NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Pergi Mengambil Air Suci

Evelyn mendengus meremehkan. "Tidak ada kata tega dalam kamus hidupku, Kaelen! Kau sendiri kemarin menyiksaku di altar hingga aku hampir mati. Tapi, apa kau merasa kasihan saat melihatku memohon waktu itu? Hah?! Tentu saja tidak! Kau tetaplah kau—pria kejam, arogan, sombong, dan tidak punya perasaan. Kau pria keras kepala yang egois!"

Evelyn membentak beringas sembari mencengkeram kuat kerah baju Kaelen, lalu menyeret tubuh lemas pria itu agar turun dari kasurnya.

"Kumohon, Evelyn... jangan lakukan ini!" rintih Kaelen pasrah.

Evelyn tidak peduli. Tidak ada rasa belas kasihan sedikit pun saat melihat kondisi parah pria itu di bawah siraman cahaya matahari pagi yang mulai menerobos masuk lewat celah jendela. Baginya, luka yang ditorehkan Kaelen dan penyiksaan di atas altar malam itu terlalu sulit untuk dihilangkan, apalagi dimaafkan. Dengan sentakan kuat, ia menjatuhkan tubuh Kaelen ke lantai.

Bruk!

Kaelen meringis kesakitan. Luka cambuk di sekujur tubuhnya kembali terbuka dan mengeluarkan darah segar, mengotori lantai kayu yang baru saja diterangi semburat fajar.

Evelyn melangkah maju, lalu menatap tajam ke arah Kaelen. "Cepat pergi dari sini, Kaelen! Sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar!"

Kaelen tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan sisa tenaganya, ia merangkak mendekat dan memeluk sebelah kaki Evelyn. "Aku tidak mau pergi, Evelyn... Jangan usir aku dari sini. Aku tidak mau berjauhan denganmu lagi. Aku membutuhkanmu."

Napas Kaelen tersengal, air matanya kian menderu di antara kilauan cahaya pagi. "Kondisiku sedang sekarat, Evelyn. Hanya kau, mate-ku yang menelan The Heart Pearl milikku, yang bisa menyembuhkanku. Jika aku berdekatan denganmu, maka luka ini akan cepat pulih. Aku mencintaimu, Evelyn... Aku tidak mau kehilanganmu."

"Hahaha! Kupikir kau ingin cepat mati!" Seringai lebar seketika terukir di bibir Evelyn. Tawa sinisnya menggema, memecah keheningan pagi di rumah sewa itu. "Bukankah kemarin saat menyiksaku, kau bilang tidak peduli jika aku mati? Kau bahkan bilang siap ikut mati bersamaku! Lalu, kenapa sekarang di pagi buta begini kau malah datang dan mengemis-ngemis cinta padaku, hah?!"

Evelyn merasakan kepuasan yang luar biasa bergejolak di dadanya. Rencananya sukses besar. Pria kejam yang dulu begitu berkuasa, kini tunduk dan bertekuk luluh di bawah kakinya di awal hari yang baru. Evelyn benar-benar menikmati setiap jengkal ekspresi kehancuran di wajah Kaelen saat ini.

"Aku hanya ingin hidup bersamamu selamanya... Jadi tolonglah, Evelyn, jadikan aku bagian dari hidupmu," mohon Kaelen dengan sangat.

Tangis pria itu pecah di atas lantai yang dingin. Sosoknya pagi ini tampak begitu mengenaskan dan menyedihkan di hadapan sang belahan jiwa.

"Kau sangat menyedihkan, Kaelen," Evelyn terkekeh sinis. "Menangislah sampai air matamu kering, tapi jangan harap aku akan menerima dan memaafkanmu. Aku tidak percaya kalau kau sudah berubah."

"Lepaskan tanganmu! Menyingkirlah! Aku masih banyak urusan. Terserah kau mau menangis hingga rumah sewa ini banjir oleh air matamu, aku tidak peduli!"

Dengan sentakan kasar, Evelyn menepis tangan Kaelen yang masih mencengkeram kakinya. Ia tidak lagi menghiraukan pria itu. Evelyn melangkah keluar dari kamar, lalu menyambar tas kecil dan ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu.

"Evelyn, kau mau ke mana?!" teriak Kaelen. Dengan susah payah, ia memaksakan tubuhnya yang ringkih untuk bangun dan mengejar Evelyn.

"Bukan urusanmu!" ketus Evelyn. Ia terus melangkah lebar menuju pintu depan.

Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup rapat, Kaelen berhasil menyelinap keluar.

"Aku ikut!" ucap Kaelen keras kepala.

Evelyn tidak repot-repot menjawab. Setelah mengunci pintu rumahnya dengan cepat, ia langsung berlari sekencang mungkin menuju ke arah halte bus.

Tampaknya Kaelen memang tidak mau menyerah. Dengan tubuh bersimbah darah dan napas yang terengah-engah, pria itu berlari terseok-seok di bawah terik matahari pagi demi mengejar Evelyn.

****

Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda... tepatnya di Hutan Perak Bukit Vespera.

Aelias, pria tampan berambut pirang keemasan, baru saja tiba di sebuah rumah kayu milik seorang Mage Naga yang terletak di puncak bukit. Ia berdeham kecil untuk mengatur napasnya sebelum mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

"Mage! Aku Aelias Vance!" serunya. "Apa kau ada di rumah?"

Tidak butuh waktu lama hingga terdengar derit pintu yang terbuka.

Krieeet...

Benjamin, sang pemilik rumah, melongokkan kepalanya dari balik pintu. Pria tampan berambut merah menyala itu sedikit menyipitkan mata. Ia terkejut melihat gerangan orang yang bertamu di waktu seperti ini.

"Kau... Aelias?" Benjamin menatapnya tak percaya. "Tumben sekali seorang Elf Cahaya dari dunia Ljosalfar datang jauh-jauh kemari? Sepertinya ada urusan yang sangat mendesak. Masuklah!"

"Tidak perlu, Mage. Aku hanya akan bicara sebentar saja," tolak Aelias halus.

"Kalau begitu, duduklah dulu di sini."

Mereka berdua akhirnya duduk di kursi kayu yang berada di teras rumah tersebut. Guratan wajah Aelias tampak sangat serius.

"Aku datang kemari untuk memberi tahu Anda bahwa keadaan di Ljosalfar sudah sangat kacau. Penduduk yang terkena penyakit kutukan jumlahnya semakin banyak," ujar Aelias dengan nada cemas. "Jadi, aku mohon padamu, Mage. Segeralah pergi ke sana bersama Archmage William. Tolong beri tahu dia juga. Aku terlalu sibuk mengurus rakyat Elf Cahaya, jadi aku harus segera kembali ke sana setelah ini dan tidak mungkin menemuinya secara langsung."

Benjamin sontak terkejut. "Kukira tidak akan sekacau ini. Padahal niat awal aku dan Master William baru akan berangkat sekitar empat hari lagi ke Alfheimr. Tapi melihat situasinya, sepertinya kami harus mempercepat keberangkatan. Beruntung, aku sudah selesai meracik ramuan dan mengumpulkan cukup banyak air suci untuk mengobati mereka."

"Hm, syukurlah kalau begitu, Mage. Kuharap kau bisa segera datang," helat Aelias lega. "Aku juga sedang terburu-buru dan harus pergi lagi setelah ini. Namun sebelumnya, apakah Anda bisa memberiku sedikit air suci untuk dibawa ke Alfheimr?"

Benjamin menggeleng pelan dengan raut wajah menyesal. "Maaf sekali, Aelias. Air suci itu sangat susah didapatkan. Aku sudah memastikan dan menghitung jumlahnya dengan pas untuk pengobatan massal nanti. Jika kau memang butuh air suci sekarang, kau harus mengambilnya sendiri ke sumbernya. Kau bebas mengambil berapa banyak pun, dan aku akan mengantarmu ke sana."

"Baiklah. Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Aelias tak sabar.

"Tentu saja." Benjamin pun berdiri dan berjalan ke arah halaman rumahnya.

Tanpa aba-aba, tubuh manusianya diselimuti oleh pendar energi magis yang pekat. Seketika, Benjamin mengubah wujud manusianya menjadi seekor naga perkasa bersisik hijau zamrud yang berkilauan. Naga agung itu merendahkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah Aelias.

"Naiklah ke punggungku," titah sang naga, suaranya menggema rendah.

"Apa Anda tidak keberatan jika aku—"

"Naiklah, tidak usah sungkan begitu agar kita bisa cepat sampai. Kau tadi bilang sedang sibuk dan terburu-buru, bukan?" potong Benjamin.

Aelias akhirnya mengangguk patuh. Dengan satu gerakan lincah, ia melompat menaiki punggung naga Benjamin dan mencengkeram sisiknya dengan erat.

Wussshhh!

Sang naga mengepakkan sayap lebarnya dengan kuat. Seketika itu juga, rumput dan dedaunan di halaman rumah beterbangan tertiup angin kencang. Benjamin melesat terbang ke udara, membelah langit dan menembus gumpalan awan Vespera.

Naga hijau perkasa itu terbang rendah menuju jantung Hutan Vespera. Tujuan mereka adalah sumber mata air suci yang tersembunyi di dalam lubang Pohon Methuselah—pohon purba raksasa yang lubangnya terhubung langsung ke dalam sebuah gua sakral, tempat kolam air suci itu berada.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Pohon Purba Methuselah yang tinggi menjulang dan tampak begitu kokoh itu terlihat dari kejauhan.

"Itu dia tempatnya. Bersiaplah!" seru Benjamin.

Sang naga hijau langsung menukik tajam untuk mendarat.

Wussshhh!

Bruk!

Tanah di sekitar bergetar hebat. Dentuman keras akibat pendaratan sang naga sukses membuat dedaunan kering di halaman hutan beterbangan ke segala arah. Mereka mendarat dengan sempurna tepat di depan pohon raksasa tersebut.

Aelias segera melompat turun dari punggung naga. Tidak lama setelah itu, tubuh Benjamin kembali diselimuti pendar cahaya magis, mengubah wujudnya kembali menjadi sosok pria tampan berambut merah.

Namun, Aelias justru mengerutkan dahinya heran. Ia menatap lubang pohon di hadapan mereka dengan tatapan sangsi. Ukuran lubang itu sangatlah kecil. "Anda yakin kalau ini tempatnya, Mage?"

Benjamin mengangguk santai. "Iya. Air sucinya ada di dalam sana," jawabnya sambil menunjuk lubang pohon tersebut.

"Yang benar saja! Lubangnya sangat kecil," protes Aelias tak habis pikir. "Bagaimana cara kita masuk ke dalam sana? Anda bisa melihat sendiri kalau ukuran tubuh saya dan tubuh Anda sebesar ini!"

1
Eka Putri Handayani
Benci banget aku sama karakter pangeran duyung sialan itu😭
Soobin Chan: harusnya di apain nih? karungin aja kali ya🤣
total 1 replies
Soobin Chan
yang suka sama ceritanya jangan lupa like, komen dan support author ya😍🙏
Janet Janet
double up Thor ceritamu bagus
Soobin Chan: jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya😄
total 2 replies
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!