NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Master Penempa 2

Pintu lift kapsul raksasa itu bergeser terbuka dengan desisan uap panas yang tebal.

Wu Xuan dan rombongannya melangkah keluar menuju Ruang Penempaan Bawah Tanah Wu Imperial Guild. Tempat ini bukanlah sekadar bengkel pandai besi tradisional. Ini adalah keajaiban rekayasa modern yang dipadukan dengan sihir berintensitas tinggi.

Dinding-dindingnya dilapisi oleh paduan logam hitam yang mampu menahan panas ekstrem. Di bagian tengah ruangan raksasa ini, sebuah pilar kaca setebal dua meter mengurung aliran magma murni yang dipompa langsung dari mantel bumi. Tungku-tungku penempaan holografik berjejer rapi, dikelilingi oleh palu-palu hidrolik yang digerakkan oleh kristal mana.

Puluhan penempa—mulai dari asisten junior hingga master senior—sedang sibuk bekerja. Suara dentingan logam dan raungan api memenuhi udara. Namun, saat Tong Peng dan Goliath melangkah keluar dari lift, aktivitas di ruangan itu berhenti total.

"Master Tong! Master Goliath!"

Seorang penempa senior berseru, matanya terbelalak melihat dua dari sepuluh dewa penempa bumi berjalan berdampingan di bengkel mereka. Seketika, seluruh penempa di ruangan itu meletakkan palu mereka dan membungkuk hormat hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat. Di dunia di mana senjata adalah nyawa, penempa tingkat atas dihormati layaknya pahlawan.

Namun, baik Tong Peng maupun Goliath tidak mempedulikan penghormatan itu. Mata kedua raksasa itu hanya tertuju pada punggung pemuda berkemeja putih yang berjalan santai di depan mereka.

Wu Xuan berhenti di depan sebuah meja anvil (landasan tempa) berbahan obsidian murni yang kosong. Ia memutar tubuhnya, menghadap ke arah Tong Peng, Goliath, dan beberapa penempa senior Guild yang kini berkerumun dengan rasa segan.

Tanpa membuang waktu untuk basa-basi, Wu Xuan meraih gagang pedangnya.

Sring.

Pedang hitam itu ditarik perlahan dari sarungnya. Begitu bilah baja itu bersentuhan dengan udara panas ruang penempaan, suhu ruangan yang tadinya mendidih mendadak menurun.

Di dalam retina Wu Xuan, notifikasi dari sistem keluar.

[Sistem Tower (Biru): Pemindaian Dibatalkan. Mengklasifikasikan sebagai Artefak Kuno. Nilai Informasi Estimasi: 300.000 Poin Menara.]

Wu Xuan tersenyum sinis membaca deretan notifikasi itu.

'Sistem Menara sialan...' batinnya. 'Bisa-bisanya dia melempar harga yang mahal hanya untuk senjata kelas rendah.'

Para penempa senior yang mengaktifkan Skill Pemindaian mereka melalui Sistem Menara terkesiap. Angka tiga ratus ribu poin berkedip di atas pedang hitam itu. Itu adalah harga yang setara dengan tiga juta yuan! (Hampir 8 miliar rupiah).

"T-Tuan Muda..." suara salah seorang penempa senior bergetar, matanya tak bisa lepas dari pedang yang kini dihiasi urat-urat merah berdenyut itu. "Benda apa itu? Apakah itu Artefak tingkat tinggi milik Guild Master?"

Wu Xuan tidak menjawab. Ia hanya membiarkan energinya sedikit terlepas.

WUUUSSS!

Dari dalam bilah pedang hitam itu, ratapan kematian meledak. Bayangan ratusan Goblin, ratusan Orc Warrior, dan siluet raksasa dari Behemoth Orc serta Orc King meronta-ronta di sekitar pedang, seolah ingin keluar dari penjara baja mereka. Ilusi optik dari jiwa-jiwa yang tersiksa itu membuat ruangan penempaan berubah layaknya gerbang kematian.

Beberapa penempa junior jatuh terduduk, wajah mereka seputih kertas, kehilangan kendali tubuh karena terkejut.

BZZZT!

Tiga aura masif meledak secara bersamaan. Juhao, Tong Peng, dan Goliath melepaskan tekanan Mountain Tier mereka, menstabilkan aura pada ruangan itu.

Tiga pria kuat itu menatap pedang di tangan Wu Xuan dengan rasa penasaran.

"Demi Dewa Menara..." gumam Goliath, janggut merahnya bergetar. "Aku bisa mendengar tangisan monster di dalam baja itu. Tuan Muda... dari mana Anda menemukan senjata terkutuk ini?"

Wu Xuan menatap mereka dengan senyuman yang santai dan tidak merendahkan.

Di saat semua orang berasumsi ini adalah barang jarahan, seorang penempa senior yang lebih tua melangkah maju. Matanya menyipit, meneliti pangkal bilah pedang itu dengan saksama.

"T-Tunggu sebentar..." penempa senior itu mengusap matanya, tidak percaya. "Bentuk pelindung gagangnya... dan pola lipatan baja di bagian pangkalnya... Itu adalah tanda tempaku! Aku yang membuat pedang itu dua minggu lalu!"

Semua orang menoleh padanya.

"Kau gila?!" bentak penempa senior lain. "Itu adalah artefak senilai tiga ratus ribu poin!"

"Aku tidak gila! Itu adalah pedang baja karbon standar tipe 4! Senjata biasa yang diproduksi massal untuk latihan para prajurit baru!" Penempa senior itu menatap Wu Xuan dengan wajah pucat pasi. "Tuan Muda... aku berani bersumpah... sebelumnya, benda itu hanya pedang latihan biasa. Bagaimana bisa... bagaimana senjata murahan itu bisa berevolusi menjadi artefak iblis bertekanan seperti ini?"

Wu Xuan masih tidak menjawab. Ia melirik asisten yang berdiri di samping. "Xu Xin. Jelaskan pada mereka."

Xu Xin melangkah maju. Meskipun ia sendiri masih tidak percaya, ia mengatur napasnya dan berbicara dengan nada profesional.

"Pedang itu memang pedang baja biasa saat Tuan Muda mengambilnya dari ruang harta," jelas Xu Xin, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Tuan Muda tidak mendapatkan artefak ini dari bos Dungeon. Beliau menempa ulang pedang ini sendiri."

Hening.

"Menempa ulang?" Tong Peng mengerutkan kening, tidak mengerti, diliputi rasa penasaran yang dalam. "Bagaimana caranya?!"

"Cara Tuan Muda melakukan penempaan ulang..." lanjut Xu Xin, mengingat pembantaian di dalam Gate merah itu. "Beliau menarik jiwa dan esensi dari monster dan memaksukkannya ke dalam pedang dengan metode yang sama sekali tidak terbaca oleh Sistem Menara milikku."

Ruangan itu seakan kehabisan oksigen. Tong Peng dan Goliath saling memandang, keduanya terkejut.

Memasukkan jiwa ke dalam senjata? Bagaimana cara memasukan jiwa yang bukan fisik ke dalam pedang? Jika bisa pasti harus membutuhkan material konduktor spiritual yang harganya miliaran poin, serta altar ritual! Melakukannya secara langsung pada baja karbon biasa di tengah pertarungan? Itu sangat mustahil!

Wu Xuan akhirnya membuka suara. Nadanya mengalir santai namun dipenuhi dengan arogansi yang mendominasi.

"Seperti yang kalian tahu, semakin tinggi level seseorang, semakin tinggi akses informasi yang diberikan oleh Menara," ucap Wu Xuan sambil mengetukkan ujung pedangnya ke lantai obsidian. "Sistem kalian yang terbatas mencoba membaca pedangku, gagal, dan memilih melabelinya sebagai Artefak dari dalam Menara."

Wu Xuan menatap Tong Peng dan Goliath. Senyum tiraninya mengembang.

"Aku memanggil kalian berdua ke sini bukan untuk meminta sistem kalian. Aku ingin menguji mata kalian," tantang Wu Xuan. "Aku ingin tahu apakah penempa top dunia di bumi ini memiliki kemampuan untuk menilai kedalaman sebuah senjata tanpa bantuan sistem menara, atau kalian hanyalah budak dari Menara."

Tantangan itu sangat telanjang. Kesombongan yang diucapkan oleh seorang pemuda Level 11 kepada dua monster Mountain Tier.

Namun, bukannya marah, Goliath justru menyeringai lebar. Raksasa dari Norwegia itu tertawa keras, darah penempanya mendidih merasa tertantang oleh arogansi yang sangat murni ini.

"Menarik... Sangat, sangat menarik!" tawa Goliath, menyingsingkan lengan bajunya yang sebesar paha manusia. Ia menatap Wu Xuan dengan mata berbinar liar. "Menempa baja menggunakan jiwa monster sambil bertarung. Sebuah teknik yang mengabaikan hukum Tower. Katakan padaku, Tuan Muda... apakah kau bisa membuat senjata seperti ini dari awal?"

Wu Xuan tertawa pelan. Tawa yang seolah merendahkan jutaan tahun sejarah evolusi penempaan di bumi.

"Master Goliath," ucap Wu Xuan dengan nada elegan, menatap lurus ke dalam mata sang raksasa. "Di alam semesta ini, tidak ada satu pun senjata yang tidak bisa kutempa."

Kepercayaan diri itu membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

"Kata-kata yang luar biasa arogan tuan muda!" balas Goliath dengan semangat yang membara. Raksasa itu melangkah mendekati meja anvil obsidian. "Tapi aku tidak percaya pada kata-kata itu, Tuan Muda. Aku percaya pada bukti! Apakah kau bisa membuktikannya? Bisakah kau melakukan penempaan ulang seperti yang kau lakukan pada pedang itu, di sini, sekarang juga?!"

Di dalam benak Wu Xuan, sifat aslinya yang kelam dan arogan bersorak puas. Inilah yang ia tunggu-tunggu.

Wu Xuan tidak menolak.

Pemuda itu meletakkan pedang hitamnya di atas meja. Dengan gerakan yang sangat lambat, tenang, dan elegan, ia mulai membuka kancing kemeja putihnya, melepasnya, dan menyerahkannya kepada Xu Xin.

Di bawah cahaya tungku magma yang merah menyala, tubuh Wu Xuan terekspos. Tidak ada otot binaragawan yang berlebihan, melainkan struktur otot yang sangat padat, presisi, dan sempurna layaknya patung dewa yunani. Tidak ada satu pun bekas luka di kulitnya, karena Qi murni telah merekonstruksi selnya tanpa cacat.

Wu Xuan memutar lehernya sedikit hingga terdengar bunyi krak. Ia menatap dua raksasa penempa di depannya dengan senyum dingin seorang jenderal yang akan turun ke medan perang.

"Aku akan membuktikannya," ucap Wu Xuan, suaranya kini menggemakan otoritas kuno yang membuat magma di pilar kaca bergetar tak wajar.

Ia mengambil sebuah palu tempa berukuran sedang dari rak terdekat.

"Mundurlah, dan perhatikan baik-baik, karena Aku tidak akan menunjukkan ini dua kali." perintah Wu Xuan, matanya memancarkan pendar emas gelap dari Akar Spiritual Perpustakaan.

"Akan kutunjukkan pada kalian, para primitif yang bergantung pada menara... seperti apa cara menempa senjata yang sebenarnya."

Bersambung...

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mereka semua thor bikin mereka semua ada di telapak tangan permainan wuxuan
Fajar Fathur rizky
thor itu nanti pas wuxuan pulih kembali apakah dunia itu sanggup menanggung tingkatkan kultivasi wuxuan thor tolong di jawab thor
EGGY ARIYA WINANDA: Kalau kekuatan Wu Xuan (Dao Surgawi) gak sanggup, makanya di chapter satu ia mengirim wadah fisik yang lemah. 🥸👍
total 1 replies
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Hiatus
jejak dulu 👣👣
Hiatus
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Hiatus
/Slight/
Hiatus
/Hunger/
Hiatus
/Proud/
Hiatus
semangat 🔛🔥
Hiatus
/CoolGuy/
Hiatus
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Hiatus
👣
Hiatus
/Grimace/
Hiatus
/Slight//Proud/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!