Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 - Lin Kun
Dong Fang dibawa kesebuah ruangan yang berada dilantai paling atas. Ruangan itu terlihat mewah dengan pajangan barang-barang antik dan lukisan-lukisan indah di dindingnya.
Dong Fang dipersilakan duduk disebuah kursi berwarna hitam bercampur merah. Lin Kun duduk dikursi yang bersebelahan dengan Dong Fang. Mereka hanya dipisahkan oleh meja Giok yang berada diantara mereka berdua.
Lin Kun menyuruh pelayannya untuk menyediakan teh. Setelah teh tersedia, Lin Kun mengisi gelas Dong Fang dengan teh, begitupun gelasnya.
"Terimakasih." Meskipun wajahnya tak berubah dari awal, dirinya menganalisis semua yang terjadi disekitarnya, dia masih belum bisa menebak mengapa dia dibawa keruangan mewah seperti ini.
Lin Kun menyeruput tehnya, wajahnya yang sebelumnya ramah, kini mulai serius, "Darimana tuan mendapatkan kabar, jika kami menjual informasi? Kurasa setelah satu setengah tahun kami menginjakkan kaki di dikekaisaran ini, belum ada yang mengetahui jika kami menjual informasi." Lin Kun diam sebentar, dia melanjutkan, "Tapi itu tidak masalah, kurasa memang seharusnya publik mengetahui jika kami menjual informasi. Jadi, informasi apa yang ingin tuan ketahui?"
Dong Fang diam sebentar, dia tampak berpikir, kemudian menjawab, "Aku mencari informasi seorang pendekar aliran hitam bernama Yan Jiang, aku ingin mengetahui posisinya saat ini. Apa Manager bisa membantuku?"
"Aku akan memberikan informasi yang tuan inginkan dengan gratis. Dengan syarat, tuan mengatakan siapa yang memberitahu, kalau kami menjual informasi."
Dong Fang diam sebentar, kepalanya mencoba menyimpulkan semua informasi yang baru saja dia dapatkan.
"Jadi, belum ada orang luar yang mengetahui jika Menara Matahari menjual informasi? Apa mereka takut, jika ada pihak yang akan tersinggung jika informasi pihak tersebut bocor? Artinya, Menara Matahari merasa mereka belum cukup kuat untuk menahan kekuatan yang akan menyerang mereka. Mereka benar-benar berhati-hati." Pikir Dong Fang, begitulah kesimpulan yang dihasilkan pikiran Dong Fang saat ini.
Dong Fang berpikir, jika dirinya memberitahu Lin Kun tentang Liu Xiu. Maka, Liu Xiu tak akan senang padanya dan tak ingin melatihnya menjadi seorang alkemis. Hingga Dong Fang memutuskan untuk tidak memberitahu Liu Xiu.
"Apa yang terjadi jika aku tak memberi tahu?" tanya Dong Fang.
Lin Kun menyeruput tehnya, dirinya masih tenang. Tampaknya dia telah memperkirakan pertanyaan Dong Fang, "Tidak akan terjadi apa-apa." Lin Kun menggeleng.
Lin Kun mengira-ngira, jika Dong Fang memiliki relasi dengan seseorang yang memiliki pengaruh kuat, sampai-sampai, dapat mengetahui informasi rahasia mengenai Menara Matahari. Sehingga Lin Kun tak ingin menyinggung Dong Fang.
"Tapi, harga informasi seperti ini cukup mahal." tambah Lin Kun.
"Berapa harganya?"
"Tergantung tingkat kesulitan pencarian informasi itu, tapi kurasa informasi yang tuan butuhkan tidak terlalu mahal. Hanya memerlukan sekitar dua ratus keping emas. Dari informasi yang kami dapatkan, Yan Jiang memang berada dikota ini seminggu yang lalu. Tapi, untuk memastikan informasi lebih lanjut, membutuhkan pencarian lebih lanjut. Tuan bisa datang kembali dalam tiga hari." ucap Lin Kun panjang lebar.
Dong Fang mengangguk, kemudian memberikan kantung kulit berisi semua koin emas miliknya.
Lin Kun menolak dengan senyum canggung, "Tuan dapat membayarnya setelah informasi mengenai Yan Jiang ditemukan."
Mendengar itu, Dong Fang mengangguk dan menyimpan kembali kantung kulit itu.
"Baiklah, jika begitu aku izin pamit. Ada hal yang harus aku lakukan." Dong Fang bangkit dari duduknya, "Terimakasih untuk tehnya." Dong Fang memberi hormat kemudian pergi dari ruangan itu.
Lin Kun mengantar Dong Fang hingga keluar ruangannya, dirinya terus melihat punggung Dong Fang yang terus menjauh, hingga akhirnya tak terlihat. Lin Kun menghela nafas panjang, kemudian masuk kembali kedalam ruangannya. Dia tampak memijat keningnya yang pusing.
"Dong Fang, ya?" Lin Kun menghela nafas berat, banyak pikiran negatif mengenai Dong Fang dan masa depan Menara Matahari diotaknya, "Menurutmu, sekuat apa dia?" tanya Lin Kun kearah pelayannya, seorang wanita paruh baya dengan tatapan yang tajam.
Wanita itu ikut menghela nafas panjang, "Aku tak bisa membaca pasti kekuatannya, namun dia setidaknya seorang Pendekar Inti, kekuatannya mungkin setara denganku dan sedikit dibawah manager." wanita itu diam sebentar, tatapannya berubah menjadi sedikit dingin, kemudian kembali berkata, "Aku juga merasakan aura pembunuh yang kental dari tubuhnya. Dia seseorang yang berbahaya."
Lin Kun menganggukkan kepalanya, "Ya... Aku bisa merasakannya. Kuharap ini bukan sesuatu yang buruk bagi Menara Matahari."