Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.
Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.
Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?
Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.
Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabir Neraka
Cerlina terbangun dari tidurnya, menjerit kecil dengan keringat menetes dan napas terengah-engah. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari dirinya masih berada di kediaman Duke Requiem. Ia memeluk kedua kakinya dan gemetar, rasa takut masih menghantuinya. Sebuah ketukan di pintu mengagetkannya.
“Cerlina, kau baik-baik saja?” panggil Lao tenang. Cerlina menyelimuti diri dengan jubah dan membuka pintu hanya untuk menemukan Lao menatapnya dengan cemas. “Kau baik-baik saja?”
“...apa hari ini para tetua ada agenda khusus?” tanya Cerlina lirih.
“Aku tidak tahu, Cerlina. Kenapa kau menanyakan itu?”
“Bawa aku menemui mereka, ini mendesak,” pintanya. Lao mengerutkan kening, namun ia mengangguk dan memanggil beberapa pelayan untuk membantunya bersiap. Pria itu berjalan menuruni tangga dan melirik pada morning glory yang tumbuh di ujung tangga.
“Di mana para tetua?”
“Di kediaman Erika. Penjagaannya ketat, jadi kurasa mereka tidak akan mau diganggu siapapun meski itu dirimu, Lao. Memangnya kenapa?”
“Cerlina ingin menemui mereka, tapi aku tidak tahu alasannya. Kurasa sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kau bisa menguping pembicaraan mereka?”
“Duh, permintaanmu berat sekali. Aku bisa mengetahui mereka saja sudah kesulitan, dan kau memintaku menguping? Hampir semua tanaman di rumahnya sudah dibakar dan tanaman yang ada di dalam rumahnya sudah disihir agar tidak bisa diakses.”
“...aku mengerti. Bagaimana permintaanku untuk anggota baru SEW dari Phoenix? Ini sudah lebih dari seminggu,” balas Lao sambil memainkan sulur bunga cantik itu dengan tatapan dingin. Yang di seberang diam sejenak.
“Lord Phoenix mengamuk dan mengusirku keluar, menutup semua jalur komunikasi bahkan memerintahkan bawahannya untuk menolak kedatanganku. Maaf aku lupa memberitahumu karena…”
“Lupakan. Aku akan mengurusmu nanti, bocah. Bekerjalah dengan benar sebelum ku…”
“Kak Lao?” panggil Cerlina lirih. Wanita muda itu perlahan menuruni tangga dan mengelus bunga berwarna ungu gelap itu dengan sayang. “Kak Julian kok dimarahi?”
“Jangan membelanya, Cerlina. Dia tidak becus bekerja karena hal remeh,” balas Lao dingin, tangannya nyaris meremas bunga itu jika Cerlina tidak menahannya.
“Kak Lao boleh marah, tapi jangan lampiaskan ke bunga itu ya?”
“Kau terlalu baik, Cerlina,” ujar Lao sembari menghela napas berat. “Tapi kurasa itulah yang membuatmu berbeda dari kakakmu. Marie pasti sangat senang melihatmu tumbuh besar seperti ini.”
“Apa kita bisa pergi sekarang?” tanya Cerlina.
“Tidak sabaran, persis ayahmu. Baiklah, mari kita…”
“Tidak perlu, aku yang akan datang menemuimu, bocah,” sahut seseorang dengan suara sedingin es yang mampu membuat bulu kuduk meremang. Lao langsung membelakangi Cerlina dan mengarahkan ujung tombaknya pada seseorang bertudung hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Siapa kau?” bentak Lao. Orang itu tidak membalas dan fokus pada Cerlina yang gemetar hebat di belakangnya. “Kau tuli?”
“Oh diamlah, kau membuatku muak,” ujarnya sembari menjentikkan jarinya. Seketika itu juga tubuh Lao membeku, hanya tersisa bola matanya saja yang berputar liar. Orang itu berjalan mendekati Cerlina dan menarik wajahnya dengan paksa hingga menemukan ekspresi yang dia inginkan. Seringai perlahan terbit di wajahnya.
“Kenapa kau ketakutan, bocah? Bukankah kau berniat menemuiku?” tanyanya tenang. Air mata mulai menggenang di kedua mata topaz milik Cerlina, membuat orang itu makin senang dan meremas kedua pipinya cukup keras. “Kau sudah bertemu denganku, lalu kau mau apa? Melawanku? Bicara padaku? Atau diam mematung dan menangis?”
Cerlina menepis tangan berotot itu dan berusaha keras mengatur napas, namun setiap kali ia menghirup udara rasanya seperti memasukkan ribuan jarum kecil yang menusuk saluran pernapasannya. Ia melirik ke lelaki itu.
“Jangan melihatku dengan tatapanmu itu, gadis bodoh. Hanya karena kau seorang pendeta agung bukan berarti kau bisa melawanku. Kuasa surga saja belum bisa kau kendalikan,” cibirnya kalem. “Tapi aneh, kenapa kau masih hidup?”
“A-apa maksudmu?” tanya Cerlina. Pria itu diam, lalu berdecih dan mengepalkan tinjunya. Sebelum Cerlina kembali membuka mulutnya, lelaki bertudung itu menghantam pilar di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. Ia buru-buru meninggalkan kediaman Lao dengan amarah menguar dari dirinya. Setelah memastikan pria itu pergi, Cerlina berjalan pelan mendekati Lao dan mencoba melepaskannya dari sihir pembeku.
“Lina, Lina! Kau mendengarku? Sihirmu tidak bisa melepaskannya. Itu kutukan!” sahut seseorang. Cerlina memalingkan wajahnya dan terlihat bunga morning glory yang sama menempel di pundak Lao. “Tidak bisakah kau menggunakan kuasa surga milikmu?”
“A-akan kucoba, Kak Julian,” balasnya sambil mencoba fokus menciptakan sebuah bola cahaya putih temaram yang lembut, lalu mengalirkannya pada tubuh Lao. Setelah berkutat selama kurang lebih tiga menit, Lao perlahan mampu menggerakkan tubuhnya meski masih kaku.
“Terima kasih, Cerlina. Sialan, siapa bajingan yang merangsek masuk dengan pertahanan ketat…apa-apaan ini?” ujarnya heran ketika mengecek ruang tengah dan mendapati semua orang sudah tergeletak tak bernyawa. Cerlina menjerit, sementara Lao berjengit.
“Dia bukan orang biasa, Kak Lao,” cicit Cerlina sembari memeluk lengannya, tubuhnya kembali gemetar dan wajahnya seputih pualam. Lao mengetuk lantai dan kilas kehidupan mereka terputar di hadapan mereka. Terlihat pria bertudung itu berdiri di tengah pasukan penjaga tanpa senjata apapun di tangannya, berbanding terbalik dengan mereka yang membawa tombak dan pedang. Terdengar tawa mengejek dari balik tudung itu.
“Kau kira dengan senjata ditangan kalian bisa melumpuhkanku?” sindirnya. Tidak ada yang merespon, kewaspadaan mereka makin meningkat seiring aura berat yang dipancarkan pria itu. “Targetku bukan kalian, menyingkirlah kalau masih sayang nyawa.”
“Kami akan mempertaruhkan segalanya demi melindungi Pendeta Agung dan Duke Requiem,” sahut seorang. Pria itu tidak terkesan, lalu menyeringai. Dengan sekali ayunan tangan, semua yang ada di sana ambruk dan berhenti bernapas. Ia melanjutkan perjalanannya dan kilas balik itu berakhir. Lao menggelengkan kepala.
“Dia bukan musuh yang bisa dianggap remeh. Cerlina, aku mau kau tetap ada di sini sampai kita menyelesaikan semuanya. Kurasa, keinginanmu untuk menemui Saciel harus ditunda dulu,” ujar Lao tenang. Cerlina mengangguk lemas dan berlutut untuk mendoakan penjaga yang sudah tutup usia. Lao menghela napas dan menggenggam bunga morning glory dari pundaknya.
“Kemari dan ikut aku menemui Lord Phoenix. Semakin lama kita menunda ini, masalah tidak akan pernah berakhir. Lupakan Saciel untuk sementara,” ujar Lao dingin. Bunga di tangannya langsung layu dan Cerlina membuka matanya dengan setitik air mata mengalir.
“Saciel akan baik-baik, kan?” tanyanya.
“Paling tidak dia akan jauh dari musuh untuk sementara waktu, Cerlina. Dia akan kembali padamu, aku jamin itu,” balas Lao sembari mengambil jubahnya dan berjalan keluar dengan langkah tegap. Cerlina mengeluarkan emblem keluarga miliknya dan memeluknya seerat mungkin, seakan takut benda itu akan hilang menguap begitu saja.
“Dewa Oorun, tolong lindungi Kakak.”
salam dari Carlos'Revenge
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya
AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku