Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Gara-Gara Jungkook KW
Prawira yang melihat cucu menantunya baik-baik saja terlihat lega, pria tua itu ikut turun dari kapal untuk mendekat ke arah Bianca, begitu juga dengan Nuna, anak itu menghambur ke arah tantenya, membuat Skala harus rela melepaskan pelukannya dari sang istri.
"Onty, Nuna takut onty kenapa-kenapa," bisiknya di pelukan Bian.
Namun, tak lama mata anak itu berpaling menatap cowok tampan yang berdiri tak jauh dari tantenya.
"MasyaAllah Jungkook BTS," cicit Nuna saat menatap Dewa.
Ska yang sedari tadi hanya fokus kepada Bianca ikut menoleh ke arah anak tunggal bu Dewan itu.
Bian lantas bercerita soal Dewa dan teman-temannya yang berada di sana untuk melakukan penelitian, beruntung baginya karena jika tidak ada para mahasiswa itu jelas tak hanya bisa mati kedinginan tapi ia juga bisa mati ketakutan.
Prawira mengucapkan terima kasih kepada Dewa dan teman-temannya, mendapati asisten Prawira yang ia kenal juga berada disana, Dewa memandang Bianca penuh tanya. Cowok itu terkejut mengetahui fakta bahwa pria tua yang sangat ramah itu ternyata sang pemilik pulau, mata para mahasiswa itu membulat seketika saat Prawira menawarkan tumpangan pulang untuk mereka.
"Kapan lagi kita akan naik kapal pesiar mewah seperti ini?" canda seorang teman Dewa.
Tanpa berpikir lagi mereka menerima tawaran Prawira, Nuna yang terpesona dengan ketampanan Dewa sampai menabrak punggung Skala saat dirinya berjalan naik ke atas kapal sambil terus memandangi wajah cowok ganteng itu.
"Ma, kawinin aku sama dia!" ucap Nuna ke sang mama.
Memandang anaknya yang masih bau kencur, Diana mencubit pipi Nuna. "Sekolah aja belum lulus, cari duit aja belum becus udah mikir kawin, dasar!"
"Pokoknya Nuna mau kakak itu jadi milik Nuna," ucapnya lagi.
Billy yang mendengar ocehan sang anak hanya bisa geleng-geleng kepala, berpikir entah menurun dari siapa sifat bocah itu.
Alih-alih untuk pergi tidur, Bian malah menemani Dewa dan teman-temannya menikmati hidangan dari chef yang memang secara khusus ikut dalam pelayaran itu. Mereka bercanda dan tertawa membuat Ska yang terlihat tak dipedulikan oleh istrinya merasa kesal, ia duduk sambil menekuk wajah dan melipat tangannya di depan dada sebelum berdiri menarik lengan tangan Bian.
"Tidur!"
Ska sama sekali tak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatnya terutama Dewa. Bian hanya bisa pasrah digelandang sang suami seperti seorang tersangka untuk masuk ke dalam sel tahanan.
Membanting pintu, mata Bian membelalak lebar saat Ska dengan sengaja membuka bajunya dan berganti dengan kaus di hadapannya, bukan pertama kali ini dia melihat seorang laki-laki bertelanjang dada, Ia sering ikut menyaksikan sesi pemotretan di perusahaannya untuk produk dalaman pria dewasa. Namun, entah kenapa melihat tubuh milik suaminya tepat di hadapannya Bian menjadi malu, ia teringat kejadian di kamar ganti beberapa waktu yang lalu.
"Please deh Ska, ga biasanya elo ganti baju seenaknya gini, biasanya juga ke kamar mandi," protes Bian.
Ska bergeming, ia melepas celana pendek yang dia kenakan, membuangnya begitu saja sehingga terpampanglah si anaconda dibalik boxer berwarna putih dengan logo brand milik Niel fashion koleksinya.
"Astaga! ga lihat gue, ga lihat," gumam Bian sambil memalingkan mukanya.
Menatap Bian dengan pandangan menusuk, seperti orang yang tengah cemburu, Ska membanting tubuhnya dengan kasar ke ranjang setelah berganti baju, membuat Bian yang duduk ditepian ranjang hampir saja merosot jatuh.
"Ska, loe kenapa sih? tadi loe manis sama gue sekarang tiba-tiba loe masam kek jeruk nipis," cibir Bian sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Saat keluar Bian mendapati Ska sudah tidur ditengah-tengah ranjang sambil merentangkan kedua tangan dan membuka lebar kakinya, karena merasa tidak ada bagian kasur yang tersisa untuk dirinya, Bian menyambar cardigan dari kopernya berniat untuk keluar lagi dari kamar.
Lebih baik melihat laut malam atau mengobrol bersama Dewa dan teman-temannya dari pada melihat ulah badak Afrika. Menaikkan sudut bibirnya, Bianca mencibir tingkah kekanak-kanakan Skala.
Saat tangannya hampir meraih gagang pintu, laki-laki itu mencegahnya atau lebih tepatnya mengancam.
"Berani keluar, gue lempar loe ke laut!"
"Idih, serem banget Ska ancaman loe, lagian loe kayak bunglon tahu ga sih? tadi baik banget sekarang sadis."
Bian yang kesal melipat tangannya ke depan dada di hadapan Skala yang masih tak bergerak ataupun bergeser dari ranjang, seolah tak ada niat untuk memberi sedikit ruang agar Bianca bisa berbaring atau sekedar duduk.
"Gue nyesel minta nahkoda kapal puter balik ke Kilikili buat jemput loe, harusnya gue biarin aja. Lagian loe kayaknya bahagia terdampar di sana sama si Jungkook KW."
Menegakkan badannya, Ska melipat kedua kakinya, bergeser dan duduk bersila di ujung ranjang sambil memasang muka kesal ke arah istrinya.
"Eh ganteng ya kan si GD? Nuna aja sampai terpesona gitu, ponakan gue itu matanya emang kayak gue, jeli kalau ngeliat cowok high quality!" Masih tak sadar, Bian malah memuji laki-laki lain di depan Skala.
"Hah...., kalau dia high quality apa loe ga lihat didepan mata loe ada laki-laki dengan superior quality."
"Hem, superior tapi ga dewasa, kayak bocah," cibir Bian.
Mereka terus berdebat dan tak ada yang mau mengalah. Lautan seolah ikut kesal dengan tingkah keduanya, kapal itu tiba-tiba diterjang ombak besar, Bian terjerembab jatuh ke depan dan tanpa sengaja menubruk Skala, keduanya jatuh terbaring dan tanpa sengaja bibir Bian menempel sekilas ke bibir suaminya.
Melebarkan manik matanya, Skala memilih melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu erat. Bian yang terkejut dan berusaha bangun terlihat tak bisa bergerak sama sekali.
"Loe tahu? ga sembarangan gadis boleh nyium bibir gue." Ska memandangi mata dan wajah Bian yang masih terbaring di atas badannya.
Memerah, Bian hanya berharap bunyi detak jantungnya tak sampai terdengar di telinga suaminya. "Apa elo mau bilang kalau Felisya bukan gadis sembarangan? apa tadi loe pikir ciuman? gue ga ngerasa."
Skala mengedikkan pundaknya, tersenyum tipis sambil membuat ekspresi menjengkelkan."Loe udah nyium gue, jadi gue denda loe lima ratus juta," ucap Ska.
"Kemarin loe meluk gue. Loe juga harus kena denda tau, dan lagi sekarang ngapain loe meluk gue kayak gini, lepasin gak?" bentak Bian.
Ska membanting tubuh istrinya ke samping, mengungkung tubuh ramping Bian di bawah badannya. Wajahnya mendekat ke arah muka istrinya. Bianca hanya bisa membeku, secara naluriah ia memejamkan matanya, tapi bukan ciuman yang ia dapat melainkan bisikan menjengkelkan di telinganya.
"Kenapa loe nutup mata? loe pengen ciuman beneran sama gue?" goda Ska.
Mata Bian melotot, dengan menggunakan lututnya gadis itu menendang tepat di bagian sensitif suaminya. Skala menjerit meratapi nasip anacondanya yang terkena hantaman mematikan dari Bianca.
"Jangan macem-macem loe sama gue," Bian mengepalkan tangannya ke arah Ska yang tengah kesakitan.
"Gue anggap kita impas, tapi awas kalau loe berani pegang-pegang badan gue lagi, gue ga akan tinggal diam, loe harus benar-benar bayar denda ke gue," cerocos Bianca.
_
_
_
_
_
_
LIKE
KOMEN
VOTE