Sarah dan Arya, pernah kecewa akan cinta lalu dipersatukan sebagai Direktur dan asisten pribadi. Sifat Sarah yang tegas dan perfeksionis bertentangan dengan Arya yang cengengesan dan masih kinyis-kinyis alias berondong.
Disebabkan oleh kondisi, Arya pun hanya pasrah ketika Sarah memanfaatkannya. Bukan hanya diakui sebagai asisten priadi, Arya dikenalkan sebagai kekasihnya.
===
“Mana mungkin aku suka dengan bocah polos begitu.” -- Sarah Alesha --
“Cinta itu buta bahkan kadang juga tuli, seperti aku yang klepek-klepek padamu seakan tidak mendengar ocehan mulutmu yang memekakkan telinga.” -- Arya Bimantara --
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34 ~ Putra Kedua (1)
“Saya tunggu di bawah Mas.”
Arya masih mematung saat Doni mengakhiri panggilan. Kabar sang Papi sedang terbaring lemah tidak sadarkan diri cukup mengejutkan dan semua terjadi karena dirinya sudah pasti karena dia. Arya memang kesal dan marah sampai meninggalkan rumah termasuk keluarga besarnya. Namun, dia tidak menginginkan ada sesuatu yang terjadi dengan Adam.
Apalagi Doni mengatakan Papi sudah berada di rumah sakit sejak tadi siang dan masih dalam observasi dokter. Belum ada informasi bagaimana kabarnya. Arya menatap ke arah walk in closet, dimana Sarah sedang berganti pakaian. Mereka akan keluar untuk makan malam, tapi kabar tentang Papi membuat Arya tiba-tiba nge-lag.
“Papi.” Arya mengusap wajahnya.
“Ar, kita makan jangan jauh-jauh ya. Badanku rasanya remuk, kamu main nggak kira-kira.” Arya menoleh, Sarah sudah siap dan berada di dekat nakas. Sepertinya mengambil ponsel dan dompet.
“Sar, Sarah,” ujar Arya sudah berada di belakang Sarah.
“Hm.”
“Kayaknya kita tidak jadi keluar.” Sarah pun menoleh. “Barusan ada telpon, ada kerabat yang sakit aku harus menyusul ke sana.”
Sarah mengernyitkan keningnya mendengar kabar dari Arya. Bukan masalah gagal makan malam, tapi wajah suaminya terlihat panik dan khawatir.
“Kamu nggak marah ‘kan?”
Sarah menggelengkan kepalanya, Arya menghela pelan lagi-lagi mengusap kasar wajahnya.
“Hei, kamu kenapa?”
“Hah, oh … tidak apa-apa. Hanya saja … aku harus segera ke rumah sakit. Maaf, aku harus meninggalkanmu. Padahal kita baru menikah.”
“It’s okay. Pergilah atau aku perlu ikut?”
“Jangan, kamu sedang lelah. Istirahat saja.”
Sudah beberapa langkah Arya kembali dan menghambur dalam pelukan Sarah, agak lama dalam diam. Tentu saja Sarah heran dengan sikap Arya, tapi dugaannya sebatas sang suami tidak ingin jauh darinya.
“Kamu yakin mau pergi sendiri, aku bisa temani ….”
“Tidak usah. Kamu pesan makan, online saja lalu istirahat. Secepatnya aku kabari.” Arya menempelkan bibir di kening sang istri lalu mencium pelan bibir yang sudah membuatnya candu.
Sarah memandang punggung suaminya yang sudah keluar dari kamar, tidak lama terdengar sensor pintu terkunci. Wanita itu menghela pelan, paling tidak dia bisa istirahat. Arya benar-benar memanfaatkan waktu mereka.
“Tapi siapa kerabat yang dimaksud Arya, kenapa dia terlihat panik?”
***
“Mas Arya.” Sejak tadi Arya seakan melayang, pikiran dan tubuhnya seperti terpisah. Panggilan itu membuyarkan lamunannya. “Ayo Mas, Pak Ares sudah menunggu.”
Arya mengikuti langkah Doni menuju parkiran. Dalam perjalanan hanya hening, Doni pun heran tidak biasanya Arya seperti itu. Kondisi Adam, membuat Arya benar-benar bungkam. Malam weekend, ternyata tidak membuat jalanan lenggang, mobil yang membawa Arya dan Doni beberapa kali berhenti karena kepadatan jalan.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Arya sudah turun di lobby dan langsung menuju ruang dimana Adam berada sesuai informasi Doni. di koridor Arya setengah berlari, rasanya tidak sabar ingin mendengar kondisi Adam.
“Kak,” panggil Arya melihat Ares yang duduk dengan wajah menunduk. Perlahan wajah itu menoleh dan menatapnya. Ares berdiri dan kini saling berhadapan, bahkan Arya tidak bisa menghindar saat Ares melayangkan tamparan untuknya.
Bahkan telinganya sempat mendengung setelah wajahnya sukses menerima tangan Ares. Alih-alih membalas, Arya hanya diam. Asisten Adam sudah berada diantara kedua pria itu berusaha mendamaikan. Doni yang baru datang pun ikut menengahi.
“Lihat ulahmu. Apa ini yang kamu mau?” tanya Ares meraih kerah kemeja Arya dan mencengkramnya.
“Tuan Ares, jangan buat keributan.”
“Berdoalah kalau papi akan baik-baik saja. Aku sudah berkali-kali peringati kamu, sekarang Papi begini karena ulahmu juga.”
Ares kembali duduk. Doni mengarahkan Arya untuk duduk juga, tentu saja agak jauh dari Ares. Kedua putra dari Adam Bimantara itu sedang kalut menunggu kejelasan kondisi Papinya, bisa dimengerti kalau Ares sampai emosi bahkan meluapkan pada Arya. Arya mengirimkan pesan pada Sarah agar segera tidur, sepertinya ia akan bermalam di rumah sakit.
Akhirnya ada dokter yang harus ditemui oleh Ares dan Arya. Kondisi Adam cukup serius, pria itu harus melakukan tindakan operasi jantung. Dokter menjelaskan kenapa harus dilakukan tindakan termasuk juga kemungkinan keberhasilan dari tindakan tersebut.
Arya sudah tidak fokus, hatinya seperti teriris. Ia menyesal dengan perbuatannya dan kini Adam harus menderita karena ulahnya. Sudah pasti karena berita pernikahannya dengan Sarah. Masalah berikutnya yang harus dihadapi Arya selain memastikan Adam kembali sehat adalah Sarah. Bagaimana bila Sarah tahu siapa dirinya dan wanita itu kecewa karena dibohongi.
“Jadi segera tandatangani persetujuan tindakan. Walaupun keluarga ingin membawa pasien untuk pengobatan keluar negeri, saat ini tidak tepat karena pasien membutuhkan tindakan dengan segera.” Dokter selesai menjelaskan kondisi Adam, Ares tanpa bertanya pada Arya menyanggupi tindakan yang akan Adam jalani. Tentu saja Arya pun akan menyetujuinya.
Sudah lebih dari satu jam Adam berada di ruang operasi dan para pria yang menunggu hanya diam seribu bahasa. Bahkan baru kali ini Doni, melihat Arya membisu dan tidak petikalan seperti biasa. Asisten Adam menerima panggilan telepon, entah dari siapa lalu menghampiri Ares dan Arya.
“Ada wartawan di lobby rumah sakit, sudah ditahan oleh keamanan agar tidak masuk. Sepertinya informasi Tuan Adam sakit, sudah beredar.”
Arya dan Ares saling tatap, tentu saja bukan hanya berita tentang pemilik Bimantara Group yang menarik untuk dijadikan kabar berita tapi kehadiran Arya sebagai putra bungsu keluarga Adam Bimantara sangat dinantikan.
“Aku tidak bisa membantumu, kesehatan Papi lebih utama,” ujar Ares. Arya hanya mengangguk pelan, dia harus siap menerima semua konsekuensinya.
Menjelang pagi, operasi sudah selesai dan lancar. Kini Adam sedang dalam pemantauan karena belum sadarkan diri. Beberapa media online sudah memuat berita mengenai Adam Bimantara dan banyak wartawan berada di sekitaran rumah sakit.
Sedangkan Adam dan keluarganya sudah ditempatkan di pelayanan VVIP yang tidak boleh sembarang orang datang apalagi pemburu berita. Ares paham bagaimana resahnya Arya, ia mengizinkan Arya untuk menemui Sarah.
Didampingi Doni dan orang kepercayaan Adam, mereka keluar dari rumah sakit. Arya menggunakan masker dan topi agar tidak dikenali. Dunia boleh tahu siapa dirinya, tapi setelah pengakuannya pada Sarah.
Sedangkan di tempat berbeda, tepatnya di apartemen Sarah. Wanita itu sedang menyesap kopinya sambil menyimak berita yang disiarkan di televisi. Masih menikmati cuti pernikahannya, tapi hanya diam di apartemen bukan berbulan madu apalagi sang suami pun tidak ada.
Terdengar bel pintu apartemen, ternyata Edric yang datang. Keduanya sudah duduk di sofa, bahkan Edric menatap sekeliling mencari keberadaan Arya.
“Suamimu mana?”
“Ke rumah sakit.”
Tepat saat televisi menyiarkan berita pengusaha properti Adam Bimantara sedang terbaring sakit. Edric menatap Sarah yang fokus menonton berita tersebut. Sudah pasti Arya ke rumah sakit karena mendampingi Adam.
“Bukan hanya itu, putra kedua Adam Bimantara yang diketahui dirahasiakan keberadaannya pun cukup menarik perhatian. Terlihat beliau pagi ini meninggalkan rumah sakit.” Terdengar suara news anchor dengan latar video di mana para pemburu berita mengejar seorang pria yang diduga putra kedua Adam Bimantara. Pria tersebut menggunakan topi dan masker. Edric sangat yakin itu adalah Arya.
“Sarah,” panggil Edric karena Sarah terlihat serius menatap layar televisi.