NovelToon NovelToon
ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

ANDAI KITA TIDAK BERCERAI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:283.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Diandra menganggap satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari ketidakbahagiaan atas pernikahannya adalah cerai.
💔💔💔
Nasihat siapapun tidak didengarnya. Hingga nekat diam-diam mendaftarkan perceraian.
💔💔💔
Lalu, setelah palu diketuk, barulah ia sadar ternyata hidupnya tidaklah lebih baik dibandingkan menjadi istri Ben. Apalagi setiap hari ia harus menghadapi rengekan Caca dan Cici yang minta bertemu dengan ayahnya.
💔💔💔
Kini, Diandra harus berusaha keras mendapatkan kembali hati Ben, meski di sisi Ben sudah ada perempuan lain yaitu Nasya yang siap menemani Ben dikala susah dan senang. Penyesalan memang selalu datang terlambat, lalu langkah apa yang harus dilakukan Diandra untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Bicara Dengan Ben

Sepasang mata yang tadi menatapku dengan sangat tajam kini berubah sendu, bahkan kedua manik matanya dipenuhi kaca-kaca. Tak pernah sebelumnya aku melihat Ben dengan ekspresi sesedih ini. Apakah ia benar-benar terluka oleh perceraian ini? aAhhh Ben, jangan begitu, aku tak sanggup kalau kamu seperti ini. Aku akan merasa semakin bersalah.

"Di, kamu tahu kan arti anak-anak untukku?" ia membuyarkan lamunanku, sekaligus menghapus buncah bahagia di hati.

Jadi, yang dikhawatirkan Ben hanyalah anak-anak.

Ahh, betapa naifnya aku. Berani-beraninya berharap kalau Ben akan tetap mencintaiku setelah semua masalah yang aku ciptakan.

Perlahan aku menggigit bibirku keras-keras agar sadar bahwa di mata Ben, aku bukanlah siapa-siapa lagi. Mungkin malah Ben menyesal sudah menikah denganku karena selama ini aku tak pernah bisa membuatnya bahagia. Entah mengapa rasanya ingin memaki diri sendiri, berani-beraninya aku berharap banyak pada Ben kala itu padahal aku sendiri jauh dari kata sempurna, bahkan untuk patuh pada Ben saja aku tak bisa.

"Maafkan aku," kataku, sambil berusaha menguatkan diri sendiri sebab kini mengetahui bahwa benar-benar tak ada aku di hati Ben. "Aku sungguh minta maaf." kataku lagi, sebab tak mendapati jawaban dari Ben.

"Kamu tahu, kehilangan ibu dan adik adalah hal yang paling menyedihkan bagiku, tapi lebih sedih lagi karena kamu memisahkan aku dari anak-anak, apalagi bayi yang kamu kandung, Di. Apa salahnya? Kalau kamu marah, marah saja padaku. Kalau kamu mau menghukumku karena tidak bisa memenuhi segala harapan kamu, cara seperti ini sukses membuatku menderita, Di!" Ben sedikit berteriak, sehingga membuatku kaget.

"Ben," entah kenapa, rasanya hatiku pun hancur berkeping-keping. Aku tak bermaksud seperti itu, aku tak benar-benar marah padanya, mungkin hanya perasaan kecewa saja, tapi karena dibalut dengan ego, akhirnya terjadilah semua ini. "Aku bahkan tidak tahu kalau aku sedang hamil, baru tahu setelah kita resmi berpisah, Ben."

Air mata Ben benar-benar pecah, ia tak bisa berkata-kata, tapi terlihat begitu hancur. Ben, tolong jangan emnangis di hadapanku sepeda itu, tolong Ben. Andai kita masih halal, aku ingin memeluk kamu, Ben. Tapi sekarang, aku yakin kamu akan menepisku.

Katakan Ben, katakan sesuatu. Apa saja yang harus aku lakukan agar keadaan kita bisa membaik. Bisakah Ben, beri aku kesempatan? Tolong Ben, jangan biarkan aku menderita seperti ini.

"Biarkan anak-anak ikut aku," pintanya, setelah agak tenang, sambil menghapus sisa air matanya.

"Nggak!" kataku dengan tegas.

"Aku akan menjaga anak-anak dengan baik."

"Tidak, Ben!"

"Kamu sedang hamil, Di!"

"Tapi aku baik-baik saja. Kamu ingat kan, bagaimana saat aku hamil Caca dan Cici, semua baik-baik saja. Begitu juga dengan hamil anak ketiga kita ini, ia sama sekali tidak menyusahkan aku."

"Kalau begitu tinggal dengan ibu saja."

"Nggak!"

"Di, tolong. Bagaimana aku bisa tenang jika kalian jauh. Aku tak akan membiarkan anak-anak kenapa-kenapa."

Ahhh, Ben, kenapa hanya anak-anak. Lalu bagaimana dengan aku? Tak bisakah kamu perhatian sedikit saja padaku, Ben, seperti dulu. Oke, aku tahu, kita bukan lagi suami istri, tapi Ben ...

Aku dan Ben mengakhiri perdebatan ketika kukatakan bahwa kami akan baik-baik saja. Aku juga memberinya alamat rumah kontrakan kami dan janji akan mengabarinya jika terjadi sesuatu.

"Baiklah, akhir pekan aku akan ke sana." kata Ben. Ia kemudian meninggalkan aku sendiri, berjalan menuju ruangan tempat kami bertemu pertama tadi, masih bisa kulihat bagaimana Ben berpamitan pada dua putri kami, Ben dan anak-anak tampak berat untuk berpisah.

Maafkan aku ... pintaku, dengan suara pelan, nyaris tak terdengar siapapun.

Aku dan anak-anak ikut pulang bersama mbak Hana dan suaminya, sebelum mobil meninggalkan kantor polisi, tampak Ben masih memandang kami, di sampingnya ada Nasya. Kenapa dia harus selalu ada di samping Ben?

Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Pandanganku jauh kedepan, ada banyak hal yang aku pikirkan, salah satunya tentang kami ke depannya.

Apakah antara aku dan Ben memang benar-benar sudah tidak ada harapan lagi? Apakah benar kami nggak akan mungkin bisa bersatu.

Ya Tuhan, kenapa membayangkannya begitu berat.

***

Anak-anak sudah terlelap, mungkin mereka kelelahan karena tadi kata mbak Hana, waktu di Dufan, banyak arena bermain yang mereka jajal.

"Mbak Di," panggil mbak Hana yang masih berada di rumah kami. "Saya benar-benar minta maaf ya sebab gara-gara saya mbak Di dan mantan suaminya jadi berkelahi."

"Oh, enggak apa-apa kok mbak Hana." aku memaksakan senyum. Toh, cepat atau lambat Ben akan menemukan kami. Aku yakin ia tak akan tinggal diam di pisahkan dari anak-anak.

"Mbak Di, saya tau ini masalah pribadi mbak Di. Tapi, kalau mbak butuh teman bicara, saya siap mendengarkan, meski ada yang bisa lebih menenangkan yaitu bicara pada Allah."

Aku terdiam. Andai aku terbiasa berbicara dengan Allah, aku yakin masalah yang menurutku sangat berat ini bisa kuhadapi dengan tenang tanpa merugikan siapapun, tapi aku terlalu jauh dari-Nya sehingga yang ku menangkan adalah nafsu dan emosi saja. Sehingga kini berujung pada penyesalan.

"Saya sebenarnya menyesal bercerai," akhirnya pengakuan itu lolos juga dari lisanku. "Ben, sebenarnya adalah suami terbaik. Tetapi karena sedikit kekurangannya, hilang semua kebaikannya di mata saya. Yang terlihat hanyalah kekurangannya saja, ditambah saya yang jauh dari Tuhan, sehingga membuat saya begitu lemah dan gampang tertipu daya oleh setan."

Aku menarik nafas pelan, menatap lurus ke depan, seolah menembus dindin rumah kontrakan, mencoba mengingat kembali betapa baiknya Ben selama ini padaku.

"Tapi semuanya sudah terlambat, saya dan ayahnya anak-anak sudah berpisah. Kami sudah tak bisa bersatu lagi." kataku dengan nada suara lemah.

"Kata siapa? Nggak ada yang enggak mungkin menurut Allah mbak Di." kata mbak Hana, seoalj menyemangatiku yang benar-benar kehilangan harapan.

"Dia akan menikah dengan orang lain, mbak Hana." kataku, sambil tersenyum miris. "Sudah benar-benar nggak ada harapan lagi."

"Ya Alah ...."

"Yang membuat saya semakin menyesal adalah karena saya sudah mengorbankan kebahagiaan anak-anak saya, terutama bayi yang ada di dalam kandungan ini, ia benar-benar tidak akan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah secara utuh, dan itu karena ulah saya sendiri!" Perlahan, bulir bening itu lirih juga tanpa izin.

Aku menangis sembari tertawa, menertawakan diri sendiri yang begitu gegabah. Sombong sekali aku dahulu yang berani-beraninya membanggakan diri sendiri, merasa semua akan lebih baik jika tak berada di sisi Ben, tapi sekarang, aku malah merasakan sebaliknya. Sehingga membuta miris saja.

1
kiwi
nagis terus..suka terus...nagis lagi..suka suka suka suka suka..marah..aq juga turut marah...
kiwi
love love love love love love love love
kiwi
suka suka suka suka suka suka suka
Nani Rahayu
semoga mbak Hana diberi keturunan ya Thor 🤭
Nani Rahayu
berpikir lah seribu kali untuk bercerai......apalagi jika suami masih setia masih menafkahi...kalo cari yg sempurna g akan ada
Tutik Rahayu
giliran ketiduran panik kan anak2 ga ada... ben yg ketiduran marah2 ampe minggat
Tutik Rahayu
masih 2 bab uda bagus tp knp like dikit ya...
ga melulu kisah CEO , bagus ini seperti kehidupan real
Mila Karmila
cerita yang indah...ada hikmah yang bisa dipetik....semoga readersnya terus bertambah....tetap semangat thor...tetus berkarya...👍👍👍👍
Ros Minie
udah ga punya kerjaan, ga punya income, minta cerai, bawa anak lagi, ego di besarin, gimana hidupnya bkn enak, tapi malah nyungsep
Ros Minie
blm tau diandra, jalani hidup emang gampang, sesuai dengan kata dan impian, semua itu butuh proses ga njleb langsung ada
Tri Widayanti
Duhhh Diandra
Tri Widayanti
Hadir dengan like👍
Ita Alexis
good job thor...tetap semangat yaaa....
Sartika Tika
jd istri ko GK bersyukur.....gaji cumn sedikit minta beli laptop.....buka usaha aja di rumh ...bikin usaha gorengan kek......miskin aja belagu
Amanda Ayunda
Nasya suka samawa temennya Diandra kali hendri
Amanda Ayunda
kayaknya Anis punya niat rebut Bengi deh
Amanda Ayunda
di sini bisa di ambil hikmah nya bahwa perceraian harus di fikir dengan kepala dingin
Amanda Ayunda
syetan udah merasuki Diandra
Amanda Ayunda
gereget ama Diandra
Amanda Ayunda
kalau pengen hidup tenang ya tinggalin tuh si kembar
Tutik Rahayu: habis cerai pasti nyesel , lbh parah banyak masalah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!