Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh tunangannya, Rubi terpaksa menikahi Rexa, seorang pria luntang lantung yang baru tadi malam dikenalnya secara tak sengaja. Hal itu terjadi lantaran Rubi tak bisa menghindari pernikahannya yang akan diadakan esok hari.
Sementara pria yang bernama, Rexa, iya iya saja saat Rubi menawarkan sebuah pernikahan kontrak dengannya selama 31 hari, karena dia tak punya tempat tinggal dan tak memiliki uang sepeser pun.
"Deal, 31 hari kita bercerai!" ucap keduanya saling berjabat tangan.
Bagaimana lika liku rumah tangga yang dijalani oleh dua orang asing selama 31 hari?
Dan siapa sebenarnya, Rexa? pria pengangguran yang sering kali disebut mokondo oleh keluarga Rubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PT GARMINDO
Senyum sumringah tersungging dibibir Rubi, hingga lesung pipi si pemanis wajahnya nampak semakin kempot saja. Untuk pertama kalinya dia di antar kerja oleh seorang pria dan pria itu yang tak lain adalah suaminya sendiri. Namun, ketika Rubi mengingat pernikahannya yang tak akan berlangsung lama, senyum sumringah itu perlahan memudar dan terganti oleh senyuman getir.
"Ingat, Rub. Pernikahan kamu cuma sementara. Dan tak lama lagi kamu akan menjadi seorang janda," ucap batin Rubi.
Rexa menarik tangan Rubi dan dirapatkan kembali pada pinggangnya saat tangan istrinya itu terasa mengendur.
Rubi terkejut atas apa yang Rexa lakukan. Tapi entah mengapa, dia sama sekali tak merasa risih dan enggan menolaknya.
"Pegangan yang kuat, Rub. Aku mau mempercepat laju motornya biar cepat sampai," kata rexa dengan suara agak keras sebelum istrinya itu merepet marah.
Rubi mengangguk pelan, kemudian merekatkan kembali pegangan tangannya.
Rexa mengulum senyumnya di balik helm. Di luar dugaan, ternyata istrinya itu tidak marah melainkan justru menurutinya. Lalu 'ngeeeng' motor itu melesat secepat kilat.
"Reeex, jangan kencang-kencang bawanya, Reeeex. Aku takuuuut," teriak Rubi di tengah motor itu melaju pesat.
Rexa tersenyum. Jalanan yang masih sepi membuatnya leluasa mengebut sesuka hatinya. Sedangkan yang diboncengnya ketakutan luar biasa karena tak biasa.
"Makannya pegangan yang lebih kuat lagi, Rub," sahut Rexa.
Rubi menuruti perintah Rexa. Dia semakin melekatkan tubuhnya pada tubuh Rexa hingga tak menyisakan celah barang sesenti pun.
Kali ini senyum Rexa terkembang lebar. Pagi yang terasa begitu dingin kini berubah menghangat, karena sang istri memeluk punggungnya dengan erat.
Satu jam berlalu. Motor matic yang dikendarai oleh Rexa kini sudah tiba di depan sebuah pabrik dimana Rubi, istrinya selama ini mencari nafkah untuk keluarganya termasuk untuk dirinya. Sebuah pabrik yang cukup besar dengan gerbang yang menjulang tinggi. Dan ditengah gerbang itu terdapat nama pabrik 'PT GARMINDO'.
Pabrik itu masih nampak sepi, hanya terlihat beberapa wanita berseragam yang sedang lalu lalang di luar pintu gerbang yang masih tertutup rapat. Karena biasanya gerbang itu akan dibuka sekitar pukul tujuh pagi. Dan di samping gerbang itu terdapat sebuah pos satpam beserta dua orang satpam.
Kali ini Rubi datang setengah jam lebih cepat dari biasanya, karena Rexa melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata. Kemudian Rubi turun dan membuka helm yang menutupi kepalanya.
"Rex, ini helm nya!" Rubi menyodorkan helm nya ke arah Rexa yang masih duduk di atas motor. Dan tatapan nya mengarah pada gerbang bertuliskan nama 'PT GARMINDO'.
"Rex, ini helm nya!" Rubi mengulang ucapan nya karena suaminya itu tak kunjung merespon.
Dan yang kedua kalinya ini pun membuat Rubi mendengus sebal, karena suaminya masih saja belum kunjung merespon.
"Dia kenapa sih diam aja?"
Karena merasa heran terhadap sikap Rexa yang diam saja, Rubi mengikuti arah pandangnya dan diam sejenak, lalu manggut-manggut pelan. Kini dia mengerti kenapa suaminya itu diam saja. Ternyata suaminya itu sedang memperhatikan tiga orang wanita berseragam yang sama dengannya sedang berjongkok di depan gerbang tepat di bawah tulisan 'PT GARMINDO' sambil memakan cilok.
"Dasar playboy cap kudanil," ucap bathin Rubi dengan sebal. Lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Rexa.
"Rexaaaaaaaaa."
Telinga Rexa berasa seperti disambar petir di pagi buta. Dia terperanjat dan buru-buru membuka helmnya. Mengorek-orek kupingnya yang terasa mendengung.
Tak hanya mengejutkan Rexa, suara Rubi yang menggelar itu pun membuat semua mata memandang ke arahnya dan Rexa. Termasuk seorang pria berwajah bengep dan terdapat perban di pelipis matanya. Pria itu termangu melihat Rubi sedang bersama dengan seorang pria yang jauh berbeda dengannya. Jauh lebih tampan, lebih macho, dan juga berkulit putih.
"Ya ampun, Rub, Rub. Kenapa harus teriak-teriak sih. Saya di depan mu bukan di seberang lautan," kesal Rexa.
"Ya, badan mu memang disini. Tapi telingamu di seberang lautan sana makannya harus ku teriaki biar kedengaran," sindir Rubi yang tak kalah kesal.
Rexa menghela nafas pendek dan menatap diam istrinya itu sesaat. "Yaa maaf. Emang ada apa?"
"Nih!" Rubi menyodorkan helm ke arah Rexa.
Bibir Rexa membentuk huruf O melihat helm itu lalu meraihnya dan di letakkan di atas pijakan kaki.
"Udah sana pulang!"
Rexa tak menanggapi perintah Rubi yang memintanya untuk pulang. Pandangannya di arahkan kembali ke arah pintu gerbang. Dan di pintu gerbang itu masih terdapat tiga orang wanita tadi.
Sadar jika suaminya itu tidak menanggapinya dan kembali melihat ke arah wanita yang sedang makan cilok itu, Rubi lantas menjewer telinganya.
"Pulang Rexa, pulaaaaanng," ucap Rubi sambil menarik kuping Rexa sampai kepala Rexa miring ke kiri mengikuti tarikan Rubi.
"Aduh, Rub, Rub, sakit Rubiii.." Rexa meringis sambil memegang telinganya yang dijewer Rubi.
Setelah puas menjewer Rexa, Rubi melepaskan tangannya. Mukanya berubah merengut." Makanya cepat pulang. Dasar jelalatan," ucap Rubi, kemudian beranjak.
"Hah!' Rexa terbengong memandang istrinya yang semakin menjauhinya." Jelalatan. Apa maksudnya mengatai ku jelalatan?" Rexa bingung.
Sebelum meninggalkan tempat kerja Rubi, Rexa kembali memandangi nama 'PT GARMINDO'. Dia merasa nama itu seperti tak asing di matanya serta di telinganya. Rexa mencoba mengingatnya.
Pluk
Sebuah tepukan mengejutkan Rexa sekaligus memutus ingatannya. Dia menoleh ke arah kanan. Seorang pria bertubuh cungkring, berambut ikal, dan berwajah bengep persis seperti habis dikeroyok lebah tersenyum sinis.
Rexa mengerutkan keningnya." Maaf anda siapa ya main tepuk pundak saya? Dan....." Telunjuknya di arahkan ke muka pria itu." Muka anda kenapa bonyok gitu? Apa anda habis adu jotos?"
Decakan kesal pun terdengar keluar dari mulut pria itu." Kamu mau tau siaaaaa................" Ucapan pria itu mengayun di udara melihat Rubi sedang berjalan ke arahnya sambil memasang wajah sangarnya. Pria itu kembali mengatupkan mulutnya dan bergerak mundur beberapa meter.
"Sayang, kenapa belum pulang? Udah sana pulang. Nanti sore aku jemput lagi ya!" Rubi mendekati Rexa lalu mengelus tangannya membuat suaminya itu melongo. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sikap istrinya itu mendadak manis sekali.
Rexa meletakkan punggung tangannya di kening Rubi." Are you okey?"
Rubi tersenyum dengan senyuman yang dipaksakan." Ya, iya. I....i oke." Rubi tergagap. Kemudian meraih tangan Rexa yang menempel di keningnya dan menciumnya dengan ta'jim.
Rexa semakin terbengong. Perlakuan istrinya kali ini seperti layaknya seorang istri sungguhan menyalimi tangan suaminya.
Sedangkan pria berwajah bengep itu menatap tercengang ke arah pasutri yang nampak mesra di mata orang lain termasuk di matanya.