NovelToon NovelToon
Jodoh Setelah Hijrah

Jodoh Setelah Hijrah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: As Cempreng

Ana Arista, gadis berusia 22 tahun yang hijrah dengan mulai memakai hijab. Namun, dia harus menerima kenyataan pahit saat pernikahannya dibatalkan dua minggu sebelum pernikahannya, karena alasan hijabnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon As Cempreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Hamdan berjalan kaki perlahan di kamar rawat inapnya sambil latihan pernafasan. Dia melirik Anna yang masih diam saja di sudut kamar sambil memandangi kumpulan obat TBC yang banyak di pangkuan.

Tatapannya meredup tak bisa marah karena setiap menatap mata Anna, putrinya itu langsung membalas dengan tatapan berusaha bersinar.

Kamu ini sudah tidak menganggap Abi apa? Masih tidak mau cerita! (Abi)

...****************...

Sementara di tempat lain,

Zani Dirgantara menyambut besannya yang datang dari Bandung. Handoko Alamsyah diajaknya ke lantai dua di ruang kerja. Ia merangkul dan mengharapkan sahabatnya itu ke arah taman belakang.

Handoko Alamsyah terpaku pada putranya yang duduk di kursi taman dengan empat bungkus rokok di atas meja aluminium, sepertinya tiga bungkus itu telah kosong.

"Begitulah pekerjaannya. Tak bisa diandalkan sepertimu. Tahu istrinya hamil bukannya menjaga, ini malah merokok!" Tatapan Zani begitu meremehkan.

"Akan kuperingatkan dia." Handoko keluar dari sana menyusul putranya. Bukanlah hal sepele bila Zani memintanya datang pasti sedang ada masalah dengan putranya.

"Apa kabar?" Tanya Handoko dengan sangat lembut, setelah duduk lama di samping Rustam.

Anaknya seperti tak berniat memadamkan rokoknya. Sebenarnya, Handoko bingung begitu melihat wajah putranya yang lebam terutama di pipi kanan itu, apa Zani melakukan itu pada sang putra? Kalau dia menanyakan ini pada putranya, bisa-bisa Rustam lalu bersikap kekanak-kanakan.

Sudah dua batang rokok yang dihisap Rustam saat Handoko diam saja sampai akhirnya Rustam menghela napas kasar lalu melirik sebentar ke bapaknya.

Tidak ada keinginan untuk menguji kesabaran bapak, tetapi Rustam sudah terbiasa dengan kemarahan dan teriakkan bahwa apapun akan berbelit-belit tetapi tidak sampai pada tujuan obrolan.

"Kemana perginya uang 45 juta yang kuberikan untuk Anna, Pak?" Raut wajah Alam memancarkan kemuakan, kebosanan dan banyak kata-kata yang akan dikeluarkan tetapi saat melihat bapaknya langsung menguap, percuma.

Rustam dengan logat Banyumasan begitu medok kembali bertanya karena tak dijawab. "Bapak beneran sudah kasih ke Anna?"

Handoko menoleh dengan pelan, dia lupa dengan uang tersebut saking sibuknya dengan pekerjaan yang diberikan oleh besannya. "Sudah dikasih, tentu saja!" katanya dengan mantab dia sudah jago berbohong dengan istrinya, kemungkinan puteranya pun asal mempercayakan juga.

Rustam membelalakkan mata, agaknya tak percaya. "Lalu kenapa Anna sampai diusir dari rumah? Tinggal di pinggiran sungai?Apa Anna berbohong pada Rustam padahal dia biasanya jujur_"

"Kau menuduh Bapak, Oh!"

Rustam langsung menggelengkan kepala. Dia semakin bingung. Lalu berdiri. Ingin dia mengecek sendiri. Akan tetapi tangannya ditarik bapak hingga terduduk dengan kasar.

"Kamu bertemu dia?"

Rustam mengembus napas kasar saat rokok ditangannya dirampas sang bapak. Dia berusaha memintanya kembali saat sang bapak menghisapnya. "Berikan itu Pak, jangan merokok!"

Handoko tersenyum simpul. "Lucu sungguh Rustam! Kamu yang seharusnya berhenti!Berhentilah merokok baru pantas kamu menyuruh bapak begitu."

"Anna dan aku kemarin bertemu di rumah sakit." Rustam dengan suara serak lalu bersikeras merebut rokok dari tangan bapak. Begitu bapaknya terkejut dia meraih rokok itu lalu membuangnya dan menginjak-injak dengan sandal. "Rustam nyaris memukulnya."

Handoko langsung melongo.

"Dia marah besar dan mengatakan semua apa yang ada di kepalanya." Rustam menatap nanar rokok yang diinjaknya, yang malang seperti Anna. "Rokok ini satu-satunya pelarian Alam .... Jangan larang Alam."

"Rustam, usaha yang kamu jalankan sendiri saja gulung tikar, kau gagal kan. Kalau alsu kamu sama dia mau jadi apa ... Jadi pemulung?"

"Bapak, pernah dengar istilah anak adalah cerminan dari orang tua?" lirih Rustam dengan tatapan lebih tajam.

"Bapak adalah kepala rumah tangga, saat ibu banting tulang untuk kita, bapak tanpa malu terus duduk manis di rumah. Sepertinya kegagalanku sejak dulu itu bawaan dari Bapak. Bapak tahu apa bedanya Rustam dengan Bapak ... ? Rustam itu terus berusaha walau gagal berkali-kali dan menurut Rustam itu wajar."

Rustam menghela napas berat lalu melanjutkan dengan perasaan getir. "Maaf Pak, Rustam benar-benar kecewa dengan diri Rustam sekarang. Rustam seperti kehilangan harga diri, saat kehidupanku terlalu diatur-atur. Kadang Rustam berpikir sepertinya mati dengan penyakit ini adalah pilihan terbaik daripada jadi pecundang, ya Pak? Bukannya penyakit ini telah merebut kehidupan Rustam. Rustam malu jadi parasit, Pak!" cebiknya dengan mata merah.

Dari lantai dua, Zani mengamati menantunya.

"Pih, kamu yakin Handoko bisa mengatasinya?" Tanya Zulaikha yang baru datang dan berdiri di sisi suaminya.

"Selama ini aku belum pernah kecewa. Hanya Handoko yang bisa membuat Rustam menurut." Zani merangkul bahu istrinya lalu menjauh dari ruang kerja.

"Ayo, kita bujuk putri kita. Setelah ini Rustam akan lebih memperhatikan Aram seperti sedia kala. Namanya juga anak muda, berantem adalah hal biasa. Seperti dulu kita ya, Mih!"

Zulaikha tersenyum lembut sambil membenarkan rambutnya kemudian dijepit lagi.

Di kamar, Aram juga memperhatikan Rustam. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang dibicarakan mereka? Apa tentang wanita kemarin?

Papi mertuanya bilang dia tak perlu mengkhawatirkan apapun. Katanya Rustam tidak akan memikirkan siapapun, tetapi Aram terganggu dengan apa yang dilihat matanya kemarin, dengan sikap Rustam yang lebih emosional. Untuk apa seemosional itu suaminya kalau sudah tidak ada rasa?

Aram mengelus perut besarnya saat sang jabang bayi menendang kuat. "Kamu akan memiliki papih terbaik, Putraku. Dan tidak ada yang boleh mengambilnya dari kita. Bahkan, walau dalam pikiran papimu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dihari ke empat, Hamdan diijinkan pulang. Azzam mengemudikan mobil saat matahari terbenam di ufuk barat. Ia menoleh ke pada umi yang diam melamun lalu Azam melirik spion tengah pada Anna dan abi.

"Kenapa kita ke sini?" Abi mengamati pelataran rumah dua lantai yang megah dengan lampu gemerlap.

Jantung Sarah berdegup kencang, tidak mungkin kan niatan Azzam tetap dijalankan. Bukankah abi sudah menolak dengan tidak mau mengontrak rumah yang lebih besar karena sayang dengan kontrakan yang kemarin, walaupun kecil tetapi hasil jerih payah sendiri.

"Abi, Umi? Untuk sementara kalian mau ya tinggal di sini. Azzam akan mengenalkan kalian pada Dokter Jacobs. Dia akan tinggal dilantai dua, tetapi sekarang Beliau masih transit di Doha."

"Dokter Jacobs itu siapa?"

"Beliau adalah ahli TBC, kehadirannya akan banyak membantu Kita."

"Azzam, kamu mendatangkan dokter dari mana?" Kening Sarah berkerut.

"Dari Perancis. Beliau sebelumnya sering menemani Azzam....."

Suara-suara di sekitar Anna menjadi senyap saat Anna terhanyut dalam dunianya sendiri.

Ana membenamkan wajah di kedua tangan. Malu memikirkan kebodohannya yang ditutup setan. Wahai diri, maafkanlah aku. Aku tidak membencimu, tapi tolong bantu aku sadar, sesadar-sadarnya kalau Mas Alam telah menentukan pilihan.

Kamu dan aku juga harus berubah haluan. Yuk, lepaskanlah Mas Alam. Biar saja Mas Alam bahagia, setidaknya kamu udah tahu kejelasan perasaan Mas Alam yang tidak membutuhkanmu lagi.

Tapi, aku juga masih sayang.

Ya Allah! Apa yang telah Anna lakukan? Apa Anna benar-benar menangis di depan Mas Alam padahal ada istrinya? Uhh! Sekarang jadi aku berhutang maaf ke mereka! Ya Allah sungguh aku tidak tahu lagi dengan diriku ini ....

Jangan murka , Ya Allah, hamba hanya manusia biasa. Maafin Anna yang tak sengaja menyakiti hati Aram, tetapi aku tak bermaksud begitu Ya Allah.

Anna ridho. Tolong berikanlah kebahagiaan ke Anna juga ...

Masa aku sedih sendirian, kan nggak adil Ya Allah? Jangan lama-lama Ya Allah, sakitnya. Kasian Bang Azzam yang nungguin Anna.

Abang sampai menggendong Anna yang pingsan. Anna malu! Semoga abang enggak jadi illfeel gara-gara sikap Ana. Aamiin.

Ana menoleh saat merasakan usapan jari yang terasa kasar di ujung matanya. Kristal bening yang terus menetes dari pelupuk matanya tenyata disadari Abi padahal di dalam kabin gelap. Untung Bang Azzam dan umi sudah turun dari mobil.

Dia menatap dengan sendu pada Abi yang tersenyum penuh kasih sayang. "Abi, Anna minta maaf udah banyak nyusahin Abi."

Anna menganga karena bagian atas jilbabnya ditarik sampai menutupi matanya oleh abi hingga pandangan matanya terhalang. Selanjutnya, wajahnya yang tertutupi itu diuwel-uwel Abi, persis seperti kebiasaan daat Anna kecil. "Abi ih rusak jilbab Nna!" rengeknya tetapi dia malah mendengar tawa abi yang seperti mendapat hiburan. Dia terkejut karena dipeluk dalam keadaan seluruh wajah ditutup.

"Kamu sudah besar aja, putri Abi?" suara Abi begitu dalam, Anna merasakan kehangatan pelukan itu.

"Anna masih kecil Abi."

"Iya kamu terus menjadi anak bayi bagi Abi." Hamdan meneteskan air matanya tanpa sepengetahuan Anna. Namun, suara serak itu diketahui Anna.

"Tadi Anna pingsan lalu digendong abang. Anna malu, Abi."

"Pingsan?" Terdengar Abinya berpikir.

"Hm!"

"Sudahlah nikah sekarang saja sama Azzam. Biar dia lebih bebas gendong-gendong kamu. Kamu tidak mau abi di neraka kan?"

"Maaf Abi, sumpah Anna tidak akan pingsan lagi. Anna juga inginnya cepat nikah koh ... tapi malu bilangnya ... Tapi mau nikah gimana, kan kita di isolasi! Abi ngga mau kita nularin penyakit ke tamu undangan kan?"

"Gimana kalau Abi tantang kamu tiga hari ini jawab lamaran Nak Azzam dulu. Lalu, kita mulai siapkan semua. Atau nikah agama dulu dengan protokol kesehatan yang hanya mengundang sedikit orang asal syarat nikah terpenuhi. Abi takut sekali kamu tergelincir_"

"Abi! Tolong percaya ke Anna!"

"Hush, mau percaya gimana kalau Azzam segitu gencarnya . Bikin Abi tak bisa tenang, Nak!"

1
mentur
Luar biasa
Naila Sakielaputri
ga paham
Asiani Yani
/Heart//Heart//Heart/
Yenni Ajah Lah
Lumayan
Ai Maswah
Luar biasa
falea sezi
pergi aja deh an keluarga Azzam toxic
Veronica Tri Widadi
lanjut thor
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
hiv berarti Rustam gonta ganti pasangan
falea sezi
Rustam sakit apa
falea sezi
azam. mana saat di butuhin minggat
Widi Widurai
kaya tau kisah inii.. tp dicritain siapa y 🤔
S.M YANIE 🇵🇸🍒⃞⃟🦅
semangat kak..
S.M YANIE 🇵🇸🍒⃞⃟🦅: sama sama kak, saling mendukung yah, karna aku baru belajar.
total 2 replies
Lafiza
Nyesek, Thor 😥
As Cempreng tikttok @adeas50: igh igk/Sob/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!