Rana wanita teguh dan pantang menyerah dua kata yang menggambarkan kepribadiannya, dia di paksa menikah dengan Faiz yang notabenenya merupakan calon suami kakaknya.
Apa boleh buat tanpa bisa menolak dia akhirnya resmi menikah dengan Faiz. Sang mertua mengharapkan kehadiran cucu di tengah-tengah keluarga dengan cepat meminta Rana untuk hamil. Tapi di tunggu punya tunggu Rana tak kunjung hamil hingga pernikahan mereka menginjak ke-tiga bulan barulah Rana mengalami yang namanya mual-mual, tapi dia bingung dia hamil atau asam lambungnya naik menyebabkan dia mual-mual.
Ini kisah drama rumah tangga receh dari mulai sang kakak yang tega merebut suami sang adik hingga terbongkarnya rahasia besar yang di sembunyikan. Ayo silahkan mampir jika penasaran, saya penulis amatir jika ada kesalahan atau tidak nyambung antar satu konflik mohon di bimbing atau di arahkan baik-baik sekian;
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rana Vanya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 Di Acuhkan
"Aduh kepalaku pening" meringis aku kala pening yang melanda ini membuatku terbangun. Tunggu aku ada di bawah bukannya ada diatas kasur. Astagfirullah aku baru ingat saat selesai menulis diary kepalaku pening dan aku langsung kehilangan kesadaran.
"Jam berapa ini" gumamku saat kulihat tidak ada siluet matahari lagi.
"Astagfirullah hampir Maghrib".
Berpegangan pada sisi meja aku mencoba bangun perlahan. Alhamdulillah bisa.
Mandi dahulu rutinitas yang aku lakukan sebelum shalat Maghrib. Aku keluar dari kamar untuk mengisi perut yang terus berbunyi menandakan kedua anakku sedang lapar begitupun dengan aku ibunya.
Sampai di meja makan selera makan ku langsung hilang begitu saja saat melihat dan mendengar gelak tawa dari pengantin baru ini. Aku mengambil piring lalu mengisinya lauk pauk asal agar mereka tidak menyadari keberadaan ku. Tapi usahaku ternyata gagal mereka akhirnya juga menyadari keberadaan diriku.
"Dek, ayo gabung bersama" ucap mas Faiz kikuk saat menyadari keberadaan ku.
"Iya dek ayo gabung" timpal mbak Cahya seraya tersenyum yang mana membuatku semakin muak akan dirinya.
Tak aku hiraukan mereka yang berbicara memintaku gabung makan bersama mereka di meja makan. Aku ambil piring tadi lalu berlalu kembali kedalam kamar untuk makan di sana saja dari pada makan di sini bukannya akan lahap makan melainkan satu suap nasi pun tidak akan masuk kedalam tubuhku.
Kalau kalian menanyakan dimana mama Mila dan papa Hendro mereka ada di rumahnya. Mereka tau kalau anak mereka Faiz ingin menikah dengan Cahya, sudah berulang kali dicegah tapi keputusan mas Faiz tetap bulat akan pendiriannya.
Mama Mila sangat marah begitupun dengan papa Hendro. Mama Mila ingin membawaku tinggal ke rumahnya tapi aku tolak karena aku akan tinggal disini sampai aku melahirkan. Mama Mila juga mengetahui akan niatku ingin bercerai dengan mas Faiz. Mama bilang mama sedih akan niatku itu tapi kembali lagi kalau aku tidak bahagia dengan anaknya dan anaknya telah mengkhianati aku. Aku boleh melepas anaknya Faiz asal mama dan papa boleh mengunjungi kedua cucunya itu kalau aku sudah berpisah, aku jelas memperbolehkan mereka melihat cucunya karena tak ada sedikitpun perlakuan dan tindakan mama yang menyakiti hatiku. Mereka sangat baik memperlakukan aku dan menganggapku sebagai anak kandung mereka sendiri bukan cuma menantu.
Tindakan mama Mila yang dulu membuatku jengkel ya ngebetnya punya cucu cuma itu saja. Itu juga tidak aku ambil hati karena aku sadar memang setiap anak yang sudah menikah pasti ibunya ingin memiliki cucu.
"Cahya selesai makan mas mau menemui Rana dulu ya. Kamu lanjut istirahat dulu pasti kamu lelahkan karena acara tadi, kasihan bayinya".
"Iya mas tapi mas antar Cahya sampai kamar ya. Cahya takut sendiri lagi takut kalau-kalau orang gila itu mengetahui keberadaan Cahya".
Aku usap bahu istriku ini lalu kupeluk sebentar agar menenangkan dia.
"Iya mas antar Cahya sampai ke kamar kita. Ayo di lanjut makan dulu. Mas sebentar saja menemui Rana kok, nanti setelah mas selesai mas akan segera menemui kamu di dalam kamar" aku menikahi Cahya sebenarnya haram karena bukan aku yang menghamilinya. Tapi saat aku tanya dengan dengan salah satu pemuka agama tidak apa-apa dengan syarat tidak ada tidur bersama dan berhubungan intim.
Beberapa menit kemudian acara makan pun selesai, seperti kata istriku Cahya aku mengantarnya menuju kamar agar dia segera merebahkan diri dan beristirahat.
"Bobok ya dek mas keluar dulu" pamitku saat sudah mengatur suhu AC agar tidak terlalu dingin dan juga menarik selimutnya sebatas dada, tenang saja aku dan Cahya sudah membicarakan itu dengan pemuka agama jadi insyaallah dia mengerti.
Aku tutup pintu kamar perlahan dan melangkah menuju ditempat Rana berada, tapi di lain sisi tepatnya di dalam kamar seseorang, seseorang itu mengucapkan hal yang membuat kita terkejut setengah mati.
"Kamu Rana, dia itu seharusnya milik saya dan akan kembali lagi ke saya. Karena dasarnya ya dia milik saya bukan milik kamu".
"Akan ku balas ketidakadilan yang begitu kentara yang dilakukan ayah dahulu kepadaku. Pantas saja ayah tega menjodohkan aku dengan lelaki itu ternyata aku bukan anak kandungnya".
"Akan aku hancurkan kamu dan bayimu serta orang-orang terdekatmu. Aku buat kalian menyesal dengan semuanya" gumam orang itu lalu membuang kasar ponselnya yang mana terlihat fotonya bersama kedua orangtuanya tak lupa juga adiknya di dalam.
"Hahaha lihat apa yang aku lakukan suatu saat nanti. Perkataanku Ini akan menghantuimu di setiap kamu akan tidur".
"Dek".
Aku menolehkan diri saat ada seseorang yang seperti memanggilku dan ku dapati mas Faiz di sana.
Dia melangkahkan kakinya mendekat padaku dan duduk pas di sebelah kasur yang aku tempati.
"Dek" ulangnya tapi masih tidak aku jawab sama sekali.
Aku beranjak mengambil handphone dan piring bekas aku makan lalu keluar dari kamar tapi sebelum itu mas Faiz menahan pergelangan tanganku agar tidak pergi keluar meninggalkannya.
"Tunggu sebentar" katanya memulai obrolan saat terjadi keheningan tadi.
"Mas mau berbicara dengan kamu. Dek kenapa kamu pergi saat mas dan Cahya akan menghampirimu kemarin".
Mas memang kamu bodoh atau pura-pura bodoh menanyakan itu padaku. Jelas-jelas kamu tau perihal aku yang tidak menyukai penghianatan, tapi kamu juga akhirnya yang mengkhianati aku.
"Rana" bentak mas Faiz setelah sekian lama pertanyaannya aku acuhkan.
"Baru hari pertama saja mas sudah sering membentak Rana. Belum hari-hari berikutnya, mas siapkan surat cerai kita saja Rana gak akan ikut campur apapun tentang mas dan istri barunya mas. Anggap saja Rana tidak pernah ada atau cuma bayangan di dalam gelap dan tidak terlihat" lirihku lanjut keluar dari kamar.
"Ya Allah maafkan aku" gumam mas Faiz tapi masih terdengar olehku.
"Mas loh kok cepat banget kembalinya. Apa sudah selesai bicara dengan Rana" tanyaku keheranan saat mas Faiz cepat kembali. Aku sudah menduga hal ini kalau mas Faiz akan segera kembali jadi aku pura-pura polos dan tidak mengetahui biar dia saja yang menganggap sosok Cahya itu polos dan lemah lembut. Jadi mari mainkan karakter Cahya yang seperti ini oke.
"Rana lagi tidur dek jadi mas gak tega mau bangunkan dia. Takutnya nanti ke ganggu kasihan kan" ucapnya yang pasti itu semuanya bohong karena aku tau mas Faiz takut membebani pikiranku soal Rana yang pasti bertengkar dan meminta cerai saat dia telah melahirkan.
"Oh".
"Ayo istirahat dulu mas temani".
Dia naik ke sebelah ranjang dan memangku kepalaku lalu mengusapnya lembut seperti biasanya, yang aku lakukan hanya menutup mata dan pura-pura tidur melihat apa yang akan mas Faiz lakukan setelah aku tertidur ini. Hal ini aku lakukan karena aku waspada pada mas Faiz takut kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak.
Menikah tanpa cinta itu yang aku lakukan yang penting mas Faiz mau menerima anak sialan ini.
Dengan alasan yg tepat biar tetap di rumah saja, biarkan saja mereka kl mau jalan-jalan
Suami yg menurut agama tak pantas untuk di pertahankan lebih baik di hempaskan saja, suami menikah saudara angkat dr istri dlm kondisi hamil itu tak sah
Semoga bisa di ambil hikmahnya oleh setiap pembaca ☺️
apalagi suami jg masa bodoh dg dia dn anaknya.
ayahnya jg dah nyuruh pulang..masih ngeyel mau bertahan.
laki2 kek gitu ngapain di pertahanin