Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Apa yang Terjadi?
Bab 32 Apa yang Terjadi?
"Ya! Aku sudah gila telah mencintaimu, Gauri ...." ucapnya cengengesan.
Wanita itu menghempaskan tangan kanan Aidam yang terluka dan membuang muka. Menutupi wajahnya yang merona dengan gombalan seorang pria dewasa.
"Aduuuh! Sakit! Kenapa kamu malah tambah menyakitiku, Sayaaang? Aaauuuw ... aarrrgh!"
"Nggak usah lebay deh! Tadi kamu gambar pakai itu nggak sakit, kan? Kenapa sekarang baru mengaduh kesakitan?" Gauri melenggang pergi keluar kamar mandi menuju walk in closet.
Aidam berdecak tapi kemudian tersenyum melihat pecahan kaca masih berserakan di lantai. Dia kembali mengambil satu serpihan dan menggoreskannya.
"Mau cari perhatianku lagi? Dengan cara yang sama? Nggak akan mempan!" Tiba-tiba Gauri melewati pria yang masih berjongkok itu berdiri dengan cepat membuang apa yang dipungutnya tadi.
"Kamu seperti hantu! Mengagetkan saja! Aku ... mau membersihkannya! Iya, membersihkannya agar ... nggak terinjak!" elak Aidam dengan tersendat-sendat.
"Biarkan saja! Obati dulu sebelum infeksi!" Ketus Gauri meletakkan kotak obat dengan kasar di atas meja.
Dia pergi keluar lagi menuju ruang makan. Sudah ada A33 dan satu lagi pria yang baru saja dilihatnya malam ini. Pria berkacamta itu sedang melakukan panggilan video melalui layar laptopnya. Sedangkan pria satunya lagi sedang berkutat di dapur.
"Malam Nona ... Gauri!" ucap pria yang sedang memegang spatula menyapa Gauri yang membuka tudung saji di atas pantry di sebelah pria itu.
"Kamu baru? Aku baru melihatmu sedari tadi?"
"Benarkah? Padahal akulah yang selalu di sisi Tuan Aidam dan menyelamatkannya dari balik pohon." kekehnya mematikan kompor dan mengambil piring, "permisi ...." katanya membuat Gauri berpindah duduk di kursi pantry.
"Apa kamu punya anti depresan?" Gauri mengingat sesuatu tentang kebiasaan suaminya yang akan kesulitan tidur jika tak mengonsumsi pil itu.
"Hah???" Pria itu menoleh kaget dan mengulang apa yang disebutkan Gauri dengan bergumam pelan.
"Iya, kamu nggak salah dengar. Aidam butuh itu malam ini dan seterusnya. Dia mengidap satu penyakit dan traumanya baru saja kambuh. Tanpa itu, dia akan--"
"Tak akan pernah lagi selagi ada kamu di sisiku, Gauri!" potong Aidam berjalan ke arah istrinya yang langsung mengikuti gerakannya duduk di pantry.
"Jangan ngegombal lagi! Banyak orang lain di sini!" omelnya meminum segelas air yang tadi dituangnya dari botol di lemari pendingin.
"Sudah malam jangan minum air es!" Aidam merebut gelas yang sudah hampir menyentuh mulut Gauri, "bisa buatkan kami teh atau kopi?" lanjutnya menoleh memberi perintah pada pria yang tak jauh dari rak kompor.
"Baik, Tuan!" jawabnya tegas dan langsung mengerjakan apa yang diperintahkan.
Wanita itu mendengkus kasar hendak beranjak dari kursi. Lengannya ditarik dengan cepat oleh Aidam menuju kamar lagi.
"Antarkan ke kamar!" titahnya lagi tanpa memedulikan Gauri yang menolak ditarik paksa suaminya.
"Aidam! Lepas!" Dia sedikit memberontak tapi tak dilanjutkan saat berpapasan dengan Yosita yang keluar dari kamar di sebelah kamarnya.
"Kalian sudah selesai makan?" tanyanya dengan nada kecewa.
Gauri menggeleng tapi Aidam menjawab, "kamu duluan saja, Yos! Kita ada urusan sebentar!" Lalu menutup pintunya kasar setelah keduanya masuk.
Aidam menyandarkan Gauri di balik pintu. Menatap dua mata bulat Gauri penuh intimidasi. Dua tangannya menahan lengan Gauri ke atas kepala, menempel di papan pintu.
"Sejak kapan kamu tahu aku selalu meminum itu?" selidiknya mendekatkan kepala sedikit membungkuk ke wajah istrinya.
"Sampai kapan akan terus menyimpan semua itu dari istrimu? Sampai kapan? Sampai kamu mati dan aku akan menyesali semuanya? Berkubang dalam sesal tak pernah tahu penderitaan suaminya seumur hidup? Iya?" tantang Gauri mengangkat wajahnya balas menatap tajam pada Aidam.
Posisi itu diambil alih oleh Aidam menyatukan bibirnya. Perlahan tapi pasti napas keduanya saling bertukar. Menyatukan rasa rindu yang beberapa bulan tak tersalurkan.
Gauri berusaha mendorong dada Aidam, tapi tangan itu semakin kuat menghimpit tubuh ke pintu. Pasrah dan menahan agar tak membalas gerakan suaminya di tiap inchi indera kecapnya.
Pria itu menyudahi aktivitas termanis dalam hidupnya dengan mengusap lembut bibir Gauri.
"Kamu ... adalah penenangku sekarang. Jika kamu di sisiku, tak perlu lagi obat apapun yang harus kuminum, Gauri." bisikan lembut disertai kecupan sekali lagi di dimple pipi itu mengakhiri semua keheningan.
Sebuah ketukan di pintu sekaligus menjadi kesempatan Gauri melepaskan diri dari kungkungan Aidam.
"Tuan, Nona! Apa Anda berdua akan makan sekarang atau nanti?" Pertanyaan dilontarkan A33 di depan pintu saat dibuka oleh Gauri yang tersenyum senang seolah baru saja terbebas dari hukuman mengerikan.
"Apa Yos sudah makan?"
Senyuman di wajah Gauri seketika lenyap mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aidam pada A33. Dia melirik sekilas pada wanita di depannya lalu menggeleng ke arah pria yang mengajukan pertanyaan.
"A33 aja tau? Bagaimana bisa dia mempertanyakan wanita lain sedangkan di depannya masih ada aku?" Batin Gauri mengepalkan tangan sambil mendengkus kesal mendahului berjalan ke ruang makan.
Terlalu biasa adalah mungkin alasan Aidam melakukan hal yang sepele tapi terasa sangat menyakitkan bagi istrinya. Benar, suatu kebiasaan akan terus melekat jika tak membiarkan lepas perlahan. Butuh pembiasaan lain yang harus dilakukan agar lupa dengan hal biasa lainnya.
Aidam bukannya lebih mementingkan Yosita dibanding Gauri. Keduanya memiliki porsi masing-masing di hati pria tiga puluh lima tahun itu. Sebagai seorang kakak yang harus menjaga adik perempuannya dan menanggung beban janji Mamanya, wanita yang merawatnya sejak bayi adalah alasannya.
Sedangkan ia tahu bahwa wanita yang dicintainya lebih kuat dan lebih bisa mengendalikan perasaan dibanding Yosita. Gauri sudah dewasa dan terlampau mandiri untuk sekedar urusan fisiknya. Menurut Aidam, Gauri akan mudah melupakan hal kecil daripada adik angkatnya.
Yosita juga mempunyai masa kelam bersama dengan Aidam. Keadaan mental dan hatinya hampir sama. Pernah berada di titik terendah dalam hidup. Keterpurukan dan sendirian menghadapi sakit yang tak tampak oleh orang lain. Pria itu merasa perlu memberi perhatian lebih padanya sampai Yosita menemukan orang lain yang bisa menerima kekurangannya.
Usai makan malam dengan suasana canggung dan didominasi percakapan seputar kabar terbaru keadaan Kenzie dan tim Secret Umbrella oleh A33 dan Aidam. Gauri memilih duduk di balkon kamarnya menatap bulan sempurna di langit berhias banyak bintang.
"Maaf ... mungkin kamu tahu alasanku lebih perhatian pada Yos, Gauri." Aidam ikut duduk di sisi istrinya dan langsung merebahkan diri di pangkuan Gauri.
Wanita itu tak merespon, hanya menoleh sekilas dan memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman. Matanya tak berkedip menatap rembulan yang bersinar terang. Mulut terkatup sempurna, wajah teduh nan manis itu memancarkan ketenangan.
"Dua puluh lima tahun aku mengonsumsi obat itu. Kematian tragis Mama salah satu penyebabnya. Sebelumnya pun aku juga sering disiksa oleh ... entahlah, itu Papa Sadana atau Papa Sadino. Dulu aku tak bisa membedakannya. Yang kutahu Papa hanya satu-satunya. Setelah Yosita beranjak remaja aku baru menyadari bahwa, Papa Sadana yang ada di penjara sebagai pelaku pembunuhan Mama. Yang seharusnya adalah Papa Sadino." Aidam menjelaskan sambil mengubah posisi miring memeluk perut Gauri.
Wanita itu masih tak memberi tanggapannya. Masih bergeming dengan bibir terkunci rapat. Tangannya pun hanya mengikuti gerak tangan Aidam yang menggerakkan untuk mengelus kepala pria itu di pangkuan Gauri.
"Apa saat menikahi Yos, kamu tak sekali pun tahu bahwa dia telah menusukmu dari belakang? Kamu tahu di ada affair dengan Aoron, asistenmu itu?"
"Bipolarku dengan dia berbeda. Sisi baiknya adalah beradu peran dengan dunia keartisannya. Sisi buruknya adalah kecanduan se-ks, dan pemicunya adalah aku."
Kali ini Gauri menunduk menatap Aidam dengan penuh tanya.
"Jika melihatku dengan wanita lain dan memberi perhatian lebih, atau aku tak memperhatikannya dalam sehari saja. Dia akan marah dan melampiaskan dengan--"
"Apa yang terjadi???" Pekik keduanya serempak saat lampu padam dan suara gemuruh diikuti dinding bergetar seperti gempa.
Lapisan penutup baja menutupi seluruh bangunan. Dari kejauhan atau drone dan benda yang mendekat akan terlihat seperti sebuah gua tua tertutup lumut dan tumbuhan hutan. Kamuflase buatan yang dibuat sangat sempurna oleh Secret Umbrella. Perancangan bangunan yang dikolaborasi dengan teknologi canggih menciptakan karya luar biasa.
"Aidam!!!" Gauri berteriak saat merasakan tubuh suaminya gemetaran tak bergerak di sebelah kakinya.
...***...
^^^Bersambung ....^^^
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣