Update tipis-tipis, ya. Maaf Hiatus terlalu lama karena sibuk dengan realita.
Sepuluh tahun menjalani biduk rumah tangga, Diana dan Hengki tidak kunjung mendapatkan momongan. Orang tua Hengki selalu menekan keduanya untuk segera memberi cucu.
Tekanan yang terus mendera Hengki membuat lelaki itu terjerumus pada lubang hitam. Dia yang awalnya begitu mencintai istrinya, kini dengan tega mengkhianati janji suci pernikahan.
Diana yang saat itu merasa sakit hati, memutuskan untuk keluar dari rumah. Wanita itu berniat membalas segala rasa sakit yang diberikan oleh suami serta keluarga toxic itu.
Mampukah Diana menjalankan niat balas dendamnya atau wanita itu justru terjebak dalam permainannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurma Azalia Miftahpoenya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona
Pernikahan antara Adrian dan Diana pun digelar secara mewah dan meriah. Banyak tamu penting yang datang dari berbagai kalangan. Tidak hanya rekan bisnis saja. Teman-teman Adrian yang ternyata juga banyak sekali yang berprofesi sebagai aktor, pejabat, hingga abdi negara.
Ijab qobul dilakukan di sebuah hotel ternama yang kini disulap bak istana megah. Adrian tengah duduk berhadap-hadapan dengan seorang penghulu. Di sampingnya juga ada beberapa orang yang menjadi saksi pernikahannya. Mereka sedang menunggu si mempelai wanita yang sedang dijemput oleh para adik Adrian.
Di kamar hotel yang kini terlihat bagitu indah dengan hiasan bunga melati serta ranjang bertabur bunga mawar merah yang menambah kesan romantis, Diana sedang duduk di depan cermin hias. Wanita itu menatap pantulan dirinya yang sudah dirias oleh MUA. Rambutnya disanggul dengan rapi, serta tersemat untaian bunga melati yang menjuntai hingga ke area perutnya. Diana begitu cantik dengan riasan adat Jawa.
Mata indah itu berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka akan melewati ujian hidupnya yang selalu menderita bersama Hengki. Kini, dia akan memulai hidup baru bersama Adrian. Tidak menampik, rasa takut akan kegagalan itu tentu saja ada. Namun, sebisa mungkin Diana berpikir positif.
Diana mengangkat kedua tangannya sejajar di depan dada. "Semoga kali ini akan menjadi pernikahan terakhir untuk kami, Ya Allah. Aku dan Adrian sama-sama pernah mengalami kegagalan rumah tangga. Namun, biarkan kami berusaha untuk menjadi lebih baik dan berjalan bergandengan menuju ridho-Mu untuk mencapai jannah-Mu, Ya Allah, ya Tuhan kami. Jadikan rumah tangga kami menjadi rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, Ya Allah. Aamiin."
Usai Diana memanjatkan doa kepada sang khalik, bersamaan dengan pintu kamar terbuka. Si mempelai wanita menoleh ke arah pintu. Senyum cerah terbit seketika saat melihat 4 wanita cantik dengan gaun berwarna peach masuk. Terlihat keempat wanita itu menyunggingkan senyum menawan.
"Kakak!"
Mereka berlari kecil, lalu menghambur ke pelukan Diana. Persis seperti anak kecil yang berebut perhatian dari sang ibu, keempat adik Adrian benar-benar memperlakukan Diana dengan sangat hangat.
Diana hanya menggeleng saat merasakan sesak akibat pelukan erat dari calon adik iparnya ini. Tidak ada niatan untuk memperotes ataupun melarang mereka melakukan hal tersebut.
Terdengar suara pintu yang terbuka, disusul oleh derap langkah anggun menuju tempat di mana kelima wanita sedang saling berpelukan. Mereka masih enggan berpaling dari kegiatan mengasikan itu, hingga tiba-tiba saja dua di antara kelima wanita itu terpaksa melepas pelukan saat telinga keduanya ditarik seseorang dari belakang.
Suara mengaduh terdengar nyaring di ruangan mewah itu. Melihat dua kakak tertua mereka dijewer oleng ibunya, Lily dan Aster seketika membebaskan sang calon kakak ipar dari dekapan. Kedua gadis manis itu mundur teratur agar tidak menjadi korban jeweran selanjutnya sang ibu.
"Sakit, Mom!" Jasmine dan Rose berusaha melepaskan tangan sang ibu yang menarik keras telinganya, begitu sudah lepas, Jasmine, adik pertama Adrian itu langsung memeriksa telinganya dengan cermin. "Merah, nih!" gerutu Jasmine.
Rossa berkacak pinggang dengan tatapan melotot ke arah anak keduanya itu. "Masih untung tidak Mommy jewer sampai lepas itu telinga. Mommy kan udah bilang, jemput Kak Diana dan bawa turun! Kenapa malah kalian kekepin aja di sini?"
Keempat adik Adrian itu saling senggol. Mereka menyalahkan satu sama lain karena tidak menjalankan tugas mereka dengan baik. Sementara itu, Diana hanya tersenyum geli saat melihat para calon adik iparnya itu dimarahi.
Puas memarahi putri-putrinya, Rossa beralih pada Diana. Wanita paruh baya itu mendekati sang calon menantu, kemudian menepuk pelan bahu wanita yang sebentar lagi akan dinikahi oleh sang putra. Senyum bahagia tidak luntur sedikitpun dari wajah cantik Rossa.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Rossa dan diangguki oleh Diana.
*****
Dibantu oleh para WO dan adik-adik Adrian, Diana berjalan di atas karpet merah yang membentang menuju pelaminan. Di sana Adrian, penghulu, serta saksi telah menunggu si mempelai wanita yang terlihat begitu cantik.
Diana berjalan dengan anggun menuju pelaminan. Di sisi lain, netra Adrian sama sekali tidak terlepas dari sosok wanita yang sebentar lagi akan menyandang gelar istrinya. Senyum sumringah pun menghiasi wajah tampan pria itu, seolah rasa gugup yang tadi dia rasakan kini lenyap seketika.
Begitu sampai, Diana didudukkan di kursi yang berdampingan dengan Adrian. Rossa langsung memakaikan kain putih berpayet di atas kepala kedua mempelai. Pandangan Adrian masih saja terfokus pada sang calon istri.
Sang penghulu menanyakan kesiapan kepada mempelai wanita lebih dulu, "Bagaimana, Mbak Diana. Apakah Anda sudah siap?"
"Siap, Pak. Silahkan dimulai," jawab Diana dengan nada lembutnya.
"Baik, saudara Adrian. Apakah Anda sudah siap?"
Senyap, tidak ada jawaban dari Adrian. Pria itu masih saja asyik menatap sang mempelai wanita yang begitu cantik dan anggun hari ini. Diana yang berada di sampingnya pun berbisik lirih, "Mas!"
"Hm," jawab Adrian berdeham.
"Itu ditanya pak penghulu," ucap Diana lirih.
"Iya," jawab Adrian singkat, tetapi fokusnya masih saja pada Diana seorang.
Rossa menggeleng, gemas dengan kelakuan sang putra yang seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. "Adrian! Mau dimulai jam berapa acaranya? Kamu masih mau tatap Diana aja sampai tahun depan?"
Suara Rossa yang berbisik di telinga sang putra pun akhirnya menyadarkan pria itu dari lamunannya. Pria itu tersentak, kemudian tersadar dengan kelakuan anehnya barusan. Merasa malu, Adrian pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Heran, mau tatap nanti malam sampai tidak tidur pun tidak masalah. Kenapa pakai acara ngelamun dulu sebelum ijab?" Rossa menggerutu kesal dan gemas dengan tingkah putranya itu.
Gelak tawa terdengar dari para tamu undangan yang hadir, sebab gerutuan Rossa barusan tanpa sengaja terekam oleh mikrofon yang terletak di depan Adrian. Hal itu tentu saja membuat si mempelai pria merasa malu dan ingin segera menghilang dari tempat itu.
"Maklum aja, Mbak Rossa. Adrian terpesona dengan kecantikan calon istrinya. Mangklingi banget, loh!"
Hai readers tercintaku. Maaf, ya, aku libur terlalu lama. Maklum mau nulis masih kliyengan efek bius total sepertinya. Pertama aku mau ucapin makasih buat kalian karena udah dukung dan doain aku. Alhamdulillah, operasinya lancar.
Doakan aku bisa rutin update untuk kalian, ya. Oh, iya, sambil nunggu boleh banget mampir ke karya temanku ini judulnya Kalau Jodoh Takkan Kemana karya author Aisyah alfatih. Terima kasih. Salam sayang untuk kalian semua.
Seorang sahabat bertanya, apakah yang harus kulakukan tatkala istriku meminta berpisah tinggal dengan ibuku yang semakin renta, sementara aku dibesarkan dengan kasih sayang semenjak kecil..
Jawabannya sama seperti Nabi Ibrahim berkata pada Ismail.. "gantilah pintumu" (istri).
apakah tanpa merawat orang tua tidak bisa mandiri?
apakah orang tua kita pernah meninggalkan kita saat membutuhkan mereka?
yang paling penting.. saat mereka hidup berdua sampai akhir hayat.. meninggal cuma dirawat orang lain.. apakah bisa kita menjamin tidak ada penyesalan karena tak sempat memberikan yang terbaik di akhir usia mereka?
apakah yang terbaik buat mereka itu materi?
masih ingatkah kisah seorang pemuda yang di dunia dijanjikan surga karena baktinya pada ibunya?
yah sudahlah.. ujungnya kita cuma berargumen dengan keyakinan kita.
kirain Rose kerjain papanya..
bisa percuma kamu punya istri..
ntar dikuasai Mommy 🤣🤣🤣
Itung-itung nyicil buat anak..
ehh.. salah ketek.. 😁 salah ketik 🤣🤣🤣
seandainya yang terjadi ini pada pemeran utamanya..
Readers pada bilang.. lumrah kan.. maklumlah lagi hamil 😁
kalau yg hamil peran antagonisnya.. yakin mau komen begitu?
semoga cepet diberi momongan..
semangat sehat thor..
semangat lanjut..
selamat menyambut bulan suci ramadhan bulan penuh ampunan❤