Pertemuan pertama kami hanya di dasari oleh menolong sesama. Menolong gadis kecil yang sedang di kejar - kejar oleh pria hidung belang. Dan menolong diriku yang sudah di tagih menikah oleh orang tuaku.
Siapa sangka akan ada hadirnya cinta di antara kami berdua. Aku tak pernah memperlakukannya dengan kasar. Karena aku tahu gadis ini sudah sangat tertekan dengan kehidupannya.
Dari awal pertemuan kami, gadis itu telah merebut sebagian hatiku. Melihatnya menangis tersedu - sedu membuat hatiku perih.
Namaku Muhammad Devan Melviano. Aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku yang bergerak di bidang real estate yang bernama Melviano Corporation. Di usiaku yang ke 24 tahun ini aku sudah di suruh menikah oleh orang tuaku.
Gadis yang cantik itu bernama Chalista Indriana Safitri. Gadis cantik yang di jual oleh ibu tirinya sendiri kepada pria hidung belang.
Aku selalu berharap agar selalu bahagia bersamanya.
Chalista Indriana Safitri, aku mencintaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagyta Salma Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 32 - Ah, Setan!
"Lama - lama drama yang di perankan oleh Papa dan Mama membuatku muak sampai ingin muntah sekarang juga" batin Devan sembari menyunggingkan senyuman getir di wajahnya yang tampan.
Sementara Devan yang menyunggingkan senyuman getir di wajahnya, Dylan dan Serena justru melanjutkan drama yang di mainkan oleh mereka berdua. Seakan - akan mereka tidak tahu umpatan dari Putra Pertamanya yang sudah merasa sangat muak dengan drama yang di mainkan oleh sepasang Suami Istri ini.
"Sayang, ikutilah apa kataku" bujuk Dylan dengan memasang ekspresi wajah memelas di wajahnya.
Serena semakin membulatkan kedua bola matanya mendengarkan penuturan dari sang Suami yang tepatnya adalah sebuah perintah. Serena mencoba beberapa upanya untuk melepaskan tangan lembutnya dari cekalan tangan kekar milik sang Suami.
"Tidak mau, dan tidak akan pernah" jawab Serena dengan nada galaknya sembari melakukan beberapa upaya untuk melepaskan tangan lembutnya dari cekalan tangan kekar milik sang Suami.
Dylan memalingkan pandangannya ke segala arah. Serena yang menyadari adanya peluang bagus untuk melepaskan dirinya pun segera melancarkan aksinya.
Serena mencubit keras perut sixpack milik sang Suami. Sontak saja Dylan mengaduh kesakutan dan melepaskan tangan lembut milik sang Istri dari cekalannya.
Serena langsung berlari terbirit - birit menuju ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur. Dylan yang menyadari akan kepergian sang Istri pun hanya bisa pasrah sembari mendudukkan dirinya di atas kursi milik Putra Pertamanya, yaitu Devan.
"Mau minta maaf tapi nggak bisa. Gimana mau minta maaf coba, orang belum minta maaf dianya udah ngomel - ngomel duluan. Huh, dasar singa betina yang kelaparan" gerutu Dylan sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Haduh, Papa Dylan mah jahat banget. Masa Istri sendiri di sebut singa betina yang kelaparan. Kalau Mama Rena di sebut singa betina yang kelaparan, berarti Papa Dylan itu singa jantan yang kelaparan. Benar kan?
"Papa, Oma, Opa, Vin, Devan mau ke kamar dulu. Mau ganti baju" ucap Devan dengan senyuman lembut yang tersungging di wajahnya.
Dylan, Hanna, Adhitama, dan Devin pun mengerti apa arti dari perkataan Devan tersebut. Dylan, Adhitama, dan Devin hanya menanggapi perkataan Devan dengan sebuah senyuman kecil yang tersungging di wajah laki - laki tiga generasi yang tampan tersebut.
"Baiklah. Pas kamu sama Chalista fitting baju nanti jangan lupa nanti pilih baju yang bagus - bagus buat Calon Cucu Menantuku. Dan juga untuk kamu tentunya. Oma ingin kalian berdua menjadi pasangan yang paling serasi di dunia ini" ucap Hanna sembari memberikan kedua jempolnya kepada Cucu laki - lakinya.
"Oke bos kuuu" ucap Devan sembari memberikan dua jempolnya kepada sang Mama.
"Asyik banget sih yang udah punya Calon Bini. Mana akad nikah tinggal beberapa hari lagi. Kalau udah nikah nanti mah di pelukin terus" sindir Devin kepada sang Kakak yang akan segera menikah.
"Hahaha, maka dari itu nikahilah Alesha. Biar kamu merasakan apa yang nanti akan Kakak rasakan. Jangan kelamaan pacaran, nanti nggak jodoh nangis kamu" ucap Devan dengan tertawa kecil sembari menatap wajah sang Adik yang sudah kusut seperti baju yang belum di setrika.
"Dasar Kakak laknat. Senang banget ngelihat adiknya menderita. Nanti Devin juga bakal nikahin seorang gadis, entah itu siapa. Emm, dua gadis juga nggak papa kok" ucap Devin sembari tertawa kecil menatap wajah sang Kakak.
Pletak
"Kamunya emang nggak papa Devin. Tapi kalau perempuan mana ada yang mau di madu. Perempuan itu kelihatannya aja tegar, namun sebenarnya perempuan itu sangatlah rapuh" ucap Dylan sembari menjitak pelan kepala Putra Keduanya.
"Seperti Chalista?" batin Devin sembari tersenyum getir ketika mengingat Calon Istrinya itu.
"Aduh. Dasar Papa yang sangat jahil tingkat dewa. Kegemarannya kok nyiksa anak sih" ringis Devin sembari memegang kepalanya yang di jitak oleh sang Papa.
"Emm, Pa, Oma, Opa, Vin, Devan ke kamar dulu ya" ucap Devan dengan senyuman lembut yang tersungging di wajah tampannya.
Devan menggeser kursi milik sang Papa dengan perlahan. Setelah kursi sang Papa sudah agak sedikit mundur, barulah Devan mulai beranjak berdiri dari duduknya.
Dengan perlahan Devan melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan dan akan menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Satu per satu anak tangga pun Devan tapaki dengan perlahan. Tanpa terasa kini Devan telah tiba di depan pintu kamarnya.
Devan membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Setelah pintu terbuka, barulah Devan bergegas memasuki kamarnya. Tak lupa untuk Devan kembali menutup pintu kamarnya. Karena privasi itu sangatlah penting untuk di lindungi dari dunia luar.
Tring
Suara dering notifikasi aplikasi Whatsapp dari ponsel Devan membuat Devan menghentikan langkahnya. Karena penasaran dengan apa isi pesan tersebut dan siapa yang mengirimkannya, Devan pun akhirnya mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja nakas di dekat tempat tidurnya.
"Selamat pagi Tuan Muda Devan"
Itulah isi dari pesan yang masuk di ponsel Devan melalui aplikasi Whatsapp. Untuk nama sang pengirim adalah Audy, si sekertaris ganjen.
"Selamat pagi "
Devan pun membalas pesan dari sekertaris ganjennya tersebut. Sebenarnya Devan tahu apa tujuan dari sekertaris ganjennya tersebut. Namun Devan hanya berniat membalas pesan dari sekertaris ganjennya. Tidak ada maksud tertentu.
Tiba - tiba saja Devan teringat akan kontak Chalista. Dengan segera Devan mencari kontak Chalista di dalam aplikasi Whatsappnya. Devan berniat mengirimkan pesan kepada Chalista bahwa fitting bajunya akan di laksanakan pagi ini.
"Lista, ini Kak Devan. Kamu segeralah bersiap - siap karena Kakak akan segera memjemputmu. Kakak ingin melakukan fitting baju pada pagi hari karena Kakak ingin segera menyelesaikan semua pekerjaan Kakak sebelum kita menikah nanti"
Begitulah isi dari pesan yang di kirimkan Devan kepada Chalista, seorang gadis yang sudah berstatus menjadi Calon Istrinya.
Sesudah mengirimkan pesan kepada Calon Istrinya, Devan segera berjalan ke arah lemari pakaiannya. Devan pun membuka pintu lemarinya dengan perlahan. Devan mengambil salah satu baju santai berwarna navy dengan bawahan celana jeans berwarna senada dengan warna bajunya.
Devan memang sengaja memakai stelan baju santai. Karena ini juga fitting baju acara santai, bukannya formal seperti bertemu klien atau meeting di kantor.
Devan juga berencana untuk melakukan fitting baju dan pemilihan cincin sebelum kembali bergulat dengan berkas - berkas yang menumpuk di mejanya.
Devan pun segera mengganti pakaiannya dengan baju santai dan celana jeans yang telah di pilihnya tadi di ruang ganti yang ada di kamarnya.
Seusai mengganti pakaiannya, terlihatlah Devan yang sangat tampan dengan stelan baju santai berwarna navy dan celana jeans berwarna senada dengan bajunya.
Uwuu, Author kok jadi gemeeesh sendiri sama babang gantengnya Author. Jadi kepengen nyubit pipinya deh. Boleh nggak nih babang gantengnya Author?
Sebelum keluar dari kamarnya, Devan menyempatkan dirinya untuk mengecek penampilannya dengan bercermin terlebih dahulu.
"Umm, akui saja padaku bahwa aku ini tampan. Benar kan? Buktinya saja banyak wanita yang tergila - gila padaku. Bahkan mereka rela menjadi wanita yang murahan dan tidak punya harga diri demi untuk menjadi pacarku dan memiliki diriku. Maaf, tapi aku tidak menyukai para wanita - wanita murahan itu" ucap Devan ketika melihat pantulan dirinya di cermin yang besar sembari tertawa kecil.
Babang gantengnya Author ini sukanya narsis terus sih. Jadi pengen di cemplungin ke sungai musi nih. Eh, jangan deh. Nanti babang gantengnya Author tenggelam dan nggak ada lagi di sini.
"Devan, Devan, pesonamu ini mengalahkan para Oppa - oppa di korea sana" ucap Devan sembari tersenyum senang menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar.
Setelah puas menatap pantulan dirinya sendiri melalui cermin yang besar, Devan segera berjalan keluar dari kamarnya.
Devan membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Serta tak lupa untuk kembali menutup pintu kamarnya.
Devan berjalan dengan perlahan menuju anak tangga yang akan membawanya ke lantai dasar. Satu per satu anak tangga pun berhasil di lewati oleh Devan dengan perlahan.
Kini Devan sudah berada di lantai bawah. Terlihatlah di bawah sana sudah ada sang Opa, sang Oma, sang Papa, dan sang Adik yang sedang menonton berita pagi di ruang keluarga.
Ketika Devan menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruang keluarga ada satu hal yang membuatnya sangat - sangat terkejut. Yang membuat Devan terkejut adalah penampakan seorang perempuan yang mengenakan masker wajah yang berwarna putih, atau biasa di sebut dengan tissue mask.
Perempuan tersebut sedang berbaring di atas karpet tebal yang ada di ruang keluarga sembari memejamkan kedua matanya.
"Siapakah itu? Kenapa aku jadi merinding seperti ini? Apakah dia benar - benar setan sungguhan? " batin Devan yang menerka - nerka.
"Ah, setaaaaan!" teriak Devan dengan histeris yang mampu membuat gendang telinga siapa pun akan merasa kesakitan ketika mendengar teriakan dari Devan.
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏