Fitnah keji membuat Selia harus menerima cacian dan hinaan yang begitu menyakitkan. Ia dicerai karena kedapatan tidur dengan kakak iparnya bahkan penjelasannya hanya dianggap omong kosong.
Apa yang dilihat belum tentu itu yang terjadi dan dibalik kejadian itu ada seseorang yang bertepuk tangan penuh kemenangan.
Harta, Tahta, Wanita. Tiga hal sensitif itu lah yang melekat pada diri Selia yang justru menjadi bumerang untuknya. Siapa pun yang menjadi suami Selia ialah yang akan menempati posisi CEO diperusahaan.
"Semakin kamu berusaha memilikiku, semakin aku membencimu!" Selia Salsabila.
"Aku hanya menginginkan Tahta, bukan dirimu!" Hiro Barayav.
Mampukah Selia membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah?
Lalu apakah Hiro berhasil memiliki Selia dan memiliki apa yang dia inginkan?
Simak ceritanya hanya di novel Naik Ranjang : Terjerat Sang Perebut Tahta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Mulai Membuka Hati
Harry menoleh pada Clara yang duduk disebelahnya. Gadis itu tengah tersenyum padanya padahal sikut dan lutut berdarah karena terluka akibat dorongannya.
Clara bahkan menawarkan bahunya untuk ia bersandar dan mengabaikan luka yang berdarah.
Tanpa mengatakan sesuatu Harry langsung menggendong Clara masuk ke dalam rumah sakit dan meminta dokter memeriksanya.
"Harry, aku nggak papa. Ini luka kecil nanti juga sembuh sendiri," kata Clara yang merasa Harry terlalu berlebihan.
Bagi Clara itu hanya luka kecil dan tidak perlu diperiksa oleh dokter. Hanya ditutup plester saja maka luka di sikut dan lututnya sudah tidak apa-apa.
"Aku nggak mau merasa bersalah karena sudah melukaimu."
"Iya, tapi nggak perlu diperiksa dokter juga, Harry."
Harry tidak mengherani perkataan Clara pria itu tetap meminta dokter untuk memeriksa dan mengobati wanita itu.
Sementara Clara diperiksa dokter, Harry duduk di kursi tunggu dengan kepala ia sandarkan pada dinding.
Kata-kata Hiro yang memberitahu bahwa Selia hamil selalu terngiang di ingatannya.
Ia terus bertanya-tanya bagaimana bisa Selia bersamanya tidak hamil tapi bersama Hiro wanita itu hamil.
"Sel, setelah kamu mengingat masa lalumu apa kamu melupakan aku?" lirih Harry bertanya pada dirinya sendiri.
Ia mencintai Selia dan hingga sekarang masih menunggu wanita itu bercerai dengan Hiro lalu kembali bersamanya.
"Apa aku harus merelakan kamu bersama Hiro. Aku mencintaimu dan aku masih menunggumu."
Tak lama pintu ruang gawat darurat terbuka dan keluar Clara dari dalam sana dengan sikut dan lutut yang sudah diobati.
Wanita itu menghampiri Harry yang masih menyandarkan kepalanya pada dinding dengan mata terpejam.
Memberanikan diri Clara menyentuh Harry dan menggoyangkan sedikit tangannya menyadarkan Harry bila dirinya sudah berdiri di hadapannya.
"Clara."
Harry langsung bangkit dari duduknya setelah membuka mata dan melihat Clara ada di hadapannya.
"Lukamu sudah diobatin?" tanya Harry mengangkat tangan Clara dan memeriksa sikut wanita itu.
"Sudah, Harry. Makasih kamu sudah meminta dokter mengobati lukaku," jawab Clara dan Harry menganggukkan kepala.
"Kamu tadi sedang apa di rumah sakit? Bisa-bisanya datang saat aku dan Hiro sedang berkelahi."
Clara menggigit bibirnya. Menatap ragu mata Harry kemudian dengan ragu-ragu menjawab.
"Aku mengikutimu," jawab Clara.
Harry tersenyum sinis namun ia cukup senang Clara mengikutinya sehingga bisa melerai perkelahian antara dirinya dan Hiro.
"Lain kali nggak usah ngikutin aku apa lagi coba-coba melerai aku dan Hiro yang sedang berkelahi," kata Harry sambil mengusap puncak kepala Clara kemudian berlalu.
Clara terdiam mematung kemudian menyentuh kepala yang baru saja Harry sentuh.
Bibirnya tersenyum lebar dan buru-buru mengejar Harry yang sudah berjalan lebih dulu. Entah mengapa ia merasa ada harapan bisa bersama Harry. Pria itu tidak sekaku saat pertama kali bertemu dengannya.
Clara berjalan di belakang Harry dan mengikuti langkah kaki pria itu namun Harry tiba-tiba berhenti membuatnya seketika menubruk punggung pria itu.
"Aw!" Clara mengusap keningnya. Membentur punggung Harry cukup membuatnya kesakitan.
"Sudah ku bilang jangan mengikutiku." Harry membalikan tubuh dan menatap Clara. Kening wanita itu terlihat memerah.
"A-aku ... aku kan mau pulang," elak Clara langsung melanjutkan langkah kakinya.
Sudut bibir Harry terangkat melihat Clara yang salah tingkah.
"Arah keluar kearah sana," kata Harry sambil menunjuk arah yang berlawanan dengan Clara berjalan.
Clara kembali menghentikan langkah kakinya kemudian buru-buru berlari kearah keluar rumah sakit.
Lagi, Harry mengulas senyum melihat tingkah Clara.
*
*
Jangan lupa dukungannya ya.. 😍
smga kedpan nya Harry mnemukan cinta sejatinya. 😊