NovelToon NovelToon
AIRLANGGA 2 Dewaraja Ring Medang

AIRLANGGA 2 Dewaraja Ring Medang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Fantasi / Fantasi Timur / Raja Tentara/Dewa Perang / Ilmu Kanuragan
Popularitas:280.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Hancurnya Istana dan Kotaraja Wuwatan Mas oleh serangan Ratu Lodaya membuat Prabu Airlangga harus mengumpulkan kembali keluarga dan para pengikutnya yang tercerai-berai. Satu tekad nya untuk mengembalikan kejayaan Kerajaan Medang, membuatnya harus membuat perjanjian dengan Dewa-dewa dari Kahyangan Suralaya tentang nasib anak keturunannya kelak.



Dukungan dari seluruh rakyat Medang juga keluarga besar nya membuat semangat Prabu Airlangga kembali membara untuk mengembalikan kejayaan Kerajaan Medang seperti para leluhur nya.



Berhasilkah Prabu Airlangga mengembalikan Kerajaan Medang seperti dahulu? Simak selengkapnya dalam kisah AIRLANGGA 2 Dewaraja ring Medang. Di jamin seru dan mendebarkan. Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Pemuda dari Wanua Pulung

Demung Sempulur tertunduk malu mendengar celetukan Bancak. Prabu Airlangga sendiri geleng-geleng kepala melihat ulah manusia yang satu ini namun dia tidak berkata apa-apa karena sudah hapal dengan sifatnya.

"Sudah jangan banyak protes, Kakang Bancak.. Lebih baik kita urusi dulu orang-orang ini terutama pada perempuan itu", ucap Prabu Airlangga sembari menunjuk pada Rara Wuyung yang bersimpuh di tanah dengan pedang Parahita menempel di leher.

" Aduh, sampai lupa aku..

Ndoro Bekel, kasih saja dia racun supaya mau mengaku. Kalau kamu tidak tega, biar aku saja yang melakukannya ", teriak Bancak sambil petentang-petenteng melangkah ke arah mereka berdua.

" Jangan sembrono, Cak..

Cuma dia satu-satunya petunjuk tentang dalang dari percobaan pembunuhan ini ", himbau Doyok yang khawatir dengan sikap Bancak yang kadang-kadang seenaknya sendiri itu.

Bersama dengan Demung Sempulur, Prabu Airlangga mendekati Rara Wuyung. Mata raja Medang itu tajam menatapnya. Meskipun topeng separuh wajahnya belum di buka, akan tetapi Prabu Airlangga telah mengetahui bahwa ia adalah seorang perempuan.

"Katakan sejujurnya kepada ku, siapa kamu dan siapa orang yang menyuruh mu untuk menyatroni Istana Tanggulangin ini?"

Mendengar pertanyaan Sang Penguasa Kerajaan Medang, Rara Wuyung hanya diam saja. Kesal dengan sikap bungkam perempuan bertopeng separuh wajah ini, Parahita menekankan pedangnya ke leher Rara Wuyung. Tajam nya pedang Parahita membuat leher jenjang Rara Wuyung tersayat dan mengeluarkan darah segar.

"Cepat jawab, jangan diam saja! Kalau kau tetap bungkam, aku tidak keberatan untuk menusukkan pedang ku ke nadi leher mu perempuan iblis!! ", ancam Parahita keras.

" Ayo, bunuh saja aku!! Aku tidak takut untuk mati!!", lantang Rara Wuyung menantang Parahita. Hampir saja Parahita menusukkan ujung pedangnya yang tajam saking kesalnya dengan sikap keras kepala Rara Wuyung, namun tangan kekar Prabu Airlangga cepat menahannya.

"Sepertinya siksaan dan kekerasan tak akan membuat perempuan pembunuh bayaran ini menyerah, Hita..

Tapi sebelum dia mati karena racun mu, sebaiknya biarkan para pengikut ku untuk mencicipi kehangatan tubuh nya. Kakang Bancak, Kakang Doyok... Aku memerintahkan kalian untuk membuat perempuan ini merasakan kenikmatan surga dunia", perintah Prabu Airlangga segera.

Bancak dan Doyok yang mendengar perintah aneh dari raja mereka, saling berpandangan sejenak. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan mereka pun segera memahami ini adalah taktik penyiksaan pikiran yang sedang digunakan oleh Prabu Airlangga. Keduanya mengangguk mengerti dan bergegas mendekati Rara Wuyung. Tentu saja hal ini membuat dia ketakutan setengah mati.

Membayangkan bahwa ia akan di rudapaksa oleh anak buah Prabu Airlangga, pucat sudah wajah cantik Rara Wuyung. Apalagi saat Bancak dengan kasar meraih topeng bercat merah yang menutupi wajahnya, Rara Wuyung benar-benar tidak mampu menutupi ketakutannya.

Bagi seorang wanita, hancurnya kehormatan yang mereka miliki, akan menghancurkan seluruh hidupnya. Satu kali rusak, maka selamanya kehormatan itu akan hilang dan tak pernah kembali lagi.

"A-ampuni aku.. Ampuni aku.. Aku akan bicara, iya iya aku akan bicara tapi jangan nodai kesucian ku..", kata Rara Wuyung dengan bibir bergetar penuh ketakutan.

" Ka-kami adalah pembunuh bayaran dari pesisir pantai selatan. Kami dikenal sebagai 7 Setan Pembunuh. Kami di bayar tinggi untuk membunuh tamu yang ada di balai kehormatan Istana Tanggulangin.

Orang yang mengutus kami adalah orang dalam Istana Tanggulangin. Dia adalah Sang Pamgat ( Hakim Agung ) Mpu Krida ", imbuh Rara Wuyung segera.

Terkejut semua orang mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rara Wuyung. Terlebih lagi Demung Sempulur yang mengenal dekat Mpu Krida Sang Pamgat Kadipaten Tanggulangin.

Plllaaaaaakkkk..!!

" Apa kau sudah gila hingga berani melemparkan fitnah pada Sang Pamgat Kadipaten Tanggulangin hah?! ", teriak Demung Sempulur usai menampar muka Rara Wuyung.

"Aku tidak akan berani berdusta untuk hidup dan mati ku, Perwira...

Sang Pamgat Mpu Krida memberikan 200 kepeng emas sebagai upah untuk membunuh Gusti Prabu Airlangga. Katanya ini untuk membalas dendam kematian salah seorang kerabat dekatnya yakni Mpu Loma, bekas Mahamantri Tanggulangin yang terbunuh dalam pertempuran dulu", ucap Rara Wuyung dengan penuh kejujuran. Baginya kini, kejujuran adalah jalan satu-satunya yang ada agar dia tidak menjadi korban rudapaksa yang telah diperintahkan oleh Prabu Airlangga.

Hemmmmmmmm..

"Kau sudah mendengar nya sendiri bukan, Demung Sempulur?

Laporkan hal ini pada Adipati Kalang juga lekas tangkap Sang Pamgat Mpu Krida. Aku sendiri yang akan menggantung nya di alun-alun Kota Tanggulangin besok pagi", titah Prabu Airlangga.

" Sendiko dawuh Sinuwun Prabu... ", Demung Sempulur menghormat pada Prabu Airlangga sesaat sebelum bergerak melaksanakan tugas yang ia terima.

Malam itu juga Sang Pamgat Mpu Krida di tangkap oleh prajurit Tanggulangin atas tuduhan percobaan pembunuhan pada Prabu Airlangga dan pengikutnya di dalam balai tamu kehormatan. Berita itu dengan cepat menyebar di seluruh wilayah Kota Tanggulangin keesokan paginya. Apalagi pada saat matahari sepenggal naik ke ufuk timur, Mpu Krida di hukum gantung di tengah alun-alun Kota Tanggulangin.

Dua orang lelaki berewok dengan tubuh gempal dan tatapan mata tajam terus menatap ke arah panggung kehormatan dimana Prabu Airlangga dan para pengikutnya berada, menyaksikan hukuman mati untuk Mpu Krida.

"Prabu Airlangga muncul disini, Kakang Surosentono.. Kita harus segera melaporkan hal ini pada Sinuwun Prabu Wijayawarma di Wengker. Sepertinya pergerakan pasukan Medang dari arah Lewa itu hanya pancingan agar perhatian Wengker terfokus ke utara dan melonggarkan penjagaan di perbatasan wilayah Tanggulangin", ujar salah satu lelaki berewok itu segera.

"Kau benar Kartikasimha..

Sepertinya ini adalah cara orang Kahuripan memecah perhatian kita hingga mengendurkan kewaspadaan di perbatasan Tanggulangin dan menyerbu Kotaraja Wengker saat kita lengah. Huh, sungguh-sungguh licik. Ayo kita pulang ke Wengker", balas lelaki berewok lainnya yang cepat mendapat anggukan kepala dari kawannya itu.

Ya, kedua orang berewok ini adalah Kartikasimha dan Surosentono, dua orang perwira menengah Kerajaan Wengker yang ditugaskan untuk mengamati pergerakan Tanggulangin. Sudah satu purnama ini mereka tinggal di Tanggulangin dan kini mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kedua orang berewok itu langsung bergegas meninggalkan alun-alun Kota Tanggulangin dengan sedikit terburu-buru.

Prabu Airlangga dari atas panggung kehormatan yang melihat keributan kecil akibat sikap kedua orang itu, tersenyum tipis saja tanpa berkata apa-apa. Senyuman yang mengundang segudang misteri bagi siapapun yang melihatnya.

Setelah pengadilan terhadap Sang Pamgat Mpu Krida selesai, Prabu Airlangga memimpin 5 ribu orang prajurit Tanggulangin pilihan meninggalkan ibukota Kadipaten yang terletak di pesisir pantai selatan Samudera Hindia ini. Dalam rombongan ini, terdapat seribu orang prajurit bersenjata tombak, 2 ribu prajurit bersenjata pedang dan tameng, 1000 orang prajurit pemanah dan 1000 orang pasukan perbekalan terlatih yang juga handal dalam bertempur. Kesemuanya di bawah pimpinan Demung Mandaraka, seorang perwira sepuh yang cukup berpengalaman dalam peperangan.

Mereka bergerak menuju ke arah Pakuwon Sendang yang menjadi titik pertemuan dengan pasukan Medang seperti yang dijanjikan sebelumnya.

Melewati puluhan pemukiman penduduk yang masuk ke dalam wilayah Kadipaten Tanggulangin, dalam waktu 1 hari perjalanan, mereka memasuki perbatasan wilayah Kerajaan Wengker tepatnya di kawasan Wanua Pulung yang merupakan wilayah Pakuwon Sendang.

Kedatangan pasukan Tanggulangin di bawah pimpinan Prabu Airlangga tentu saja menyebabkan kehebohan bagi warga Wanua Pulung. Lurah Wanua Pulung, Warok Surontani tentu saja tidak ingin penduduk kampung nya celaka, cepat-cepat menemui pimpinan pasukan Medang. Bersama dengan beberapa sesepuh kampung dan dua putranya yang baru berusia 21 dan 18 tahun menemui pasukan Tanggulangin di timur pemukiman penduduk.

Prabu Airlangga yang bermaksud mendirikan sebuah tempat bermalam karena matahari sudah condong ke barat, berdiri menatap ke arah prajurit perbekalan yang sedang membangun tenda prajurit, dikejutkan dengan kedatangan Demung Mandaraka bersama dengan Lurah Warok Surontani dan para pengikutnya.

"Ada apa, Demung Mandaraka? Kenapa kamu datang tanpa diperintah? ", tanya Prabu Airlangga segera.

" Mohon ampun Gusti Prabu..

Para penduduk Wanua Pulung ini ingin menghadap pada Gusti Prabu Airlangga. Ada beberapa hal yang ingin mereka sampaikan ", jawab Demung Mandaraka sembari menghormat.

" Hemmmmmmmm begitu rupanya..

Para warga Wanua Pulung, ada perlu apa kalian kemari? Apa kalian keberatan dengan berkemah nya para prajurit ku disini? ", Prabu Airlangga menatap ke arah mereka silih berganti.

" Mohon ampun beribu ampun, Sinuwun Prabu. Hal yang seperti itu tidak mungkin kami berani melakukan nya.

Hamba pimpinan penduduk Wanua Pulung, nama hamba Ki Lurah Warok Surontani. Mewakili penduduk Wanua Pulung, saya memohon kepada Gusti Prabu agar tidak menghancurkan wanua ini. Kami bersedia untuk tunduk kepada Gusti Prabu Airlangga tanpa syarat", ucap Warok Surontani segera.

"Lantas apa jaminan nya kalian tunduk tanpa syarat kepada ku? Apa bukti tanda kepatuhan kalian kepada Kerajaan Medang? ", Prabu Airlangga menatap ke wajah tua lelaki berambut putih berbadan gempal ini.

" Eh ini.... ", Ki Lurah Warok Surontani kebingungan mencari cara untuk menjawab pertanyaan itu. Saat itulah, putra tertua nya segera menghormat pada Prabu Airlangga dan berkata,

" Hamba Surogati, putra dari Ki Lurah Warok Surontani bersedia untuk menjadi kaki dan tangan Sinuwun Prabu Airlangga", mendengar kakaknya maju, putra Ki Lurah Warok Surontani yang lain pun juga segera menghormat.

"Hamba juga bersedia untuk membantu Sinuwun Prabu Airlangga melawan raja lalim itu", mendengar jawaban dari sang putra muda ini, Prabu Airlangga segera bertanya,

" Siapa nama mu, anak muda? "

Mendengar pertanyaan dari Prabu Airlangga, si putra muda dari Ki Lurah Warok Surontani ini langsung menghormat pada sang raja Medang sembari berkata,

"Nama hamba Suropati.. "

1
Hadi Ghorib
ikut ngapalin
Ameng lia
cerita okk , mohon di lanjutkan
Ameng lia
sudah satu tahun belum update💪
Ardan
bagus bangetttt
Thomas Andreas
semoga airlangga gak terlambat
Thomas Andreas
pas satu tujuan
Thomas Andreas
siapakah mereka
Thomas Andreas
calon raja selamat
Thomas Andreas
gak bs kabur
Thomas Andreas
jahatkah mereka berdua
Thomas Andreas
msh iparan toh
Thomas Andreas
bantaaiii
Thomas Andreas
gagal menang deh
Thomas Andreas
udh pernah kabur aja lawan airlangga
Thomas Andreas
berhasil nyebrang
Thomas Andreas
lanjutkan
Thomas Andreas
majuuu
Thomas Andreas
mabuk sih jd kemalingan deh
Thomas Andreas
perang lagi
Thomas Andreas
ilmu baru lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!