Grisela,
Seorang gadis polos yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA, harus terjerat ancaman seorang lintah darat yang akan menikahinya jika orang tuanya tak bisa melunasi sisa hutangnya.
Namun, ia juga dihadapkan dengan permintaan sahabatnya yang memintanya untuk dengan Ayahnya dan berjanji akan melunasi semua hutang orang tuanya dan menanggung semua kebutuhan keluarganya.
Pilihan manakah yang akan Danira pilih?
Yuk langsung baca ceritanya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rishalin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34
"Tuh kan ngambek lagi, jangan ngambek, aku cuma becanda. Sana ke kamar, lanjutkan yang keganggu tadi!" ucap Hannah.
Ctak!!!
"Aaawwww?" Kening Hannah dijentik Hajun dan Danira.
"Bicara apa kamu, Han!"
Hannah mengusap keningnya. "Ya udah kalau gitu, aku aja yang masuk kamar. Selamat bercinta!"
Hannah berlalu dengan meninggalkan suara tawa, membuat Hajun dan Danira kini saling tatap.
"Lanjut di kamar yuk, Sayang."
"Heum." kepala Danira mengangguk.
Hajun mematikan televisi, lalu membopong tubuh Danira masuk ke dalam kamar tidur mereka.
***
Pulang kuliah, Danira dan Hannah ikut ke mobil Shaka.
"Kamu mau turun di kantor Papa, nggak mau kita antar ke rumah?" tanya Hannah.
"Iya, ke kantor Papa kamu aja, kejauhan kalo pulang ke rumah. Kalian udah ditunggu orang tua Shaka."
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, mereka bertiga tiba di kantor Hajun.
"Aku antar ke atas ya, Mam." Ucap Hannah saat ia hendak turun dari mobil.
"Nggak usah, Han, kalian langsung berangkat aja." tolak Danira.
"Gak papa sendirian?" tanya Hannah ragu.
"Iya gak papa kok." Jawab Danira meyakinkan.
Sebelum berangkat Hannah mengecup kedua pipi Danira.
"Aku pergi ya, Mam, jangan berantem sama Papa ya." goda Hannah.
"Iisshh, apa sih Han!" Ucap Danira lalu mencubit lengan Hannah pelan.
Hannah dan Shaka langsung tertawa melihat muka Danira yang cemberut.
Setelah mobil yang ditumpangi Hannah dan Shaka berlalu, Danira masuk ke dalam bangunan kantor Hajun. Saat tiba di depan ruangan Hajun, Danira melihat Sekretaris Hajun tak ada di mejanya lalu Danira mendekati pintu ruangan Hajun yang sedikit terbuka.
Danira seketika mematung di ambang pintu. Di dalam sana ia melihat Hajun duduk di kursi kerjanya dengan Dona yang berdiri sangat dekat di belakannya.
Entah apa yang mereka lihat di laptop yang ada di atas meja, tapi mereka terlihat tertawa bersama dan membuat Danira dengan cepat berbalik.
Ia menjauh dari ruangan Hajun, lalu ke luar menjauh dari kantor Hajun. Danira tak peduli ke mana arah langkah membawanya, asal bisa pergi jauh dari kantor Hajun.
Dadanya terasa sesak, air matanya jatuh tak tertahankan. Disaat tubuhnya lemas dan hampir jatuh ke tanah tiba-tiba sepasang tangan menahan tubuhnya.
"Danira!" pekik seseorang yang menahan tubuh Danira.
Danira mendongak dan menatap wajah pemilik si pemilik suara.
Tanpa bertanya Si pemilik suara mengangkat tubuh Danira ke dalam mobilnya lalu Ia memasangkan safety belt ke tubuh Danira.
Danira hanya diam, ia sudah tak mampu lagi berkata-kata. Hanya isak tangis yang ke luar dari mulutnya.
Danira menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil dengan kedua matanya terpejam, ia berusaha mengatur agar nafasnya teratur kembali.
Tapi saat memejamkan matanya justru bayangan kejadian di kantor Hajun yang hadir di pelupuk mata yang benar-benar terasa mengiris hatinya.
"Tega banget kamu, Om, Kamu tega benget sama aku!" batin Danira pilu.
Danira yang tak dapat lagi menguasai diri kini tangisnya pecah dengan suara nyaring.
Mobil yang membawanya seketika berhenti lalu si penolong melepaskan safety belt Danira, ia membawa kepala Danira ke dalam dekapan dadanya.
Tangis Danira yang tumpah di sana membuat tangan si penolong dengan lembut membelai rambut Danira.
Dadanya kini basah oleh air mata Danira. Semetara jemari Danira kuat mencengkeram kemeja si penolong.
"Andai bisa, biarlah kepedihan dihatimu dipindahkan ke hatiku. Andai bisa, biarlah beban dipikiranmu, di tumpahkan ke dalam benakku. Andai bisa, biarlah penat ditubuhmu, dibebankan ke tubuhku. Andai bisa, semua kesedihan, kegundahan, kelelahan, apapun itu yang membuatmu tak bahagia dan terluka, dipindahkan saja semuanya padaku. Aku rela, aku ikhlas, menanggung semua derita, asal kamu selalu tersenyum bahagia." Batin si penolong yang kini matanya ikut berkaca-kaca karena melihat Danira menangis.
Setelah merasa cukup puas menumpahkan tangis, Danira menarik kepalanya dari dada si penolong.
"Maaf ya Vin, udah bikin baju kamu basah." Ucap Danira seraya menatap tepat di manik mata Arvin.
Arvin hanya tersenyum. "Mau kuantar pulang?" tanya Arvin lembut.
Kepala Danira menggeleng. "Kalau boleh, bisa kita pergi ke tempat yang tenang aja, aku cuma mau bisa menenangkan hati."
Arvin mengangguk-anggukkan kepala. Arvin tak bertanya, kenapa Danira menangis, karena Arvin sempat melihat Hajun ke luar kantor bersama Dona, sebelum ia melihat Danira.
Arvin yakin, Danira dari kantor Hajun, tapi ia tak tau, apa yang dilihat Danira di sana. Yang pasti, apapun yang dilihat Danira, sudah membuatnya sangat terluka. pikiran Arvin.
Danira kembali menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya dan Arvin memasangkan kembali safety belt pada Danira.
Danira baru membuka matanya saat merasa Arvin menghentikan mobilnya.
"Kita di mana?" tanya Danira.
"Di rumah aku, kamu gak usah takut, aku gak bakal berbuat jahat sama kamu." Ucap Arvin yang cemas kalau Danira akan marah.
Danira tersenyum. "Aku percaya sama kamu, Vin."
Danira menghapus kecemasan hati Arvin. Ia melihat ketulusan di dalam sorot mata Arvin, tetap sama, dari awal mereka bertemu, sampai sekarang sama sekali tak berubah membuat Danira merasa aman bersama Arvin dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Mama sama Papa lagi di Belanda, Kakak ku yang perempuan, baru aja melahirkan dua hari lalu."
"Sebaiknya kamu cuci muka dulu, setelah itu kita makan siang." Ucap Arvin lalu membuka salah satu pintu kamar.
Danira mengangguk. "Ada mukena nggak, aku mau salat dzuhur dulu, baru makan siang."
Arvin masuk ke dalam kamar, ia membuka lemari lalu mengeluarkan mukena dan sajadah.
"Kesana arah kiblatnya ya." Arvin menunjuk ke arah pintu.
Danira mengangguk seraya tersenyum.
"Terima kasih."
***
Selesai maghrib, Hannah baru tiba di rumah.
"Bi, Papa sama Danira udah pulang?"
"Belum, Non." jawab Bibi.
Saat Hannah masih bertanya pada Bibi, terdengar suara mobil Hajun yang parkir di garasi.
Hannah menunggu Papanya di ruang tengah, sementara Hajun masuk sendirian.
"Pa, Danira mana?!" tanya Hannah bingung, karena tak melihat Danira bersama Papanya.
Hajun langsung terkejut dengan pertanyaan Hannah. "Tadi pagi bukannya pergi kuliah sama kamu, Han."
"Iya... tapi tadi siang, aku sama Shaka nganter Danira ke kantor Papa." Jawab Hannah.
"Apa, tadi siang?" tanya Hajun lebih terkejut lagi.
"Iya, katanya Danira mau makan siang sama Papa!"
"Ya Tuhan... pasti dia salah paham...." Hajun dengan cepat mengambil ponselnya.
"Salah paham, apa maksud Papa??" tanya Hannah bingung.
"Ponselnya gak aktif...." Bukannya menjawab pertanyaan Hannah, Hajun justru malah mendengus kesal.
Hajun kembali mencari kontak di ponselnya lalu menghubungi kontak yang ia cari.
"Bu... Danira ada di sana?" tanya Hajun cepat.
"Iya, tadi sore Danira ke sini, katanya kangen, mau nginap di rumah. Sekarang dia sama adiknya di rumah. Ibu sama Bapak masih di depot. Emangnya Danira gak ijin pergi sama Nak Mister?"
"Ooh... Iya, saya ke sana, Bu, terima kasih. Assalamualaikum." Hajun menutup pembicaraan setelah ibu mertuanya menjawab salam.
"Pa, Papa belum jawab, salah paham apa?!" tuntut Hannah.
"Nanti aja, Han. Papa mau menjemput Danira dulu!" Dengan cepat Hajun menuju garasi.
***
Dirumah Ibunya Danira baru saja selesai shalat maghrib. Tapi, saat Danira melipat mukena, ia teringat kebiasaan salat bersama Hajun.
Pasti Hajun yang membereskan bekas sholat mereka. Ia yang kembali mengingat Hajun membuat air matanya kembali mengalir di pipinya.
"Apa benar Om setega ini mengkhianati aku? Atau aku cuma salah paham aja. Mungkin aja ini adalah cara Tante Dona untuk merebut Om Hajun kembali, tanpa Om Hajun menyadari, betapa liciknya Tante Dona.
Harusnya aku bisa mempertahankan suamiku, bukannya lari seperti ini. Tante Dona pasti kegirangan, kalau aku menyerah kalah seperti ini. Arvin benar, kalau kita saling mencintai, kita harus berusaha mempertahankan cinta itu sendiri. Lain halnya cinta bertepuk sebelah tangan, yang perlu keikhlasan, untuk melepaskan orang yang kita cintai." Batin Danira yang termenung seusai shalat.
Teringat dengan Arvin membuat Danira sadar kalau Arvin tulus mencintainya, tapi sayangnya ia tak bisa mencintai Arvin.
Hari ini Arvin sudah membantunya melewati hari yang sungguh terasa melelahkan.
Suara ribut di luar dan teriakan adiknya seketika menyadarkan Danira dari lamunannya.
Danira bergegas ke luar kamar, ia melihat banyak warga berkerubung di halaman rumahnya.
"Ka, Om Hajun, Ka!" panggil adiknya.
Danira langsung mendekat dan kini ia melihat wajah Hajun yang penuh dengan darah.
Melihat darah di wajah Hajun membuat mata Danira langsung berkunang-kunang dan sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Danira sempat merasakan Hajun meraih tubuhnya.
"Ayy...." Ucapan terakhir Danira sebelum benar-benar kehilangan kesadaran.
***********
***********
Makasih banyak untukmu Othor tersayang...
Semoga selalu semangat menghasilkan karya2 terbaik....🤗👍